Perspektif untuk Revolusi Dunia 2014 (Draf)

Berikut adalah dokumen perspektif dunia 2014, dalam bentuk draf yang akan didiskusikan dalam kongres dunia IMT pada bulan Agustus mendatang. Dokumen ini menyajikan analisa umum mengenai situasi ekonomi, politik, dan sosial dunia hari ini dan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh kaum revolusioner. 

Perspektif Jangka Panjang

Marxisme melihat sejarah dengan perspektif jangka panjang. Ada beberapa momen dalam sejarah yang merupakan titik-titik balik menentukan. Momen-momen tersebut adalah 1789, 1917, 1929. Pada momen-momen tersebut seluruh proses mengalami percepatan, dan proses-proses yang tampaknya statis sepanjang waktu berubah jadi kebalikannya. Kita harus menambahkan tahun 2008 ke dalam momen-momen historis besar ini. Periode baru yang dibuka dengan krisis 2008 menemukan refleksinya dalam intensifikasi perjuangan kelas, dan dalam hubungan-hubungan antar negara, oleh peperangan dan konflik-konflik internasional.

Dialektika berurusan dengan proses-proses dalam perkembangannya melalui kontradiksi-kontradiksi. Metode dialektika membuat kita bisa melihat melampaui fakta-fakta yang ada dan mengamati proses-proses mendalam yang ada di bawah permukaan. Sistem kapitalis secara historis memproduksi dan menghancurkan keseimbangan internalnya. Ini terekspresikan dalam krisis-krisis yang meledak secara berkala. Dalam bidang ekonomi, ini terekspresikan dalam boom ekonomi dan kemunduran ekonomi yang datang silih berganti, yang merupakan karakter fundamental sistem kapitalis selama 200 tahun terakhir. Periode-periode kemakmuran disusul oleh periode-periode krisis di mana investasi anjlok, pabrik-pabrik ditutup, pengangguran melambung tinggi, dan tenaga-tenaga produktif macet.

Marx menjelaskan bahwa sebab-musabab fundamental dari semua krisis kapitalis adalah overproduksi, atau, dalam jargon para pakar ekonomi modern, kapasitas ekses (yang merupakan akibat overproduksi dari alat-alat produksi). Fakta bahwasanya masyarakat dijerumuskan ke dalam krisis karena produksi yang terlalu banyak adalah suatu ciri Kapitalisme yang tidak ada dalam masyarakat-masyarakat sebelumnya. Hal ini merupakan kontradiksi fundamental Kapitalisme, yang tidak bisa dipecahkan dalam batasan-batasan hak milik pribadi atas alat-alat produksi serta negara bangsa. Apa yang tampak sebagai suatu periode panjang—kira-kira sepanjang tiga dekade, sudah dibuktikan salah oleh sejarah.

Ambruknya Stalinisme merupakan sebuah titik balik yang penting. Dari sudut pandang psikologis ini memberikan kaum borjuasi dan para pembela ideologisnya umur yang lebih panjang. Sedangkan di sisi lain ini semakin mendorong Sosial Demokrasi menyeberang ke kubu Kapitalisme, menciptakan ilusi-ilusi baru dalam “ekonomi pasar bebas”. Ini memasang segel akhir pada bekas partai-partai Stalinis, yang mencampakkan semua kepura-puraannya dan dalih palsunya untuk memperjuangkan Sosialisme serta menjadi cerminan pucat Sosial Demokrasi. Proses yang sama berujung pada keambrukan dari reformisme Kiri sebagai suatu tendensi dalam gerakan buruh.

Selama boom terakhir, Kapitalisme melampaui batasan-batasan alaminya melalui ekspansi kredit yang tak pernah terlihat sebelumnya serta intensifikasi divisi kerja di tingkat dunia melalui apa yang disebut sebagai globalisasi. Pertumbuhan perdagangan dunia mendorong maju sistem ini, dan tampaknya pertumbuhan ini tidak ada akhirnya. Ekspansi kredit secara temporer meningkatkan permintaan. Dalam kasus Inggris, ukuran kredit swasta, sebagai suatu proporsi PDB, telah berlipat sampai 200% dalam 50 tahun terakhir. AS dan negara-negara lainnya semua menempuh jalan yang sama.

Matahari bersinar, pasar-pasar mengalami boom dan semua orang bahagia. Segala sesuatunya tampak seperti hal yang terbaik dari yang terbaik di semua dunia kapitalis. Kemudian datanglah krisis 2008. Dengan kolapsnya Lehman Brothers, mereka sangat dekat pada suatu malapetaka dengan skala 1929—atau bahkan bisa jadi lebih parah. Mereka hanya diselamatkan oleh suntikan uang publik secara masif. Seluruh beban hutang yang diakumulasi oleh bank-bank swasta diletakkan ke pundak para pembayar pajak. Negara—yang mana para pakar ekonomi bersikeras tidak punya peran dalam ekonomi—harus menopang semua bangunan “ekonomi pasar bebas” yang kini tengah ambruk.

Krisis Berlanjut

Semenjak 2008, semua faktor yang mendorong sistem naik telah berkombinasi menjatuhkannya. Peningkatan masif dalam kredit telah menjadi tumpukan hutang yang menggunung sangat tinggi, suatu beban besar terhadap konsumsi, yang menyeret jatuh ekonomi.

Sementara pers dan para politisi berbicara tentang pemulihan, para pakar strategi kapital terperosok ke dalam pesimisme yang paling gelap. Sementara para pakar ekonomi yang lebih punya pandangan jauh ke depan malah tidak berbicara tentang pemulihan melainkan bahaya krisis yang baru dan bahkan lebih parah. “Pemulihan” sesungguhnya hanya rekaan untuk memberi kenyamanan dan dibuat-buat untuk mengendorkan saraf para investor yang tegang dan memulihkan “kepercayaan”.

Pemulihan parsial di AS adalah pemulihan paling lemah dalam sejarah. Biasanya setelah suatu krisis, ekonomi cenderung mengalami lompatan balik secara kuat di atas basis investasi produktif, yang merupakan urat nadi sistem kapitalis. Namun ini tidak terjadi kini. Menurut IMF, ekonomi dunia mengalami pertumbuhan hanya sebesar 2,9%, yang secara kasar hanya setengah dari tingkat sebelum krisis.

Watak irasional Kapitalisme, yang terperangkap dalam kontradiksi-kontradiksi tak terpecahkan, telah memperoleh karakter yang lebih tajam, lebih menyakitkan, dan lebih menghancurkan melalui globalisasi. “Kedaulatan nasional” telah menjadi kata kosong, karena setiap pemerintahan dipaksa tunduk pada pasar dunia.

Spekulasi berkembang meskipun semua orang berbicara tentang regulasi. Sejumlah besar uang mengalir tumpah-ruah di seluruh dunia, yang menambah besar bahaya keambrukan ekonomi. Pasar derivatif global, yang berjumlah hingga $59 triliun pada 2008, telah naik hingga $67 triliun pada 2012. Ini adalah kekacauan spekulatif tak terkendali yang mencengkeram borjuasi di masa kita. Interkoneksi pasar derivatif, yang tampaknya tak seorang pun benar-benar paham, telah memperkenalkan risiko-risiko baru yang kompleks.

Kerisauan kaum borjuasi tercermin dalam naik turunnya pasar. Satu insiden kecil saja bisa mengakibatkan kepanikan: tekanan-tekanan politik di Portugal; pergolakan sosial di Mesir; ketidakpastian ekonomi Tiongkok; kemungkinan aksi militer di Timur Tengah, telah mengakibatkan kenaikan tajam harga-harga minyak; setiap hal ini bisa menyebabkan kepanikan yang dapat menjerumuskan ekonomi dunia kembali ke resesi yang dalam. Bunga dari hutang pemerintah kurang lebih memainkan peran yang sama seperti diagram seorang pasien, yang mengindikasikan naik turunnya demam. Melampaui berbagai batasan, peningkatan demam demikian akan mengancam pasien dengan risiko kematian.

Urat Nadi Kapitalisme

Masalah yang paling serius adalah kurangnya investasi produktif. Di AS, investasi swasta tetap berada di bawah rata-rata output nasional, sementara investasi publik mencapai puncaknya dengan stimulus di tahun 2010 dan terus anjlok sejak saat itu. Kaum kapitalis tidak berinvestasi dalam bentuk aktivitas produktif yang akan mempekerjakan buruh-buruh Amerika dalam jumlah yang cukup untuk membuat ekonomi bisa berjalan. Alasannya adalah tidak ada pasar untuk barang-barang mereka; dengan kata lain, tidak ada “permintaan efektif”.

Prospek ekonomi suram dan penuh ketidakpastian. Tak ada seorang pun yang ingin mengeluarkan uang atau melakukan investasi karena mereka tidak bisa memprediksi masa depan. Jumlah pekerjaan meningkat di tahun 2013 namun pekerjaan pabrik terus menurun. Perkiraan awal bahwasanya pemulihan AS akan diikuti oleh lompatan balik dalam manufaktur telah terbukti keliru sepenuhnya. Suatu pemulihan yang sehat dan berkesinambungan harus berdasarkan investasi produktif, bukan berdasarkan membuat burger di McDonald’s.

Biaya investasi sebenarnya jauh lebih rendah sekarang dibandingkan di tahun 2008. Namun jumlah investasi bisnis di AS hari ini hanya sedikit di atas tahun 2008. Sebuah survei terkini dari 40 perusahaan AS mencatat bahwa kira-kira separuh dari mereka ingin memotong pengeluaran kapital mereka selama 2013. Buat apa membangun pabrik-pabrik baru dan berinvestasi dalam mesin-mesin serta komputer-komputer baru yang membutuhkan banyak biaya kalau mereka tidak bisa memanfaatkan kapasitas produktif yang telah mereka dimiliki?

Di Inggris, hanya 15% dari total aliran finansial yang benar-benar masuk ke investasi. Sisanya digunakan untuk mendukung aset-aset korporat yang ada, real estate, atau keuangan personal yang tidak aman. Alih-alih menginvestasikan uang untuk pabrik-pabrik dan mesin-mesin baru, perusahaan-perusahaan besar meminjam sejumlah besar uang dengan tingkat bunga yang kecil untuk membeli kembali saham mereka. Sembilan bulan pertama di tahun 2013 saja, sebanyak $308 miliar dihabiskan untuk tujuan ini di AS.

Dengan demikian permasalahannya bukanlah kekurangan likuiditas. Di AS, bisnis-bisnis berkelimpahan dengan uang tunai namun tidak diinvestasikan dalam aktivitas produktif. Dalam empat tahun terakhir sejumlah besar uang digelontorkan ke dalam ekonomi, khususnya ke dalam perbankan. Hasilnya adalah meningkatnya hutang publik hingga tingkatan yang membahayakan, tanpa menghasilkan pemulihan ekonomi apapun. Namun perkiraan Moody pada awal 2013 (dilaporkan oleh Forbes pada Maret 2013) menyatakan bahwa sebanyak $1,45 triliun disembunyikan oleh perusahaan-perusahaan non finansial AS. Peningkatan selama tahun 2012 sendiri (termasukkan di total) sebesar $130 milyar. Ini bukanlah suatu fenomena baru. Pada akhir 1920an, terdapat akumulasi massif uang yang tidak tersalurkan di ekonomi—tepat sebelum krisis pecah.

Para pakar ekonomi borjuis enggan mengucapkan kata “overproduksi” (anehnya, beberapa pakar ekonomi yang mengaku Marxis juga mengidap penyakit yang sama). Namun dari sudut pandang Marxis akar penyebab krisis ini sangatlah jelas. Nilai lebih diperas dari proses produksi, namun ini tidak serta-merta menghasilkan uang. Kemampuan kapitalis untuk mewujudkan nilai lebih yang diperas dari tenaga kerja buruh sepenuhnya bergantung pada kemampuannya untuk menjual komoditasnya di pasar. Namun kemungkinan ini dibatasi oleh tingkat permintaan efektif di masyarakat, dengan kata lain, kemampuan untuk membayar.

Dorongan para kapitalis untuk memproduksi demi mendapatkan keuntungan memang nyaris tak terbatas, namun kemampuannya untuk mendapatkan pasar untuk hasil produksinya punya batasan-batasan yang sangat jelas. Ekonomi dunia sangat bergantung pada AS. Pada kenyataannya, seluruh dunia kini bergantung pada konsumsi AS. Namun konsumsi di AS sudah tidak berada dalam kondisi ideal untuk menjadi mesin pertumbuhan dunia. Pendapatan median telah jatuh sebanyak 5,4% semenjak pemulihan AS dimulai. Pengangguran berkisar pada angka 7 persen. Konsumsi mencakup 70 persen dari PDB AS dan sekitar 16 persen permintaan global. Oleh karenanya para eksportir di manapun berharap bahwa konsumen AS akan menjadi juru selamat mereka.

Namun hal ini menciptakan kontradiksi-kontradiksi baru. Tahun lalu, impor yang tiba-tiba melonjak meningkatkan defisit perdagangan AS sebanyak 12 persen hingga $45 miliar per bulan, yang merupakan lonjakan terbesar dalam lima tahun. Impor-impor dari Tiongkok mencakup sebanyak hampir dua pertiganya. Bila hal ini terus berlanjut maka defisit AS-Tiongkok akan melampaui $300 miliar. Sedangkan di sisi lain, ekspor AS jatuh. Target Obama untuk menggandakan ekspor dalam lima tahun tak lebih dari angan-angan saja. Pemulihan AS dapat melemah dan menyeret ekonomi global untuk ikut jatuh bersamanya. Ini seperti dongeng tua Rusia tentang sebuah gubuk yang ditopang oleh kaki-kaki ayam.

Quantitative Easings

Apa yang disebut pemulihan ini sepenuhnya berdasarkan suntikan sejumlah besar kapital fiktif ke dalam ekonomi AS dan negara-negara lainnya. Seperti pasien yang berada dalam kondisi hampir mati, kapitalisme dijaga agar tetap hidup dengan cara transfusi darah terus-menerus dengan menggunakan uang publik. Bank-bank Sentral didorong untuk terus bergantung pada quantitative easing—atau dengan bahasa awam—mencetak uang. QE dan suku bunga nol telah gagal memproduksi hasil-hasil yang serius dan jelas-jelas telah mengakibatkan inflasi.

Pertumbuhan ekonomi AS hari ini sebagian besar disebabkan oleh kebijakan-kebijakan moneter Federal Reserve yang longgar. Sejak 2009, Federal Reserve telah membeli aset-aset finansial—surat-surat obligasi US Treasury dan beberapa jenis hutang korporat. Melalui ekspansi basis moneter, mereka menekan suku bunga, yang digunakan untuk menopang bisnis-bisnis dan rumah tangga-rumah tangga yang berhutang. Ini merupakan faktor utama dalam apa-yang-disebut pemulihan ini, dan ini menopang pasar-pasar finansial seperti tongkat yang menopang orang yang pincang.

Sistem kapitalisme adalah sistem yang berdasarkan ekonomi yang tidak waras. Dalam kerakusan mereka untuk mengeruk laba dengan cepat melalui spekulasi, kaum borjuis hanya berhasil menciptakan inflasi harga aset yang besar dalam dua puluh tahun sebelum 2008. Ini disebabkan oleh kebijakan Federal Reserve dimana suku bunga ditekan rendah. Kebijakan gila yang sama sekarang tengah dijalankan sebagai upaya putus asa untuk memompa kembali gelembung ini. Nampaknya mereka lupa bahwa kebijakan inilah yang justru menyebabkan keruntuhan ekonomi. Tampaknya kaum borjuasi sudah kehilangan semua akal sehatnya. Namun seperti yang Lenin katakan: “Seseorang yang berada di tepi jurang tidak bisa berpikir secara logis.”

Program Quantitative Easing dari Federal Reserve menghabiskan sekitar $85 miliar per bulan. Inggris, Zona Eropa, dan khususnya Jepang, semuanya dengan patuh meniru Bernanke yang menjanjikan easy money (uang mudah atau hutang dengan suku bunga rendah dan syarat-syarat yang mudah) dalam jangka panjang. Secara paradoks, ini semua terjadi saat dia berupaya mundur dari kebijakannya ini. Bernanke dengan demikian mendapati dirinya dalam posisi yang sangat sulit. Ia mencoba mengakhiri kebijakan suku bunga nol tanpa memicu kepanikan.

Mereka yang terlibat dalam aktivitas ini sepenuhnya sadar bahwa mereka tengah melakukan suatu eksperimen yang berbahaya. Mereka sudah mengetahuinya sejak lama. Fred Neumann, ekonom utama Asia di HSBC menjelaskan bahwa QE “memberi kita waktu namun tidak memecahkan permasalahan apapun secara mendasar.” (FT, 20/9/13) “Semakin lama mereka melanjutkan proses ini maka semakin buruk akibatnya bagi kemampuan kita untuk keluar dari krisis ini”, kata Mike Crapo, seorang Republiken di komite perbankan Senat.

Terlebih, pengalaman menunjukkan bahwa kebijakan ini akan menuruti law of diminishing return (hukum pengembalian yang semakin menurun), dimana dibutuhkan lebih banyak uang untuk memperoleh hasil yang semakin sedikit. Gillian Tett, kolumnis utama Financial Times menyatakan: “salah satu alasan mengapa minggu ini tampaknya para politisi plin plan mengenai QE adalah karena mereka terus menyokong sebuah sistem finansial yang ganjil dan tidak stabil”. Kita sekarang hidup “di suatu dunia di mana harga-harga aset dan roh-roh binatang sekarang bergantung pada uang murah”.

Financial Times mengumumkan pendapatnya mengenai QE di AS (21/9/2013):

“Meskipun QE telah menaikkan semangat, dampaknya lebih adem-ayem daripada yang diharapkan sebagian orang. Kendati biaya pendanaan yang rendah, investasi tetap lesu. Pemerintah-pemerintah terus memotong defisit-defisit, rumah tangga-rumah tangga membayar kembali hutangnya, dan perusahaan-perusahaan terus menumpuk uang. Konsekuensinya, uangnya yang diciptakan oleh The Fed [Bank Sentral AS] tidak digunakan untuk mendanai aktivitas seperti membangun rumah atau investasi kapital, yang akan berkontribusi secara langsung pada pertumbuhan. Justru ia meningkatkan nilai aset-aset yang ada.”

Agensi-agensi pendanaan perumahan Fannie Mae dan Freddie Mac tetap seperti sebelumnya, menggenjot kredit ke dalam pasar hipotek (kredit perumahan). Namun sebelum krisis mereka menguasai 60% pasar hipotek di AS, kini mereka menguasai 90%. Hal semacam inilah yang kemudian berakhir dalam krisis 2008. Sadar akan bahaya yang ada, Bernanke, dengan hati-hati mengumumkan Juni lalu bahwa Bank Sentral AS mungkin akan menghentikan QE dalam beberapa tahap. Kaum Keynesian, yang dipimpin oleh Paul Krugman, ketakutan. Mereka memperingatkan bahwa penghentian QE merupakan langkah prematur yang akan mengirimkan sinyal keliru pada perekonomian dunia, bahwa bank-bank sentral akan melakukan pengetatan sebelum pemulihan sektor swasta meraih momentumnya. Inilah yang terjadi pada 1937-1938.

Bernanke mencoba melunakkan pukulan ini dengan memperkenalkan berbagai “jika” dan “tetapi”. Dia mengatakan bahwa Bank Sentral akan menghentikan pembelian aset-aset hanya jika tingkat pengangguran jatuh di bawah 7 persen – yang sekarang sudah tercapai – dan ini akan mengurangi risiko pengetatan sebelum ekonomi dapat menghadapinya. Tingkat suku bunga jangka pendek akan tetap berkisar sekitar nol untuk waktu yang lama setelah ini. Kenaikan suku bung akan dilakukan secara bertahap dan gradual. Dan lain sebagainya.

Semua ini tiada berguna. Kaum borjuasi telah menjadi tergantung pada QE dan kredit murah seperti pengguna narkoba yang ketagihan dan butuh dosis rutin heroin untuk terus hidup. Pengumuman tersebut mengakibatkan kepanikan seketika di pasar-pasar finansial. Lembaga-lembaga hedge funds mulai menjual surat-surat hutang mereka, yang menyebabkan harganya anjlok. Biaya meminjam (atau “yield”) melambung tinggi. Pada pertengahan September Bank Sentral AS terpaksa membatalkan niatnya. Pasar-pasar naik lagi saat mendengar keputusan Bank Sentral AS untuk tidak menyentuh uang murah dari QE, walaupun Janet Yellen, gubernur Bank Sentral AS yang baru, kini telah mengumumkan rencana untuk menghapus QE sampai nol pada akhir 2014.

Krisis di AS

Pada tahun 2009, dua minggu setelah memasuki Gedung Putih, Obama menyampaikan sebuah pidato di mana dia berkata: “Kita tidak bisa membangun kembali ekonomi ini di atas tumpukan pasir yang sama. Kita harus membangun rumah kita di atas batu. Kita harus meletakkan fondasi baru untuk pertumbuhan dan kemakmuran – suatu fondasi yang akan menggerakkan kita dari era pinjam dan pakai ke era di mana kita menabung dan berinvestasi; di mana kita mengonsumsi lebih sedikit di dalam negeri dan mengirim lebih banyak ekspor ke luar negeri”.

Empat tahun kemudian, AS masih membangun fondasi ekonominya di atas pasir, dan menyiapkan landasan untuk krisis di masa depan. Hal ini tercermin dalam jumlah hutang negara yang luar biasa besar. Situasi yang berbahaya ini ditunjukkan dengan penutupan pemerintahan AS, yang mengancam menyeret AS dan ekonomi dunia jatuh bersama-sama. Hutang pemerintah AS mencapai angka yang luar biasa besar, $16,7 triliun, yang merupakan batas yang disetujui oleh Kongres.

Keparahan krisis ini ditunjukkan oleh perpecahan terbuka di dalam kelas penguasa AS dan para perwakilan politiknya. Selama periode kemajuan Kapitalisme, dua partai kapitalis ini, yang secara umum mewakili dua sayap yang berbeda dari sistem Kapitalisme AS, dulunya bisa melakukan tawar-menawar dan kompromi dalam kebanyakan isu. Sekarang saat lemari makan sudah kosong, tatanan politik yang lapuk ini menjadi penghalang bagi perkembangan masyarakat ke depan serta sistem kapitalis, dengan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya.

Perlunya meningkatkan batas hutang AS membawa perpecahan ini pada suatu titik kritis. Kalau batas hutang ini tidak dinaikkan, maka ini berarti AS akan bangkrut. Ini diperkirakan akan memicu kejatuhan PDB sebesar 6,8 persen dan lima juta pekerjaan hilang di negeri-negeri OECD. Namun kaum Republiken “Tea Party” sayap Kanan di Kongres, terdorong oleh kebencian mereka terhadap Obama, Obamacare, dan obsesi sempit mereka dengan pengurangan defisit, cukup siap untuk menyeret AS dan ekonomi dunia ke dalam kehancuran.

Kaum Keynesian menunjukkan bahwa mengurangi standar hidup rakyat di tengah resesi ekonomi hanya akan memperdalam dan memperpanjang krisis. Sejauh ini, hal itu benar. Namun kaum monetaris juga sepenuhnya tepat dalam menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan pendanaan defisit Keynesian merupakan resep inflasi dan akan menyebabkan situasi yang buruk menjadi semakin buruk.

Dalam ekonomi kapitalis, terdapat sedikit tuas untuk menarik investasi swasta saat suku bunga mendekati nol dan ada defisit publik yang masif. Merupakan suatu ironi ketika para pakar ekonomi seperti Jeff Sachs – yakni orang yang melepaskan neoliberalisme ke Eropa Timur -- kini menyerukan versi global dari New Deal. Ini merupakan cerminan keputusasaan kaum borjuasi, yang merasa ada di jalan buntu. Kelas penguasa kini terpecah-belah. Mereka bertengkar mengenai tindakan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hutang besar yang mengancam ekonomi AS.

Penutupan pemerintahan AS memicu kegelisahan di lingkaran-lingkaran borjuis internasional. Jim Yong Kim, Kepala Bank Dunia, menyebutnya sebagai “sebuah momen yang sangat berbahaya… suku bunga dapat naik, kepercayaan jatuh, dan pertumbuhan melambat kalau tidak ada tindakan.” Christine Lagarde, kepala IMF, bahkan melontarkan peringatan yang lebih jelas saat dia mengatakan bahwa kebuntuan di Kongres AS mengancam mendorong dunia ke dalam resesi yang baru. Dolar melemah seiring para investor kehilangan kepercayaan.

Kebijakan pemotongan otomatis yang gila ini telah mengakibatkan pemotongan-pemotongan investasi dalam penelitian ilmiah, pendidikan, dan infrastruktur, yang secara aktif mengurangi hal-hal yang paling dibutuhkan Amerika, guna mengurangi defisit anggaran secara minimal. Kaum Kanan Republiken menuntut Obama mencampakkan reforma-reforma kesehatannya. Kebuntuan di Kongres merupakan cerminan perpecahan di antara kelas penguasa yang untuk sementara ini cuma ditambal tapi belum terselesaikan.

Seksi lain dari para pakar ekonomi borjuis kini mendukung moderasi atau pencampakan kebijakan pengetatan, perlindungan terhadap kaum miskin, meningkatkan kemampuan kerja mereka, pengaliran investasi ke energi hijau, dan lain-lain. Ini dimaksudkan untuk mendorong permintaan dengan meningkatkan konsumsi. Namun proposal-proposal demikian dengan seketika berbenturan dengan perlawanan sengit dari para pemilik modal, kaum Republiken, dan kaum monetaris.

Ini adalah kebijakan yang sangat berisiko, di mana beberapa pakar ekonomi telah membandingkannya dengan situasi yang dihadapi Roosevelt pada tahun 1938, saat Kongres memaksanya untuk mengekang stimulus, yang lalu menyebabkan resesi baru. Pada kenyataannya, apa yang mengakhiri Depresi Hebat 1929 bukanlah kebijakan-kebijakan New Deal Roosevelt  melainkan Perang Dunia II. Namun pilihan ini tidak lagi mungkin saat ini ketika Presiden Amerika bahkan tidak bisa memerintahkan pengeboman terhadap Suriah.

Dalam pidatonya tahun 2009, Obama memilih tidak menyinggung apa yang terjadi dengan rumah yang dibangun di atas pasir: “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”

Krisis Eropa

Watak global krisis Kapitalisme membuatnya mustahil untuk “menceraikan” Eropa dan Amerika. Pengumuman bahwasanya AS akan menghentikan Quantitative Easing menyebabkan pergolakan di pasar-pasar, yang mendorong kenaikan suku bunga di seluruh penjuru zona Eropa. Dampaknya adalah pengetatan kebijakan moneter saat resesi dan pengangguran yang meningkat justru menuntut kebijakan yang sebaliknya.

Tak ada tempat lain di mana krisis menampakkan dirinya dengan lebih keras selain di Eropa. Semua mimpi dan angan-angan borjuasi Eropa mengenai persatuan kapitalis Eropa dengan cepat hancur jadi berkeping-keping. Semua kontradiksi nasional muncul ke permukaan, mengancam tidak hanya masa depan mata uang Euro namun juga Uni Eropa itu sendiri.

Beban hutang seperti batu besar yang menggantung di leher ekonomi Eropa, menyeretnya jatuh dan menghalangi pemulihan yang riil. Tak ada seorang pun yang tahu sebesar apa hutang-hutang bank-bank Eropa. Pinjaman-pinjaman buruk bank-bank Uni Eropa sudah mencapai setidaknya 1,05 triliun Euro (dua kali lebih banyak dibandingkan tahun 2008) menurut Wall Street Journal. Namun ini hanyalah perkiraan saja, dan angka aslinya bisa jadi lebih besar. Mayoritas bank-bank investasi memperkirakan bahwa sektor perbankan Eropa harus susut sekitar 2 hingga 2,5 triliun Euro untuk mencapai ukuran yang bisa digambarkan sebagai cukup terkapitalisasi.

Ada pemulihan yang lamban di Jerman, namun Italia dan Spanyol tetap berada dalam resesi, sedangkan Yunani berada dalam krisis yang mendalam. Italia kehilangan 9% PDB-nya semenjak awal krisis dan Yunani kehilangan PDB-nya setidaknya sebesar 25%. Mustahil juga bagi Jerman untuk mempertahankan pertumbuhannya bila tidak ada pemulihan di zona Eropa secara keseluruhan, yang merupakan pasar utama ekspornya. Pada tahun 2012 penjualan mobil Eropa jatuh ke tingkat terendah dalam 24 tahun terakhir. Penjualan mobil di Eropa terus jatuh dalam enam dari delapan bulan pertama di tahun 2013.

Peluncuran mata uang Euro pada tahun 1999 dipuja-puji sebagai kunci menuju masa depan perdamaian, kemakmuran, dan integrasi Eropa. Namun sebagaimana yang telah kami prediksikan, dalam kondisi-kondisi krisis Euro telah menjadi sumber konflik nasional dan disintegrasi.

Meskipun Euro bukanlah penyebab dari masalah-masalah yang dihadapi oleh negeri-negeri seperti Yunani, Italia, dan Spanyol, sebagaimana yang dibayangkan kaum nasionalis yang berpikiran sempit, mata uang Euro jelas telah memperparah situasi.

Di masa lalu, negeri-negeri ini bisa menggunakan devaluasi untuk keluar dari krisis. Kini hal ini mustahil. Alih-alih memperbesar pangsa pasar mereka dengan memotong pangsa pasar negeri-negeri lain dengan cara mendevaluasi mata uang mereka, mereka terpaksa melakukan “devaluasi internal”, dengan kata lain, pengetatan anggaran secara ganas. Namun ini hanya akan memperdalam krisis dan mempertajam konflik kelas di dalam masyarakat.

Krisis Yunani adalah yang memercikkan krisis Eropa, yang sekarang mengancam Euro dan Uni Eropa itu sendiri. Sudah wajar bahwasanya krisis akan pecah di mata rantai terlemah Kapitalisme Eropa. Namun konsekuensi-konsekuensi krisis Yunani mempengaruhi seluruh Eropa. Selama kemajuan ekonomi yang menyusul peluncuran Euro, Jerman meraup banyak dari ekspor ke zona Eropa. Apa yang dimulai sebagai plus yang teramat sangat kini jadi minus yang teramat sangat. Saat Mario Draghi, presiden Bank Sentral Eropa, menjanjikan bahwa ia akan menggunakan semua sumber daya ekonomi yang bisa digunakannya untuk menyelamatkan Euro, dia lupa bilang, dari mana sumber daya ini berasal.

Dalam setiap transfer fiskal untuk menyelamatkan zona eropa, transfer akan selalu datang dari pembayar pajak Jerman. Ini menimbulkan permasalahan-permasalahan serius bagi Angela Merkel. Jerman telah mendukung pengetatan anggaran dan pengekangan fiskal. Jerman bisa melakukannya karena Jerman adalah negeri dengan ekonomi terkuat di Eropa, dan kekuatan ekonomi cepat atau lambat diekspresikan sebagai kekuatan politik. Terlepas dari ilusi-ilusi borjuasi Prancis di masa lalu, Jerman-lah, yang menentukan segalanya.

Meskipun demikian kebijakan pengetatan anggaran punya batasan-batasan sosial dan politik. Negeri-negeri seperti Yunani dan Portugal telah mencapai batasan-batasan ini, sedangkan Spanyol dan Italia tidak jauh ketinggalan. Kendati rasa optimisme dari kaum borjuasi, tak ada satu pun masalah yang terpecahkan. Krisis zona Eropa bisa meledak lagi kapan pun. Pemaksaan pengetatan anggaran memicu krisis politik di Portugal, di mana sejumlah protes massa besar hampir menumbangkan pemerintah. Hutang publik Portugal terus naik, dan kemungkinan akan mencapai 130% output nasional pada tahun 2015. Jadi untuk apa semua pengorbanan ini?

Beberapa seksi “Kiri” di Eropa—misalnya Lafazanis, pemimpin Kiri di SYRIZA—menyerukan agar Yunani keluar dari Euro, dan bahkan dari Uni Eropa itu sendiri, sebagai solusi terhadap krisis dan permasalahan-permasalahan kelas buruh. Akan tetapi, sebagai Marxis menurut kami krisis ini bukanlah disebabkan oleh keberadaan Uni Eropa. Ini adalah krisis sistem kapitalis.

Uni Eropa tidak lebih dari serikat para pemilik modal yang ditujukan untuk menyokong kepentingan-kepentingan kapitalis Eropa. Uni Eropa memaksakan kebijakan-kebijakan anti kelas buruh di mana-mana. Organisasi ini tidak bisa direformasi menjadi semacam “Eropa sosial”. Kami menentangnya, namun solusinya bukanlah serangkaian kapitalisme-kapitalisme kecil melainkan persatuan kaum buruh Eropa dalam perjuangan untuk mewujudkan Federasi Sosialis Eropa.

Instabilitas politik, yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan pengetatan anggaran, terrefleksikan dalam serangkaian pemerintah koalisi yang tidak stabil dan opini publik berayun secara ekstrem. Di Italia mereka hanya mampu membuat koalisi Partai Demokratik dengan Berlusconi dengan kesulitan paling luar biasa, dan para pimpinan koalisi ini menghabiskan waktu mereka menyerang satu sama lain di hadapan publik. Berlusconi hanya peduli bagaimana supaya dia tidak masuk penjara. Kepentingan-kepentingan Kapitalisme Italia menduduki tempat kedua setelah kepentingan pribadinya.

Perpecahan di antara elit politik, skandal-skandal korupsi (seperti yang terjadi di Spanyol), pengingkaran janji-janji (Prancis), dan para politisi yang mengisi kantong mereka (Yunani) sembari mempersulit kehidupan rakyat banyak telah mengakibatkan reaksi balik terhadap partai-partai dan para pimpinan yang ada. Ini merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan bagi kaum borjuasi, yang telah kehabisan senjata cadangan politiknya untuk membela sistemnya. Sebuah krisis sosial dan politik yang besar tengah disiapkan di Eropa.

Kaum borjuasi menatap ke dalam jurang, dan mungkin akan terpaksa mundur. Terlepas dari hal-hal lainnya, pengetatan anggaran telah gagal mengaktifkan kembali ekonomi. Sebaliknya, pengetatan anggaran membuat situasi yang buruk menjadi semakin buruk. Namun apa alternatifnya? Kaum borjuasi menghadapi dilema buah simalakama. Tak jelas apakah zona Eropa akan bubar sepenuhnya—suatu prospek yang tidak hanya menakutkan bagi kaum borjuasi Eropa namun juga kaum borjuasi di luar Eropa. Demi mencegah keambrukan total, kaum majikan Uni Eropa akan terpaksa mencampakkan syarat-syarat mereka yang ketat. Pada akhirnya, sangat sedikit yang akan tersisa dari gagasan asli penyatuan Eropa, yang mustahil di atas landasan kapitalis.

Permasalahan yang dihadapi oleh borjuasi Eropa sederhana. Kelas penguasa tidak mampu membiayai konsesi-konsesi yang dimenangkan oleh kelas buruh selama setengah abad terakhir, namun kelas buruh tidak bisa lagi menerima pemotongan terhadap standar hidup mereka. Di mana-mana kita menyaksikan penurunan tajam dalam standar hidup; pemotongan upah; emigrasi muncul kembali sebagai fenomena di berbagai negara di Eropa Selatan ke negara-negara seperti Jerman. Namun ketika Jerman juga ditimpa resesi, ke mana mereka akan beremigrasi?

Kelas buruh telah menjadi sangat kuat semenjak Perang Dunia II. Batalion reaksi telah berkurang secara tajam. Kaum tani yang dulunya merupakan populasi sangat besar di masa lalu, tidak hanya di Spanyol, Italia, Prancis, dan Yunani, namun juga di Jerman, telah menjadi minoritas kecil. Lapisan-lapisan kelas buruh seperti para pengajar, pegawai negeri, dan karyawan bank, yang di masa lalu menganggap dirinya sebagai kelas menengah dan tidak akan bermimpi bergabung dengan serikat buruh atau melakukan mogok kerja, kini merupakan salah satu seksi yang paling militan dari gerakan buruh. Hal yang sama juga sama benarnya dengan mahasiswa, yang sebelum 1945 kebanyakan merupakan sayap kanan atau bahkan fasis, dan kini mereka dengan tegas berada di Kiri bahkan dalam berbagai kasus sangat terbuka pada gagasan-gagasan revolusioner.

Buruh-buruh Eropa belum menderita kekalahan telak selama beberapa dekade. Tak akan gampang untuk memaksa mereka menyerahkan capaian yang mereka pernah menangkan. Ini ditunjukkan pada Oktober 2013 saat para pemadam kebakaran Belgia berdemonstrasi di depan parlemen dengan tiga puluh mobil pemadam kebakaran, memblokade semua akses, serta menyemprot polisi dengan air dan busa. Mereka menuntut 75 miliar Euro ekstra untuk menambah staf agar sesuai standar keamanan. Pemerintah akhirnya terpaksa menyerah saat buruh-buruh kereta api menawarkan bantuan untuk membantu para pemadam kebakaran dalam memblokir stasiun-stasiun kereta. Perubahan dalam perimbangan kekuatan ini menimbulkan dilema serius bagi kaum borjuasi dalam menerapkan kebijakan-kebijakan pengetatan anggaran. Meskipun demikian, kelas penguasa terdorong oleh krisis untuk terus melanjutkan serangan-serangannya.

Jerman

Dilihat dari permukaan, tampaknya Jerman sudah selamat dari hal yang terburuk dari krisis. Namun giliran Jerman akan datang. Titik lemah kapitalisme Jerman adalah ketergantungannya terhadap ekspor: pada 2012 ekspor Jerman mencapai rekor 44% PDB (1,1 triliun Euro). Keberhasilan Jerman ini adalah karena upah riil buruh-buruh Jerman tidak meningkat sejak tahun 1992. Menurut FT: “Jerman kini memiliki proporsi terbesar buruh upah-rendah relatif dengan pendapatan media di Eropa barat”. Seperempat tenaga kerja mereka adalah buruh upah-rendah. Jumlah buruh magang atau kontrak telah berlipat tiga dalam sepuluh tahun.

Ekspor  Jerman, yang merupakan satu-satunya sumber pertumbuhan di periode terakhir, dengan demikian berdasarkan upah rendah dan investasi besar. Tingginya tingkat produksi yang diperas dari buruh-buruh Jerman telah memberikan keuntungan besar bagi industri Jerman dan membuatnya berada di atas rival-rival Eropanya yang lain, sebagaimana bisa kita lihat dari angka-angka berikut:

Performa produksi industri 2000-Oktober 2011

Jerman + 19,7%

Portugal – 16,4%

Italia -17,3%

Spanyol – 16,4%

Yunani -29,9%

Faktanya adalah kapitalisme Jerman meraih keunggulan dengan mengorbankan rival-rival Eropanya yang tidak bisa bersaing dengan industrinya. Kerugian mereka adalah keuntungan Jerman. Euro kemudian berfungsi memberikan keuntungan bagi Jerman di atas segalanya. Bank-bank Jerman senang-senang saja meminjamkan uang ke negeri-negeri seperti Yunani agar mereka bisa membeli barang-barang Jerman. Namun kini proses ini telah menjadi kebalikannya. Meskipun mereka tidak mengakuinya secara terbuka, notulensi pertemuan IMF yang bocor menunjukkan bahwa dana talangan atau bailout yang dikucurkan untuk Yunani adalah untuk menyelamatkan bank-bank Jerman (dan Prancis).

Kaum demagog sayap Kanan kini mengutuk Eropa dan Euro. Namun para pakar strategi kapitalisme Jerman yang lebih serius dihinggapi oleh perasaan yang gelap. Mereka paham bahwasanya Jerman tidak bisa mengembalikan keseimbangan ekonominya selama zona Eropa lainnya masih terbenam dalam krisis. Mau diekspor ke mana barang-barang Jerman?

Helmut Schmidt, bekas pimpinan SPD Jerman dalam pernyataannya selama pertemuan ekonomi penting di Hamburg, Jerman, memperingatkan bahwa: “Kepercayaan publik kepada pemerintah-pemerintah Eropa serta Uni Eropa telah hancur dan Eropa berada di tepi revolusi”. Dia kemudian menekankan lebih lanjut bahwa diperlukan perubahan ekonomi dan politik yang besar di Eropa. Namun perubahan macam apa yang diperlukan? Lalu siapa yang akan menjamin perubahan demikian dijalankan?

Inggris

Inggris, yang dulunya adalah pusat manufaktur  di dunia, telah kehilangan basis industri dan sepenuhnya didominasi oleh sektor jasa dan kapital finans yang parasitik. Dibandingkan seluruh Uni Eropa, Inggris punya lebih banyak bankir yang pendapatannya lebih dari satu juta poundsterling per tahunnya. Inggris mengklaim adanya “pemulihan: namun gambaran yang kita saksikan justru adalah kemunduran.

Periode sekarang menyaksikan kejatuhan standar hidup paling drastis dan paling konsisten di Inggris semenjak 1860an—lebih dari 150 tahun lalu. Sudah ada sejumlah sinyal kalau akan ada ledakan baru di antara kaum muda seperti kerusuhan yang melanda kota-kota di seluruh Inggris beberapa tahun yang lalu. Diperkirakan sebanyak dua juta anak berangkat ke sekolah dengan perut lapar tiap paginya di Inggris. Penemuan ini begitu mengagetkan publik sampai pemerintah tergopoh-gopoh memperkenalkan program makan gratis bagi semua murid sekolah dasar.

Sikap sosial di Inggris telah menunjukkan pergeseran besar. Sikap hormat yang lama terhadap pemerintahan telah berubah menjadi kebencian. Orang-orang yang dulunya dihormati oleh rakyat, seperti para Anggota Parlemen, Pers, Pengadilan, dan Polisi, kini dipandang dengan kecurigaan dan kebencian.

“Publik tampaknya berpikir bahwa ada sesuatu yang busuk di kalangan penguasa”, ungkap John McDermott di FT. “Pada 2010, sebuah jajak pendapat oleh Policy Exchange Kebijakan menemukan bahwa sebanyak 81% rakyat Inggris setuju dengan pernyataan: “Para politisi sama sekali tidak memahami dunia yang sesungguhnya.” Survei British Social Attitude melaporkan bahwa hanya sebanyak 18% responden percaya bahwa pemerintah menaruh kepentingan bangsa di atas kepentingan partai, turun dari 38% pada tahun 1986. Pendapat terhadap perbankan malah lebih buruk. Tahun 1983, sebanyak 90% responden menganggap bahwa perbankan “dikelola dengan baik”, bandingkan dengan persentase sekarang yang hanya 19%. Ini mungkin adalah pergeseran opini yang paling dramatis dalam 30 tahun.

Pandangan Inggris terhadap institusi-institusinya semakin merosot—tanya saja kepada Yang Mulia. Namun skandal-skandal yang melanda perbankan, parlemen, serta media secara berturut-turut telah menimbulkan keruntuhan kepercayaan yang nyaris total mereka-mereka yang memegang kekuasaan …Terdapat ketidakpedulian yang sangat mendalam dari para elit penguasa terhadap sentimen anti-elit yang sangat mendalam, di Inggris dan sekitarnya.” (FT, 28/9/13)

Ed Miliband, pimpinan Partai Buruh di Inggris akhirnya terdorong untuk menggaungkan, meskipun dengan cara yang paling sopan, kemarahan yang semakin tumbuh terhadap konglomerasi serta bank-bank setelah menggunungnya tekanan dari anggota-anggota gerakan Buruh. Meskipun pernyataan Miliband ini sangat terbatas dan lembek, ia telah memicu luapan kemarahan dari media massa borjuasi. Financial Times menuding Milliband “menggunakan retorika populis”. Di sini kita menyaksikan sekilas tekanan-tekanan kontradiktif yang akan berlipat ribuan kali ketika Partai Buruh Inggris masuk pemerintahan di bawah kondisi krisis.

Prancis

Uni Eropa awalnya diniatkan sebagai sebuah persekutuan di mana Prancis akan menjadi pemimpin politik Eropa dan Jerman sebagai mesin ekonomi. Namun rencana-rencana kelas penguasa Prancis ini ternyata hanyalah angan-angan utopis belaka. Semua keputusan diambil oleh Berlin, sementara Prancis tidak memutuskan apapun.

Dalam pemilu-pemilu sebelumnya Partai Sosialis meraih kemenangan telak di tiap tingkatan. Namun dukungan terhadap Hollande pun dengan cepat menguap. Seperti pimpinan reformis lain dia telah menerima peran mengelola krisis Kapitalisme. Sebagai akibatnya dia kini merupakan presiden dengan tingkat rating terburuk sejak 1958. Jajak pendapat terakhir malah mencatat kenaikan dukungan bagi Marine Le Pen, sang politisi sayap Kanan, sementara Hollande berada di belakangnya.

Media akan mencoba menggambarkan hasil jajak pendapat ini sebagai pergeseran ke kanan. Pada kenyataannya ini sebenarnya mengekspresikan sentimen frustrasi dan ketidakpuasan terhadap partai-partai yang ada serta kekecewaan terhadap “Kiri”, yang memberikan banyak janji tapi sedikit bukti. Sedangkan di sisi lain masih belum jelas apakah Partai Komunis dengan kebijakan-kebijakan reformisnya bisa memenangkan dukungan dari kaum Sosialis atau Front de Gauche atau mengembalikan kesuksesan-kesuksesan elektoral sebelumnya.

Sebagian demi mengalihkan perhatian dari masalah-masalah dalam negeri, Hollande meluncurkan serangkaian petualangan militer luar negeri di Afrika (Mali dan CAR). Akibat terhadang oleh Jerman di Eropa, ia mencoba membangkitkan peran lama Prancis di Afrika dan di Timur Tengah. Namun pada kenyataannya, imperialisme Prancis kurang punya otot untuk memainkan peran independen di skala dunia. Petualangan-petualangan militer ini tak pelak lagi akan berakhir bersimbah air mata, dan hanya akan memberikan bahan bakar baru ke kobaran api kekecewaan di dalam negeri.

Prancis masih merupakan negara kunci bagi perjuangan kelas di Eropa. Buruh-buruh Prancis telah menunjukkan berulang kali bahwa mereka tidak pernah melupakan tradisi-tradisi revolusioner mereka. Massa tengah mencari jalan keluar dari krisis. Mereka menaruh kepercayaan mereka kepada para pimpinan Sosialis, tetapi para pemimpin ini secara organik terhubung dengan sistem kapitalis dan tatanan yang ada. Para “Kiri” ini mengkhianati harapan massa. Bahkan dalam pemilihan-pemilihan kota, para pimpinan Partai Komunis dan Parti de Gauche (Partai Kiri) telah memecahkan Front Kiri mereka. Partai Komunis beraliansi dengan Partai Sosialis, partainya pemerintah, sementara Parti de Gauche dalam beberapa kota beraliansi dengan Partai Hijau, yang juga punya dua menteri dalam pemerintahan saat ini. Dengan memecah Front Kiri—setidaknya di tingkat perkotaan—mereka mengecewakan buruh dan pemuda yang mencari alternatif Kiri dari dari Partai Sosialis. Ini merupakan indikasi kebutaan reformis sepenuhnya dari para pimpinan Partai Komunis sehingga mereka terus mendekap erat Partai Sosialis tepat pada saat di mana Hollande dan pemerintahannya sudah terdiskreditkan dan tidak populer. Alih-alih mempertahankan sebuah oposisi yang tegas dan jelas terhadap pemerintah, mereka malah ngotot mencoba mempertahankan jabatan-jabatan mereka di pemerintahan lokal. Kaum Marxis perlu menuntut para pimpinan Front Kiri untuk pecah dengan Partai Sosialis dan Partai Hijau serta memperkuat Front Kiri di atas basis kebijakan-kebijakan Kiri dan Sosialis yang sejati.

Yang sedang kita saksikan sekarang adalah sebuah proses polarisasi kelas-kelas yang akan terekspresikan di dalam ledakan sosial pada tahapan tertentu. Karena frustrasi terhadap ranah elektoral, kaum buruh dan kaum muda akan turun ke jalan seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya. Pengulangan gerakan Mei 1968 sedang dipersiapkan. Tetapi kali ini gerakan ini akan berada di tingkatan yang lebih tinggi, dan kaum Stalinis sudah tidak punya lagi kekuatan atau otoritas untuk mengkhianatinya.

Italia

Italia tengah terhuyung-huyung di tepi lereng. Rating kreditnya menurun dan suku bunga hutang negara meningkat. Konsekuensinya akan sangat buruk, bukan hanya bagi Italia namun juga bagi zona Eropa. Hutang Italia telah mencapai dua triliun Euro. Ongkos hutang pemerintah  mengancam mencekik ekonomi Italia dalam jangka panjang.

Pengangguran bertambah tinggi. Selama tiga tahun terakhir, satu juta orang di antara umur 25 dan 34 tahun telah kehilangan pekerjaan mereka. Di antara orang yang berumur di bawah 35 tahun hanya empat dari sepuluh orang yang punya pekerjaan. Secara resmi, terdapat lebih dari tiga juta orang secara keseluruhan yang menderita pengangguran namun banyak orang telah menyerah mencari kerja karena mereka tidak punya kepercayaan diri bahwa mereka akan mendapatkan pekerjaan. Di tahun 2013, lebih dari 9 juta orang masuk kategori miskin sedangkan 4,4 juta hidup dalam kondisi miskin mutlak.

Survei terbaru oleh Legacoop (rantai supermarket utama) mengonfirmasikan apa yang sudah jelas dalam beberapa waktu: tiga juta rumah tangga–12,3 persen populasi—tidak mampu membeli makanan berprotein tinggi setiap dua harinya, sembilan juta orang Italia tidak mampu memenuhi pengeluaran tak terduga sebesar 800 Euro; rakyat Italia semakin banyak yang berhenti mengendarai mobil (25 persen populasi); mereka tidak lagi pergi berlibur (menurun empat juta musim panas ini); dan mereka tidak membeli baju-baju baru (23 persen populasi). Pengeluaran untuk makanan selama enam tahun belakangan telah menurun sebanyak 14%, turun hingga ke tingkat-tingkat 1971 (2.400 Euro per kapita).

Financial Times menggambarkan tugas-tugas yang dihadapi Italia sebagai “menyakitkan secara ekonomi dan bunuh diri secara politik” (7/10/2013). Kapitalisme Italia tidak bisa bersaing dengan Jerman dan Spanyol serta semakin jauh tertinggal. Di masa lalu Italia akan mendevaluasi mata uangnya, namun dengan Euro, opsi itu sudah tidak bisa diambil. Sebaliknya Italia harus mengambil langkah “devaluasi internal” (yaitu, pemotongan-pemotongan besar terhadap standar hidup). Namun untuk melakukan ini dibutuhkan sebuah pemerintahan yang kuat. Namun, ini mustahil dilakukan.

Setiap partai di Italia mengalami perpecahan. Di PD terdapat perpecahan antara aparatus Partai Komunis yang ada dengan elemen-elemen borjuis dari Christian Democracy. Partai kecil Monti dipenuhi dengan pertikaian antarfaksi dan diduga akan jatuh dari 10% ke 4% di pemilu berikutnya. Bahkan Gerakan Bintang Lima Grillo pun pecah, dengan sebagian elemen di dalamnya menghendaki kolaborasi dengan PD.

Para pimpinan serikat buruh di Italia telah memainkan peran yang buruk dalam mendukung apa yang disebut-sebut sebagai pemerintahan persatuan nasional, dan menelan bulat-bulat semua kebijakan pengetatan anggaran yang jelas-jelas anti kelas buruh. Ini terutama dilakukan oleh para pimpinan “Kiri” dari serikat buruh metal, FIOM, yang setelah membangkitkan harapan para buruh, kemudian menghempaskannya dengan bergabung dengan Camusso, pimpinan CGIL, dalam menandatangani dokumen bersama untuk kongres CGIL. Di sini kita menyaksikan peran reformisme Kiri dalam praktek. Para pimpinan serikat buruh sayap Kanan mendekap erat kaum borjuasi sedangkan para pimpinan serikat buruh Kiri mendekap erat sayap Kanan. Tak ada satu pun di antara mereka yang menaruh kepercayaan kepada kelas buruh, yang ditinggalkan tanpa kepemimpinan dalam momen kritis.

Pengkhianatan para pimpinan ini bisa berujung pada demoralisasi dan apati. Namun ini bukan akhir dari segalanya. Buruh-buruh Italia—seperti Spanyol, Yunani, dan Prancis–punya tradisi panjang gerakan spontan dan insureksioner. Saat dihalangi oleh organisasi-organisasi massa tradisional mereka, mereka akan menemukan jalan untuk mengekspresikan kemarahan mereka dengan cara yang meledak-ledak. Ini yang terjadi pada gerakan Musim Gugur yang Membara 1969. Lima hari pemogokan massa buruh transportasi Genoa untuk melawan privatisasi pada November 2013 menunjukkan mood yang sesungguhnya berkembang di antara kelas buruh Italia. Perkembangan-perkembangan demikian implisit dalam situasi di Italia. Ini bahkan lebih benar di antara kaum muda Italia.

Spanyol

Lima tahun setelah resesi 2008, ekonomi Spanyol masih akan menurun 1,4% di tahun 2013. Pengangguran tercatat setinggi hampir 27%, sementara pengangguran di antarak kaum muda mencapai 57%. Sebanyak enam juta pekerjaan telah hancur semenjak 2007, dan ratusan ribu pemuda dipaksa beremigrasi.

Setelah bertahun-tahun kebijakan pemotongan anggaran secara masif, defisit anggaran pada tahun 2013 masih sebesar 6,5% PDB, sementara hutang akan mencapai 100% PDB. Pemotongan-pemotongan anggaran yang dikombinasikan dengan kontra-reforma dalam pasar  tenaga kerja telah memungkinkan Spanyol meraih kembali daya saingnya di  Eropa. Dengan kata lain, buruh-buruh Spanyol dipaksa membayar krisis kapitalis. Setelah semua luka dan penderitaan ini apa yang dicapai hanyalah omong kosong pemulihan ringan tahun depan dengan tingkat pertumbuhan diprediksikan hanya sebesar 0,2% di tahun 2014 dan mungkin 1% di tahun 2015. Di atas landasan ini, maka akan makan waktu sampai tahun 2021, dengan kata lain butuh hampir 15 tahun bagi Spanyol untuk pulih kembali ke tingkat pra-resesi!

Kenyataannya adalah hutang korporasi, rumah tangga, dan kini hutang negara yang sangat besar yang terakumulasi selama periode panjang boom kapitalisme belum sepenuhnya terserap oleh sistem. Sampai hal itu terjadi, tidak bisa ada pemulihan yang stabil bagi kapitalisme Spanyol. Prediksi-prediksi “optimistis” saat ini semuanya berdasarkan pemulihan ekspor, yang sepenuhnya bergantung pada kemampuan Eropa untuk keluar dari resesi—suatu basis yang sangat rapuh untuk optimisme macam ini.

Dampak krisis ekonomi bagi kesadaran massa terbukti sangat mendalam dan akan bertahan lama. Selain resesi ekonomi ini kita harus tambahkan juga skandal-skandal korupsi yang mempengaruhi semua institusi demokrasi borjuis (yudisial, Monarki, Kongres, partai penguasa). Apa yang kita saksikan di Spanyol adalah sebuah krisis rezim yang meruntuhkan legitimasi yang dibangun oleh kelas penguasa sejak akhir kediktatoran Franco. Semua hantu lama dari masa lalu kembali bergentayangan menghantui borjuasi Spanyol yang lemah dan bangkrut. Masalah kebangsaan di Catalonia, yang diperparah oleh krisis ekonomi, telah bangkit kembali. Perjuangan untuk keadilan bagi korban-korban rezim Franco kembali muncul ke permukaan dan memblejeti watak reaksioner aparatus negara dan kelas penguasa dari kedok demokrasinya.

Serangkaian mobilisasi massa telah terjadi, khususnya sejak 2011. Gerakan indignados, gerakan anti penggusuran, pemogokan pelajar, perlawanan buruh tambang, gerakan spontan pegawai negeri, dua pemogokan umum kerja 24 jam, dan sebagainya. Tentu saja, massa tidak bisa selalu berada dalam kondisi mobilisasi secara permanen. Akan ada naik turun, serta kemandegan. Bagaimanapun juga kemarahan yang sudah menumpuk di bawah permukaan dan tidak menemukan saluran ekspresi masih ada dan bisa menimbulkan letusan kapan pun juga.

Portugal

Portugal masih terjerembab dalam resesi, dengan perkiraan bahwa di tahun 2013 PDB akan menurun antara 1,66% dan 2,7% serta (kemungkinan) pertumbuhan sangat yang pelan pada tahun 2014. Pengangguran sebesar 16% dan pemerintah tidak bisa mencapai target-target pengurangan defisit untuk tahun ini (targetnya sebesar 5,5% dari PDB, angka riilnya sebesar 6%), meskipun bertahun-tahun pemotongan anggaran yang dipaksakan oleh mandat bailout Uni Eropa sebesar 78 miliar Euro pada tahun 2010.

Anggaran tahun 2014 menyertakan pemotongan lebih lanjut terhadap upah sektor publik yang besarnya antara 2% dan 12% per buruh, dan pemotongan sebesar 728 juta Euro terhadap dana pensiun. Namun masih diperlukan pemotongan sebesar 3,3 miliar Euro pada 2014, serta dana bailout lainnya. Ini telah menyebabkan anjloknya dukungan terhadap pemerintahan sayap Kanan. Pada pemilu daerah 2013, partai-partai koalisi penguasa kalah telak. “Situasi politik tengah memburuk”, keluh Financial Times.

Pemerintahan Portugal, yang dengan patuh menjalankan kebijakan-kebijakan pemotongan anggaran sebagaimana didiktekan oleh Uni Eropa, kini mengemis-ngemis kesabaran: “Tolong beri kami sedikit waktu”. Namun para pemilik modal di Washington, Brussels, dan Frankfurt serta troika (IMF, Bank Dunia, dan Bank Sentral Uni Eropa) tidak punya sedikit pun kesabaran. Sebagai harga yang harus dibayar untuk dana bailout, mereka akan menuntut jaminan-jaminan pasti bahwasanya program pengetatan anggaran akan terus diterapkan. Panggung untuk protes-protes massa yang lebih besar tengah dipersiapkan.

Passos de Coelho yang menepuk dada sebagai orang kuat dan murid teladan troika saat terpilih pada Juni 2011, kini terekspos sebagai pimpinan lemah dari sebuah koalisi yang terpecah-belah. Pemerintahannya, yang telah menuai kebencian rakyat Portugal, hampir tumbang setelah pemogokan massa 27 Juni 2013. Ini merupakan perkembangan terbaru dalam rangkaian mobilisasi massa untuk melawan koalisi sayap Kanan.

Kelas buruh Portugis menemukan kembali tradisi Revolusi 1974-1975. Satu juta orang turun ke jalan pada September 2012, kemudian satu setengah juta di Maret 2013. Permasalahannya ada pada faktor kepemimpinan. Partai Sosialis “oposisi” masih terdiskreditkan (mereka menandatangani prasyarat-prasyarat bailout tepat sebelum mereka ditendang keluar dari pemerintahan) dan hanya dapat dukungan kecil akibat meningkatnya abstensi.

Sedangkan Partai Komunis di Portugal menerima keuntungan terbesar dalam gelombang ketidakpuasan yang besar ini. Bagaimanapun juga, dua partai yang lebih Kiri dari SP tidak memiliki program alternatif yang serius terhadap krisis kapitalisme. Bloco de Esquerda menganjurkan “Eropa Sosial” yang Keynesian dan reformis serta “audit hutang”, sementara Partai Komunis Portugal menyarankan ekonomi “patriotik dan demokratik”yang  semi-Stalinis di luar Euro.

Yunani

Setelah lima tahun yang suram akibat pengetatan anggaran problem-problem Yunani masih jauh dari diselesaikan dan sebaliknya malah semakin memburuk. Kebijakan-kebijakan babat dan bakar dari Troika telah menjerumuskan Yunani ke dalam krisis yang mendalam. Sebanyak 1,4 juta menderita pengangguran, termasuk dua dari tiga pemuda Yunani. Tingkat kemiskinan yang tidak tampak semenjak Perang kini terlihat di mana-mana.

Pemerintahan Athena mengeluh (dengan cukup masuk akal) bahwasanya pemotongan-pemotongan yang dituntut oleh Brussel semakin mendorong ekonomi ke dalam resesi, menjatuhkan pendapatan pajak, meningkatkan defisit, serta memaksa mereka meminjam lebih banyak lagi. Namun himbauan-himbauan ini tidak digubris. Jerman dan para pemberi hutang lainnya menjawab bahwa Eropa selatan telah hidup melebihi kemampuan mereka selama bertahun-tahun dan harus “belajar disiplin”.

Tiap paket bailout hanya memberikan tambahan sedikit waktu. Namun pasar-pasar tidak tertipu. Ledakan akibat krisis Yunani hanya tertunda, namun cepat atau lambat akan tak terhindarkan.

Pada saat yang bersamaan, Yunani adalah lahan subur bagi para spekulan finansial. Financial Times menerbitkan sebuah artikel berjudul “Hedge Fund meraup laba di Yunani” dimana ditulis:

“Sektor perbankan Yunani telah menjadi wilayah dengan bunga terbesar. Paulson & Co, Baupost, Dromeus, York Capital, Eaglevale, dan Och Ziff adalah beberapa pihak yang menanam saham di Alpha Bank dan Piraeus Bank. Semua telah meraup keuntungan besar. Perdagangan surat obligasi yang gila-gilaan juga berarti bahwa hedge funds bisa mendominasi perbankan Yunani” (11/10/2013, penekanan dari kami).

Penjarahan terhadap Yunani, pemaksaan kebijakan penghematan yang keji oleh Troika, dan ambruknya standar hidup rakyat telah memicu gelombang besar pemogokan umum, demonstrasi, dan protes massa. Dua pemerintahan sudah jatuh, dan yang ketiga akan jatuh. Samaras bersusah payah mempertahankan koalisi rapuhnya yang tidak bisa bertahan lama. SYRIZA akan mengambil keuntungan dari situasi ini, namun kita tidak bisa memungkiri bahwa Golden Dawn juga telah tumbuh.

Elemen-elemen impresionistik telah menarik kesimpulan dari bangkitnya Golden Dawn bahwasanya terdapat bahaya fasisme yang semakin mendekat. Namun apa yang terjadi dengan Golden Dawn mengkonfirmasikan posisi kami mengenai prospek fasisme dalam epos terkini. Borjuasi Yunani merupakan kelas penguasa yang reaksioner dan keji. Ada satu lapisan dari kelas borjuasi yang mungkin siap menyerahkan kekuasaan pada Golden Dawn—kalau mereka mampu. Faktanya, lapisan-lapisan kelas penguasa yang paling reaksioner (para industrialis kapal) telah sepenuhnya mendukung dan mendanainya.

Berbeda dengan formasi-formasi sayap Kanan di Eropa (Fini di Italia, Marine le Pen di Prancis), yang berusaha memutuskan hubungan mereka dari masa lalu fasis mereka serta menampilkan citra parlementer yang “terhormat”, Golden Dawn adalah sebuah organisasi yang terang-terangan fasis, yang mana hubungan eratnya dengan polisi dan perwira-perwira militer telah terekspos. Anjing-anjing gila ini punya agendanya sendiri, yang tampaknya juga termasuk perebutan kekuasaan.

Masalahnya adalah kelas buruh Yunani kuat, militan dan tak terkalahkan. Borjuasi takut bahwa dengan mengambil aksi prematur, kaum fasis bisa memprovokasi gerakan massa yang mustahil untuk dikendalikan. Preman-preman Golden Dawn sudah keterlaluan dan melangkah terlalu jauh saat mereka membunuh seorang penyanyi sayap Kiri, sehingga memicu protes-protes yang besar. Kaum borjuasi Yunani terdorong mengambil beberapa langkah untuk melawan mereka.

Tentu saja kaum borjuasi tidak bermaksud menyingkirkan kaum fasis. Mereka mengambil langkah-langkah tersebut sekedar sebagai kosmetik untuk menenangkan kemarahan massa. Kaum fasis akan mengelompokkan diri kembali di bawah panji yang lain, kemungkinan sebagai bagian dari sebuah koalisi sayap Kanan dengan citra yang lebih terhormat (tidak terlalu mirip Nazi). Sementara itu elemen-elemen lumpenproletar yang paling gila akan tetap berfungsi sebagai penyokong aparatus represif negara (yang mana dengannya mereka terhubung secara organik), dan berperan sebagai pematah pemogokan serta preman-preman untuk memukuli kaum imigran serta menyerang orang-orang sayap Kiri.

Perspektif ke depan bagi Yunani bukan fasisme apalagi Bonapartisme, melainkan pergeseran ke Kiri. Kejatuhan pemerintahan Samaras yang tak terhindarkan akan mengedepankan masalah pemerintahan SYRIZA. Namun semakin Tsipras dekat ke kekuasaan, semakin moderat bahasanya dengan harapan dia akan mendapat lebih banyak suara. Sebaliknya, ini memicu skeptisisme dari sebagian rakyat Yunani yang sudah muak berhadapan dengan para politisi yang banyak janji dan sedikit bukti saat mereka terpilih.

Mood massa yang sesungguhnya ditunjukkan dalam sebuah jajak pendapat yang menunjukkan bahwa buruh-buruh Yunani sudah menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Jajak pendapat tersebut menyatakan bahwa sebanyak 63% rakyat Yunani menginginkan sebuah “perubahan mendalam” di masyarakat—yang artinya revolusi—sementara 23% lainnya dengan blak-blakan menyatakan bahwa mereka menginginkan revolusi. Masalahnya bukanlah tidak adanya kematangan revolusioner massa. Masalahnya adalah tak ada partai-partai atau pemimpin-pemimpin yang siap memberikan ekspresi sadar terhadap semangat membara massa untuk mengubah masyarakat.

Selama empat atau lima tahun buruh-buruh Yunani telah cukup mendemonstrasikan niat mereka untuk mengubah masyarakat. Mereka telah mengobarkan pemogokan massa berkali-kali. Krisis ini begitu serius sehingga tidak bisa dipecahkan bahkan dengan pemogokan dan demonstrasi yang paling besar. Seruan untuk pemogokan 24 jam akan berhadapan dengan skeptisisme di pabrik-pabrik. Terhalang di jalan pemogokan dan demonstrasi maka buruh-buruh akan bergerak ke ranah elektoral. Cepat atau lambat mereka akan memilih sebuah pemerintahan Kiri, yang akan menyodorkan dua pilihan kepada SYRIZA: menjalankan kebijakan Sosialis atau menerima peran sebagai manajer Kapitalisme Yunani yang korup dan merosot. Ini akan menandai suatu tahapan baru dalam revolusi Yunani dan membuka peluang-peluang penting bagi Kaum Marxis Yunani.

BRICs

Semenjak akhir Perang Dunia II, tenaga pendorong terpenting bagi ekonomi dunia adalah pertumbuhan dalam perdagangan dunia. Namun, badan UN, UNCTAD, kini memprediksikan bahwa perdagangan dunia akan tetap mengalami kelesuan selama bertahun-tahun, dan ini akan menimbulkan dampak-dampak mendalam terhadap ekonomi-ekonomi yang tengah bangkit (emerging economies) yang bergantung pada ekspor.

Harapan yang dibesar-besarkan bahwa Asia bisa berperan sebagai tenaga pendorong ekonomi dunia telah hancur. Pertumbuhan Tiongkok tengah melambat dan India ekonomi menurun bahkan lebih cepat. Ekonomi Eropa tetap macet dan prospek Jepang sudah kabur. Pemerintahan Jepang telah berupaya untuk membangkitkan ekonomi yang stagnan dengan memompa uang lebih banyak. Namun kebijakan ini sepenuhnya tidak sehat. Hutang pemerintahan Jepang telah menggunung hingga 250% PDB. BRICs semuanya berada dalam posisi yang sama dan bahkan prediksi-prediksi IMF terhadap ekonomi Asia Tenggara harus diperkecil. Kini IMF bicara tentang “munculnya penurunan dan perlambatan struktural” di emerging economies.

Pertumbuhan di negeri-negeri emerging economies kini mengalami perlambatan. Hal ini tidak sulit untuk dipahami. Jika Eropa dan AS tidak melakukan konsumsi, Tiongkok tidak bisa berproduksi. Jika Tiongkok tidak bisa berproduksi maka negeri-negeri seperti Brasil, Argentina, dan Australia tidak akan mampu mengekspor komoditas-komoditasnya.

Modal spekulatif yang mengalir ke dalam BRICs selama periode terakhir kini mengalir keluar dan menyebabkan penurunan drastis nilai mata uang mereka. Rupee India, Rupiah Indonesia, Peso Argentina, Real Brasil, dan Rand Afrika Selatan semuanya mengalami penurunan tajam. Menteri Keuangan Nigeria memperingatkan bahwa akhir dari Quantitative Easing akan mengguncang pasar-pasar emerging economies dan menaikkan ongkos-ongkos pinjaman mereka. Hal yang sama juga diutarakan Najib Razak, Perdana Menteri Malaysia, yang memprediksikan bahwa uang akan mengalir balik ke AS.

Selama dekade yang lalu, pertumbuhan ekonomi yang kuat dan naiknya standar hidup telah menumpulkan perjuangan kelas. Tetapi baik di Brazil maupun Turki pertumbuhan telah merosot. Faktanya, di seluruh negeri-negeri berkembang, pertumbuhan telah mengalami perlambatan begitu besar sehingga generasi muda yang baru sulit atau mustahil untuk masuk ke dalam pasar-pasar tenaga kerja.

Tiongkok

Krisis BRICs (Brazil, Rusia, India, China) secara organis terhubung dengan perlambatan ekonomi di Tiongkok. Kebangkitan Tiongkok, yang dipandang oleh beberapa pihak—bahkan beberapa pihak yang mengaku “Marxis”—sebagai suatu jaminan masa depan kapitalisme dunia, hanya mempertajam semua kontradiksi. Selama periode tertentu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang meledak-ledak menyediakan oksigen bagi kapitalisme dunia. Kini keunggulan besar ini berbalik menjadi permasalahan raksasa. Investasi masif di industri Tiongkok pada akhirnya mengekspresikan diri dalam wujud komoditas-komoditas murah, yang harus menemukan pasar di luar Tiongkok. Bagi para manufaktur global, banjir ekspor barang murah dari Tiongkok selama dekade lalu telah mempercepat krisis overproduksi.

Kombinasi suplai buruh murah yang sangat banyak dari pedesaan dengan mesin-mesin dan teknik modern yang dibiayai oleh subsidi-subsidi negara telah membuat Tiongkok dengan cepat membangun sebuah basis industri yang kuat. Tiongkok telah menghancurkan pekerjaan-pekerjaan dan kapasitas industri di seluruh penjuru dunia, menutup pabrik-pabrik di negara-negara pesaing. Perusahaan-perusahaan asing gemetaran di hadapan banjir barang-barang murah dari Tiongkok. Awalnya memang terdapat tingkat laba yang sangat tinggi, namun sebagaimana yang dijelaskan Marx, apa yang terjadi kemudian adalah kapitalis-kapitalis lainnya membanjiri pasar dan tingkat laba mencapai tingkatan normal. Kita menyaksikan hal ini terjadi di Tiongkok. Periode pertumbuhan yang meledak-ledak telah mencapai batasannya. Kini Tiongkok mendapati dirinya berhadapan dengan permasalahan-permasalahan serupa yang melanda setiap ekonomi kapitalis.

Barang-barang murah Tiongkok telah mendominasi banyak sektor. Namun begitu mayoritas industri manufaktur global pindah ke Tiongkok maka overkapasitas menyusul dengan cepat. Kini mereka semakin khawatir mengenai overproduksi (“overkapasitas”)  di dalam ekonomi Tiongkok. Ini menimbulkan risiko signifikan di ekonomi terbesar kedua di dunia.

Selama krisis finansial global, Tiongkok membantu menyelamatkan sistem kapitalis dengan meluncurkan paket stimulus raksasa yang menyediakan suplai oksigen bagi pasar dunia. Hasilnya, ekonomi Tiongkok terus tumbuh, sebesar 8,7 persen di tahun 2009 dan 10,3 persen di tahun 2010. Ini merupakan eksperimen ekonomi Keynesian terbesar dalam sejarah. Namun kini kontradiksi-kontradiksi ini telah menjadi kentara. Sekarang banyak industri yang diuntungkan dari stimulus—mulai dari industri baja sampai pembangunan kapal hingga pelelehan metal—semuanya lumpuh akibat overkapasitas, atau lebih tepatnya overproduksi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan menyebabkan kerugian besar dan proses eliminasi yang menyakitkan.

Financial Times (17/62013) berkomentar “Mulai dari industri kimia dan semen sampai ke pengolahan bumi dan televisi-televisi layar datar, industri Tiongkok kini dilanda kapasitas ekses yang menekan laba baik di dalam maupun di luar negeri dan mengancam mengguncang lebih lanjut ekonomi Tiongkok yang pertumbuhannya sudah tidak kokoh”.

Tiongkok memproduksi hampir setengah dari aluminium dan baja di dunia serta sekitar 60 persen semen dunia, namun kapasitas produktif yang baru sedang ditambahkan dengan cepat, bahkan saat ekonomi mengalami perlambatan dan pasar-pasar ekspor menyusut. Walaupun produksi baja Tiongkok telah mencapai tingkat yang tinggi, hanya sekitar 80% kapasitas produksi yang digunakan. Kepala-kepala industri dan pejabat-pejabat pemerintah mengatakan lebih banyak kapasitas ekses yang perlu ditutup agar sektor tersebut dapat kembali seimbang.

Sekali lagi:

“Hanya sekitar dua pertiga kapasitas semen yang digunakan tahun lalu, menurut survei dari Konfederasi Perusahaan Tiongkok.

Usha Haley menulis: “Terdapat overkapasitas yang sangat besar dan tidak ada pengukur atas suplai dan permintaan, serta kami menemukan bahwa subsidi menyumbang 30 persen dari output industri. Sebagian besar perusahaan akan bangkrut kalau tidak ada subsidi.”

“Hampir semua investasi perusahaan industri dan rencana-rencana pertumbuhan adalah berdasarkan keyakinan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan pertumbuhan turun di bawah 8 atau 9 persen. Namun situasi sudah berubah. Pertumbuhan Tiongkok turun hingga 7,5% dan kemudian meningkat sekitar 7,8%. Namun bahkan ini adalah pertumbuhan paling lambat dalam 13 tahun terakhir.

“Overkapasitas dalam industri otomotif sangat besar. Dalam kasus Geely, yang membeli Volvo pada tahun 2010, lebih dari separuh dari laba bersihnya datang langsung dari subsidi tahun 2011. Faktanya, pendapatan subsidi bagi Geely tahun itu bahkan mencapai 15 kali lebih besar daripada sumber terbesar pendapatan bersih berikutnya–’penjualan rongsokan metal’—menurut analisis dari Fathom China.” (FT, 17/6/2013)

Besarnya overkapasitas dan perlambatan dalam pertumbuhan Tiongkok menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan yang akan menghadapi kebangkrutan. Ini akan menimbulkan dampak-dampak yang besar terhadap psikologi tiap kelas di Tiongkok.

Perspektif Perjuangan Kelas

Semua keberhasilan ekonomi Tiongkok sepenuhnya berdasarkan tenaga kerja buruh-buruh Tiongkok, yang membanting tulang dengan upah rendah di bawah kondisi-kondisi yang menyerupai Inggris zaman Victoria [Abad ke-19]. Kesenjangan sangatlah dibenci di Tiongkok, yang seharusnya merupakan negara “Sosialis”.  Kelas borjuasi Tiongkok yang baru telah bangkit, berpesta-pora dengan kemewahan yang asing bagi mayoritas luas populasi Tiongkok.

Tiongkok dijalankan oleh segelintir elit oligarki super kaya-raya yang memperkaya diri mereka sendiri dengan menjarah negara dan mengeksploitasi tenaga kerja buruh-buruh Tiongkok dengan brutal. Namun basis kelas kapitalis Tiongkok sangatlah tipis. Dari suatu populasi yang besarnya sekitar 1.354 juta, hanya terdapat 1,2 juta jutawan (dalam ukuran dolar AS). Golongan ini besarnya sebesar 0,1% dari populasi. Jumlah para jutawan kini tumbuh dengan pesat namun menunjukkan betapa lemahnya kapitalis-kapitalis di Tiongkok. 1,2 jutawan ini jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah jutawan di Inggris maupun Italia.

Benar kalau di bawah mereka ada lapisan penghisap dan penindas lainnya: manajer-manajer pabrik, direktur-direktur, majikan-majikan, insinyur-insinyur, birokrat-birokrat dan para pejabat di institusi-institusi Negara dan Partai. Bersama dengan keluarga-keluarga mereka, mereka membentuk bagian dari penguasa. Namun bahkan setelah menyertakan mereka semua, mayoritas populasi masih berada di luar kesejahteraan ekonomi dan kekuasaan yang datang seiring dengannya. Kekayaan elit penguasa dan anak-anaknya sangat dibenci oleh rakyat jelata Tiongkok. Korupsi yang merajalela di setiap tingkat pemerintah juga menambah kebencian ini.

Elit penguasa mencoba menenangkan kemarahan rakyat jelata Tiongkok dengan menyajikan pengadilan-pengadilan korupsi yang dipublikasikan luas, dimana sejumlah pejabat yang sangat keterlaluan dalam korupsinya dihukum mati. Pada saat yang sama mereka juga mencoba mencegah korupsi, yang merupakan produk tak terelakkan dari rejim yang totaliter dan birokratik, agar tidak menjarah terlalu banyak kekayaan yang diciptakan oleh kelas buruh.

Generasi baru buruh-buruh muda tidak ingin diam saja menerima upah murah dan kondisi-kondisi buruk yang mau diterima generasi pendahulu mereka yang datang dari latar belakang bekas tani yang baru tiba di kota dari desa-desa miskin. Tumbuhnya rasa ketidakpuasan di masyarakat Tiongkok diekspresikan oleh jumlah pemogokan, demonstrasi, dan bunuh diri di pabrik-pabrik yang semakin meningkat. Dalam sebuah masyarakat totaliter, di mana ketidakpuasan secara paksa ditekan dan hanya ada sedikit katup legal, ledakan-ledakan bisa muncul mendadak dan tanpa peringatan. Bukanlah suatu kebetulan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah negara Tiongkok menghabiskan anggaran keamanan dalam negeri lebih besar dibandingkan pertahanan.

Rusia

Berbeda dengan mayoritas negeri-negeri Eropa, negeri Rusia belum memiliki masalah hutang yang serius. Semua ini berkat ekspor minyak dan gas serta pertumbuhan ekonomi dalam periode yang lalu, yang menyediakan cadangan finansial yang cukup besar. Namun cadangan ini pun sudah mendekati batas-batasnya. Seperti negeri-negeri BRICs lainnya, ekonomi Rusia juga mengalami penurunan, dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan sekitar 1%.

Inilah latar belakang bagi naiknya rasa ketidakpuasan, tidak hanya di antara kelas buruh namun juga di lapisan luas borjuasi kecil, yang tercermin dalam bangkitnya gerakan oposisi anti-Putin. Akibat ekspansi kredit, mayoritas buruh dan kaum muda kini mendapati diri mereka dibebani hutang-hutang besar. Begitu juga dengan perusahaan-perusahaan dan kota-kota. Konsekuensinya adalah jatuhnya investasi dan stagnasi ekonomi. Untuk pertama kalinya, sektor-sektor ekonomi seperti industri otomotif mengalami masalah serius dengan penjualan.

Ekonomi ditopang oleh negara melalui metode-metode Keynesian, yakni lewat investasi negara secara langsung ke dalam infrastruktur, atau proyek-proyek seperti Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014 dan Piala Dunia 2018. Ini sama dengan pembangunan piramida di Mesir Firaun, yang hanya mungkin dilakukan di atas landasan penindasan terhadap buruh-buruh yang diupah murah dan tingginya harga minyak dan gas. Bagaimanapun juga, periode panjang harga minyak yang tinggi telah menimbulkan akibat-akibat tak terhindarkan dalam teknologi-teknologi baru bagi produksi minyak dan gas di AS (“fracking”). Proyek “energi imperial” Putin jadi banyolan. Reaksi histerisnya terhadap aksi Green Peace di Laut Barent adalah tanda kepanikan, bukan kekuatan.

Pertumbuhan ekonomi dalam periode lalu memungkinkan Putin menjalankan kebijakan semi paternalistik. Inilah yang membuat rejimnya tampak stabil. Namun ini tidak bisa terus berjalan lama. Mayoritas buruh-buruh baru kini dihadapkan dengan upah rendah dan kondisi kerja yang buruk. Jumlah imigran legal dan semi legal dari Asia Tengah meningkat tajam. Stabilitas sosial dan politik telah menunjukkan tanda-tanda ketegangan, dan ini menentukan kebijakan Putin—serta kebijakan kaum oposisi.

Tujuan utama oposisi liberal adalah untuk merebut elemen-elemen borjuis kecil dari rangkulan Putin. Tokoh utama oposisi ini adalah Alexey Navalny. Pada pemilihan walikota Moskow sebelumnya di bulan September 2013, ia meraih suara sebesar 27,24% melawan Sobyanin, kandidat Putin, yang meraih suara sebesar 51%, Sedangkan kandidat dari Partai Komunis dan pimpinan sayap “Kiri” Partai, Ivan Melnikov, hanya meraup suara sebesar 10,69%.

Navalny adalah seorang pengacara sekaligus investor kecil. Dia dipecat dari Partai Liberal Yabloko karena nasionalisme. Programnya menyertakan perjuangan melawan korupsi, “Pemerintahan yang murah”, pajak rendah, sistem visa bagi negara-negara bekas Soviet di Asia Tengah serta deportasi terhadap para imigran yang menganggur.

Restorasi kapitalisme di Rusia telah mengakibatkan polarisasi kekayaan secara ekstrem. Laporan Kekayaan Suisse Kredit terbaru menunjukkan secara jelas bagaimana kekayaan dunia masih terkonsentrasi di tangan AS dalam hal jumlah mutlak jutawan-jutawan, serta jumlah akumulasi kekayaan yang terkonsentrasikan di tangan-tangan mereka.

Namun laporan ini juga menyoroti fakta bahwa Rusia kini memiliki tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia. Di seluruh dunia, para milyader menguasai kekayaan nasional sebesar 1% – 2%; di Rusia hari ini, 110 milyader menguasai 35% kekayaan.

Meningkatnya ketegangan antar kelas ini secara parsial dan temporer berkurang akibat pertumbuhan ekonomi. Namun kini pertumbuhan ekonomi tersebut menurun dengan tajam, yang mencerminkan krisis umum kapitalisme dunia. IMF memotong perkiraan pertumbuhan PDB Rusia pada 2013 menjadi +1,5% dibandingkan 5-8% sebelum krisis finansial. Situasi di Rusia mengarah pada ledakan sosial, bahkan dalam jangka pendek.

Lenin mengatakan bahwa syarat pertama bagi revolusi adalah strata penguasa berada dalam krisis dan tidak mampu terus berkuasa dengan cara yang lama. Ada sentimen pesimisme di antara kelas penguasa, yang kadang-kadang hampir seperti kepanikan. Gagasan utama Putin adalah membangun sebuah negara polisi yang kuat sebelum pecah krisis.

Syarat kedua revolusi menurut Lenin adalah gejolak di lapisan tengah masyarakat yang berayun antara revolusi dan konter revolusi. Demonstrasi-demonstrasi massa menentang manipulasi pemilu, yang wataknya didominasi kelas menengah, mengindikasikan bahwa proses ini sudah dimulai.

Syarat ketiga, yaitu buruh-buruh harus siap berjuang dan berkorban untuk mengubah masyarakat, belum matang di Rusia. Namun mendekatnya krisis ekonomi dan tumbuhnya ketidakpuasan terhadap Putin berarti hanya masalah waktu saja sebelum ledakan-ledakan sosial terjadi di Rusia seperti yang terjadi di Turki dan Brazil.

Permasalahannya ada pada kepemimpinan. Ketidakmampuan dari apa yang disebut-sebut sebagai Partai Komunis untuk menawarkan suatu alternatif kepada massa berarti bahwa gerakan protesi ini dipimpin oleh kaum Liberal borjuis dan demokrat borjuis kecil. Namun gerakan ini hanya merupakan gejala dari pergolakan yang kian tumbuh, yang cepat atau lambat harus diekspresikan dalam ledakan sosial. Pada waktunya, melalui aksi-aksi, kelas buruh Rusia akan menemukan kembali tradisi sejati Revolusi Oktober dan Bolshevisme.

India dan Pakistan

Kaum borjuasi India mengidap halusinasi akut. Perdana Menteri Monamhan Singh mengklaim bahwa “kecepatan pertumbuhan” India adalah sebesar 8% – 9%. Kini pertumbuhannya hanya setengahnya saja. Investasi swasta telah mengering. Inflasi sekarang naik lebih dari 10% dan terus naik. Rupee jatuh 13% dalam jangka tiga bulan di tahun 2013. The Economist (24/8/2013) memperingatkan: “Konglomerat-konglomerat yang dulunya menyorak-soraki kebangkitan India sebagai sebuah negara adidaya kini berbicara mengenai ancaman pergolakan sipil”.

Prediksi ini sudah menjadi kenyataan. Pergolakan masyarakat India tercermin dalam serangkaian gerakan massa yang menyentuh berbagai isu. Pertama, ada gerakan anti korupsi, yang diikuti oleh demo-demo massa menentang pemerkosaan serta serangan terhadap kaum perempuan. Keduanya memiliki watak borjuis kecil namun menunjukkan arus bawah ketidakpuasan terhadap fondasi-fondasi nasionalis Hindu dari negeri India.

Manifestasi-manifestasi ini seperti buih di ombak di samudra; dengan kata lain gejala-gejala dari arus bawah yang jauh lebih dalam dan kuat. Ketidakpuasan massa yang tidak menikmati pertumbuhan ekonomi India, kini menjelma jadi kemarahan. Ini yang ditunjukkan oleh serangkaian pemberontakan kaum tani dan di atas segalanya pemogokan massa dua hari pada Februari 2013.

Di sisi lain perbatasan artifisial, Pakistan telah tereduksi ke tingkat penderitaan yang paling parah sejak kemerdekaan. Ambruknya ekonomi, serangan-serangan teroris, bom-bom bunuh diri, naiknya harga-harga, bunuh diri keluarga-keluarga melarat, perdagangan anak-anak dan organ tubuh manusia, penyiksaan dan pembunuhan terhadap perempuan. Semua ini mengingatkan kita kembali pada pernyataan Lenin: “Kapitalisme adalah horor tanpa akhir”.

Harapan-harapan massa yang mendambakan perbaikan di bawah pemerintahan PPP akhirnya dikhianati. Kini pemerintahan sayap Kanan Liga Muslim tengah menjalankan serangan-serangan lanjutan. Mereka menjarah negara melalui privatisasi perusahaan-perusahaan negara seperti Pakistan International Airlines, layanan pos, perusahaan kereta api, WAPDA (Water and Power Development Authority atau Otoritas Pengembangan Air dan Energi), dan lain-lain.

Sebagai akibatnya, akan ada lebih banyak pemecatan, lebih banyak pengangguran, lebih banyak kemiskinan dan kehancuran ekonomi. Kesengsaraan rakyat diperparah oleh sektarianisme agama yang mengerikan, pembantaian-pembantaian komunal, peperangan proxy yang berdarah-darah di Baluchistan, serangan-serangan drone di Pukhtoonhua, dll. Badan intelijen Pakistan (ISI) terus beroperasi seperti negara di dalam negara, dimana mereka memprovokasi konflik, pembunuhan dan kekerasan demi intrik-intrik gelap mereka. Untuk mengalihkan perhatian dari kesengsaraan yang dihadapi massa, kelas penguasa Pakistan yang bangkrut bermain-main api dengan konflik di Afghanistan dan India. Konflik di Kashmir terus meracuni relasi antara dua bangsa ini, seperti luka yang bernanah.

Tidak ada jalan keluar di atas landasan kapitalis. Baik Liga Muslim, PPP, maupun kediktatoran militer tidak ada yang akan bisa berhasil. Hanya Revolusi Sosialis yang bisa menunjukkan jalan keluar dari neraka ini di mana jutaan rakyat hidup di Pakistan, India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Kondisi-kondisi parah yang melanda hidup mereka sudah tak tertahankan lagi. Kondisi-kondisi obyektif tengah disiapkan untuk sebuah gelombang pasang revolusioner seperti Revolusi 1968-1969. Revolusi demikian di masa silam tergelincir akibat kurangnya kepemimpinan. Namun kekuatan IMT di Pakistan yang semakin besar, di bawah kondisi-kondisi paling sulit yang bisa dibayangkan, menawarkan masa depan kemenangan. Kita harus melipatgandakan upaya kita untuk memperkuat barisan Marxis Pakistan demi menjamin kemenangan tersebut.

Afghanistan

Setelah tiga belas tahun peperangan yang berdarah-darah, kaum Imperialis berupaya membebaskan dirinya dari rawa Afghan. Saat pasukan koalisi yang dipimpin AS masuk Afghanistan, kami telah memprediksikan bahwa kesuksesan awal mereka akhirnya akan berakhir dalam kegagalan. Saat itu kami menulis:

“Ambruknya pertahanan Taliban yang terjadi dengan begitu cepat dan mudahnya Aliansi Utara memasuki Kabul, telah membuat banyak orang menyimpulkan bahwa perang sudah selesai serta Taliban sudah habis. Ini adalah pembacaan situasi yang keliru [...]

“Taliban memang kehilangan kekuasaan mereka, namun tidak kehilangan potensinya untuk berperang. Mereka terbiasa melancarkan perang gerilya di pegunungan. Mereka telah melakukannya sebelumnya dan akan melakukannya lagi. Di utara, mereka berperang di wilayah yang asing dan sulit. Namun di pedesaan dan pegunungan daerah Pushtoon, mereka berada di daerah mereka sendiri. Oleh karenanya ada prospek perang gerilya berkepanjangan yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Bagian pertama kampanye perang Sekutu memang gampang. Namun bagian kedua tidak akan segampang itu. Pasukan Inggris dan Amerika harus masuk ke daerah-daerah Pushtoon, yang mana mereka akan jadi mangsa empuk bagi para gerilyawan. Jatuhnya korban jiwa tidak terhindarkan. Pada tahapan tertentu ini akan mempengaruhi opini publik di Inggris dan Amerika.

“Amerika berharap mampu melancarkan serangan yang cepat dan presisi terhadap Bin Laden, dengan bersandar pada serangan udara. Namun justru konflik menjadi semakin rumit dan sulit, dan akhir dari perang ini tidak kelihatan. Mereka harus terus menempatkan pasukan-pasukan tidak hanya di Afghanistan namun juga di Pakistan serta negeri-negeri lain untuk menyokongnya [...]

“Ini adalah posisi yang jauh lebih buruk dan berbahaya dibandingkan posisi yang didapati Amerika pada 11 September. Washington kini akan terpaksa menanggung rezim yang bangkrut dan tidak stabil di Pakistan, termasuk semua negeri-negeri ‘bersahabat’ di wilayah tersebut, yang mengalami destabilisasi akibat aksi-aksinya. Jika tujuan operasi ini adalah untuk memerangi terorisme, maka mereka akan menemukan bahwa apa yang mereka capai adalah sebaliknya. Sebelum peristiwa-peristiwa ini, kaum imperialis mampu menjaga jarak yang relatif aman dari kekacauan dan peperangan dari belahan dunia ini, namun kini mereka sepenuhnya terbelit di dalamnya. Tindakan-tindakan mereka sejak 11 September telah membuat Inggris dan AS terjerumus dalam rawa yang mana mereka akan sulit melepaskan diri darinya.

Ini ditulis pada 15 November 2001 (Afghanistan after the fall of Kabul: Is the war over?). 12 tahun kemudian tidak ada satu pun kata dari tulisan kami yang perlu diganti.

Dengan PDB per kapita $528 di 2010/2011, Afghanistan masuk di antara 10 negara termiskin di dunia. Tahun 2008, 36 persen populasi Afghanistan hidup di bawah garis kemiskinan, setengah dari populasi dianggap rawan. 134 dari 1.000 bayi yang dilahirkan mengalami kematian. Ini merupakan tingkat kematian bayi tertinggi di dunia. Usia harapan hidup 48,1 tahun. 75 persen populasi menderita buta huruf. Afghanistan juga merupakan penyuplai opium terbesar di dunia.

Uang yang dihabiskan untuk perang-perang tak berguna akan cukup kalau digunakan untuk meningkatkan standar hidup rakyat. Namun sebaliknya, kaum imperialis telah memporak-porandakan Afghanistan dan kini harus angkat kaki, tanpa memberikan solusi apapun. Mereka kini tengah bernegosiasi dengan Taliban, yang tak terelakkan lagi akan punya jatah besar dalam pemerintahan di Kabul kelak. Tak ada yang tercapai kecuali destabilisasi seluruh kawasan secara lebih lanjut, dan ini diawali dengan Pakistan.

Amerika Latin

Ekonomi dari sejumlah negeri Amerika Latin (termasuk Brasil, Chile, Peru, Bolivia, Ekuador, dan Kolombia) yang mendapat keuntungan dari mengekspor bahan-bahan mentah, komoditas-komoditas, dan sumber-sumber energi ke Tiongkok, kini tengah menderita akibat perlambatan ekonomi Tiongkok. Ini akan menimbulkan implikasi-implikasi politik dan sosial yang dalam di periode selanjutnya, sebagaimana yang sudah kita saksikan dalam gerakan-gerakan besar melawan kenaikan ongkos bis di Brasil.

Setelah periode kebangkitan perjuangan kelas di seluruh Amerika Latin (khususnya di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador), di mana pemerintahan-pemerintahan sayap Kanan digulingkan oleh kebangkitan massa, pemilihan presiden-presiden yang mengambil kebijakan-kebijakan yang mendorong mereka berkonflik dengan imperialisme, pemberontakan-pemberontakan regional, dan lain-lain, gelombang revolusioner di benua tersebut tampaknya telah mencapai kemandegan. Ada kebuntuan dalam perjuangan kelas ini, di mana kedua belah pihak belum ada yang mampu meraih kemenangan telak.

Upaya-upaya kudeta berhasil dikalahkan oleh massa di Venezuela (dalam berbagai kesempatan), Ekuador, dan Bolivia. Kekuatan-kekuatan reaksi dan imperialisme tidak mampu mengalahkan gerakan-gerakan ini secara mutlak, namun dengan pengecualian kudeta-kudeta di Paraguay dan Honduras, yang meskipun demikian tidak mengakhiri gerakan revolusioner di negara-negara tersebut.

Di Kolombia, awal perundingan-perundingan perdamaian antara pemerintahan dan FARC, yang menunjukkan ketidakmampuan para gerilyawan untuk memenangkan perang, telah membuka jalan bagi perkembangan perjuangan kelas sepanjang garis-garis klasik. Popularitas Santos, presiden yang baru, telah anjlok (dari 46% turun ke 21% antara Juni dan Agustus 2013) setelah serangkaian pemogokan penanam kopi, pekerja yudisial, mahasiswa, dan yang paling baru, pemogokan agraria nasional yang membuat pemerintahannya berada di ujung tanduk. Upaya kelas penguasa Kolombia untuk “menormalisir” metode kekuasaannya (setelah bergantung pada paramiliter di bawah Uribe) menyerang balik ketika gelombang perjuangan kelas bergulir.

Dengan kembali berkuasanya PRI, kelas penguasa Meksiko berhasil membentuk sebuah pemerintahan yang relatif kuat  yang memungkinkan mereka menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah mereka rencanakan selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum Peña Nieto dilantik, mereka sudah mengesahkan perubahan UU perburuhan. Perubahan ini menghapus serangkaian pencapaian yang dimenangkan lewat revolusi Meksiko, sehingga kelas penguasa akan semakin mudah menghisap dan menindas kelas buruh.

Kebijakan lainnya adalah kontra reforma energi, yang membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan multinasional untuk berinvestasi dalam sektor-sektor listrik dan perminyakan. Nasionalisasi minyak oleh pemerintahan Lazaro Cardenas di tahun 1938 berarti bahwa selama berpuluh-puluh tahun Meksiko memiliki stabilitas ekonomi dan sosial. Kini ini harus berakhir. Sebelum kontra reforma energi ini, perusahaan minyak Pemex menyumbang hingga 40% pendapatan negara. Kini sebagian besar sumber daya ini akan disalurkan masuk ke kantong-kantong pribadi para kapitalis. Ini akan mengakibatkan defisit anggaran, yang akan diimbangkan melalui peningkatan pajak dan pemotongan terhadap anggaran-anggaran sosial.

Membusuknya kapitalisme Meksiko diekspresikan oleh meningginya pengangguran, perkembangan ekonomi informal, dan meningkatnya penderitaan serta dekomposisi sosial. Ini terekspresikan paling jelas dalam perkembangan pasar-pasar narkoba serta munculnya perang terhadap narkoba, yang berarti meningkatnya penderitaan massa. Reforma-reforma ini menandai suatu titik balik, dan akan berujung pada semakin parahnya kondisi hidup rakyat Meksiko di tahun-tahun mendatang.

Kepemimpinan serikat-serikat buruh dan Morena, dengan cara pandang elektoralnya yang reformis, telah menjadi penghalang dari perlawanan balik yang berdasarkan metode-metode aksi massa revolusioner. Namun kemarahan massa terus tumbuh. Ini terekspresikan oleh pembentukan Morena, dalam perjuangan-perjuangan serikat buruh yang militan–seperti para guru dan buruh-buruh PLN–dengan masuknya generasi pemuda yang teradikalisasi ke dalam gerakan dan berkembangnya polisi komunitas serta kelompok-kelompok pertahanan diri.

Di negara bagian Guerrero telah berlangsung mobilisasi-mobilisasi massa bersenjata, dan di Michoacan terdapat kotamadya-kotamadya yang berada dalam kondisi perang sipil (perang saudara) terbuka. Meskipun proses ini penuh dengan kontradiksi,  ini merupakan gejala dari membusuknya kapitalisme Meksiko yang menekan massa–yang mulai menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Pemerintahan Peña Nieto akan melanjutkan kebijakan kontra reforma, yang akan mempersiapkan perlawanan-perlawanan balik dari buruh.

Meskipun demikian, karena ketiadaan faktor subyektif–yakni sebuah kepemimpinan revolusioner yang jelas–massa Amerika Latin tercegah dari merebut kekuasaan ke tangan mereka sendiri dan menghapus kapitalisme. Ini telah membawa situasi yang ada ke jalan buntu dan kesetimbangan kelas yang tidak stabil, sebuah kondisi yang diperpanjang oleh boom ekonomi. Resesi dunia yang dimulai pada 2007-2008 hanya mempengaruhi Amerika Selatan secara parsial, dan kawasan ini pulih dengan cepat, dengan bersandar pada Tiongkok. Namun semua ini kini akan berakhir. Ini terungkap secara dramatis oleh peristiwa-peristiwa di Brasil.

Brasil

Dalam periode sebelumnya (hingga tahun 2011), Brasil menikmati tingkat pertumbuhan yang tinggi, terutama karena ekspor ke Tiongkok. ini memungkinkan para kapitalis memenuhi tuntutan-tuntutan upah saat menghadapi kurangnya tenaga kerja dan pemogokan-pemogokan buruh. Upah naik rata-rata sebesar 3,5% per tahun antara 2002 dan 2013 secara riil, dan dalam dolar kenaikan ini bahkan lebih tinggi. 95% perundingan-perundingan upah berakhir dengan peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan tingkat laju inflasi. Kenaikan upah ini, dan pencapaian dari program kesejahteraan Lula “Bolsa Familia” yang ditujukan untuk menyokong standar hidup lapisan-lapisan paling miskin (25 juta orang), menjelaskan stabilitas pemerintahan PT (Partai Buruh) selama periode ini.

Namun sekarang semuanya telah berubah. Perlambatan tajam ekonomi di tahun 2011 (+2,7%) dan 2012 (+0,9%) secara tiba-tiba mengungkap rasa frustrasi yang luas, yang berujung pada ledakan gerakan massa pada Juni 2013. Tingkat  investasi yang relatif rendah oleh para kapitalis berarti bawah meningkatnya upah tidak diimbangi oleh produktivitas yang meningkat. Semenjak 2003, biaya tenaga kerja per unit di Brasil telah berlipat, bahkan tiga kali dalam dolar.

Rendahnya tingkat investasi telah berakibat pada kejatuhan tajam produktivitas dibandingkan dengan ekonomi-ekonomi besar lainnya. Boom ekspor ke Tiongkok telah menutupi posisi Brasil yang berada di tengah malapetaka. Sebuah laporan khusus dari Economist mengenai Brasil (28 September 2013) mengindikasikan bahwa Brasil sedang bergerak ke periode meningkatnya krisis dan perjuangan kelas. Inflasi, yang mendekati 6%, memperburuk standar hidup rakyat jelata dan mendorong tuntutan-tuntutan ekonomis kelas buruh. Fakta ini menjelaskan mengapa ada selapisan kelas borjuasi yang ingin menyingkirkan PT. Mereka menganggap bahwa PT tidak akan mampu segera menghunus pisau dan menikam dengan cukup dalam. Sedangkan lapisan borjuasi lainnya takut terhadap prospek menghadapi naiknya perjuangan kelas tanpa bantuan dari para pimpinan PT.

Gerakan melawan naiknya ongkos bis, yang menyebar dengan cepat ke seluruh negeri, merefleksikan ketidakpuasan yang lebih luas yang telah menumpuk di dalam masyarakat. Ini menandai tibanya gelombang revolusioner dari negara-negara Arab dan Eropa Selatan ke Brasil. Meskipun gerakan ini tidak punya pimpinan dan secara tak terelakkan mengandung elemen-elemen yang bingung, gerakan ini merepresentasikan suatu titik balik signifikan, dan diikuti oleh serangkaian hari aksi nasional oleh gerakan serikat buruh dan mobilisasi masif di sekitar pemogokan guru. Dilma Roussef jelas tidak akan menikmati boom ekonomi yang menjamin stabilitas pemerintahan Lula sebelumnya. Ini akan menciptakan kondisi-kondisi yang baik bagi kaum Marxis Brasil di periode berikutnya.

Venezuela

Kemenangan tipis Maduro dalam pemilihan umum (Pemilu) presiden di Venezuela, April lalu, merupakan sebuah peringatan serius untuk gerakan Bolivarian. Namun, upaya kaum oligarki untuk menggulingkan Maduro menjadi senjata makan tuan. Sekali lagi massa turun ke jalan dan mengalahkan provokasi-provokasi sayap Kanan dengan mobilisasi revolusioner.

Faktor kuncinya kini adalah kekacauan ekonomi yang disebabkan oleh upaya untuk mengatur ekonomi kapitalis, sabotase yang dilakukan oleh kelas penguasa, dan mogok investasi oleh kapitalis secara serius mengikis basis sosial dukungan untuk revolusi. Kelangkaan sembako disertai dengan inflasi yang tinggi, yang kini telah mencapai 50%. Situasi ini tidak bisa berlangsung lama. Revolusi harus mengambil langkah pasti ke arah penumbangan kapitalisme, atau kekacauan ekonomi in akan menciptakan kondisi-kondisi bagi borjuasi untuk kembali berkuasa dan menghantam revolusi.

Kebijakan pemerintahan Maduro setelah pemilu April adalah menyerang oposisi di arena politik namun di sisi lain mencoba meraih kesepakatan dengan kapitalis-kapitalis di ranah ekonomi. Konsesi-konsesi ditawarkan ke bisnis-bisnis swasta terkait akses ke mata uang asing, termasuk liberalisasi kontrol harga, dan gagasan menciptakan Zona Ekonomi Khusus dengan mengambil model Tiongkok. Ini merupakan kebijakan utopis yang tidak bisa memecahkan apapun. Setiap konsesi yang diberikan kepada kelas penguasa akan menggerogoti basis sosial revolusi, sementara tidak satu pun problem ekonomi fundamental yang terpecahkan.

Menjelang pemilihan daerah Desember 2013, pemerintah mengambil langkah yang berbeda, dengan menghantarkan pukulan terhadap kapitalis-kapitalis. Langkah-langkah ini masih berada dalam logika mengatur kapitalisme, namun terbukti sangat populer di antara massa pekerja dan mengobarkan kembali antusiasme revolusioner rakyat. Langkah-langkah melawan spekulasi, penimbunan, dan penggelembungan harga inilah yang menjamin kemenangan revolusi di dalam pemilihan daerah. Bahkan kalaupun kaum oligarki berhasil kembali berkuasa, ini bukanlah akhir revolusi. Hal demikian bisa jadi malah meningkatkan radikalisasi gerakan Bolivarian sebagaimana yang terjadi pada kekalahan di Spanyol pada Oktober 1934 (“Bienio Negro”) yang hanya merupakan pendahuluan untuk perjuangan kelas yang lebih sengit. Tidak ada pimpinan gerakan Bolivarian yang memiliki otoritas seperti Chavez, dan karena itu kritik terhadap kepemimpinan, kaum birokrat, dan kaum reformis oleh massa mengambil karakter yang lebih tajam dan lebih terbuka.

Tugas utama di Venezuela adalah membangun kepemimpinan revolusioner dengan akar di antara kaum pelopor kelas buruh, yang mampu menggunakan energi luar biasa yang telah ditunjukkan massa selama 15 tahun lebih dan mengarahkannya ke perebutan kekuasaan dan penghapusan Kapitalisme.

Hubungan-hubungan Internasional

Lenin pernah menulis mengenai “materi yang mudah terbakar dalam politik dunia”, dan hari ini kita tidak kekurangan materi semacam ini. Tindakan-tindakan agresif kekuatan-kekuatan imperialis telah menimbulkan oposisi internal dan bisa menjadi faktor yang meradikalisasi massa lebih lanjut. Mood revolusioner bisa timbul tidak hanya melalui faktor-faktor ekonomi namun juga peperangan, tindakan-tindakan teroris, bencana alam, dan peristiwa-peristiwa internasional. Kita telah saksikan ini dalam Perang Vietnam, dan hal yang sama bisa terjadi lagi.

Pengungkapan Wikileaks dan Snowden telah menunjukkan opini, motif, dan kepentingan sesungguhnya dari imperialisme AS, serta membongkar kedok diplomasi dan menunjukkan wajah buruk kepentingan Imperialis AS. Mereka juga telah menunjukkan ketidakmampuan AS untuk menjaga rahasia-rahasia rezim lainnya. Mereka telah menunjukkan sejauh mana AS memata-matai sekutu-sekutunya. Selain itu mereka telah menunjukkan ke hadapan opini publik dunia bagaimana watak asli diplomasi borjuis pada umumnya. Wikileaks dan Snowden telah memberikan layanan yang penting bagi kelas buruh dunia.

Runtuhnya Uni Soviet sekitar dua puluh tahun yang lalu telah menggeser relasi internasional secara masif. AS kini merupakan satu-satunya adikuasa dunia. Dengan kekuatan besar maka datanglah arogansi besar, sebagaimana yang ditunjukkan  secara jelas oleh Doktrin Bush. Imperialisme AS menyatakan haknya untuk campur tangan di negara manapun, untuk menggulingkan pemerintahan dan mendikte keinginannya di manapun. Namun dua dekade kemudian ilusi kebesaran ini telah terpukul.

Bangkitnya Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi dan militer telah mengubah perimbangan kekuatan di Asia dan Pasifik secara fundamental. Kelas penguasa Tiongkok berambisi untuk menegaskan peran politik dan militernya seiring dengan semakin tumbuhnya kekuatan ekonominya. Ini semakin membuatnya berkonflik dengan negara-negara lain di kawasan penting ini, khususnya Jepang. Konflik sengketa pulau-pulau hanyalah satu manifestasi dari hal ini. Washington tengah mengamati fenomena ini dengan kegelisahan yang semakin tinggi. Imperialisme AS selalu memandang Pasifik sebagai elemen krusial dalam strategi globalnya. Kebangkitan Tiongkok dengan demikian menimbulkan ancaman langsung bagi kepentingan-kepentingannya yang bisa berujung pada konflik-konflik serius di masa depan.

Rusia tengah memainkan peran yang lebih independen dalam relasi internasional dibandingkan dengan masa lalu. Setelah dipermalukan di Yugoslavia dan Irak (keduanya adalah negara yang dulunya berada di pengaruh Rusia), Rusia tidak bisa lagi menerima pemaksaan imperialisme AS di tingkat dunia. Ini ditunjukkan oleh tindakan-tindakannya di Georgia, yang berusaha diseret AS ke dalam orbitnya. Rusia menggunakan kekuatan bersenjatanya pada tahun 2008 untuk menghantam Georgia dan mencegahnya bergabung dengan NATO. Sedangkan di Suriah, Moskow menarik garis lain yang mana AS tidak berani melangkahinya.

Akan tetapi ini bukan disebabkan oleh kekuatan Rusia, melainkan kelemahan dan kelumpuhan relatif dari imperialisme AS. Dalam 10 tahun terakhir, imperialis AS telah bertingkah seenaknya. Sebagai akibatnya mereka hampir tidak punya sekutu yang bisa diandalkan di manapun. Invasi Irak berakhir jadi malapetaka. Bush bermaksud menunjukkan kekuatan AS. Namun petualangan AS di Irak menjadi senjata makan tuan dan semakin mendestabilisasi apa yang sebelumnya sudah merupakan kawasan yang sangat rawan. Dengan menghancurkan angkatan bersenjata Irak dia telah mengakibatkan kekacauan di Irak dan mendorong perimbangan kekuatan di kawasan ini ke arah Iran.

Semua ini telah menyebabkan perubahan besar di dalam opini publik AS. Setelah kegagalan di Irak dan Afghanistan, publik Amerika telah muak terhadap petualangan-petualangan militer luar negeri, dan sentimen isolasionisme Amerika lama mula mencuat kembali di Kongres dan masyarakat. Sebagai akibatnya, Obama tidak mampu meluncurkan serangan pengeboman di Suriah. Dalam sebuah pidato yang menyedihkan, di mana dia mengkontradiksi dirinya sendiri di tiap kalimat, Obama mengatakan bahwa AS tidak bisa lagi melakukan apa yang disukainya di dunia.

Timur Tengah kini merupakan kawah mendidih yang tidak stabil. Ketidakstabilan ini telah diperparah oleh kebijakan imperialisme AS yang semena-mena dan berpandangan pendek. Pertumbuhan kekuatan Iran di kawasan ini telah membuat bingung Arab Saudi. Riyadh harus menerima bahwa Teheran kini telah memiliki pengaruh besar di sebagian Irak. Kekacauan di Irak telah menimbulkan konflik-konflik sektarian berdarah-berdarah antara Sunni dan Syiah dengan pengeboman teroris dan pembantaian tiap harinya. Bangsawan-bangsawan Saudi takut kalau kekuasaan akan terlepas dari genggaman tangan mereka. Ketakutan ini digarisbawahi oleh kebangkitan massa di Bahrain pada tahun 2011.

Di Timur Tengah kita menyaksikan limit dari kekuatan AS. Kelemahan imperialisme AS telah mendorong sekutu-sekutu tradisional AS di Timur Tengah untuk mengejar kepentingan mereka sendiri dengan tingkatan yang jauh lebih besar dibandingkan di masa silam. Dalam beberapa kasus hal ini telah berujung pada bentrokan kepentingan dan bahkan penentangan terhadap AS. Ini ditunjukkan oleh janji Saudi bahwa mereka akan menggantikan pemotongan bantuan militer dari AS. Saudi marah atas penyingkiran Mubarak di Mesir yang merupakan sekutu andalan mereka. Washington di sisi lain membuat militer Mesir tersinggung dengan memotong bantuan militer pasca tergulingnya Morsi.

Klik penguasa Qatar telah mengucurkan dukungan finansial sebesar $8 miliar ke Mesir dan adalah pendukung utama pemerintahan Mursi. Mereka bertaruh bahwa kevakuman yang ditinggalkan oleh kaum aristokrat Arab akan diisi oleh kaum Islamis dan mereka berharap bisa mengendalikan mereka untuk menguatkan posisi Qatar di kawasan.

Tangan Qatar telah terbakar di Libya, Suriah, serta kehilangan miliaran dolar di Mesir. Uang itu sebenarnya dimaksudkan untuk membeli keuntungan politik namun mereka mendukung kuda yang salah. Uni Emirat Arab dan Saudi akan membantu menjaga agar ekonomi Mesir tidak tenggelam. Semua ini mencerminkan peperangan antara keluarga atau dinasti-dinasti Mafia ini, gangster-gangster bangsawan minyak.

Suriah

Apa yang bermula sebagai kebangkitan kerakyatan melawan rezim Baathis di Suriah telah terdegenerasi menjadi perang saudara yang sektarian. Klik-klik penguasa Saudi dan Qatar turut campur tangan untuk menghancurkan elemen-elemen revolusioner dan membelokkan perjuangan ini ke arah sektarianisme.

Washington ingin bersandar pada elemen-elemen borjuis “demokratis” dari apa yang disebut-sebut sebagai Tentara Suriah Merdeka atau Free Syrian Army (FSA), namun mereka telah sepenuhnya kalah manuver oleh Saudi dan Qatar yang telah dan terus mempersenjatai milisi-milisi Jihad. Akan tetapi Saudi dan Qatar mendukung sayap-sayap milisi yang berbeda di Suriah. Saudi bersandar pada kaum Salafis dan elemen-elemen nonjihadis untuk mencoba dan menghancurkan dominasi Jabhat Al-Nusra dan Al-Qaeda di lapangan.

Koalisi Nasional (NC) yang berbasis di Istanbul, Turki, dan dibeking Barat terbentuk pada November 2012 dan diakui oleh lebih dari 100 negara sebagai perwakilan “sah” dari oposisi Suriah. AS dan Uni Eropa (UE) lebih suka mendasarkan diri mereka pada elemen-elemen borjuis “moderat”. Namun mereka telah terbentur oleh segunung permasalahan yang sulit dihadapi. NC ditolak mentah-mentah oleh sebelas laskar Islamis, termasuk sebagian yang secara formal merupakan bagian dari FSA,  yang menyatakan bahwa mereka tidak mengakuinya.

Sudah jamak diketahui bahwa milisi-milisi Jihad yang melakukan mayoritas pertempuran dan mereka tidak bersedia mensubordinasikan diri mereka ke bawah NC. Akibatnya adalah pertempuran-pertempuran antarkelompok oposisi dan fragmentasi di antara kaum oposisi semakin mendalam. Dengan mengambil keuntungan  dari melemahnya kekuatan pusat, Kaum Kurdi kini secara riil nyaris benar-benar merdeka di timur laut, dengan demikian terdapat dua atau lebih negeri Kurdi yang merdeka di kawasan Timur Tengah. Ini menambah instabilitas dan akan semakin mendorong sentimen separatis baik di Turki maupun Iran.

Elemen-elemen reaksioner Islamis kini telah menguasai sepenuhnya pemberontakan bersenjata. Kini terjadi pertempuran terbuka antara kaum Jihadis dan FSA, serta antara jihadis dan Kurdi. Ada pula sejumlah milisi yang bertempur di pihak pemerintah yang berada di luar kendali Assad. Suriah kini mengarah ke arah malapetaka yang sama seperti Irak atau Afghanistan, dengan penguasa-penguasa perang lokal yang merebut kekuasaan daerah. Negeri Suriah mengalami disintegrasi di depan mata kepala kita. Apa yang ada di Suriah kini adalah konter-revolusi di kedua belah pihak.

Kedua belah pihak telah memerangi satu sama lain dan tidak ada yang bisa menang, namun intervensi Hisbullah dan Iran telah mengubah perimbangan kekuatan yang menguntungkan pemerintah Assad pada musim panas 2013. Amerika mencari-cari alasan untuk mengintervensi di Suriah untuk memperbaiki situasi ini, namun kelemahan imperialisme AS telah ditunjukkan dengan fakta di mana Obama bahkan tidak bisa memenangkan voting di Kongres untuk mengebom Suriah. Sebagai hasilnya dia sepenuhnya kalah manuver oleh Rusia yang meraih inisiatif diplomatik saat John Kerry menyatakan apa yang sebenarnya merupakan komentar spontan bahwa Suriah bisa menghindari serangan kalau menyerahkan senjata-senjata kimianya.

Isu persenjataan kimia telah menunjukkan kemunafikan kaum imperialis yang memuakkan. Mari kita tinggalkan fakta bahwa AS sendiri memiliki stok persenjataan kimia terbesar di dunia dan mereka telah menggunakan senjata-senjata kimia seperti Agent Orange secara ekstensif terhadap rakyat Vietnam, juga menggunakan Napalm. Bahkan belum lama ini mereka juga menggunakan bom-bom fosfor dalam pengeboman di Fallujah, yang menyebabkan konsekuensi-konsekuensi mengerikan bagi penduduk. Mereka tidak keberatan sama sekali saat Saddam Hussein menggunakan persenjataan kimia terhadap prajurit-prajurit Iran dalam perang antara Iran dan Irak.

Maka sudah sangatlah jelas bahwa masalah persenjataan kimia tidak lebih dari sekadar dalih untuk menyerang Suriah karena pasukan-pasukan pemerintah Assad, yang dibantu Iran dan Hizbullah, telah menghantam telak para pemberontak. Maksud Washington adalah menghantam angkatan bersenjata Suriah untuk membantu pemberontak, tetapi bukan agar para pemberontak meraih kemenangan militer. AS hanya ingin memulihkan keseimbangan antara dua pihak yang berperang ini supaya dapat memberi ruang untuk manuver-manuver diplomatis. Kepentingan-kepentingan rakyat Suriah yang malang dan pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan sangat jauh dari pikiran mereka.

Manuver ini terpotong oleh tawaran dari rezim Suriah (yang didorong oleh Moskow) untuk menyerahkan seluruh gudang persenjataan kimianya. Tindakan ini tidak akan mempengaruhi kapasitas militer rezim Suriah yang menggunakan persenjataan konvensional secara sangat efektif untuk membantai musuh-musuhnya selama perang. Setelah menangani tudingan Amerika mengenai isu persenjataan kimia, Assad kemudian melancarkan ofensif besar terhadap kaum pemberontak dan memukul telak mereka. Akan tetapi masih meragukan apakah kedua belah pihak punya cukup kekuatan untuk meraih kemenangan militer yang menentukan.

Rusia dan Amerika kini tengah bermanuver dengan kekuatan-kekuatan regional lainnya untuk mengorganisir semacam “konferensi perdamaian” di Jenewa. Namun meskipun konferensi ini digelar, hasilnya tidak akan melayani kepentingan-kepentingan rakyat Suriah. Di sisi lain, Saudi dan Qatar membeking kekuatan reaksioner hitam kaum Jihadis. Satu-satunya kepentingan Amerika adalah mempertahankan kontrol mereka terhadap kawasan ini dan menangkal bangkitnya pengaruh Iran. Rusia pun sama, hanya berkepentingan untuk mempertahankan Suriah sebagai sekutu tradisionalnya. Hingga kini mereka telah mendukung Assad namun mereka cukup siap untuk mengorbankannya dengan syarat bahwa kepentingan-kepentingan utama Rusia di Suriah dilindungi. Setelah kegagalan di Irak, baik Rusia dan Amerika (serta sekutu-sekutu “demokratis” mereka di Eropa) sepakat bahwa negara Suriah harus dipertahankan untuk menjaga “hukum dan ketertiban”.

Kebuntuan militer ini telah memberikan sebuah peluang bagi kekuatan-kekuatan luar untuk memperkuat pencarian mereka atas “penyelesaian melalui perundingan”. Pencairan parsial dalam hubungan antara Washington dan Teheran yang sebelumnya dingin dan membeku  bisa membuka jalan bagi partisipasi Iran di konferensi perdamaian di Jenewa. Prospek ini telah disambut dengan suka cita di Damaskus dan Teheran, dan disambut dengan kemarahan di Israel dan Arab Saudi.

Apa yang dipikirkan oleh rakyat jelata di Suriah mengenai semua ini tidak akan digubris. Mereka tidak akan hadir di Jenewa, dan pendapat mereka tidaklah penting bagi semua kekuatan yang terlibat. Satu-satunya jalan keluar dari kekacauan di Suriah adalah kemenangan revolusi sosialis di satu negeri kunci di wilayah ini, yang akan mengubah secara dramatis perimbangan kekuatan-kekuatan kelas. Masa depan Suriah sekarang tergantung pada peristiwa-peristiwa di luar perbatasannya, yakni pada perkembangan revolusioner di Turki, Iran, dan terutama, Mesir.

Revolusi Mesir

Revolusi Arab yang luar biasa, yang masih belum selesai, telah membangkitkan kekuatan akbar berjuta massa. Ini merupakan titik-balik dalam sejarah dunia. Peristiwa-peristiwa di Timur Tengah akan memberikan dampak-dampak mendalam baik secara ekonomi maupun politik. Mesir merupakan negara kunci di dunia Arab. Apa yang terjadi di sana selalu memberikan dampak rentetan terhadap seluruh dunia Arab dan seluruh kawasan di sana. Revolusi telah memasuki tahapan baru dengan kebangkitan massa yang menggulingkan Mursi dan Ikhwanul Muslimin.

Gerakan revolusioner massa yang menggulingkan Mursi telah membawa 17 juta rakyat turun ke jalanan Mesir. Suatu gerakan dengan dimensi demikian tidak punya tandingannya dalam sejarah. Kenyataannya, kekuasaan sudah berada di genggaman tangan massa pada Juni 2013, namun mereka tidak menyadari hal ini, dan tidak ada seorang pun yang ada untuk menjelaskannya pada mereka. Masalah pokoknya mudah dinyatakan: massa cukup kuat untuk menggulingkan pemerintah, namun mereka tidak cukup terorganisir dengan baik dan sadar untuk merebut kekuasaan yang secara efektif telah mereka genggam di tangan. Sebagai akibatnya, kesempatan tersebut lewat dan perwira-perwira tentara yang kemudian melangkah masuk mengisi kekosongan ini.

Tindakan-tindakan angkatan bersenjata secara kasar mirip dengan tindakan-tindakan Napoleon pada 5 Oktober 1795 di mana dia membubarkan gerombolan Royalis di jalan-jalan Paris. Pada saat itu, sebagaimana yang terjadi sekarang, kaum reaksioner membangkitkan sebuah gerakan di jalanan, yang mana, kalau berhasil, akan menandakan kemenangan kontra-revolusi. Di Mesir, massa menunjukkan dukungan antusias mereka atas represi terhadap Ikhwanul Muslimin, yang dengan tepat mereka pandang sebagai kekuatan reaksi hitam. Namun analogis historis ini punya limitnya. Napoleon bisa berhasil dalam memaksakan kediktatoran kontra-revolusioner hanya karena massa revolusioner telah kelelahan. Sebaliknya, di Mesir, revolusi masih punya cukup cadangan kekuatan, yang menegaskan diri mereka di setiap tahapan menentukan.

Kekuatan Revolusi ditunjukkan oleh lemahnya Ikhwanul Muslimin (IM) dan ketidakmampuannya untuk mengorganisir respons efektif terhadap kekalahan Mursi. Hanya di Kairo dan Alexandria saja IM bisa mengorganisir demonstrasi-demonstrasi besar, bahkan di sana pun mereka menghadapi oposisi sengit dari massa revolusioner, yang menendang mereka dari satu pemukiman ke pemukiman lain. Akhirnya, mereka dengan mudah dibubarkan dan dihantam oleh tentara.

Di tengah absennya partai Marxis revolusioner sejati, perwira-perwira militer mampu bermanuver, dengan gaya Bonapartis, bersandar ke massa untuk menghantam Ikhwanul Muslimin, dan di hari berikutnya menangkapi para pimpinan buruh dan membubarkan pemogokan-pemogokan.

Revolusi merupakan sekolah luas bagi massa yang hanya bisa belajar melalui pengalaman. Revolusi kedua ada di tingkatan yang lebih tinggi daripada yang pertama. Hilang sudah semua kelembekan dan kenaifan yang direpresentasikan dalam slogan-slogan “Kita semua orang Mesir”, sebaliknya ada semangat revolusioner yang keras dan tak kenal kompromi yang berarti bahwa keseluruhan proses ini hanya membutuhkan waktu yang pendek dibandingkan 18 hari revolusi di tahun 2011. Namun penyerahan kekuasaan ke SCAF berarti menyerahkan kekuasaan kembali ke kelas penguasa yang lama, meskipun  kelas penguasa dari sayap yang berbeda. Ini berarti bahwa massa harus menempuh pelajaran lain yang keras.

Benar bahwa Al-Sisi itu kontra-revolusioner, sama seperti Kerensky sang Bonapartis di Rusia pasca Revolusi Februari. Namun Al-Sisi jauh lebih pintar dibandingkan Mursi. Watak kontra-revolusioner Mursi jelas, namun peran Al-Sisi masih belum jelas di mata massa, yang memandangnya sebagai sekutunya. Mereka melihat serangan yang dilakukan tentara terhadap Ikhwanul Muslimin sebagai aksi revolusioner. Inilah mengapa mereka siap memberi Al-Sisi waktu, namun kesabaran massa tidak akan bertahan lama tak terbatas. Bahkan pemerintahan Biblawi, yang ditunjuk oleh Al-Sisi sudah semakin tidak populer.

Setelah pemilu parlemen dan presiden, kritik terhadap pemerintahan akan tumbuh dan kontradiksi-kontradiksi antara revolusi dan penguasa-penguasa baru ini akan semakin jelas. Garis bawahnya adalah krisis ekonomi yang telah mengakibatkan pengangguran massal dan kemiskinan. Masalah harga sembako dan lapangan pekerjaan terus tak terpecahkan. Jika Al-Sisi maju di pemilu berikutnya, kemungkinan besar dia akan terpilih dengan mayoritas besar. Namun begitu ia berkuasa, dia akan dituntut untuk memberikan apa yang diinginkan buruh, tani, dan kaum pengangguran: pekerjaan, roti, dan rumah. Namun di atas basis kapitalis, ini semua mustahil. Panggung sedang disiapkan untuk sebuah periode baru yang penuh topan badai kebangkitan revolusioner.

Lapisan-lapisan baru dan segar terus memasuki gelanggang perjuangan sepanjang waktu. Lapisan-lapisan yang lama dan letih—termasuk beberapa yang memainkan peran kepemimpinan di tahapan-tahapan lebih awal—akan cenderung menyerah, kecewa, dan terdisorientasi oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka duga dan tidak mereka pahami. Mereka terus-menerus mengeluh mengenai “rendahnya tingkat kesadaran” massa. Namun mereka inilah yang melakukan tindak kriminal membingungkan revolusi dengan kontra-revolusi.

“Kiri-kiri” yang tersesat ini, yang membeokan propaganda borjuasi dan imperialis, dan yang mencibir gerakan massa yang mengagumkan dan telah menggulingkan Mursi sebagai suatu “kudeta”, tidak paham apapun. Gerakan Juni lalu merupakan Revolusi Mesir Kedua. Massa yang menggulingkan rezim reaksioner Ikhwanul Muslimin yang mereka benci itu merasakan kekuatan kolektif mereka sendiri, yang belum hilang, dan akan menyediakan landasan bagi ofensif revolusioner baru di masa yang akan datang. Kita harus berpaling dari elemen-elemen tua dan terdemoralisasi serta menyambut kaum muda, generasi baru pejuang yang merepresentasikan masa depan revolusioner.

Iran

Pemilihan Rouhani menandai awal perubahan situasi. Pemilu tersebut merupakan sebuah tanda jelas bahwa rezim tidak bisa terus berjalan di jalan yang sama. Gerakan massa 2009 ditindas secara kejam dan ditekan oleh peningkatan konstan tekanan internal dan perampasan hak-hak demokratis. Krisis rezim tercermin dalam konflik terbuka antara Ahmadinejad dan Khamenei. Ekonomi terjerumus dalam krisis mendalam, yang diperparah oleh sanksi-sanksi ekonomi oleh AS dan UE. Pengangguran, yang sudah tinggi, mencapai tingkat baru. Kemerosotan mata uang Riyal berarti bahwa inflasi meroket menembus 100%. Industri, produksi, dan perdagangan mengalami kemacetan.

Jutaan buruh harus menghadapi ledakan harga-harga, sementara mereka telah dipecat atau bahkan tidak digaji selama berbulan-bulan. Bagi kelas menengah, ini tidak kalah kacaunya. Keluarga-keluarga yang sebelumnya punya hidup relatif stabil mendapati dirinya bangkrut dalam semalam, tabungan mereka terdevaluasi, dan bisnis mereka hancur.

Pemilihan presiden seharusnya berjalan sesuai rencana dan tidak kontroversial. Namun selama kampanye para capres, yang telah disortir dengan ketat, ternyata saling menyerang satu sama lain dengan keras. Perpecahan terbuka di antara kelas penguasa memungkinkan massa mendorong diri mereka sendiri masuk.

Pertemuan-pertemuan kampanye Hassan Rouhani digunakan sebagai titik fokus mobilisasi. Masuknya massa mengacaukan semua rencana klik penguasa. Kaum Mullah terpaksa mengubah jalur. Rouhani merepresentasikan satu sayap rezim yang menuntut reforma dari atas untuk mencegah revolusi dari bawah. Rezim terpaksa mengambil sejumlah langkah terbatas untuk mengendorkan  tekanan, khususnya terhadap kaum muda dan kelas menengah. Inilah alasan mengapa terdapat ada ilusi besar terhadap Rouhani. Namun dengan pelonggaran masalah-masalah demokratis, masalah-masalah ekonomi akan segera mencuat.

Rezim tengah berupaya mencapai suatu kesepakatan dengan AS, demi membuka pasar dan memenangkan beberapa konsesi, khususnya dalam infrastruktur minyak yang melemah. Kesepakatan demikian, bila berhasil dicapai, tidak akan mengubah situasi umum massa. Satu-satunya cara bagi borjuasi Iran untuk keluar dari krisis mereka adalah melalui peningkatan penghisapan terhadap buruh. Namun ini hanyalah menuang minyak ke dalam api. Setiap reforma hanya akan mendorong buruh dan pemuda untuk mengorganisir diri mereka, yang akan menyiapkan ledakan-ledakan revolusioner besar di masa depan.

Ruang yang terbuka ini memberikan kesempatan-kesempatan baru bagi kaum oposisi dan Kiri. Beberapa koran oposisi (bahkan beberapa koran Kiri) telah mulai muncul. Secara gradual kekuatan oposisi mulai kembali bangkit. Kaum muda Iran kini terbuka terhadap gagasan-gagasan revolusioner. Benar bahwasanya terdapat ilusi-ilusi terhadap Rouhani, namun ini tidak akan bertahan lama. Massa harus menempuh sekolah demokrasi borjuis supaya bisa menarik kesimpulan-kesimpulan yang diperlukan, dan pasti mereka akan menarik kesimpulan demikian.

Kesenjangan Ekonomi dan Konsentrasi Kapital

Prediksi Marx bahwasanya perkembangan Kapitalisme secara tak terelakkan akan berujung pada konsentrasi kekayaan yang semakin terpusat di tangan segelintir orang telah sepenuhnya terbukti. “Akumulasi kekayaan di satu kutub oleh karenanya juga berarti akumulasi penderitaan di kutub yang berlawanan.” tulisnya di jilid satu Kapital. Itulah situasi yang kita dapati saat ini. Di manapun terdapat kesenjangan yang meningkat dengan tajam.

Angka-angkanya sangat mengejutkan. Antara tahun 1993 dan 2011, di AS, pendapatan rata-rata meningkat sebesar 13,1%. Namun pendapatan rata-rata 99% –dengan kata lain semua orang dan keluarga yang pendapatannya sebesar US$ 370.000 per tahun -- hanya naik sebesar 5,8%. Kesenjangan sebesar itu menunjukkan betapa banyak yang diraup kaum 1 persen di puncak. Jatah pekerja dalam pendapatan nasional AS sebesar 62 persen sebelum resesi. Kini hanya sekitar 59% PDB. Pendapatan rumah tangga rata-rata lebih rendah dibandingkan sebelum resesi karena meningkatnya kesenjangan.

Adalah suatu paradoks yang sangat mencolok bahwasanya pasar saham AS telah naik lebih dari 50 persen semenjak krisis; sementara pendapatan median telah menurun. Kekayaan yang melimpah-ruah menghasilkan kekuasaan politik: kaum plutokrat bisa membeli koran dan saluran-saluran televisi serta mendanai kampanye-kampanye politik, partai-partai politik, dan para lobi politik. Di AS, seseorang harus menjadi seorang jutawan dan harus didukung oleh banyak jutawan untuk bisa jadi Presiden. Demokrasi bisa dibeli dan dijual kepada penawar tertinggi.

Mitos mobilitas sosial telah terbongkar. Ia tidak lebih dari kebohongan yang sinis. Orang tua yang kaya punya anak-anak yang kaya. Kelas penguasa merupakan elit yang melanggengkan dirinya sendiri dan sepenuhnya terceraikan dari masyarakat. Akses ke perguruan tinggi kini semakin mahal. Para sarjana mendapati diri mereka terbebani dengan hutang rata-rata sebesar $25.000 per mahasiswa dan sering tak mampu mendapatkan pekerjaan sesuai pilihan karier mereka–itu pun kalau mereka bisa menemukan pekerjaan. Tangga kemajuan telah disingkirkan. Ratusan ribu sarjana universitas bekerja di McDonald’s atau supermarket. Situasi yang dihadapi kaum muda AS kini secara statistik serupa dengan yang dihadapi di dunia Arab sebelum ledakan revolusi-revolusi Tunisia dan Mesir.

Mimpi Amerika telah berubah jadi mimpi buruk Amerika. 47 juta orang Amerika terpaksa menggunakan kupon subsidi makanan (food stamps) agar mereka bisa makan sampai akhir bulan. Semakin tumbuhnya kemarahan atas ketidakadilan ini diekspresikan dengan slogan Gerakan Occupy di AS: “Kamilah kaum 99%”. Bahaya situasi ini jelas bagi para pakar strategi kapital yang berpandangan jauh.

Jurang Antarkelas

Massa siap untuk berkorban dengan syarat bahwa tujuannya adil dan pengorbanannya sama bagi semua pihak. Namun tak ada yang mau berkorban untuk menyelamatkan para bankir, apalagi kalau pengorbanannya tidak setara. Para bankir mengantongi uang yang diambil dari pembayar pajak (atau katakanlah pemerintah, karena tak seorang pun yang menanyakan opini para pembayar pajak), serta menghadiahi diri mereka dengan bonus-bonus besar.

Di tengah krisis, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Credit Suisse telah menerbitkan suatu diagram yang menunjukkan peningkatan jumlah kekayaan para jutawan (berdasarkan total aset, pertengahan 2012 hingga pertengahan 2013).

Spanyol: 402.000 (+ 13,2%)

AS: 13.210.000 (+ 14,6%)

Prancis: 2.210.000 (+ 14.9%)

Jerman: 1.730.000 (+ 14,6%)

Inggris: 1.520.000 (+ 8,2%)

Italia: 1.440.000 (+ 9.,%)

Tiongkok: 1.120.000 (+ 8,7%)

Kanada: 993.000 (+ 4,7%)

Laporan lain dari Credit Suisse mempublikasikan angka-angka menarik menyangkut distribusi kekayaan yang tidak setara. Laporan ini menunjukkan bagaimana 32 juta orang menguasai $98,7 triliun. Ini berarti bahwa sebanyak 41 persen kekayaan dunia dikuasai 0,7% total populasi dewasa. Mereka yang memiliki kekayaan pribadi sebesar $100.000 hingga $1 juta dolar sebanyak 7,7 persen populasi, menguasai sebanyak $101,8 triliun dan merepresentasikan 42,3 persen kekayaan dunia.

Sedangkan di kutub ekstrem lainnya, sebanyak 3,2 miliar orang hanya menguasai $7,3 triliun. Ini berarti bahwa 68,7% populasi dewasa dunia menguasai hanya 3 persen kekayaan dunia. Ini berarti bahwa kaum terkaya 0,7% dari populasi dewasa dunia memiliki gabungan kekayaan pribadi sebanyak 14 kali lebih besar daripada kaum termiskin 68%. Angka-angka ini membuktikan prediksi Marx mengenai konsentrasi kapital:

“Akumulasi kekayaan pada satu kutub oleh karenanya juga berarti akumulasi penderitaan, kesengsaraan perbudakan kerja, keterbelakangan, brutalitas, degradasi mental, di kutub yang berlawanan, yakni di sisi kelas yang memproduksi produknya sendiri dalam bentuk kapital.” (Kapital jilid 1, bab 25)

“Ekonomi yang Terkonsentrasi”

Lenin menunjukkan bahwa politik adalah ekonomi yang terkonsentrasikan. Selama sebuah periode yang panjang, setidaknya di negeri-negeri kapitalis maju kapitalisme tampaknya “bekerja dengan baik”. Generasi yang tumbuh besar di AS dan UE selama dekade-dekade setelah Perang Dunia II menikmati keuntungan kenaikan ekonomi yang tiada tandingannya: lapangan pekerjaan penuh, naiknya standar hidup, serta reforma-reforma.

Ini merupakan periode klasik reformisme di Eropa. Kapitalis mampu memberikan reforma-reforma di atas landasan ekonomi yang tumbuh dan laba-laba besar. Namun kini ini sudah tidak lagi berlaku. Program riil kaum borjuasi adalah menghapus negara kesejahteraan sepenuhnya, memaksa para pengangguran untuk bekerja dengan gaji berapa pun. Dengan kata lain, kembali ke zamannya Marx dan Dickens. Hanya kekuatan buruh yang terorganisir yang bisa mencegah mereka menjalankan kontra-revolusi sosial ini.

Perspektif ke depan adalah bertahun-tahun pemotongan, pengetatan anggaran, dan jatuhnya standar hidup. Ini merupakan resep tuntas untuk perjuangan kelas di mana-mana. Borjuasi menuntut penghapusan hutang, penyeimbangan anggaran, pemotongan anggaran-anggaran sosial yang “boros” (dengan kata lain, pembiayaan sekolah, rumah sakit dan pensiun, namun tentu saja tidak termasuk bailout yang diberikan pada bank-bank). Mereka berargumen, seperti kaum sofis sejati, bahwa meskipun “dalam jangka pendek” langkah-langkah tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi signifikan dan kejatuhan tajam dalam standar hidup (bagi sebagian orang), namun dalam jangka panjang, akan secara ajaib, menciptakan landasan bagi “pemulihan yang berkesinambungan” – di mana Keynes akan menjawab: “dalam jangka panjang kita semua akan mati”.

Begitu rawannya situasi ini sehingga apapun bisa memicu krisis besar. Ini tidak hanya benar dan berlaku dalam ranah ekonomi (lihatlah penutupan pemerintah di AS dan juga naiknya hutang di Eropa) namun juga di dalam masyarakat secara keseluruhan. Perjuangan kelas bisa meletus melalui satu peristiwa atau lainnya (pemogokan para pemadam kebakaran Belgia).

Pertanyaan yang dihadapi oleh kaum borjuasi: bagaimana cara memerintah dalam situasi krisis demikian? Di banyak negara Eropa, kebuntuan politik mewujudkan dirinya dalam koalisi tak stabil dan parlemen yang terkatung-katung. Institusi-institusi demokrasi parlementer telah dites sampai ke batas-batasnya.

Naiknya angka golput merupakan sebuah fenomena yang menunjukkan ketidakpuasan yang semakin besar terhadap semua partai yang ada. Ini tidak terlalu mengejutkan apalagi kalau melihat perilaku para pimpinan buruh. Bahkan saat mereka berada dalam posisi oposisi, kaum Sosial Demokrat terus mendukung kebijakan pemotongan dan pengetatan anggaran. Ini ditunjukkan dengan jelas dalam kasus SDP Swedia, Partai Buruh Inggris, SPD Jerman, PSOE Spanyol, dan Pasok di Yunani. Inilah yang menimbulkan rasa kecewa dan apatisme.

Di Jerman juga terdapat tendensi golput yang menguat. Merkel menang pemilu tapi dia tidak memenangkan mayoritas dan membutuhkan SPD sebagai bagian ‘koalisi besar’ pemerintah. Sebanyak 40% pemilih di Jerman tidak diwakili oleh partai manapun di parlemen; suara Die Linke jatuh dari 12% ke 9%. Namun alam membenci kevakuman, dan pembentukan koalisi SPD-CDU berarti bahwa Die Linke adalah satu-satunya oposisi sejati dan bisa mulai menggalang dukungan.

Sebagai hasilnya, di beberapa negeri kita menyaksikan bangkitnya partai-partai baru: Partai Hijau (di Swedia), kaum populis di Islandia dan Italia (Grillo), “partai-partai bajak laut” (Swedia, Jerman, Islandia), dan bangkitnya partai-partai ekstrem Kanan (Yunani, Swedia, Norwegia, Prancis) dan partai anti Uni Eropa UKIP di Inggris. Semua ini menunjukkan gejolak di masyarakat, kebuntuan yang mendalam, dan ketidakpuasan terhadap tatanan politik yang ada.

Di Eropa kredibilitas institusi-institusi demokrasi borjuis semakin terdiskreditkan, khususnya di negeri-negeri yang paling keras dihantam krisis. Sistem dua partai yang telah mapan (sayap Kanan vs Sosial Demokrasi) tengah berada dalam krisis. Sebagian dari ketidakpuasan ini digunakan oleh partai-partai yang lebih Kiri daripada Sosial Demokrasi sebagaimana yang kita saksikan dengan pertumbuhan SYRIZA, IU, dan FdG di Prancis. Sedangkan di Italia, di mana partai semacam itu tidak ada, maka “gerakan lima bintang” Grillo (sebuah gerakan protes borjuis kecil yang bingung) telah mengisi kekosongan tersebut untuk sementara.

Meskipun demikian, partai-partai ini tidak menyodorkan alternatif riil terhadap krisis kapitalisme dan dengan demikian tidak tumbuh secepat yang mereka bisa kalau mereka setidak-tidaknya mencerminkan sebagian kemarahan masyarakat. Bagaimanapun juga, karena tidak menemukan gaung di partai-partai reformis, ketidakpuasan massa tercerminkan di arena politik dengan meningkatnya golput. Di Spanyol, pada tahun 2008, PP dan PSOE menghimpun sebanyak 83% suara dari total 75% yang memilih (tidak golput). Hari ini jajak pendapat menunjukkan bahwa hanya ada 50% orang yang akan memilih (tidak golput) sementara sekitar 50% lainnya menyatakan tidak akan memilih atau tidak tahu akan memilih siapa.

Sedangkan di Portugal kita menyaksikan situasi serupa muncul dari pemilihan daerah. Golput meningkat menjadi 550.000; surat suara yang dirusak atau kosong meningkat dua kali lipat, dengan peningkatan sebesar 170.000. Koalisi sayap Kanan kehilangan 600.000 suara; PS Sosial Demokrat di pihak “oposisi” kehilangan 270.000; PCP Komunis meraih hanya 13.000 suara; sementara BE sayap Kiri kehilangan 45.000 suara.

Organisasi-organisasi Massa

Permasalahan pokoknya adalah permasalahan kepemimpinan. Para pimpinan buruh–baik di partai-partai politik maupun di serikat-serikat, semuanya hidup di masa lalu. Mereka tidak memahami watak krisis hari ini dan ingin kembali ke “masa lalu yang indah”. Mereka secara organik tidak mampu pecah dengan borjuasi dan memimpin perjuangan serius untuk mempertahankan capaian-capaian masa lalu, apalagi untuk berjuang meningkatkan taraf hidup.

Terdapat perbedaan kontras antara kemarahan membara kelas pekerja dan kepasifan serta ketidakberdayaan para pemimpinnya. Organisasi massa, pada umumnya, masihlah berada pada tingkat aktivitas rendah. Dengan demikian, tidak ada tekanan riil pada para pimpinan untuk mencegahnya semakin bergeser ke Kanan. Ini adalah tendensi umum di periode terakhir ini. Degenerasi para pimpinan sudah begitu parahnya. Organisasi-organisasi yang diciptakan oleh kelas buruh untuk mengubah masyarakat telah menjelma menjadi halangan-halangan besar untuk transformasi sosial.

Secara historis, ini adalah peran yang dimainkan oleh kaum Sosial Demokrat untuk mendemoralisasi buruh dan mendorong kelas menengah ke pelukan reaksi. Setelah sejak lama mencampakkan pretensi mereka dalam memperjuangkan Sosialisme, mereka kini menghantarkan pidato-pidato mereka untuk kaum bankir dan kapitalis dengan mengadopsi intonasi yang “moderat” dan “terhormat”. Mereka mencoba membujuk kelas penguasa bahwa mereka adalah orang yang cocok untuk menjalankan pemerintah. Demi membuktikan kredibilitas mereka ke kaum borjuasi sebagai “negarawan-negarawan” yang bisa diandalkan, mereka bahkan lebih keji dari kaum Konservatif dalam menjalankan kebijakan pemotongan dan kontra reforma (yang selalu dijalankan di bawah panji “reforma”).

Kaum reformis Kiri yang mendominasi partai-partai Sosialis di tahun 1970an, telah tereduksi jadi bayang-bayang mereka yang silam. Karena tidak punya landasan ideologi atau teori yang kuat, ini membuat mereka mengekor sayap Kanan dengan begitu menyedihkan. Kaum sayap Kanan lebih percaya diri karena mereka merasa mendapatkan dukungan dari bisnis-bisnis besar. Sebaliknya, kaum Kiri tidak punya kepercayaan baik terhadap kelas buruh maupun terhadap diri mereka sendiri. Kaum reformis Kiri di serikat-serikat buruh tidak lebih baik. Mereka telah gagal bahkan di medan-medan yang paling mendasar untuk mempertahankan upah, kondisi kerja, dan hak-hak serikat.

Berbagai pemerintahan “Kiri” telah ditolak setelah menjalankan pemotongan-pemotongan: Spanyol, Islandia, Norwegia, Yunani, dan Italia. Lainnya telah melihat dukungan mereka merosot dan mungkin kehilangan kekuasaan mereka di pemilu berikutnya (Denmark, Prancis, Irlandia). Partai Buruh Irlandia mendapat dukungan yang besar dari rakyat sebelum memasuki sebuah koalisi borjuis yang menjalankan pemotongan. Dukungannya kemudian ambruk, jatuh dari 24% ke 4%.

Sementara itu di Yunani, partai Sosialis, Pasok, yang punya basis massa dan pernah meraih suara mendekati 50%, telah menderita keambrukan suara akibat menjalankan kebijakan-kebijakan yang didikte oleh kelas penguasa dan UE. Pemerintahan Pasok kemudian digantikan oleh pemerintahan “nasional” Papademos, yang kemudian bergabung dengan koalisi sayap Kanan Samaras. Namun faktor yang paling penting adalah kebangkitan pesat Syriza, yang awalnya berjuang susah payah untuk mendapatkan 4% atau 5% dan kini bahkan mencapai 30% di jajak pendapat.

Akan tetapi, organisasi-organisasi massa, bahkan yang paling bangkrut, pada suatu tahap niscaya akan mencerminkan tekanan massa. Dalam periode mendatang akan ada pergeseran opini publik yang tajam ke Kiri—dan ke Kanan. Kita harus siap untuk ini dan menjelaskan signifikansi sesungguhnya. Dalam mencari sebuah jalan keluar dari krisis, massa akan menguji—dan mencampakkan—partai dan pemimpin satu demi satu silih berganti. Namun fitur yang konstan adalah penolakan terhadap siapa pun yang berada di pemerintah untuk menjalankan program pengetatan anggaran.

Sementara itu di Inggris, terdapat beberapa indikasi bahwa tekanan dari bawah (khususnya dari serikat-serikat buruh) tengah mendorong Miliband untuk menjaga jarak dari kaum Tories (Kaum Konservatif) dan Liberal. Miliband, walaupun dengan ragu-ragu, merefleksikan kemarahan publik yang semakin besar terhadap konglomerasi dan bank-bank. Begitu berkuasa para pemimpin ini akan berada di bawah tekanan yang besar baik dari kelas penguasa di satu sisi maupun massa di sisi lain. Mereka akan tergencet di antara dua batu. Akan terjadi perpecahan ke Kanan dan Kiri. Dalam beberapa kasus organisasi ini bisa hancur (PRC di Italia dan kemungkinan Pasok di Yunani). Namun dalam tiap kasus mereka akan memasuki krisis.

Seiring dengan semakin dalamnya krisis, tendensi-tendensi Kiri akan mulai terkristalisasi dalam partai-partai buruh massa dan serikat-serikat buruh. Tendensi Marxis harus mengikuti kehidupan internal organisasi-organisasi massa dengan dekat dan berjuang untuk memenangkan buruh serta kaum muda yang bergerak semakin ke Kiri dan yang mencari alternatif.

Namun kemampuan kita untuk mengintervensi secara efektif di masa depan akan ditentukan oleh keberhasilan kita dalam membangun Tendensi Marxis hari ini. Mengintervensi gerakan massa dengan 20 atau 50 kader sungguh berbeda dengan 500 atau 1.000 kader. Kualitas harus ditransformasikan ke dalam kuantitas, sehingga kuantitas pada gilirannya akan bertransformasi menjadi kualitas pada tingkatan yang lebih tinggi. Untuk menggerakkan massa, kita perlu memiliki sebuah tuas, dan tuas tersebut hanya bisa diwujudkan dari tendensi Marxis yang kuat dan banyak.

Serikat Buruh

Serikat-serikat buruh merupakan organisasi yang paling mendasar dari kelas buruh. Dalam sebuah krisis, buruh akan merasa membutuhkan serikat buruh lebih besar dibandingkan dengan periode-periode “normal”. Di medan industrial telah terjadi sejumlah konflik dan perjuangan yang sangat  radikal ketika para pimpinan serikat buruh memberikan kepemimpinan dalam wujud pemogokan massa, pemogokan daerah, dan lain sebagainya, di mana buruh-buruh merespons secara masif. Permasalahannya adalah para pimpinan serikat buruh sepenuhnya impoten saat dihadapkan dengan krisis kapitalisme karena mereka tidak punya alternatif lain (selain semacam stimulus Keynesian yang lunak).

Di Spanyol telah terjadi pemogokan massa para guru di kepulauan Balearic, yang berlangsung selama tiga minggu dan menarik dukungan massa rakyat (dengan demonstrasi di Palma yang diikuti sekitar 100.000 orang, di sebuah pulau dengan populasi total 800.000). Pemogokan tersebut dijalankan dengan metode-metode perjuangan kelas yang telah hilang dalam periode sebelumnya: vergadering-vergadering massa, delegasi-delegasi yang dipilih, dukungan dari para orang tua dan siswa serta dana mogok. Akan tetapi para pimpinan serikat buruh meninggalkan para guru Balearic ini berjuang sendirian, dan menolak menyebarkan perjuangan ke sektor lainnya dan ke seluruh Spanyol. Sehingga gerakan tersebut harus mundur dan mengalami kekalahan karena keletihan.

Dalam kondisi-kondisi demikian tidak mengejutkan bahwasanya banyak buruh yang mempertanyakan validitas pemogokan massa 24 jam yang diserukan secara terisolasi dan tanpa rencana perjuangan berkelanjutan oleh para pimpinan serikat. Kenyataannya, seruang pemogokan umum digunakan oleh para pimpinan serikat buruh  hanya untuk melepaskan tekanan uap di antara massa buruh. Di Yunani, senjata pemogokan massa satu hari telah menjadi kontra-produktif. Seruan-seruan untuk aksi-aksi demikian disambut dengan rasa skeptisisme buruh yang paham bahwa diperlukan aksi yang lebih drastis. Dalam situasi seperti di Yunani, yang diperlukan adalah pemogokan massa politis skala penuh untuk menjatuhkan pemerintah.

Kita menyaksikan akumulasi kemarahan dan ketidakpuasan baik di front politik maupun front industrial yang sejauh ini tidak menemukan saluran ekspresi yang jelas. Di Spanyol, Portugal, Yunani, Italia, ratusan ribu kaum muda dipaksa beremigrasi dan harus hidup di bahwa kondisi yang telah lama ditinggalkan orang tua mereka.

Terdapat serangan-serangan terus-menerus terhadap sistem layanan kesehatan dan sistem pendidikan, epidemik pengangguran yang semakin membesar, skandal penggusuran dan pendudukan kembali terjadi silih berganti dan beriringan dengan sejumlah besar apartemen dan rumah-rumah yang kosong, semakin banyaknya orang yang jadi gelandangan dan tidur di jalanan, dan banyak yang dulunya memandang dirinya sendiri sebagai “kelas menengah” kini terdesak ke bawah garis kemiskinan, dan sebagainya.

Di bawah kondisi-kondisi seperti ini, lebih dari apapun juga, buruh memandang serikat-serikat mereka sebagai garis pertahanan mereka yang pertama. Semua tekanan ini akan muncul ke permukaan, dalam sebuah kombinasi gerakan protes yang spontan, ledakan-ledakan kemarahan, yang pada akhirnya akan menimbulkan dampak di organisasi-organisasi massa.

Tahapan-tahapan pertama radikalisasi massa akan tercermin dalam mogok-mogok kerja, pemogokan-pemogokan massa, dan demonstrasi-demonstrasi massa. Kita telah menyaksikan hal-hal ini di Yunani, Spanyol, dan Portugal. Namun akibat kedalaman krisis, aksi-aksi itu saja tidak akan bisa mencegah serangan-serangan baru terhadap taraf hidup rakyat pekerja.

Bahkan di Belgia di mana aksi militan para pemadam kebakaran serta pekerja rel, stasiun, dan kereta, memaksa pemerintah untuk mundur, ini hanya akan menjadi suatu kemenangan sementara. Apa yang diserahkan pemerintah lewat tangan kiri akan mereka ambil lagi dengan tangan kanan. Di Yunani sudah terjadi hampir 30 pemogokan massa, namun pemerintah terus menyerang.

Secara gradual, buruh belajar melalui pengalamannya bahwa diperlukan langkah-langkah yang semakin radikal. Mereka mulai menarik kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Trotsky menjelaskan pentingnya tuntutan-tuntutan transisional sebagai alat untuk membangkitkan kesadaran buruh ke tingkat yang dituntut oleh sejarah. Namun ia juga menunjukkan bahwa dalam sebuah krisis yang dalam, tuntutan-tuntutan demikian tidaklah cukup:

“Tentu saja upah relatif dan pertahanan diri buruh tidaklah cukup. Ini hanyalah langkah-langkah awal yang diperlukan untuk melindungi buruh dari kelaparan dan dari pisau-pisau fasis. Langkah-langkah ini merupakan alat pertahanan diri yang mendesak dan diperlukan. Namun itu saja tidak akan memecahkan permasalahan. Tugas utamanya adalah membuka jalan menuju suatu sistem ekonomi yang lebih baik, dan penggunaan tenaga-tenaga produktif yang lebih adil, rasional, dan layak, demi kepentingan semua rakyat.

“Ini tidak bisa dicapai melalui metode-metode serikat buruh yang biasa, “normal”, dan rutin. Kalian tidak bisa tidak setuju dengan ini, karena dalam kondisi-kondisi kemunduran kapitalis serikat-serikat buruh yang terisolasi ternyata tidak mampu bahkan untuk menghentikan kemerosotan kondisi-kondisi buruh. Kita memerlukan metode-metode yang lebih tegas dan mendalam. Kaum borjuasi yang menguasai alat-alat produksi dan kekuasaan negara telah membawa seluruh ekonomi ke dalam kekacauan total. Kita harus menyatakan bahwa borjuasi telah bangkrut dan mentransfer ekonomi ke tangan-tangan yang segar dan jujur, yaitu, tangan-tangan buruh itu sendiri”. (Trotsky, Diskusi dengan Aktivis CIO, 29 September 1938)

Peran Kaum Muda

Salah satu ciri utama situasi saat ini adalah tingkat pengangguran dan semi pengangguran yang tinggi dan tidak beranjak pergi, khususnya di antara kaum muda. Ini bukanlah tentara cadangan pengangguran yang disebut oleh Marx. Ini merupakan pengangguran terstruktur permanen, pengangguran organik laksana bisul beracun yang menggerogoti organ-organ tubuh masyarakat dan merusaknya dari dalam.

Dampak terburuk dari pengangguran ditemui di antara kaum muda, yang menanggung beban terberat krisis kapitalis. Harapan dan cita-cita kaum muda membentur penghalang yang tak bisa ditembusnya. Ini semakin tak tertanggungkan ketika semakin banyak pengangguran adalah orang-orang yang sangat terpelajar. Ini menciptakan situasi yang mudah terbakar dan meledak..

Generasi sekarang adalah generasi pertama kaum muda yang tidak akan bisa mengharapkan standar hidup yang lebih baik dibandingkan orang tuanya. Masa depan mereka telah dirampok, seluruh generasi pemuda dikorbankan sebagai tumbal di altar Kapital. Antara Brszil dan Turki, tentu saja, ada perbedaan-perbedaan. Namun juga ada fitur umum yang menyebabkan ledakan sosial. Fitur yang sama ini juga akan menyulut protes-protes serupa di mana-mana. Satu faktor penting adalah pengangguran kaum muda.

Fenomena ini tidak terbatas pada negara-negara paling miskin di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia. Pengangguran dan kemiskinan merupakan sebuah kombinasi eksplosif yang bisa tersulut kapan pun juga dan di negara manapun juga. Pengangguran kaum muda merupakan faktor besar dalam Revolusi Arab. Tingkat-tingkat pengangguran yang tinggi di Eropa bisa memiliki dampak radikalisasi yang serupa. Bahkan radikalisasi pemuda sudah menjadi fenomena umum di seluruh Eropa.

Di Inggris, ada gelombang radikalisasi di antara mahasiswa diikuti dengan ledakan kerusuhan oleh pemuda pengangguran di kota-kota besar yang mengguncang penguasa. Di Yunani, gerakan-gerakan besar kelas buruh juga diawali oleh gerakan besar para siswa sekolah. Di Spanyol dan AS kita menyaksikan gerakan Indignados dan Occupy, yang mayoritas partisipannya adalah pemuda. Terdapat banyak contoh serupa dalam sejarah. Revolusi 1905 di Rusia diawali oleh demonstrasi mahasiswa pada tahun 1900 dan 1901. May Day di Prancis pada 1968 dipicu oleh demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang direpresi polisi secara brutal.

Lenin mengatakan: “Mereka yang memiliki kaum muda memiliki masa depan”. Kita harus menemukan jalan ke kaum muda dengan segala cara dan memberikan ekspresi yang sadar dan terorganisir kepada naluri mereka untuk melawan ketidakadilan dan penindasan serta membangun sebuah dunia yang lebih baik. Keberhasilan atau kegagalan IMT bergantung banyak pada kemampuan kita untuk melakukan ini.

Apakah Kondisi-Kondisi Sudah Matang untuk Revolusi?

Kita tengah memasuki situasi yang sepenuhnya baru di skala global. Hal ini jelas dari berbagai peristiwa dalam 12 bulan terakhir saja. Asap-asap dari gas air mata memenuhi jalanan Istanbul. Pentungan-pentungan polisi meretakkan tengkorak-tengkorak di Sao Paolo dan 17 juta orang menggulingkan presiden Mesir. Protes-protes telah meletus di Bulgaria. Semua ini cuma awal dari gelombang ketidakpuasan yang tengah berkembang di dunia, yang dipenuhi dengan potensi-potensi revolusioner.

Dialektika mengajarkan pada kita bahwa cepat atau lambat segala sesuatu akan berubah menjadi kebalikannya. Hukum dialektika telah terbukti oleh berbagai peristiwa dalam dua belas bulan terakhir. Mari kita ingatkan diri kita sendiri bahwasanya Turki dan Brasil belum lama ini dilihat sebagai pemimpin emerging economies. Kemungkinan kebangkitan revolusioner di negeri-negeri tersebut bahkan tidak terbayang di kepala dan benak para ahli strategi kapital. Sama tidak terbayangkannya dengan kemungkinan penggulingan revolusioner Mubarak di Mesir atau Ben Ali di Tunisia.

Kaum sinis dan kaum skeptis bisa ditemukan dalam jumlah cukup banyak di mana-mana. Mereka adalah sisa-sisa kekalahan masa silam, orang-orang yang menjadi tua secara prematur, yang telah kehilangan kepercayaannya terhadap kelas buruh, Sosialisme, dan diri mereka sendiri. Kaum sinis profesional ini mengais eksistensi yang menyedihkan di tepi-tepi gerakan buru, dan terkadang di dalamnya. Tujuan utama dalam hidup mereka adalah untuk mengeluh dan menggerutu mengenai buruh dan kaum muda, serta mengerdilkan capaian-capaian mereka, dan membesar-besarkan kesalahan-kesalahan mereka.

Spesies serupa bisa ditemukan juga di antara bekas-bekas Stalinis. Karena mereka telah sejak lama mencampakkan semua harapan atas Revolusi Sosialis, makhluk-makhluk hina ini hanya peduli dengan satu hal: menyebarkan pesimisme dan skeptisisme beracun mereka ke kaum muda, mematahkan semangatnya dan menghalangi mereka dari berpartisipasi dalam gerakan revolusioner.

Orang-orang ini, yang dideskripsikan dengan tepat oleh Trotsky sebagai kaum skeptis yang sudah membusuk, menyatakan bahwa kelas buruh tidak siap untuk Sosialisme, kondisi-kondisinya belum matang, dan lain sebagainya. Tak perlu diomongkan lagi bahwa bagi orang-orang demikian kondisi-kondisi bagi Sosialisme memang tidak akan pernah matang. Setelah menetapkan standar-standar mustahil untuk “kematangan” revolusioner di kepala mereka, mereka kemudian bisa duduk santai dan tidak melakukan apapun.

Kita perlu menggarisbawahi gagasan fundamental bahwa ciri utama revolusi adalah masuknya massa ke panggung sejarah. Pada tahun 1938, Trotsky menulis:

“Semua celoteh mengenai kondisi-kondisi historis belum ‘matang’ untuk sosialisme adalah produk ketidakpedulian atau tipu daya secara sadar. Syarat-syarat obyektif untuk revolusi proletar bukan saja sudah ‘matang’; bahkan dalam beberapa tingkatan sudah mulai membusuk. Tanpa sebuah revolusi sosialis di periode historis berikutnya maka sebuah malapetaka akan mengancam seluruh budaya dan peradaban manusia. Sekarang adalah gilirannya proletariat, yaitu, khususnya kaum pelopor revolusionernya. Krisis historis umat manusia dapat dirangkum menjadi krisis kepemimpinan revolusioner” (Trotsky, Program Transisional, Mei-Juni 1938).

Baris-baris di atas sepenuhnya relevan dengan situasi terkini di skala dunia, seakan-akan baru ditulis kemarin!

Kami menentang kaum sinis dan skeptis yang menyangkal peran revolusioner kaum proletariat.  Kami selalu mengedepankan potensi-potensi revolusioner kaum buruh dan kaum muda, yang secara terus-menerus terbukti oleh berbagai peristiwa. Gerakan revolusioner yang hebat di Turki, Brasil, dan Mesir, pemogokan-pemogokan massa di Yunani dan Spanyol. gerakan massa di Portugal yang hampir menggulingkan pemerintahan, pemogokan-pemogokan massa di India dan Indonesia, semua ini merupakan indikasi jelas bahwa revolusi sosialis dunia telah dimulai.

Namun kenyataan bahwa sebuah revolusi telah dimulai tidak berarti revolusi ini akan berhasil dengan seketika. Ini bergantung pada banyak faktor, di mana faktor paling pentingnya adalah kualitas kepemimpinan. Hegel menulis:

“Ketika kita ingin melihat pohon ek dengan semua daya hidup tubuhnya, cabang-cabangnya yang panjang, dedaunannya yang rimbun, kita tidak akan puas kalau hanya diberikan benih ek.” (Hegel, Fenomenologi Pikiran, Kata Pengantar)

Apa yang kita lihat sekarang hanyalah antisipasi awal dari revolusi sosial. Massa baru bangkit kembali setelah sebuah periode panjang di mana perjuangan kelas telah ditumpulkan di banyak negeri. Seorang atlet, setelah tidak aktif cukup lama, tentu butuh waktu untuk merenggangkan ototnya, untuk “pemanasan” dan belajar kembali kemampuan yang diperlukan untuk terjun ke aktivitas-aktivitas yang lebih serius. Sama halnya dengan kelas buruh yang butuh waktu untuk meraih pengalaman yang diperlukan untuk menaikkan dirinya sendiri ke tingkat yang dituntut oleh sejarah.

Secara umum massa belajar dari pengalaman. Terkadang proses ini berlangsung dengan menyakitkan dan selalu perlahan. Proses pembelajaran ini akan berjalan dengan lebih cepat dan mulus bila ada sebuah partai Marxis yang kuat dengan kepemimpinan berpandangan jauh seperti partainya Lenin dan Trotsky. Bilamana ada Partai Bolshevik di Mesir Juni lalu, tak ada yang bisa membantah bahwa buruh dan kaum muda revolusioner sudah pasti merebut kekuasaan dengan mudah.

Para diplomat Eropa berbicara dengan suram mengenai “krisis demokrasi”, dan kenyataannya institusi-institusi demokrasi borjuis memang sedang diuji hingga limitnya. Di pemerintahan-pemerintahan Eropa, khususnya di Berlin, ada kekhawatiran besar bahwasanya penerapan pengetatan anggaran akan mengakibatkan konflik sosial yang dapat menjadi ancaman bagi tatanan sosial yang ada.

Alasan sesungguhnya mengapa kaum borjuasi begitu ketakutan atas penggulingan Mursi di Mesir adalah karena mereka takut bahwa hal demikian bisa terjadi di Eropa. FT telah menarik paralel yang menggelisahkan borjuasi dengan tahun 1848: “Ini [...] mengingatkan saya—pada 1848. Dari jendela Metternich mencibir gerombolan massa yang tidak relevan, beberapa jam sebelum penggulingannya, Guizot yang kaget bahkan tidak bisa bernafas saat dia mengundurkan diri dari kementrian, Thiers, sang perdana menteri pada suatu ketika, menderita Tourette abad ke-19 karena didesak terus oleh massa…”

Para pakar ekonomi borjuis mengakui bahwa perspektif ke depan bagi kapitalisme adalah dua puluh tahun pengetatan anggaran. Ini berarti dua dekade perjuangan kelas yang terus meningkat, dengan pasang naik dan pasang surut yang tak terhindarkan. Momen-momen kebangkitan besar akan diikuti dengan periode-periode kelelahan, kekecewaan, disorientasi, kekalahan, bahkan reaksi. Namun dalam iklim saat ini, setiap keredaan hanya akan menjadi pengantar bagi perjuangan-perjuangan baru yang lebih meledak-ledak. Cepat atau lambat, di satu negeri atau yang lainnya, masalah kekuasaan akan dikedepankan. Pertanyaannya adalah, apakah dalam momen-momen menentukan ini, faktor subyektif akan cukup kuat untuk memberikan kepemimpinan yang diperlukan.

Tekanan-tekanan yang tak tertahankan terus menumpuk di semua tingkatan. Sumber kebuntuan umum di masyarakat bukan hanya dari faktor-faktor ekonomi saja: pengangguran dan merosotnya standar hidup. Ini mencerminkan kemuakan terhadap semua institusi masyarakat kapitalis yang ada: para politisi, Gereja, media, bank-bank, polisi, sistem legal, dan sebagainya. Ini juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa internasional (Irak, Afghanistan, Suriah, dan sebagainya).

Memang kondisi-kondisinya berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Misalnya, situasi di Yunani lebih maju dibandingkan Jerman. Namun di mana-mana, tidak jauh dari permukaan, ada perasaan ketidakpuasan yang tengah mendidih, sebuah perasaan bahwasanya ada yang sangat salah di masyarakat ini, bahwa ini tidak bisa lagi ditolerir, dan partai-partai dan para pimpinan yang ada tidak mewakili kita. Kondisi-kondisi obyektif untuk Revolusi Sosialis telah matang, atau mematang dengan sangat pesat. Namun faktor subyektifnya tidak ada. Sebagaimana yang dikatakan Trotsky jauh-jauh hari, permasalahannya adalah permasalahan kepemimpinan.

Karena berbagai alasan historis, gerakan telah terdesak mundur, kekuatan-kekuatan Marxisme yang sejati telah terpukul menjadi sebuah minoritas kecil yang terisolasi dari massa. Inilah problem pokok dan kontradiksi pokok yang harus dipecahkan. Kita harus merekrut kader-kader yang dibutuhkan dan melatihnya serta mengintegrasikan mereka ke dalam organisasi, dan mengarahkan mereka ke organisasi-organisasi massa buruh.

Ini membutuhkan waktu. Kita akan punya waktu yang cukup banyak proses revolusi yang lambat ini. Namun kita tidak punya waktu selamanya. Kita harus melaksanakan tugas-tugas membangun kekuatan Marxisme dengan rasa urgensi, memahami bahwa jalan menuju kemenangan besar di masa depan disiapkan oleh serangkaian keberhasilan kecil di masa kini. Kita memiliki gagasan yang tepat. Perspektif kita secara brilian telah terbukti oleh serangkaian peristiwa. Sekarang kita harus mengusung gagasan ini ke kelas buruh dan kaum muda. Jalan menuju buruh dan kaum muda terbuka lebar. Mari kita melangkah maju dengan penuh kepercayaan diri.

Maju terus menuju pembangunan Tendensi Marxis Internasional (International MarxistTendency, IMT)!

Hidup Revolusi Sosialis dunia!

Catatan: Diterjemahkan oleh bumirakyat dan disunting selanjutnya oleh Militan Indonesia sesuai dengan dokumen draf bahasa Inggris.

Source