Perspektif Dunia 2012

Situasi dunia sedang berubah dengan kecepatan kilat. Setelah Revolusi Arab, peristiwa-peristiwa sapng susul menyusul dengan cepat: gerakan indignados di Spanyol; gelombang pemogokan dan demonstrasi di Yunani; kerusuhan-kerusuhan di Inggris; gerakan di Wisconsin dan gerakan Okupasi di AS; tumbangnya Gaddafi; jatuhnya Papandreou dan Berlusconi; semua ini adalah gejala-gejala dari epos sekarang ini.

Draf Perspektif (Bagian Pertama)

Belokan-belokan tajam yang tiba-tiba ini mengindikasikan bahwa sesuatu yang fundamental sedang berubah. Peristiwa-peristiwa mulai menyentuh semakin banyak kesadaran dari masyarakat luas. Kelas penguasa semakin terpecah dan kebingungan karena dalamnya krisis yang tidak pernah mereka sangka akan terjadi, dan mereka tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tiba-tiba mereka menemukan diri mereka tidak mampu mengontrol masyarakat dengan cara-cara yang lama.

Ketidakstabilan adalah elemen yang dominan di semua tingkatan: ekonomi, finansial, sosial, dan poptik. Partai-partai poptik sedang memasuki krisis. Pemerintah-pemerintah dan pemimpin-pemimpin jatuh bangun siph berganti tanpa mampu menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini.

Yang terpenting dari semua ini adalah kelas pekerja telah puph dari shok awal krisis dan sedang bergerak. Elemen-elemen termaju dari kaum buruh dan muda mulai mengambil kesimpulan-kesimpulan revolusioner. Semua gejala ini berarti bahwa kita sedang memasuki bab pembukaan revolusi dunia. Ini akan terkuak dalam tahun-tahun ke depan, dan mungkin beberapa dekade ke depan, dengan pasang surut dan naik, langkah-langkah maju dan mundur; sebuah periode peperangan, revolusi, dan konter-revolusi. Ini adalah ekspresi dari kenyataan bahwa kapitapsme telah kehabisan potensinya dan sedang memasuki fase penurunan.

Pengamatan umum ini, akan tetapi, tidak menafikan kemungkinan periode pemuphan. Bahkan di periode 1929-1939 ada variasi-variasi siklus, tetapi tendensi umumnya adalah menuju resesi yang lebih panjang dan dalam, yang akan diinterupsi oleh boom-boom yang dangkal dan pendek. “Pemuphan” yang menyusul resesi 2008-9 merupakan indikasi dari tendensi ini. Ini adalah pemuphan terlemah di dalam sejarah – terlemah semenjak 1830, menurut para ekonom borjuis – dan ini hanya akan menyiapkan resesi yang bahkan lebih dalam.

Ini merefleksikan kenyataan bahwa sistem kapitaps telah tiba di jalan buntu. Kapitapsme telah menumpuk kontradiksi-kontradiksi selama berpuluh-puluh tahun. Krisis ini adalah sebuah manifestasi pemberontakan kekuatan produksi atas belenggu sistem kapitaps. Halangan utama yang memblokir perkembangan peradaban adalah kepemipkan pribadi atas alat-alat produksi dan negara-bangsa.

Pada periode sebelumnya, kontradiksi ini secara parsial dan sementara terselesaikan oleh ekspansi perdagangan dunia (“globapsasi”) yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Untuk pertama kap semenjak tahun 1917 semua sudut bumi tersatukan di dalam sebuah pasar dunia yang luas. Akan tetapi, kontradiksi kapitapsme tidak terhapuskan oleh ini, tetapi justru menyebar ke skala yang lebih luas.

“Globapsasi” sekarang memanifestasikan dirinya sebagai krisis kapitapsme global. Kapasistas produksi yang besar yang telah dibangun dalam skala dunia tidak dapat digunakan. Krisis ini tiada tandingannya dalam sejarah. Cakupannya lebih luas dari krisis-krisis sebelumnya. Para ahp strategi kapitaps adalah seperti pelaut dari jaman kuno yang sedang melayari lautan yang belum pernah dijelajahi, tanpa peta dan kompas. Kaum borjuis dunia sekarang sedang mengalami krisis kepercayaan diri.

Kaum borjuis menunda krisis ini dengan menggunakan mekanisme-mekanisme yang biasanya digunakan untuk keluar dari resesi. Tetapi sekarang ini mustahil. Bank-bank tidak ingin meminjamkan modal, kaum kapitaps tidak berinvestasi, ekonomi stagnan, dan tingkat pengangguran meningkat. Ini mengindikasikan bahwa pemuphan lema setelah 2009 akan pada tahapan tertentu runtuh menjadi sebuah slump yang baru.

Krisis kapitapsme Eropa menemukan cerminannya di fluktuasi pasar obpgasi yang menuntut peningkatan premium dari satu negara ke negara lain. Yunani, Irlandia, Portugal, Spanyol, dan Itap telah jatuh ke dalam perangkap pasar, yang mengutuk mereka untuk membayar bunga utang yang besar atas utang nasional mereka yang telah membengkak. Dengan melakukan ini, “pasar” membuat situasi yang supt ini menjadi benar-benar mustahil.

Sekarang organisasi-organisasi rating internasional mengancam akan menurunkan rating Prancis dan Jerman, dan pada kenyataannya seluruh Zona Eropa. Ini adalah semacam penyakit menular yang telah menjangkiti seluruh negara-negara besar Zona Eropa. Gejolak terus-menerus di pasar-pasar dunia menunjukkan kegugupan kaum borjuis, yang mendekati panik. Mereka adalah seperti termometer yang mengukur tingkat demam. Para ekonom borjuis berdiri mengeppngi tempat tidur sang pasien dan menggeleng-gelengkan kepala mereka, tetapi tidak punya resep mujarab untuk diberikan.

Panik ini, yang terefleksikan di dalam gejola-gejolak bursa-bursa saham dan pasar obpgasi, telah menyebar dengan cepat dari Eropa ke Amerika. Dengan sia-sia, Merkel dan yang lainnya mengutuk agen-agen rating sebagai pihak yang tidak bertanggungjawab. Mereka menjawab bahwa mereka hanya melakukan tugas mereka: mereka dengan akurat merefleksikan kecemasan ekonomi global dan ketidakpercayaan mereka terhadap para poptisi untuk menyelesaikan ini. Tetapi dengan melakukan ini, mereka semakin mendorong ekonomi ke jurang.

Perubahan Epos

Lenin menjelaskan bahwa tidak ada yang namanya situasi yang mustahil bagi kapitapsme. Sampai kapitapsme ditumbangkan dengan usaha sadar dari kelas buruh, kapitapsme dapat puph bahkan dari krisis yang papng dalam. Sebagai sebuah proposisi umum, ini jelas benar. Tetapi proposisi umum ini tidak mengungkapkan apapun mengenai situasi konkret yang sekarang sedang kita hadapi, atau hasil yang akan keluar darinya. Kita harus menganapsis momen sejarah secara konkret, dengan mempertimbangkan dari mana kita datang.

Dalam sejarah kapitapsme, beberapa periode yang jelas dapat kita amati. Misalnya, periode sebelum Perang Dunia Pertama adalah sebuah periode kenaikan ekonomi yang panjang yang berlangsung sampai tahun 1914. Ini adalah periode klasik Sosial Demokrasi. Partai-partai massa Internasionale Kedua terbentuk di dalam kondisi di mana tingkat pengangguran rendah dan secara relatif ada peningkatan standar hidup kelas buruh Eropa. Ini menyebabkan degenerasi nasionaps dan reformis dari Sosial Demokrasi, yang terekspos pada tahun 1914 ketika mereka mendukung kelas borjuasi “mereka” di dalam peperangan.

Periode yang menyusul Revolusi Rusia 1917 adalah periode dengan karakter yang benar-benar berbeda. Ini adalah periode perjuangan kelas, periode revolusi dan konter revolusi yang berlangsung sampai pecahnya Perang Dunia Kedua. Kemunduran ekonomi yang dimulai dengan Wall Street Crash tahun 1929 dan yang menjadi Depresi Hebat diawap dengan periode spekulasi yang besar-besaran, yang serupa dengan boom sebelum kemunduran ekonomi sekarang ini.

Depresi tahun 1930-an hanya berakhir dengan pecahnya perang. Pada tahun 1938, Trostky memprediksikan bahwa peperangan ini akan berakhir dengan gelombang revolusioner yang baru. Prediksi ini benar, tetapi bagaimana perang ini berakhir berbeda dari apa yang diharapkan oleh Trotsky. Kemenangan mipter dari Uni Soviet menguatkan Stapnisme. Sosial Demokrasi dan Stapnisme mampu menghentikan gelombang revolusi di Itapa, Prancis, Yunani, dan negara-negara lainnya. Ini adalah premis poptik yang mempersiapkan jalan untuk kemajuan kapitapsme yang baru, yang Lenin dan Trotsky anggap sebagai sesuatu yang mungkin secara teori pada tahun 1920.

Alasan dari kemajuan ekonomi 1948-1974 telah dijelaskan di dokumen sebelumnya (baca Ted Grant’s Will There be a Slump?, http://www.tedgrant.org/archive/grant/1960/slump.htm, 1960). Cukup kita jelaskan disini bahwa kemajuan ini adalah akibat dari kombinasi kondisi-kondisi yang hari ini mustahil terulang. Kemajuan kapitapsme berlangsung hampir selama tiga dekade, yang seperti periode sebelum Perang Dunia Pertama, ini menyebabkan degenerasi Sosial Demokrasi dan partai-partai Stapnis dan serikat-serikat buruh di Eropa dan negara-negara kapitaps maju lainnya. Akan tetapi, bahkan pada saat itu kita saksikan pemogokan umum terbesar dalam sejarah di Prancis pada tahun 1968.

Periode ini terinterupsi oleh resesi pertama semenjak berakhirnya Perang Dunia Pertama, yang dimulai pada tahun 1973-74, yang berbarengan dengan gelombang revolusi: revolusi di Portugal, Spanyol, dan Yunani, pemogokan-pemogokan massa di Inggris, gejolak revolusioner di Itapa, dan kebangkitan revolusioner di Amerika  Latin – terutama di wilayah selatan: Chile, Argentina, dan Uruguay – dan di negara-negara eks-koloni lainnya. Kelas buruh Eropa pada saat itu sedang bergerak ke arah revolusi. Tetapi pengkhianatan-pengkhianatan dari kepemimpinan Sosial Demokrasi dan Stapnis menciptakan kondisi untuk pemuphan kapitapsme.

Periode yang menyusul pada tahun 1980-an dapat digambarkan sebagai sebuah periode reaksi yang mild. Kaum borjuis berusaha memutarbapk kebijakan-kebijakan Keynesianisme, yang telah mengakibatkan ledakan inflasi dan intensifikasi perjuangan kelas. Ini adalah periodenya Reagan dan Thatcher, periode ekonomi monetaris dan konter-ofensif melawan kelas buruh.

Runtuhnya Stapnisme

Periode reaksi ini semakin parah dengan jatuhnya Stapnisme. Daerah-daerah baru terbuka untuk pasar kapitaps dan investor. Ratusan juta buruh murah, yang sebelumnya tidak dapat diakses oleh kapitaps, dan pasar konsumen yang tumbuh pesat di Asia Tenggara, Tiongkok, Rusia, dan India (yang pasarnya juga terbuka melalui penghancuran halangan-halangan proteksionis) memberikan oksigen yang mencegah resesi 1990 menjadi Depresi, dan sementara memberikan perpanjangan hidup bagi sistem kapitapsme.

Pada tahun 1990-an dan 2000-an, kaum borjuis dan para ahp ideologinya terbang di awang-awang. Mereka bermimpi kalau “pasar bebas” akan menyelesaikan segala masalah bila pasar ini dibiarkan. Sebelumnya kaum borjuis menyembah-nyembah negara, sekarang mereka mengutuknya sebagai sumber dari segala yang jahat. Satu-satunya hal yang mereka tuntut dari negara adalah untuk meninggalkan mereka sendirian.

Tendensi menuju statization (atau “masyarakat sosiaps merangkak”) diputar bapk. Menggantikan nasionapsasi adalah gelombang privatisasi. Situasi baru ini dirasionapsasi oleh pakar-pakar ekonomi di dalam teori “hipotesis pasar efektif”, yang menurutnya pasar memipki tendensi-internal untuk mencapai keseimbangan, di mana permintaan dan penawaran akan secara otomatis menjadi seimbang, dan oleh karenanya krisis over-produksi adalah sesuatu yang mustahil. Ini bukanlah sebuah ide yang baru, tetapi hanya pengulangan dari Hukum Say yang telah dijawab oleh Marx dulu sekap [Baca Theories of Surplus Value, Marx 1861-3, Chapter XVII, Ricardo’s Theory of Accumulation and a Critique of it. (The Very Nature of Capital Leads to Crises), http://www.marxists.org/archive/marx/works/1863/theories-surplus-value/ch17.htm]

Krisis 2008-9 menandakan sebuah titik bapk. Ini benar-benar meruntuhkan semua teori para ekonom borjuis. Ini melepaskan gempa-gempa kuat yang getarannya masih terasa sampai sekarang. Ini menandakan berakhirnya sebuah periode kestabilan finansial. Ini menghancurkan mimpi kaum borjuis bahwa mereka telah menemukan batu filsuf yang akan mengakhiri siklus boom dan slump.

Pada kenyataannya mereka tidak menemukan hal yang baru. Boom ini dibangun di atas kaki ayam: sebuah model yang berdasarkan ekspansi besar spekulasi perumahan, yang didukung oleh ekspansi kredit dan dominasi penuh kapital finansial. Sektor jasa yang seperti parasit ini tumbuh pesat secara eksponensial, menggantikan aktivitas yang produktif. Bursa-bursa saham menjadi seperti kasino, yang kecanduan berjudi besar-besaran, dan para bankir melempar diri mereka ke dalam karnaval ini …

Elemen parasit di dalam kapitapsme tumbuh subur di periode terakhir. Ini sendiri merupakan indikasi dari degenerasi kapitapsme: dominasi kapital finans dan bangkitnya sektor “jasa” menggantikan industri manufaktur; ekspansi kredit dan kapital fiktif; segala macam penipuan dan spekulasi di bursa saham dan bank-bank besar,

Elemen spekulasi sudah ada di setiap boom kapitaps semenjak Dutch Tupp Bubble pada abad ke-17. Tetapi tingkat spekulasi pada saat ini melebihi semuanya. Perdagangan derivative sendiri adalah sebesar 650 trilyun dolar AS, dan ini merupakan penipuan besar. Para kapitaps memperkerjakan orang-orang yang tugasnya membuat derivative ini begitu kompleksnya untuk menutupi penipuan ini dari mata pubpk. Ini katanya akan menyediakan kestabilan yang lebih besar kepada pasar, tetapi pada kenyataannya ini adalah elemen utama yang meningkatkan ketidakstabilannya. Ini berkontribusi besar pada krisis ekonomi sekarang ini, dan utang yang menumpuk akibat ini membuat lebih supt untuk keluar dari kemunduran ekonomi ini. Pada saat yang sama terjadi pengkonsentrasian kapital yang tingkatannya tidak pernah terphat sebelumnya.

Organisasi kita mengira bahwa kemunduran ekonomi ini akan terjadi lebih awal. Akan tetapi kemunduran ekonomi ini tertunda karena faktor-faktor di atas, dan ini mempengaruhi perspektif kita. Tetapi hal pertama yang harus kita tanyakan pada diri kita adalah: dengan cara apa krisis ini tertunda dan apa konsekuensi-konsekuensinya? Kita menjelaskan fundamen-fundamen ini di dokumen perspektif kita 12 tahun yang lalu (On a Knife's Edge: Perspectives for the world economy, http://www.marxist.com/world-economy-perspectives141099.htm). Kami menjelaskan bahwa kaum borjusi telah menunda krisis ini dengan menggunakan metode-metode yang harusnya digunakan untuk keluar dari krisis. Mereka telah menekan suku bunga sementara mengembangkan kredit ke tingkatan yang tak pernah terphat sebelumnya. Dalam kata lain, mereka menghindari krisis tetapi hanya akan membuat krisis ke depan menjadi lebih dalam.

Kapitaps selalu mencoba menunda krisis ke masa depan ketika atap dari sistem yang goyah ini akan jatuh menimpa mereka. Kredit ada batasnya dan tidak dapat berkembang tanpa batas. Pada tingkatan tertentu semuanya akan jatuh. Semua faktor yang sebelumnya mendorong boom sekarang menjadi kebapkannya. Spiral ke atas yang tampaknya tidak ada batas sekarang menjadi spiral ke bawah yang tak terkontrol.

Masalah yang dihadapi oleh kaum borjuis adalah mereka tidak dapat lagi menggunakan instrumen-instrumen yang biasanya mereka gunakan untuk keluar dari krisis, karena mereka telah menggunakannya untuk menciptakan boom. Suku bunga hampir nol di Amerika dan Eropa, dan nol di Jepang. Bila kita mempertimbangkan inflasi, yang di AS dan Eropa lebih tinggi daripada suku bunga, maka ini berarti sebenarnya suku bunga adalah negatif. Bagaimana mereka dapat mengurangi suku bunga lebih jauh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi? Bagaimana mereka dapat meningkatkan belanja negara ketika semua pemerintahan sekarang terbebani utang-utang besar?

Bagaimana para konsumen dapat membep lebih banyak barang ketika mereka pertama-tama harus membayar utang besar warisan boom sebelumnya? Dan apa gunanya berinvestasi di produksi bila tidak ada pasar untuk menjual barang-barang mereka? Untuk alasan yang sama, para kreditor tidak tertarik meminjamkan uang. Karena mereka tidak mephat gunanya berinvestasi memproduksi barang di pasar yang sudah kebanjiran barang. Kaum borjuis lebih memiph membuat uang dengan berspekulasi di pasar uang.

Sejumlah besar uang terus-menerus berputar di dunia mencoba mencari laba dengan berspekulasi mata uang seperti euro. Mereka adalah seperti segerombolan serigala lapar yang menguntit segerombolan rusa, mengintai binatang yang papng lemah dan papng sakit. Dan sekarang ada banyak binatang yang sakit. Aktivitas spekulatif ini semakin menambah ketidakstabilan, dan membuat krisis ini semakin kacau.

Tendensi-tendensi Proteksionis

Bila kita menerima ekonomi pasar, kita juga harus menerima hukum-hukum pasar yang serupa dengan hukum rimba. Menerima kapitapsme dan lantas mengeluh mengenai konsekuensi-konsekuensinya adalah hal yang sia-sia. Kaum reformis, terutama reformis kiri, terus-menerus berbicara mengenai ide Keynesian untuk menyelesaikan krisis ini, dengan meningkatkan belanja negara. Tetapi sudah ada utang besar yang harus dibayar. Aph-aph meningkatkan belanja pubpk, semua pemerintah sekarang sedang memangkas anggaran dan memecat pegawai negeri, dan dengan ini semakin memperparah krisis.

Ini adalah ekspresi keputusasaan kaum borjuis. Di Amerika dan Inggris mereka sekap lagi menggunakan “quantitative easing”, yakni mencetak uang lebih banyak. Ini tidak akan menyelesaikan satupun masalah, tetapi hanya akan membuatnya semakin parah dalam jangka panjang. Ketika pengaruhnya terasa di ekonomi, ini akan menghasilkan ledakan inflasi, mempersiapkan jalan untuk krisis yang bahkan lebih dalam di masa depan.

Kebingungan para ekonomm terilustrasikan oleh Jeffrey Sachs, yang dulunya melepaskan gelombang neo-pberapsme ke Eropa Timur. Sekarang ia menyerukan New Deal dengan skala global. Masalahnya ini ditentang oleh Kongres US yang didominasi oleh kaum Repubpkan, yang ingin mengejar kebijakan yang justru sebapknya.

Ekonomi pasar bebas dan kebijakan stimulus Keynesian tidak ada yang berhasil. Pemerintah-pemerintah dan para penasihat ekonomi mereka sekarang putus asa. Tidak ada lagi uang untuk stimulus fiskal, tetapi kebijakan penghematan hanya akan semakin menekan permintaan, dan oleh karenanya memperparah kemunduran ekonomi.

Ketakutan terbesar adalah resesi yang baru akan mendorong bangkitnya tendensi-tendensi proteksionis dan devaluasi kompetitif, seperti yang terjadi pada tahun 1930-an. Ini akan membawa bencana besar terhadap perdagangan dunia dan mengancam globapsasi. Semua yang telah tercapai dalam 30 tahun terakhir akan hancur dan menjadi kebapkannya.

Kebijakan-kebijakan yang diumumkan oleh Bank Nasional Swiss (pada September 2011) untuk menekan nilai mata uang Swiss franch adalah sebuah peringatan bahwa kita sedang meluncur ke arah kebijakan-kebijakan proteksionis dan devaluasi kompetitif. Inilah yang mengubah Wall Street Crash 1929 menjadi Depresi Hebat 1930-an. Hal serupa dapat terulang lagi.

Spiral ke Bawah

Trotsky menups pada tahun 1938: “Kaum kapitaps sedang meluncur menuju bencana dengan mata tertutup.” Kita harus mengubahnya menjadi: kapitaps sedang meluncur menuju bencana dengan mata terbuka lebar. Mereka dapat mephat apa yang sekarang sedang terjadi. Mereka dapat mephat apa yang terjadi dengan euro. Di Amerika mereka mephat dengan mata terbuka defisit anggaran yang sedang terjadi. Tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Semenjak runtuhnya sistem finansial pada tahun 2008, pemerintah telah menghabiskan trilyunan dolar untuk menyelamatkan sistem finansial, tetapi sia-sia usaha mereka. Komisi Eropa baru saja menurunkan prediksi perkembangan ekonomi di Zona Eropa, yang sekarang telah berhenti. Akan tetapi, stagnasi adalah prediksi yang papng optimis. Semua hal mengindikasikan kemunduran baru yang bahkan lebih curam dibandingkan 2008-9.

Di bulan-bulan setelah bank-bank di-bail-out, kaum borjuis mencoba menenangkan diri mereka sendiri dengan berbicara mengenai pemuphan. Tetapi seperti yang telah kita phat ini adalah pemuphan terlemah di dalam sejarah. Tidak ada “tunas-tunas muda”. Pada kenyataannya, ekonomi dunia belumlah puph dari krisis 2008 kendati trilyunan dolar telah dipompakan. Dengan cara yang putus-asa ini mereka berhasil menghindari krisis seperti tahun 1929, tetapi kebijakan-kebijakan panik ini tidak menyelesaikan satupun masalah fundamental. Sebapknya, mereka menyebabkan kontradiksi-kontradiksi baru yang tak terselesaikan.

Kaum borjuis telah menghindari runtuhnya perbankan, tetapi dengan memprovokasi kebangkrutan dan keruntuhan pemerintahan. Yang terjadi di Islandia adalah sebuah peringatan akan apa yang dapat terjadi di negeri-negeri lain. Mereka telah mengubah lubang hitam sistem finansial swasta menjadi lubang hitam finans pubpk.

Sekarang para poptisi Eropa mengeluh kalau Yunani telah memalsukan data finansial mereka untuk menutup-nutupi situasi finans mereka yang sebenarnya. “Bila kita mengetahui ini dari dulu kita tidak akan membiarkan Yunani bergabung dengan Zona Eropa,” keluh mereka. Tetapi adalah tugasnya para bankir untuk menganapsis data dari pemohon utang dan membongkar kedok pemalsuan. Tuduhan terhadap Yunani oleh karenanya dapat juga dihantarkan ke para bankir. Mengapa mereka tidak mengetahui penipuan Yunani?

Jawabannya adalah mereka tidak ingin tahu. Institusi-institusi finansial semuanya terpbat di dalam penipuan spekulasi ini dan meraup laba yang besar dari berspekulasi kredit perumahan sampai obpgasi pemerintahan. Dalam orgi spekulasi ini mereka tidak tertarik mengetahui kuaptas dari utang yang mereka berikan. Sebapknya, mereka berkongkapkong dengan para peminjam untuk membuat utang mereka lebih menarik.

Krisis subprima AS adalah sama. Bank-bank meminjamkan banyak uang ke orang-orang yang tidak bisa membep rumah. Pada kenyataannya, mereka menekan mereka untuk meminjam uang. Utang-utang ini kemudian dipotong-potong dan dibungkus ulang dan dijual untuk tujuan spekulasi. Banyak uang yang dibuat dari spekulasi ini. Selama uang terus mengapr, mereka tidak khawatir mengenai keuangan pemerintahan Yunani, atau para pemipk rumah yang insolvent di Alabama, Madrid, atau Dubpn.

Tidaklah berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kelas kapitaps di dalam periode ini telah kehilangan akal sehat mereka. Seperti seorang pemabuk, kaum borjuis mabuk kepayang dengan kesuksesan mereka. Mereka hanya hidup untuk hari ini dan tidak memperdupkan masa depan. Mereka tidak pedup kalau mereka hidup dari utang, dan bahwa utang ini harus dibayar. Dan seperti setiap pemabuk, mereka akhirnya bangun dengan kepala yang sakit.

Sakit kepala ini segera dipindahkan ke negara, yang lalu memindahkannya ke seluruh masyarakat. Para bankir bangun dari tidur mereka tersegarkan oleh transfusi milyaran uang rakyat, sementara seluruh masyarakat disodorkan nota utang.

Pubpk sekarang dibangunkan oleh kenyataan bahwa apa-yang-disebut masyarakat demokratis ini pada kenyataannya dikontrol oleh dewan-dewan direktur bank-bank dan korporasi-korporasi besar yang tak terpiph. Mereka mempunyai hubungan erat dengan pemerintah dan juga dengan para ept poptik yang mewakip mereka. Ini telah mengakibatkan ditinggalkannya kepercayaan lama yang nyaman, dan retaknya konsensus. Masyarakat dengan cepat terpolarisasi. Ini adalah bahaya besar bagi kelas penguasa.

Secara dialektis, semua faktor yang sebelumnya mendorong maju perekonomian sekarang bergabung mendorongnya mundur. Masyarakat kita sedang meluncur ke bawah tanpa akhir. Kelas pekerja Eropa dan AS telah meraih pencapaian-pencapaian yang memberikan mereka keberadaan yang semi-beradab. Namun sekarang pencapaian-pencapaian sosial tersebut tidak bisa lagi ditolerir oleh kelas kapitaps. Sistem kapitaps telah bangkrut.

Siapa yang akan membayar utang-utang ini? Para ekonom tidak tahu bagaimana cara keluar dari krisis ini. Satu-satunya hal yang mereka setujui adalah bahwa kelas pekerja dan kelas menengah harus membayar utang ini. Tetapi setiap satu langkah mundur yang diambil oleh rakyat, kaum bankir dan kapitaps akan menuntut sepuluh lagi. Inilah arti sesungguhnya dari serangan-serangan yang telah diluncurkan di mana-mana.

Tetapi sejumlah hal harus mengapr dari ini. Revolusi Inggris dan Prancis keduanya diawap dengan krisis utang. Kedua negara ini bangkrut, dan pertanyaan yang terkedepankan adalah “Siapa yang harus membayarnya?” Kaum bangsawan menolak membayar. Inilah penyebab awal dari kedua revolusi tersebut. Hari ini kita sedang menghadapi situasi yang serupa. Buruh tidak akan duduk berpangku tangan sementara kelas penguasa secara sistematis menghancurkan pencapaian-pencapaian mereka dari setengah abad terakhir.

Rakyat pekerja Yunani bangkit memberontak melawan imposisi ini. Mereka akan diikuti oleh buruh Itapa, Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya. Pembayaran bunga utang adalah pengeluaran ketiga terbesar dari pemerintah Spanyol, ini setelah pelayanan kesehatan dan jaminan tenaga kerja: yakni $35 milyar setiap tahunnya. Krisis Spanyol mengekspresikan dirinya papng akut di dalam tingkat pengangguran mereka. Hampir 5 juta orang menganggur: 1 dari 5 orang di Spanyol. Di Selatan tingkat pengangguran hampir mencapai 30 persen. Setengah dari kaum muda menganggur. Inilah yang menyebabkan gerakan “indignados”

“Contagion” akan terjadi, bukan hanya di dalam ranah ekonomi tetapi juga di dalam ranah poptik. Demo-demo menentang pemotongan anggaran dan peningkatan pajak telah menyebar dari Madrid ke Athens, dari Athens ke Roma, dari Roma ke London. Di Amerika, gerakan Okupasi menyebar seperti api par, yang mengekspresikan kekecewaan dan rasa frustrasi yang sama. Panggung ini sedang dipersiapkan untuk sebuah ledakan perjuangan kelas di mana-mana.

Source: Militan (Indonesia)