Venezuela dan Libya: Ini Bukan Kudeta 11 April, Ini Adalah Sebuah Caracazo 27 Februari

Telah terjadi banyak diskusi di Amerika Latin tentang peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung di Libya. Artikel ini menjelaskan posisi IMT (International Marxist Tendency), yang mendukung perlawanan rakyat Libya, sementara pada saat yang sama mengutuk intervensi apapun dari pihak imperialis. Kami juga secara kritis mengkaji posisi yang diambil oleh Hugo Chavez dan Fidel Castro.

Pemerintah Venezuela dan Pemerintah Kuba dengan tepat telah berdiri dalam lembaga-lembaga internasional untuk menentang intervensi apapun dari pihak imperialis di Libya. Mereka telah mengkritik kemunafikan negeri-negeri yang berteriak-teriak mengenai pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia di Libya, sementara pada saat yang sama telah berpartisipasi dalam perang-perang imperialis yang berlumuran darah di Irak dan Afghanistan, serta mendukung represi yang brutal terhadap rakyat Palestina oleh negara Israel.

Duta Besar Venezuela untuk PBB, Jorge Valero, memaparkannya sebagai berikut:

“Siapa yang membayar untuk lebih dari satu juta orang yang tewas di Irak? Siapa yang membayar untuk pembantaian yang terus berlangsung terhadap rakyat Palestina? Mengapa mereka yang bertanggungjawab atas kejahatan-kejahatan perang, genosida, dan terhadap umat manusia – yang diketahui oleh semua orang dan secara publik mengakui perbuatan mereka – tidak dibawa ke Mahkamah Pengadilan Internasional? Apa yang dilakukan Dewan Keamanan ketika berhadapan dengan pembantaian-pembantaian mengerikan yang terjadi ini?”

Dengan sangat tepat, perwakilan-perwakilan Venezuela menggugat maksud dan tujuan yang sesungguhnya dari intervensi imperialisme di kawasan itu:

“Mereka yang mempromosikan penggunaan kekuatan militer terhadap Libya, tidak berupaya untuk membela Hak-hak Asasi Manusia, tapi untuk mendirikan sebuah protektorat guna melanggarnya, sebagaimana selalu demikian halnya, di sebuah negeri yang merupakan salah satu sumber minyak dan enerji yang paling penting di Timur Tengah”.

Rakyat Irak adalah sebuah kesaksian tentang fakta ini. Washington membuat-buat suatu alasan (yang disebut “senjata pemusnah massal” atau weapons of mass destruction) sebagai dalih untuk menyerang Irak sehingga mereka dapat memperoleh kembali kekuasaan mereka dan mendapatkan kembali kontrol langsung atas sumber-sumber minyak yang krusial. Maksud dan tujuan dari invasi itu bukanlah untuk “mendirikan demokrasi”, dan tentu saja ada sangat sedikit demokrasi di Irak saat ini di bawah pemerintahan Maliki. Ribuan warga Irak berdemonstrasi bulan lalu untuk menuntut listrik, air, lapangan kerja, dan roti, dan mereka disambut dengan represi yang brutal dari pasukan-pasukan pemerintah, yang mengakibatkan kematian, luka-luka, penangkapan, dan penculikan. Tapi tidak seorang pun menganjurkan agar pemerintah Irak diajukan ke Pengadilan Internasional!

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) faktanya adalah sebuah sandiwara. PBB adalah sebuah badan yang hanya mencerminkan dominasi imperialisme AS. Tatkala AS bisa mendapatkan resolusi-resolusi guna membenarkan tindakan-tindakan mereka, mereka menggunakan PBB sebagai kedok. Ketika, untuk alasan apapun, mereka tidak bisa mencapai tujuan-tujuan mereka melalui PBB, mereka mengabaikan PBB dan tetap mengejar tujuan-tujuan itu. Dan, akhirnya, ketika resolusi-resolusi yang dikeluarkan menentang tujuan-tujuan imperialis mereka (misalnya menentang blokade terhadap Kuba atau mengutuk penindasan Israel terhadap rakyat Palestina), mereka begitu saja mengabaikan resolusi-resolusi tersebut, dan resolusi-resolusi itu tidak pernah dilaksanakan. Dalam kasus resolusi yang baru-baru ini dikeluarkan tentang pendudukan Israel atas Wilayah Palestiina, AS menggunakan hak vetonya untuk memblokir resolusi tersebut. Begitulah soal keadilan dan Hak-hak Asasi Manusia.

Dalam beberapa hari terakhir ada banyak kegaduhan dan beberapa tindakan konkret dari pihak bangsa-bangsa imperialis sehubungan dengan Libya. AS sekarang telah mengerahkan dua kapal perang amfibi, USS Ponce dan USS Kearsarge, yang mengangkut helikopter-helikopter dan jet-jet tempur, ke Laut Tengah. Di bawah selubung yang dinamakan “intervensi kemanusiaan”, kekuatan-kekuatan imperialis (termasuk AS, Inggris, Prancis, dan Italia) di antara yang lain-lainnya, sedang mendiskusikan tindakan apa yang dapat mereka ambil untuk mengamankan kepentingan-kepentingan mereka sendiri. Negeri-negeri Eropa terutama khawatir tentang datangnya massa para pengungsi ke pantai-pantai mereka. Kekhawatiran yang lain adalah kontrol atas sumber-sumber minyak dan di atas segalanya dampak dari gelombang revolusioner yang menyapu Dunia Arab terhadap harga minyak dan pukulan terhadap perekonomian kapitalis secara keseluruhan.

Pilihan yang paling banyak didiskusikan adalah “zona larangan terbang”, yang telah dianjurkan di antara yang lain-lain baik oleh senator Republikan John McCain dan senator Demokrat John Kerry. Untuk alasan-alasannya sendiri, Perdana Menteri Inggris David Cameron, telah juga membuat kasak-kusuk tentang perang, guna membesar-besarkan peran Inggris dalam politik dunia; suatu peran yang sebenarnya tidak bisa lagi dimainkan oleh Inggris.

Namun, kebenarannya adalah, bahkan sebuah intervensi terbatas dalam bentuk zona larangan terbang akan berisiko dan rumit untuk diimplementasikan. Sekretaris Pertahanan AS Robert Gates mengeluh bahwa “ada banyak, jujur saja, perbincangan yang kebablasan tentang beberapa dari opsi-opsi militer ini.” Ia memperingatkan tentang implikasi-implikasi dari tindakan seperti itu. “Mari kita namakan sebuah sekop sebagai sebuah sekop: sebuah zona larangan terbang dimulai dengan suatu serangan terhadap Libya, untuk menghancurkan pertahanan udaranya. Itulah caranya Anda mengadakan sebuah zona larangan terbang … Itu juga membutuhkan lebih banyak pesawat terbang daripada yang dapat Anda temukan pada satu kapal pengangkut pesawat. Jadi ini adalah sebuah operasi besar di sebuah negeri yang besar.”

Militer AS sudah terlalu lama di Irak dan Afghanistan, seperti ditekankannya: “Bila kita memindahkan aset-aset tambahan, apa konsekuensinya dari pemindahan itu bagi Afghanistan, bagi Teluk Persia?” Katanya, “Dan apakah sekutu-sekutu yang lain siap untuk bekerja dengan kita dalam beberapa dari hal-hal ini?”

Namun, kekhawatiran utama yang ada pada para perencana imperialis sehubungan dengan intervensi di Libya adalah reaksi negatif yang akan terjadi di seluruh kawasan tersebut. Massa-rakyat sudah muak dan jenuh dengan imperialisme, dan gelombang revolusioner yang sedang menyapu Dunia Arab secara langsung tertuju pada rezim-rezim yang disponsori AS. Gates memperlihatkan bahwa klas-penguasa AS sadar tentang hal ini ketika ia mengatakan, “Kita juga harus berpikir tentang, dengan jujur, penggunaan militer AS di negeri lain di Timur Tengah.”

Pertimbangan-pertimbangan ini, tentu saja, tidak mengenyahkan intervensi imperialis di Libya atau di mana saja, bila kepentingan-kepentingan vital mereka terancam. Tapi pertimbangan-pertimbangan itu menggarisbawahi fakta bahwa AS telah kedapatan tidak siap menghadapi gelombang revolusioner sekarang ini dan tidak mampu mengintervensi secara cepat dan efektif untuk mengemudikan jalannya kejadian-kejadian menurut keinginan mereka.

Di hadapan manuver-manuver imperialisme, dan juga ketidakkonsisten kaum imperialis dalam menangani perkara “Hak-hak Asasi Manusia” dan “kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan”, Venezuela dan Kuba benar dalam menyingkap kemunafikan imperialisme dan beragitasi melawan kekuatan-kekuatan asing yang mengintervensi Libya.

Namun, yang dikemukakan oleh kedua negara tersebut, dan terutama sekali oleh Hugo Chavez dan Fidel Castro, tergangsir oleh fakta bahwa mereka dipandang mendukung Khaddafy, alih-alih mendukung massa-rakyat Libya yang telah bangkit menentang rezimnya.

Adalah benar bahwa Duta Besar Venezuela untuk PBB mengatakan di dalam pidatonya bahwa Venezuela “menyambut hangat rakyat-rakyat Arab yang sedang berada dalam proses pemberontakan yang damai dan mencari keadilan, dan menatap pada sebuah masa depan yang lebih baik melalui jalan-jalan damai.” Tapi pada saat yang sama Fidel Castro telah berargumen bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi Libya berbeda dengan yang dihadapi Tunisia dan Mesir. Ia telah menambahkan bahwa kendati “tidak ada keraguan bahwa wajah-wajah mereka yang berdemo di Benghazi mengekspresikan kemarahan yang sungguh-sungguh,” telah ada “sebuah kampanye fitnah yang besar-besaran, yang diluncurkan oleh media massa, yang mengakibatkan kebingungan besar dalam opini publik dunia.”

Presiden Venezuela Hugo Chavez juga telah mengatakan bahwa ia “menolak untuk mengutuk Khaddafy” yang telah menjadi “seorang sahabat lama Venezuela” karena nampaknya tidak ada cukup informasi tentang situasi di sana. Ia telah menggunakan contoh 11 April 2002, tatkala media dunia menuduh Chavez telah memerintahkan tentara untuk menembaki para demonstran yang damai guna membenarkan kudeta terhadap dirinya. Sebagaimana kita semua ketahui, belakangan terbukti bahwa segala sesuatunya telah dirancang, dengan para penembak-jitu (sniper) yang disewa, yang menembaki baik para demonstran oposisi maupun para demonstran revolusioner pada April 2002.

Namun, dalam kasus Libya, situasinya sama sekali berbeda. Di Venezuela, yang terjadi adalah sebuah gerakan reaksioner melawan sebuah pemerintahan yang dipilih secara demokratis yang berupaya untuk mengimplementasikan reforma-reforma yang progresif dan berdiri-kukuh melawan imperialisme. Di Libya kita mendapati sebuah perlawanan rakyat terhadap sebuah rezim penindas yang telah membuat segala macam kesepakatan dengan imperialisme.

Pada tingkatan tertentu, dapat dipahami mengapa ada kebingungan di Venezuela tentang watak dari apa yang sebenarnya terjadi di Libya. Rakyat Venezuela tidak lagi mempercayai media kapitalis, yang sama sekali didiskreditkan oleh peran yang mereka mainkan dalam kudeta 2002. Lebih-lebih, oposisi kontra-revolusioner Venezuela sedang berupaya untuk menyelinap ke dalam gerbong Revolusi Arab, dengan mengatakan bahwa “diktator berikutnya yang akan jatuh adalah Hugo Chavez”.

Adalah suatu soal catatan publik bahwa oposisi kontra-revolusioner Venezuela menerima pendanaan, pelatihan, dan segala jenis dukungan dari Washington. Dalam sejumlah kesempatan, mereka telah mengorganisir pasukan-pasukan mereka di jalan-jalan untuk membuat seolah-olah Chavez adalah seorang tiran yang menghadapi oposisi rakyat (jelang kudeta 11 April 2002, semasa penghentian produksi minyak pada Desember 2002, semasa guarimba pada 2004, protes-protes mahasiswa demi membela RCTV, dsb). Mereka tidak akan segan-segan untuk melakukannya lagi. Namun, apa yang sedang kita lihat di Dunia Arab persis sebaliknya: serangkaian perlawanan revolusioner terhadap rezim-rezim diktatorial yang dibeking AS.

Benar bahwa rezim Khaddafy meraih kekuasaan di atas gerakan yang didukung oleh rakyat melawan monarki yang membusuk, Raja Idris, pada tahun 1969. Pada 1970-an, dengan dipengaruhi oleh gelombang Revolusi Arab, dan karena dampak resesi dunia 1974, rezim Khaddafy bergerak lebih jauh ke Kiri, dengan mengusir imperialisme dan memperdalam serangan-serangan terhadap properti kapitalis. Mendasarkan dirinya pada kekayaan minyak negeri tersebut dan jumlah penduduknya yang relatif kecil, Rezim Khaddafy mampu mengimplementasikan banyak reforma progresif dan secara substansial meningkatkan standar hidup mayoritas besar rakyat Libya.

Namun, setelah kejatuhan Uni Soviet, rezim ini mulai membuka diri terhadap imperialisme. Sejak sedini tahun 1993 undang-undang yang menjamin investasi asing disahkan. Dan setelah kejatuhan Saddam Hussein pada 2003 Khaddafy memutuskan untuk berdamai dengan imperialisme dengan menandatangani sejumlah kesepakatan untuk melucuti senjata pemusnah massalnya, membayar ganti-rugi kepada korban-korban pengeboman teroris, dsb. Rezim ini menjadi mitra yang loyal bagi imperialisme dalam apa yang dinamakan “perang terhadap terror” dan bekerjasama dengan Uni Eropa dalam rangka memperkuat “benteng Eropa” terhadap masuknya para imigran illegal dari sub-Sahara.

Ini dibarengi dengan permohonan untuk bergabung dengan WTO, menciptakan Zona Perdagangan Khusus, memprivatisasi bagian-bagian besar dari perekonomian, mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak multinasional ke dalam industri minyak dan memangkas subsidi atas bahan-bahan pangan pokok. Tujuannya adalah memprivatisasi 100% perekonomian, menurut para pejabat Libya. Implementasi dari kebijakan-kebijakan inilah yang menyebabkan membengkaknya penganguran (antara 20 dan 30%), kemiskinan, dan ketidaksetaraan, yang memainkan suatu peran kunci dalam perlawanan akhir-akhir ini.

Dalam artikelnya yang paling baru tentang situasi di Libya, Fidel Castro menekankan fakta bahwa, “fakta yang tidak dapat disangkal bahwa relasi-relasi antara AS dan sekutu-sekutu NATO-nya dengan Libya dalam tahun-tahun terakhir sangat bagus,” dengan menambahkan bahwa Libya “telah membuka sektor-sektor strategis seperti produksi dan distribusi minyak bagi investasi asing” dan bahwa, “banyak perusahaan milik negara diprivatisasi. IMF memainkan perannya dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan ini.” Dan sebagai akibatnya, “Aznar penuh dengan puja-puji kepada Khaddafy, dan ia diikuti oleh Blair, Berlusconi, Sarkozy, Zapatero, dan sahabat saya Raja Spanyol, mereka semua mengantri di bawah senyum mengejek dari pemimpin Libya. Mereka senang.” (Cuba Debate)

Khaddafy sendiri menjelaskan bagaimana ia merasa “dikhianati” oleh negara-negara Barat. Setelah mendukung mereka dan mengikuti kebijakan-kebijakan mereka selama beberapa tahun, sekarang mereka malah mencampakkan dia. Bahkan retorika yang digunakannya mendemonstrasikan itu. Ketika menuduh para pemberontak dimanipulasi oleh Al Qaeda, ia sedang menggunakan taktik menjajakan ketakutan seperti yang sebelumnya dilakukan Ben Ali dan terutama Mubarak, dan dalam kenyataannya meminta dukungan Barat untuk menghadapi musuh bersama. Karakter sesungguhnya dari rezim Khaddafy dapat disimpulkan dari posisinya terhadap perlawanan revolusioner di Tunisia, di mana ia tampil dengan teguh di pihak sekutu Barat, Ben Ali, dan mengkritik kaum buruh dan kaum muda Tunisia karena telah menggulingkan Ben Ali!

Berkenaan dengan kebenaran tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di Libya, orang tidak perlu menyimak media Barat. Saif al Islam, putra Khaddafy sekaligus tangan kanannya, mengakui penggunaan tentara untuk menghadapi para demonstran yang tak bersenjata dalam pidatonya, 20 Februari yang silam:

“Tentu ada banyak kematian, yang membangkitkan kemarahan banyak orang di Benghazi, tapi mengapa orang-orang terbunuh di sana? Tentara ada dalam tekanan; tidak terbiasa mengontrol kerumunan massa, mereka menembak, tetapi saya mengkontak mereka. Tentara mengatakan bahwa beberapa demonstran mabuk, yang lain-lain ada dalam pengaruh obat halusinasi atau obat-obatan terlaranga. Tentara harus mempertahankan senjata-senjatanya. Dan orang-orang marah. Jadi memang ada banyak yang mati, tapi pada akhirnya orang-orang Libya-lah yang terbunuh.”

Khaddafy sendiri telah mengakui bahwa “beberapa ratus orang terbunuh,” tapi menuduh Al Qaeda mendistribusikan obat-obatan kepada kaum muda!!

Kisah yang dilaporkan koresponden TeleSUR di Libya, Reed Lindsay (twitter.com/reedtelesur), mengkonfirmasi laporan-laporan yang datang dari sumber-sumber lain: ada demonstrasi-demonstrasi rakyat yang damai dan tak bersenjata, dan tentara melepaskan tembakan (lihat, misalnya, untuk laporan ini: (Telesur). Dalam suatu laporan yang dikirimkannya dari Brega, 2 Maret (Telesur), ia menggambarkan bagaimana ada prajurit-prajurit yang telah bergabung dengan Pemberontakan tapi juga “warga dari berbagai latar belakang, saya telah berbicara kepada para dokter, insinyur, buruh dari perusahaan minyak, di sini mereka semua memberontak, menjadi bagian dari perlawanan dan bersenjata”, dengan menambahkan bahwa “Pemberontakan ini dimulai dengan damai, dua minggu yang lalu, tapi sekarang rakyat menyandang senjata untuk berjuang sampai mereka berhasil menggulingkan Khaddafy.” Ia juga menolak anggapan bahwa perang sipil sedang terjadi di Libya: “Kita tidak sedang berbicara tentang sebuah perang sipil di sini… ini dimulai ketika para demonstran yang damai diserang oleh pasukan-pasukan keamanan dengan menggunakan senjata berat,” (Union Radio)

Sebagai bagian dari laporannya, Reed Lindsay, juga telah mengkonfirmasi semua laporan yang memperlihatkan bagaimana rakyat Libya yang bangkit melawan Khaddafy dengan tegas menentang intervensi asing. “Mereka berkata bahwa bila pasukan-pasukan AS tiba di sini, mereka akan memerangi pasukan-pasukan itu dengan cara yang sama dengan yang mereka lakukan terhadap pemerintahan Khaddafy.”

Butir penting lainnya yang dikemukakan Lindsay dalam laporannya adalah mengenai sikap rakyat, baik di Benghazi maupun di Brega, terhadap pemerintah-pemerintah Amerika Latin, dan khususnya negeri-negeri ALBA. Di Brega banyak orang bertanya “mengapa presiden Venezuela dan presiden-presiden Amerika Latin lainnya yang sepakat dengan keadilan sosial dan perubahan revolusioner malah mendukung seorang dictator yang menggunakan Tentara terhadap rakyatnya sendiri” katanya (Union Radio). “Mereka meminta negeri-negeri ALBA untuk memutuskan hubungan dengan Khaddafy dan mendukung perjuangan revolusioner rakyat Libya,” lapornya dari Benghazi. Menurut Lindsay, rakyat di Ajdabiya berbicara tentang suatu “perjuangan bersama dengan rakyat-rakyat Amerika Latin” (Kami mengutip dari Reed Lindsay, karena ia tidak bisa dituduh sebagai agen imperialisme atau memutarbalikkan berita guna membenarkan intervensi imperialisme).

Bahkan koresponden TeleSUR lainnya, Jordan Rodríguez, yang hanya melaporkan apa yang dikatakan Khaddafy dan para pejabatnya tanpa membubuhi komentarnya sendiri, mendapat masalah ketika berupaya meliput bentrokan-bentrokan di lingkungan-lingkungan di Tripoli. Timnya ditahan oleh polisi selama empat jam, dipukuli, diancam dengan senapan yang diarahkan kepada mereka, dan film mereka dirampas (Telesur). Ini adalah kedua kalinya mereka ditahan dan ini terjadi kendati mereka mengendarai sebuah mobil diplomatik Venezuela.

Ada suatu butir yang sangat penting yang dikemukakan dalam liputan-liputan ini. Revolusi Venezuela dan khususnya Presiden Chavez luar biasa populer di Dunia Arab, khususnya setelah penentangannya yang vokal terhadap invasi Israel ke Lebanon. Massa-rakyat di negeri-negeri ini memandang Hugo Chavez sebagai pemimpin sebuah negeri minyak yang berdiri teguh melawan imperialisme dan menggunakan uang dari minyak untuk memperbaiki kondisi-kondisi kehidupan rakyatnya. Ini sama sekali bertentangan dengan para penguasa di negeri-negeri mereka sendiri, yang justru menjadi boneka-boneka imperialisme AS, dan tidak membuka mulut mereka sama sekali terhadap agresi-agresi Israel, serta menggunakan kekayaan negeri untuk memperkaya diri mereka sendiri. Inilah salah satu alasan di balik perlawanan revolusioner massa-rakyat Arab. Dalam jajak-pendapat yang dilakukan pada tahun 2009 di beberapa negeri Arab, pemimpin yang paling populer adalah Hugo Chavez dengan 36% dukungan, mengungguli pemimpin-pemimpin yang lain.

Basis dukungan satu-satunya yang dapat diandalkan Revolusi Venezuela adalah massa-rakyat kaum buruh dan kaum muda di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan di seluruh dunia, yang merasa bersimpati dan solider dengan Revolusi Bolivarian karena mereka juga menginginkan sebuah revolusi yang serupa terjadi di negeri-negeri mereka sendiri. Hugo Chavez dan Revolusi Bolivarian harus mengambil posisi yang jelas yang mendukung gelombang revolusioner yang sedang menyapu Dunia Arab, karena ini merupakan bagian dari revolusi dunia, di mana selama beberapa tahun Amerika Latin telah menjadi pengawalnya yang terdepan. Ini mencakup pemberian dukungan kepada rakyat Libya yang sedang bangkit melawan Khaddafy, sementara pada saat yang sama menentang intervensi imperialis.

Dalam upayanya mencegah intervensi militer asing di Libya, Hugo Chavez telah mengusulkan agar sebuah komisi mediasi internasional pergi ke Libya. Laporan-laporan terbaru di media mengindikasikan bahwa kendati Khaddafy dikatakan telah menerima usulan ini, puteranya Saif al-Islam dengan tegas telah menolaknya. "Kami harus mengucapkan terimakasih kepada Anda, tapi kami cukup mampu dan sanggup untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kami dengan rakyat kami sendiri.” Orang-orang Venezuela, tambah Saif, “adalah sahabat-sahabat kami, kami menghormati mereka, kami menyukai mereka, tapi mereka sangat jauh di sana. Mereka tidak mengerti Libya. Libya ada di Timur Tengah dan Afrika Utara. Venezuela di Amerika Tengah." Sekadar informasi untuk Saif, Venezuela bukan di Amerika Tengah; tapi kita maklum, pikirannya sedang terkonsentrasi pada soal-soal yang lain.

Di lain pihak, para pemberontak Libya juga telah menolak mediasi, dengan mengatakan bahwa mereka belum pernah mendengar tentang itu, tapi sudah terlalu terlambat untuk negosiasi apapun, sementara sudah terlalu banyak rakyat Libya yang dibunuh oleh Khaddafy. Bila seseorang memahami esensi yang sebenarnya dari situasi d Libya, dimana pemerintahan dengan brutal menindas demonstrasi-demonstrasi damai rakyatnya sendiri, yang kemudian menjadi sebuah perlawanan rakyat yang bersenjata, maka orang dapat memahami mengapa usulan atau proposal Chavez keliru. Ini seperti andai kata dalam hari-hari terakhir Revolusi Kuba, ketika tentara revolusioner hampir menggulingkan Batista, seorang mengatakan, “tunggu sebentar, marilah kita bentuk mediasi internasional sehingga bisa ada pengertian antara Batista dan Gerakan 26 Juli .”

Dalam situasi seperti ini, posisi satu-satunya yang dapat diambil oleh seorang revolusioner adalah mendukung perlawanan revolusioner rakyat Libya. Bila Hugo Chavez tidak mempososikan dirinya dengan jelas untuk mendukung massa-rakyat yang revolusioner di Dunia Arab, ia membuat kesalahan serius; kesalahan yang akan dibayar dengan sangat mahal oleh rakyat Venezuela. Hugo Chavez sedang mengamati situasi Libya dengan menggunakan lensa Venezuela, dengan membuat perbandingan yang keliru. Para pemberontak Libya tidak dapat dibandingkan dengan kaum oposisi Venezuela, dan posisi Rezim Khaddafy tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan posisi Chavez.

Kita harus jelas: apa yang sedang kita saksikan di Libya dan selebihnya dari Dunia Arab bukanlah kudeta 11 April 2002 yang dijustifikasi atau dibenarkan dengan manipulasi media; alih-alih, yang sedang terjadi di Libya adalah sebuah 27 Februari 1989, sebuah perlawanan yang serupa dengan Caracazo, yang di dalamnya pemerintah-pemerintah sedang menggungakan Tentara untuk menghadapi para demonstran yang tak bersenjata. Sementara kita menentang tegas intervensi imperialis, kita harus jelas di pihak mana kita berada: pihak rakyat Libya yang sedang bangkit melawan Rezim Khaddafy. ***

Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari “Venezuela and Libya: it is not an April 11 coup, it is a February 27 Caracazo,” Jorge Martin, 4 Maret 2011.

Translation: Militan (Indonesia)