"Tahun 1848 berakhir dengan baik,” tulis Engels. "Dengan revolusi yang agung ini, kaum proletariat Prancis telah menempatkan dirinya sendiri lagi pada pucuk pimpinan gerakan Eropa. Segala hormat bagi kaum buruh Paris!" Revolusi itu meluas ke seluruh Eropa, menandai sebuah perkembangan penting dalam perjuangan klas.

Artikel ini disadur dari bab IV buku “Hasil dan Prospek” (Prospek Kediktaturan Buruh) yang ditulis oleh Leon Trotsky pada tahun 1906.  Dalam artikel ini, Trotsky memprediksi bahwa kaum buruh Rusia, sebuah negara terbelakang, akan merebut kekuasaan dan melaksanakan revolusi sosialis. Sebelas tahun kemudian, prognosisnya terbukti di dalam Revolusi Oktober 1917 dimana kaum buruh Rusia memimpin revolusi sosialis  yang mengubah tatanan politik dunia pada abad ke-20. Kaum buruh Indonesia kini dihadapkan pada tugas yang sama, dan perdebatan yang serupa juga terjadi di dalam gerakan Indonesia: apa prospek revolusi sosialis di Indonesia? Rusia bukan Indonesia, dan Indonesia bukan Rusia, tetapi kami berharap bahwa prognosis Trotsky ini dapat membantu kaum revolusioner Indonesia menemukan jawaban dari pertanyaan di atas. 

Betapa orang kuat itu telah jatuh! Apapun kebenaran dari tuduhan-tuduhan tentang pelecehan seksual dan pemerkosaan yang dilontarkan kepadanya di New York, Dominique Strauss-Kahn bersalah atas kejahatan-kejahatan yang mengerikan. Sebagai kepala IMF, ia bersalah melakukan pemerkosaan politik terhadap rakyat pekerja dan bagian-bagian masyarakat yang paling miskin di banyak negeri berkembang. Ia bersalah atas pemerkosaan Yunani dan Portugal. Sebelum mendapati dirinya meringkuk di dalam penjara, ia “berkontribusi” dalam mengunci jutaan orang di dalam sebuah neraka dunia. Resep-resep “perbaikan”-nya yang brutal telah menimpakan penderitaan dan kesukaran terhadap kaum miskin demi melindungi kepentingan-kepentingan para bankir, kaum kapitalis, dan kaum kaya.

Tigapuluh dua tahun yang lalu, pada peralihan malam tanggal 3 dan 4 April 1979, Zulfiqar Ali Bhutto dibunuh di tiang gantungan di penjara Rawalpindi. Mungkin ini merupakan pembunuhan politik yang paling signifikan dalam sejarah Pakistan. Sebuah negara yang dicekam ketakutan, Pakistan dipimpin oleh diktator yang paling brutal dan ganas, Jenderal Zia ul Haq, yang mengambil tindakan-tindakan yang mengerikan.

Keganasan yang dengannya “komunitas internasional” dan media dunia mempersetan, menghina, dan mengutuk negara Pakistan telah mencengangkan elit penguasa setempat di negeri itu. Serangan-serangan yang menyengat, yang dilancarkan oleh para pemikir-strategis (think-tank) dan cendekiawan imperialis, terhadap ISI [agen rahasia Pakistan] dan pemerintahan negeri itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sejak rakyat Afrika Selatan menggulingkan rezim Apartheid dan mendorong ANC (Kongres Nasional Afrika) ke dalam kekuasaan, kaum borjuasi Afrika Selatan, para ideolognya, dan media massanya, telah menggelar sebuah perang dusta dan fitnah yang terus menerus dari hari ke hari terhadap ANC, SACP (Partai Komunis Afrika Selatan), dan – organisasi-organisasi massa tradisional kaum muda, kaum buruh, dan kaum miskin Afrika Selatan.

Gelombang revolusioner yang bergerak melalui Timur Tengah telah memperoleh dimensi baru dengan letusan massa Palestina di sepanjang perbatasan Israel akhir pekan lalu. Setiap tanggal 15 Mei, warga Palestina memperingati Nakba (bencana) deklarasi kemerdekaan negara Israel tanggal 15 Mei 1948. Dalam beberapa tahun terakhir, protes telah ditandai dengan bentrokan antara pasukan keamanan Israel dan lemparan batu para pemuda Palestina, tapi kemarin untuk pertama kalinya peringatan tersebut terasa lebih luas dan lebih militan.

Pada tahun 1989, tentara Rusia yang terakhir menyeberangi Sungai Oxus. Dari Afghanistan mereka kembali ke Uni Soviet. Pada tahun itu juga, filsuf Amerika-Jepang di Universitas St. James, Maryland, yang juga seorang agen CIA, Francis Fukuyama, tampil dengan tesisnya yang keji: “Akhir Sejarah” (the End of History). Namun, meski Tembok Berlin telah runtuh dan Uni Soviet telah jatuh, tesis Fukuyama segera disangkal oleh sejarah itu sendiri dengan pecahnya Perang Teluk yang Pertama pada tahun 1991.

Pada 19 Maret, mayoritas rakyat Mesir memberikan suara dalam referendum, mendukung serangkaian amandemen terhadap Undang-undang Dasar. Meski demikian, kelirulah bila orang memandang bahwa pemberian suara tersebut sebagai dukungan terhadap kebijakan Dewan Tentara untuk melemahkan revolusi dan kembali pada normalitas kapitalis dengan perubahan-perubahan sesedikit mungkin.

Paragraf Introduksi: Mengatakan bahwa sebuah revolusi telah dimulai bukan berarti bahwa revolusi tersebut telah selesai, apalagi mengatakan bahwa kemenangan terjamin. Ini adalah sebuah pertarungan kekuatan-kekuatan yang hidup. Revolusi bukanlah drama satu babak. Ia merupakan sebuah proses yang rumit dengan berbagai arus pasang surut. Penggulingan Mubarak, Ben Ali dan Gannouchi menandai berakhirnya babak pertama, tetapi Revolusi belum sepenuhnya berhasil menggulingkan rezim lama, sementara rejim lama ini belum berhasil mengambil kembali kontrol.

Pada masa sebuah pemogokan atau revolusi orang merasa seperti manusia dengan harkat-martabat dan hak-hak asasinya.  Setelah hampir seumur hidup dipaksa bungkam, mereka mendapati bahwa mereka memiliki suara. Wawacara-wawancara dengan orang-orang di jalan-jalan adalah ekspresi yang indah tentang hal ini. Kaum miskin, orang-orang buta huruf berkata: kami akan bertarung, kami tidak akan meninggalkan jalan-jalan; kami menuntut hak-hak kami dan kami menuntut agar kami diperlakukan dengan hormat. Ini benar-benar suatu hal yang progresif. Inilah esensi sejati dari sebuah revolusi yang sejati.

Yang sedang kita lihat terbuka di hadapan kita adalah tahap-tahap awal dari revolusi sosialis dunia. Proses umum yang sama akan bergulir, kendali dengan ritme berbeda, di seluruh muka bumi. Akan ada pasang naik dan turun, kekalahan-kekalahan dan juga kemenangan-kemenangan, kekecewaan-kekecewaan dan juga keberhasilan-keberhasilan. Kita harus siap menghadapi ini. Namun tendensi umumnya adalah percepatan perjuangan kelas yang lebih besar dalam skala dunia.