Setelah rakyat Tunisia menggulingkan Ben Ali, kita diberitahu oleh yang namanya para pakar analisis bahwa revolusi tidak akan menyebar ke Mesir. Setelah itu terjadi, para ahli ini tidak begitu yakin apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Gerakan-gerakan yang perkasa telah bermunculan di Yordania dan Yaman, juga protes-protes besar di Aljazair dan negeri-negeri yang lain. Sekarang Libya dan Bahrain turut dalam antrian, demikian pula Irak, sementara Yaman memanas lagi.

Hari ini menandai satu bulan setelah penumbangan revolusioner dari diktatur Ben Ali yang dibenci di Tunisia pada tanggal 14 Januari. Satu bulan ini telah dipenuhi dengan perjuangan terus menerus antara kelas penguasa yang ingin kembali ke normalitas borjuis dan kaum buruh dan muda yang ingin melanjutkan revolusi dan berjuang untuk menghentikan kembalinya rejim yang lama.

Hari ini menandai satu bulan setelah penumbangan revolusioner dari diktatur Ben Ali yang dibenci di Tunisia pada tanggal 14 Januari. Satu bulan ini telah dipenuhi dengan perjuangan terus menerus antara kelas penguasa yang ingin kembali ke normalitas borjuis dan kaum buruh dan muda yang ingin melanjutkan revolusi dan berjuang untuk menghentikan kembalinya rejim yang lama.

Sang tiran telah jatuh! Ketika saya menulis ini, Hosni Mubarak telah mundur. Ini adalah sebuah kemenangan yang besar, bukan hanya untuk rakyat Mesir, tetapi juga untuk kaum buruh seluruh dunia. Setelah 18 hari mobilisasi revolusioner terus-menerus, dengan 300 korban jiwa dan ribuan terluka, tirani 30 tahun Hosni Mubarak berakhir.

Rakyat sekali lagi telah turun ke jalan-jalan di dalam demonstrasi-demonstrasi terbesar yang pernah terlihat di Mesir. Mereka menyebutnya “Hari Keberangkatan”. Sudah pagi ini Al Jazeera menayangkan sebuah kemurunan massa besar di Alun-alun Tahrir. Moodnya tidaklah tegang maupun takut, tetapi gembira. Segera setelah sembahyang Jumat selesai, rakyat meledak dengan pekikan “Mubarak Turun!” Beberapa pendukung Mubarak yang berjalan diam-diam di jalan-jalan di luar Alun-alun seperti anjing jakal impoten yang tidak dapat melakukan apa-apa.

Piramid Besar Giza berdiri teguh selama 3800 tahun. Hosni Mubarak berkuasa tidak selama itu, tetapi dia ingin bertengger sedikit lebih lama. Perbedaan antara rejimnya dan Piramid Khufu adalah bahwa rejim Mubarak adalah piramid terbalik. Semua kekuatannya ada di atas, tetapi hanya ada titik tumpu kecil di bawahnya. Hukum gravitasi dan arsitektur mengatakan kepada kita bahwa struktur seperti itu secara inheren tidak stabil. Dorongan sedikit saja akan merubuhkannya.

Pemberontakan popular menentang pemerintahan Hosni Mubarak berlanjut. Pada hari Minggu pagi, matahari terbit kembali di atas hari yang menegangkan menyusul malam pemberontakan massa dan protes anti-pemerintah yang mengubah jam malam menjadi kata-kata hampa. Kenyataan ini dengan jelas mengekspos situasi yang sesungguhnya.

Hari kelima revolusi (29/1) dan gerakan ini terus tumbuh dalam ukuran dan intensitasnya. Jam malam kemarin malam diabaikan, dan hari ini adalah lebih banyak orang di jalan-jalan daripada kemarin. Sebuah jam malam baru telah diumumkan untuk jam empat sore waktu Mesir, tetapi ini tidaklah lebih efektif dibandingkan yang sebelumnya. Bahkan sebelum jam malam ini berlangsung, sejumlah besar demonstran telah berkumpul di jalan-jalan.

Kobaran api kemarahan rakyat telah menyebar ke seluruh Mesir dan tak ada yang dapat menghentikannya. Nasib rejim Mubarak ada di ujung tanduk. Hari ini (28/1) terjadi benturan-benturan berdarah di jalan-jalan Kairo dan di kota-kota Mesir lainnya yang mana perjuangan untuk kekuasaan telah masuk ke tahapan yang baru. Massa dipanggil untuk berdemo setelah sembahyang Jumat. Rejim Mubarak telah memperingatkan bahwa setiap demo dihadapi dengan kekuatan penuh negara. Panggung telah dipersiapkan untuk sebuah konfrontasi yang dramatis.

Hari Rabu tanggal 19 dan Kamis tanggal 20 terlihat kelanjutan dari demonstrasi massa di seluruh Tunisia melawan pemerintah nasional bersatu “baru” dan menuntut berakhirnya partai RCD yang berkuasa. Puluhan ribu massa di seluruh negeri bergerak di bawah slogan "RCD degagé" (Tolak RCD), dengan jelas mengidentifikasi pemerintah nasional bersatu sebagai kelanjutan dari rezim lama.

MARXIST.COM HOLIDAY BREAK

In Defence of Marxism will be publishing irregularly over the holiday period, and will resume regular output on 1 September.