Dua puluh tahun lalu bulan ini di Moskow (pada 3 dan 4 Oktober), "Gedung Putih" (panggilan terhadap gedung Parlemen Rusia) dibombardir dan ratusan orang terbunuh. Ini merupakan perang saudara antara Presiden Yeltsin dan Parlemen (Dewan Pekerja (Soviet) Tertinggi Federasi Rusia). Hari ini para pejabat Rusia lebih memilih untuk melupakan peristiwa-peristiwa itu, bukan hanya karena betapa berdarah-darahnya peristiwa itu namun juga karena apa yang terjadi di tahun 1993 silam mempertanyakan legitimasi sistem Rusia saat ini.

Dua puluh tahun lalu bulan ini di Moskow (pada 3 dan 4 Oktober), "Gedung Putih" (panggilan terhadap gedung Parlemen Rusia) dibombardir dan ratusan orang terbunuh. Ini merupakan perang saudara antara Presiden Yeltsin dan Parlemen (Dewan Pekerja (Soviet) Tertinggi Federasi Rusia). Hari ini para pejabat Rusia lebih memilih untuk melupakan peristiwa-peristiwa itu, bukan hanya karena betapa berdarah-darahnya peristiwa itu namun juga karena apa yang terjadi di tahun 1993 silam mempertanyakan legitimasi sistem Rusia saat ini.

Pada tahun 1931, rakyat pekerja Spanyol mencetuskan terbentuknya Republik Spanyol, yang merupakan gentang lonceng pertama dari Revolusi Spanyol yang berlangsung sampai pada 1937. Karena pengkhianatan dari kaum Stalinis – dan juga peran menyedihkan dari kaum Anarkis – Revolusi ini dikalahkan. Berikut merupakan salah satu tulisan Alan Wood mengenai Revolusi Spanyol. Tulisan yang dibuat pada tahun 1986 ini merupakan bagian kesimpulan dari rangkaian tulisan mengenai Revolusi Spanyol 1931-1937.

Penahanan para pimpinan Golden Dawn (GD) beserta para Anggota Parlemennya secara wajar telah menimbulkan kepuasan besar di antara gerakan buruh dan kaum aktivis Kiri. Namun kita harus bersikap hati-hati dan tidak membiarkan hal ini mengembangkan ilusi dalam watak demokratis negara borjuis.

16 Agustus:Angkatan bersenjata Mesir telah menghantam dan membubarkan kamp-kamp protes para pendukung Ikhwanul Muslimin (IM) di alun-alun Al-Nahda dan Raba’a Al-Adawiyya di Kairo yang digunakan sebagai titik-titik pusat pengumpulan dan pengerahan massa mereka setelah tergulingnya Morsi. Hal ini menandai perubahan dramatis lainnya dalam situasi yang dihadapi oleh revolusi Mesir.

Kamis Pagi, 25 Juli 2013, Muhammad Brahmi, anggota Majelis Konstituen Tunisia dari sayap kiri Nasserite, mati dibunuh di luar rumahnya di Tunis. Suatu demonstrasi pemogokan massa diserukan oleh serikat UGTT, sementara Front Rakyat (Popular Front) menyerukan pembangkangan sipil massa untuk menggulingkan pemerintahan dan membubarkan Majelis Konstituen.

Jangan harap kita menemui dokumenter sejarah konvensional. Jangan harap kita akan menemui cerita panjang berupa kumpulan pengakuan para keluarga korban pembantaian 1965-1966 di Indonesia. "The Act of Killing" tidak akan menyajikan latar belakang yang umum seperti itu. Siap-siaplah untuk menyaksikan hal yang lebih dahsyat, lebih meyakinkan, lebih menganggu, lebih mengerikan, dan bahkan lebih memikat.

12 Juli 2013: Penggulingan Mubarak dan Morsi telah membuka periode baru dan penuh gejolak dalam revolusi Mesir. Ikhwanul Muslimin masih memiliki basis di masyarakat Mesir, di antara kaum borjuis kecil, di antara lapisan-lapisan yang paling abai dan terbelakang dari kaum tani dan lumpen proletar. Mereka bersikukuh untuk terus mempertahanan kekuasaan, namun berpuluh juta massa yang turun ke jalan untuk menggulingkan mereka juga sama bersikukuhnya agar Ikhwanul Muslimin tidak kembali berkuasa. Masa depan Revolusi Mesir akan ditentukan oleh hasil perjuangan ini.

Morsi telah jatuh. Gerakan luar biasa dari massa sekali lagi telah menunjukkan wajah asli rakyat Mesir ke seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Revolusi, yang bahkan banyak di antara kaum Kiri beranggapan bahwa revolusi sudah tidak ada lagi, ternyata masih memiliki cadangan-cadangan sosial yang sangat besar.

Rakyat Mesir kembali bangkit melawan kediktatoran, kemiskinan, dan korupsi. Kemarin, 30 Juni 2013, jutaan massa rakyat membanjiri jalanan di kota-kota besar dan kota-kota kecil, mulai dari area pedesaan Mesir atas hingga jantung industri Delta Sungai Nil dan di semua jalan di daerah utara. Muhammad Morsi dan Ikhwanul Muslimin, yang dulu dipuji Barat sebagai penyelamat kapitalisme Mesir kini benar-benar dilucuti oleh revolusi. Takdirnya kini berada di tangan gerakan yang memiliki setiap kesempatan untuk menyingkirkannya.