Tigapuluh dua tahun yang lalu, pada peralihan malam tanggal 3 dan 4 April 1979, Zulfiqar Ali Bhutto dibunuh di tiang gantungan di penjara Rawalpindi. Mungkin ini merupakan pembunuhan politik yang paling signifikan dalam sejarah Pakistan. Sebuah negara yang dicekam ketakutan, Pakistan dipimpin oleh diktator yang paling brutal dan ganas, Jenderal Zia ul Haq, yang mengambil tindakan-tindakan yang mengerikan.

Keganasan yang dengannya “komunitas internasional” dan media dunia mempersetan, menghina, dan mengutuk negara Pakistan telah mencengangkan elit penguasa setempat di negeri itu. Serangan-serangan yang menyengat, yang dilancarkan oleh para pemikir-strategis (think-tank) dan cendekiawan imperialis, terhadap ISI [agen rahasia Pakistan] dan pemerintahan negeri itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sejak rakyat Afrika Selatan menggulingkan rezim Apartheid dan mendorong ANC (Kongres Nasional Afrika) ke dalam kekuasaan, kaum borjuasi Afrika Selatan, para ideolognya, dan media massanya, telah menggelar sebuah perang dusta dan fitnah yang terus menerus dari hari ke hari terhadap ANC, SACP (Partai Komunis Afrika Selatan), dan – organisasi-organisasi massa tradisional kaum muda, kaum buruh, dan kaum miskin Afrika Selatan.

Gelombang revolusioner yang bergerak melalui Timur Tengah telah memperoleh dimensi baru dengan letusan massa Palestina di sepanjang perbatasan Israel akhir pekan lalu. Setiap tanggal 15 Mei, warga Palestina memperingati Nakba (bencana) deklarasi kemerdekaan negara Israel tanggal 15 Mei 1948. Dalam beberapa tahun terakhir, protes telah ditandai dengan bentrokan antara pasukan keamanan Israel dan lemparan batu para pemuda Palestina, tapi kemarin untuk pertama kalinya peringatan tersebut terasa lebih luas dan lebih militan.

Pada tahun 1989, tentara Rusia yang terakhir menyeberangi Sungai Oxus. Dari Afghanistan mereka kembali ke Uni Soviet. Pada tahun itu juga, filsuf Amerika-Jepang di Universitas St. James, Maryland, yang juga seorang agen CIA, Francis Fukuyama, tampil dengan tesisnya yang keji: “Akhir Sejarah” (the End of History). Namun, meski Tembok Berlin telah runtuh dan Uni Soviet telah jatuh, tesis Fukuyama segera disangkal oleh sejarah itu sendiri dengan pecahnya Perang Teluk yang Pertama pada tahun 1991.

Pada 19 Maret, mayoritas rakyat Mesir memberikan suara dalam referendum, mendukung serangkaian amandemen terhadap Undang-undang Dasar. Meski demikian, kelirulah bila orang memandang bahwa pemberian suara tersebut sebagai dukungan terhadap kebijakan Dewan Tentara untuk melemahkan revolusi dan kembali pada normalitas kapitalis dengan perubahan-perubahan sesedikit mungkin.

Paragraf Introduksi: Mengatakan bahwa sebuah revolusi telah dimulai bukan berarti bahwa revolusi tersebut telah selesai, apalagi mengatakan bahwa kemenangan terjamin. Ini adalah sebuah pertarungan kekuatan-kekuatan yang hidup. Revolusi bukanlah drama satu babak. Ia merupakan sebuah proses yang rumit dengan berbagai arus pasang surut. Penggulingan Mubarak, Ben Ali dan Gannouchi menandai berakhirnya babak pertama, tetapi Revolusi belum sepenuhnya berhasil menggulingkan rezim lama, sementara rejim lama ini belum berhasil mengambil kembali kontrol.

Pada masa sebuah pemogokan atau revolusi orang merasa seperti manusia dengan harkat-martabat dan hak-hak asasinya.  Setelah hampir seumur hidup dipaksa bungkam, mereka mendapati bahwa mereka memiliki suara. Wawacara-wawancara dengan orang-orang di jalan-jalan adalah ekspresi yang indah tentang hal ini. Kaum miskin, orang-orang buta huruf berkata: kami akan bertarung, kami tidak akan meninggalkan jalan-jalan; kami menuntut hak-hak kami dan kami menuntut agar kami diperlakukan dengan hormat. Ini benar-benar suatu hal yang progresif. Inilah esensi sejati dari sebuah revolusi yang sejati.

Yang sedang kita lihat terbuka di hadapan kita adalah tahap-tahap awal dari revolusi sosialis dunia. Proses umum yang sama akan bergulir, kendali dengan ritme berbeda, di seluruh muka bumi. Akan ada pasang naik dan turun, kekalahan-kekalahan dan juga kemenangan-kemenangan, kekecewaan-kekecewaan dan juga keberhasilan-keberhasilan. Kita harus siap menghadapi ini. Namun tendensi umumnya adalah percepatan perjuangan kelas yang lebih besar dalam skala dunia.

Telah terjadi banyak diskusi di Amerika Latin tentang peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung di Libya. Artikel ini menjelaskan posisi IMT (International Marxist Tendency), yang mendukung perlawanan rakyat Libya, sementara pada saat yang sama mengutuk intervensi apapun dari pihak imperialis. Kami juga secara kritis mengkaji posisi yang diambil oleh Hugo Chavez dan Fidel Castro.

“Saya benar-benar percaya revolusi telah mengubah kita. Rakyat memperlakukan satu sama lain dengan berbeda.” Inilah kata-kata Sdri. Kamel, 50, satu dari banyak perempuan yang turun ke Lapangan Merdeka (Tahrir Square), yang secara aktif berpartisipasi dalam revolusi.

Di Venezuela, dan Amerika Latin secara keseluruhan, beberapa kaum Kiri telah mencitrakan seolah-olah Rezim Khaddafy adalah rezim anti-imperialis. Mereka gagal melihat watak sesungguhnya dari revolusi yang sedang terjadi. Berikut ini kami menerbitkan suatu pernyataan dari kaum Marxis Venezuela, Lucha de Clases, di mana mereka menjelaskan watak dari rezim tersebut dan menjelaskan perlunya mendukung perlawanan rakyat Libyan.

MARXIST.COM HOLIDAY BREAK

In Defence of Marxism will be publishing irregularly over the holiday period, and will resume regular output on 1 September.