Krisis Eropa dan Perspektif Revolusi

Berikut ini adalah saduran dari Perspektif Politik Dunia 2012, mengupas mengenai krisis di Eropa dan bagaimana krisis ekonomi ini memicu krisis politik terbesar di Eropa.

Situasi dunia sedang berubah dengan kecepatan kilat. Setelah Revolusi Arab, peristiwa-peristiwa saling susul menyusul dengan cepat: gerakan indignados di Spanyol; gelombang pemogokan dan demonstrasi di Yunani; kerusuhan-kerusuhan di Inggris; gerakan di Wisconsin dan gerakan Okupasi di AS; tumbangnya Gaddafi; jatuhnya Papandreou dan Berlusconi; semua ini adalah gejala-gejala dari epos sekarang ini.

Belokan-belokan tajam yang tiba-tiba ini mengindikasikan bahwa sesuatu yang fundamental sedang berubah. Peristiwa-peristiwa mulai menyentuh semakin banyak kesadaran dari masyarakat luas. Kelas penguasa semakin terpecah dan kebingungan karena dalamnya krisis yang tidak pernah mereka sangka akan terjadi, dan mereka tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tiba-tiba mereka menemukan diri mereka tidak mampu mengontrol masyarakat dengan cara-cara yang lama.

Ketidakstabilan adalah elemen yang dominan di semua tingkatan: ekonomi, finansial, sosial, dan politik. Partai-partai politik sedang memasuki krisis. Pemerintah-pemerintah dan pemimpin-pemimpin jatuh bangun silih berganti tanpa mampu menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini.

Yang terpenting dari semua ini adalah kelas pekerja telah pulih dari shok awal krisis dan sedang bergerak. Elemen-elemen termaju dari kaum buruh dan muda mulai mengambil kesim-pulan-kesimpulan revolusioner. Semua gejala ini berarti bahwa kita sedang memasuki bab pembukaan revolusi dunia. Ini akan terkuak dalam tahun-tahun ke depan, dan mungkin beberapa dekade ke depan, dengan pasang surut dan naik, langkah-langkah maju dan mundur; sebuah periode peperangan, revolusi, dan konter-revolusi. Ini adalah ekspresi dari kenyataan bahwa kapitalisme telah kehabisan potensinya dan sedang memasuki fase penurunan.

Pengamatan umum ini, akan tetapi, tidak menafikan kemungkinan periode pemulihan. Bahkan di periode 1929-1939 ada variasi-variasi siklus, tetapi tendensi umumnya adalah menuju resesi yang lebih panjang dan dalam, yang akan diinterupsi oleh boom-boom yang dangkal dan pendek. “Pemulihan” yang menyusul resesi 2008-9 merupakan indikasi dari tendensi ini. Ini adalah pemulihan terlemah di dalam sejarah – terlemah semenjak 1830, menurut para ekonom borjuis – dan ini hanya akan menyiapkan resesi yang bahkan lebih dalam.

Ini merefleksikan kenyataan bahwa sistem kapitalis telah tiba di jalan buntu. Kapitalisme telah menumpuk kontradiksi-kontradiksi selama berpuluh-puluh tahun. Krisis ini adalah sebuah manifestasi pemberontakan kekuatan produksi atas belenggu sistem kapitalis. Halangan utama yang memblokir perkembangan peradaban adalah kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi dan negara-bangsa.

Pada periode sebelumnya, kontradiksi ini secara parsial dan sementara terselesaikan oleh ekspansi perdagangan dunia (“globalisasi”) yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Untuk pertama kali semenjak tahun 1917 semua sudut bumi tersatukan di dalam sebuah pasar dunia yang luas. Akan tetapi, kontradiksi kapitalisme tidak terhapuskan oleh ini, tetapi justru menyebar ke skala yang lebih luas.

“Globalisasi” sekarang memanifestasikan dirinya sebagai krisis kapitalisme global. Kapasitas produksi yang besar yang telah dibangun dalam skala dunia tidak dapat digunakan. Krisis ini tiada tandingannya dalam sejarah. Cakupannya lebih luas dari krisis-krisis sebelumnya. Para ahli strategi kapitalis adalah seperti pelaut dari jaman kuno yang sedang melayari lautan yang belum pernah dijelajahi, tanpa peta dan kompas. Kaum borjuis dunia sekarang sedang mengalami krisis kepercayaan diri.

Kaum borjuis menunda krisis ini dengan menggunakan mekanisme-mekanisme yang biasanya digunakan untuk keluar dari resesi. Tetapi sekarang ini mustahil. Bank-bank tidak ingin meminjamkan modal, kaum kapitalis tidak berinvestasi, ekonomi stagnan, dan tingkat pengangguran meningkat. Ini mengindikasikan bahwa pemulihan lemah setelah 2009 akan pada tahapan tertentu runtuh menjadi sebuah slump yang baru.

Spiral ke Bawah

Trotsky menulis pada tahun 1938: “Kaum kapitalis sedang meluncur menuju bencana dengan mata tertutup.” Kita harus mengubahnya menjadi: kapitalis sedang meluncur menuju bencana dengan mata terbuka lebar. Mereka dapat melihat apa yang sekarang sedang terjadi. Mereka dapat melihat apa yang terjadi dengan euro. Di Amerika mereka melihat dengan mata terbuka defisit anggaran yang sedang terjadi. Tetapi mere-ka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Semenjak runtuhnya sistem finansial pada tahun 2008, pemerintah telah menghabiskan trilyunan dolar untuk menyelamatkan sistem finansial, tetapi sia-sia usaha mereka. Komisi Eropa baru saja menurunkan prediksi perkembangan ekonomi di Zona Eropa, yang sekarang telah berhenti. Akan tetapi, stagnasi adalah prediksi yang paling optimis. Semua hal mengindikasikan kemunduran baru yang bahkan lebih curam dibandingkan 2008-9.

Di bulan-bulan setelah bank-bank di-bail-out, kaum borjuis mencoba menenangkan diri mereka sendiri dengan berbicara mengenai pemulihan. Tetapi seperti yang telah kita lihat ini adalah pemulihan terlemah di dalam sejarah. Tidak ada “tunas-tunas muda”. Pada kenyataannya, ekonomi dunia belumlah pulih dari krisis 2008 kendati tril-yunan dolar telah dipompakan. Dengan cara yang putus-asa ini mereka berhasil menghindari krisis seperti tahun 1929, tetapi kebijakan-kebijakan panik ini tidak menyelesaikan satupun masalah fundamental. Sebaliknya, mereka menyebabkan kontradiksi-kontradiksi baru yang tak terselesaikan.

Kaum borjuis telah menghindari runtuhnya perbankan, tetapi dengan memprovokasi kebangkrutan dan keruntuhan pemerintahan. Mereka telah mengubah lubang hitam sistem finansial swasta menjadi lubang hitam finans publik.

Sekarang para politisi Eropa mengeluh kalau Yunani telah memalsukan data finansial mereka untuk menutup-nutupi situasi finans mereka yang sebenarnya. “Bila kita mengetahui ini dari dulu kita tidak akan membiarkan Yunani bergabung dengan Zona Eropa,” keluh me-reka. Tetapi adalah tugasnya para bankir untuk menganalisis data dari pemohon utang dan membongkar kedok pemalsuan. Tuduhan terhadap Yunani oleh kare-nanya dapat juga dihantarkan ke para bankir. Mengapa mereka tidak mengetahui penipuan Yunani?

Jawabannya adalah mereka tidak ingin tahu. Institusi-institusi finansial semuanya terlibat di dalam penipuan spekulasi ini dan meraup laba yang besar dari berspekulasi kredit perumahan sampai obligasi pemerintahan. Dalam orgi spekulasi ini mereka tidak tertarik mengetahui kualitas dari utang yang mereka berikan. Sebaliknya, mereka berkongkalikong dengan para peminjam untuk membuat utang mereka lebih menarik.

Krisis subprima AS adalah sama. Bank-bank meminjamkan banyak uang ke orang-orang yang tidak bisa membeli rumah. Pada kenyataannya, mereka menekan mereka untuk meminjam uang. Utang-utang ini kemudian dipotong-potong dan dibungkus ulang dan dijual untuk tujuan spekulasi. Banyak uang yang dibuat dari spekulasi ini. Selama uang terus mengalir, mereka tidak khawatir mengenai keuangan pemerintahan Yunani, atau para pemilik rumah yang insolvent di Alabama, Madrid, atau Dublin.

Tidaklah berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kelas kapitalis di dalam periode ini telah kehilangan akal sehat mereka. Seperti seorang pemabuk, kaum borjuis mabuk kepayang dengan kesuksesan mereka. Mereka hanya hidup untuk hari ini dan tidak memperdulikan masa depan. Mereka tidak peduli kalau mereka hidup dari utang, dan bahwa utang ini harus dibayar. Dan seperti setiap pemabuk, mereka akhirnya bangun dengan kepala yang sakit.

Sakit kepala ini segera dipindahkan ke negara, yang lalu memindahkannya ke seluruh masyarakat. Para bankir ba-ngun dari tidur mereka tersegarkan oleh transfusi milyaran uang rakyat, sementara seluruh masyarakat disodorkan nota utang.

Publik sekarang dibangunkan oleh kenyataan bahwa apa-yang-disebut masyarakat demokratis ini pada kenyataannya dikontrol oleh dewan-dewan direktur bank-bank dan korporasi-kor-porasi besar yang tak terpilih. Mere-ka mempunyai hubungan erat dengan pemerintah dan juga dengan para elit politik yang mewakili mereka. Ini telah mengakibatkan ditinggalkannya kepercayaan lama yang nyaman, dan retaknya konsensus. Masyarakat dengan cepat terpolarisasi. Ini adalah bahaya besar bagi kelas penguasa.

Secara dialektis, semua faktor yang sebelumnya mendorong maju perekonomian sekarang bergabung mendorongnya mundur. Masyarakat kita sedang meluncur ke bawah tanpa akhir. Kelas pekerja Eropa dan AS telah meraih pencapaian-pencapaian yang memberikan mereka keberadaan yang semi-beradab. Namun sekarang pencapaian-pencapaian sosial tersebut tidak bisa lagi ditole-rir oleh kelas kapitalis. Sistem kapitalis telah bangkrut.

Siapa yang akan membayar utang-utang ini? Para ekonom tidak tahu bagaimana cara keluar dari krisis ini. Satu-satunya hal yang mereka setujui adalah bahwa kelas pekerja dan kelas menengah harus membayar utang ini. Tetapi setiap satu langkah mundur yang diambil oleh rakyat, kaum bankir dan kapitalis akan menuntut sepuluh lagi.      Inilah arti sesungguhnya dari serangan-serangan yang telah diluncurkan di mana-mana.

Rakyat pekerja Yunani bangkit memberontak melawan imposisi ini. Mereka akan diikuti oleh buruh Italia, Spanyol, dan negara-negara Eropa lainnya. Pembayaran bunga utang adalah pengeluaran ketiga terbesar dari pemerintah Spanyol, ini setelah pelayanan kesehatan dan jaminan tenaga kerja: yakni $35 milyar setiap tahunnya. Krisis Spanyol mengekspresikan dirinya paling akut di dalam tingkat pengangguran mereka. Hampir 5 juta orang menganggur: 1 dari 5 orang di Spanyol. Di Selatan tingkat pengangguran hampir mencapai 30 persen. Se-tengah dari kaum muda menganggur. Inilah yang menyebabkan gerakan “indignados”

“Contagion” akan terjadi, bukan hanya di dalam ranah ekonomi tetapi juga di dalam ranah politik. Demo-demo menentang pemotongan anggaran dan peningkatan pajak telah menyebar dari Madrid ke Athens, dari Athens ke Roma, dari Roma ke London. Di Amerika, ge-rakan Okupasi menyebar seperti api liar, yang mengekspresikan kekecewaan dan rasa frustrasi yang sama. Panggung ini sedang dipersiapkan untuk sebuah ledakan perjuangan kelas di mana-mana.

Krisis Kapitalisme Eropa

Zona Eropa sekarang sedang melalui krisis yang paling serius di dalam sejarahnya, yang mempertanyakan eksistensinya di masa depan. Semua kontradiksi nasional akan mencuat, seperti yang sekarang kita lihat dengan hubungan yang retak antara Yunani, Prancis, Jerman, dan Itali. Uni Eropa sedang menghadapi hari yang sulit.

Seharusnya hal ini tidak terjadi. Klausa-klausa dari Perjanjian Maastricht melarang utang-utang besar dan defisit anggaran. Tetapi sekarang Perjanjian Maastricht hanyalah satu memori yang redup. Secara teoritis, karena semuanya adalah anggota dari mata uang tunggal yang sama, dengan bank sentral yang sama yang menentukan satu tingkat suku bunga, setiap negara seharusnya boleh meminjam dengan suku bunga yang nyaris sama. Tetapi pada tahun 2010 pasar mulai membedakan antara Zona Eropa dengan ekonomi yang le-bih kuat – Jerman dan satelit-satelitnya (Austria, Belanda, dan beberapa lainnya), dan ekonomi yang lebih lemah se-perti Yunani, Irlandia, Spanyol, dan Italia. Sekarang, bahkan ekonomi-ekonomi yang lebih kuat, seperti Prancis, Austria, dan Belanda, terpengaruh. Standard & Poor’s bahkan telah memperingatkan bahwa 15 dari 17 anggota Zona Eropa rating kreditnya dapat diturunkan, dengan tanda tanya bahkan untuk Jerman.

Suku bunga meminjam uang dari pasar uang semakin ditingkatkan. Bunga yang semakin tinggi ini semakin memperberat beban utang dan membuatnya susah dibayar.

Bahkan sebelum euro terbentuk kami telah mengatakan bahwa mustahil menyatukan ekonomi-ekonomi yang sedang bergerak ke arah-arah yang berbeda. Sekarang sejumlah ekonom borjuis memperingatkan bahwa tekanan yang sedang menumpuk ini dapat menyebabkan runtuhnya mata uang tunggal ini. Untuk pertama kalinya, masalah runtuhnya, bukan hanya euro tetapi Uni Eropa itu sendiri, dikedepankan dengan terbuka. Kemunduran ekonomi di euro adalah sebuah ekspresi dari kontradiksi yang tak terselesaikan di Uni Eropa.

Yunani: Mata Rantai Terlemah

Krisis di Eropa dimulai di Yunani, dan walaupun terlambat menyebar ke Jerman, Austria, dan Skandinavia, ia telah mulai menyebar. Cepat atau lambat, semua negara ini akan tersedot ke dalam badai ini.

Untuk menenangkan pasar, Prancis dan Jerman awalnya bersikeras kalau Yunani harus tetap menjadi bagian “integral” dari mata uang tunggal. Tetapi walaupun kata-kata ini secara sementara dapat menstabilkan pasar, mereka hanya-lah ujaran saja dan segera terpecah-pecah ke empat penjuru mata angin. Yunani dipaksa untuk bangkrut secara parsial. Pasar finansial dunia pada kenyataannya bekerja di bawah asumsi bahwa Yunani akan bangkrut sepenuhnya.

Pada tahun 2010, Yunani meminjam uang sebesar 10,5 persen dari output ekonomi pertahunnya, hanya untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Yunani jelas tidak akan mampu membayar utangnya, dan satu-satunya hasil dari program penghematan yang dipaksakan kepadanya oleh para pemimpin Zona Eropa adalah mendorongnya lebih ke jauh ke dalam resesi dan kemelaratan. Bahkan bila rencana paling baru dilaksanakan dengan sempurna defisit Yunani masih akan sebesar 120 persen GDP pada tahun 2020, sementara rakyat Yunani akan menderita karena penurunan standar hidup mereka.

Sebagai imbalan dari “bantuan” yang mereka terima, pemerintah Yunani dipaksa untuk memeras tetesan darah terakhir dari rakyat Yunanti. Tetapi pada akhirnya Yunani tidak akan dapat membayar utangnya.

Hampir tak terelakkan kalau Yunani pada akhirnya akan ditendang keluar dari Uni Eropa. Tetapi ini akan membawa konsekuensi yang serius bagi Yunani dan seluruh Uni Eropa. Semua kondisi objektif untuk revolusi di Yunani selama delapan bulan terakhir ini telah hadir: 1) Kelas kapitalis terpecah belah dan kehilangan kepercayaan dirinya; 2) Kelas menengah sedang ragu dan cenderung mendukung perubahan revolusioner; 3) Kelas buruh sedang berjuang dan siap membuat pengorbanan-pengorbanan terbesar untuk bergerak maju.

Apa lagi yang dapat kita harapkan dari kelas buruh Yunani? Apa lagi yang dapat mereka perbuat? Bila mereka tidak merebut kekuasaan, ini bukan salah mereka, tetapi kesalahan dari tiap-tiap pemimpin mereka. Kegagalan kepemimpinan adalah satu-satunya hal yang mencegah buruh untuk maju.

Setelah pemogokan-pemogokan umum pertama di Yunani, slogan mo-gok umum 24-jam telah menjadi tak ada nilainya. Gerakan ini telah bergerak melebihi slogan ini. Satu-satunya slogan yang memadai sekarang adalah pemogokan umum tak terbatas. Tetapi di situasi seperti Yunani, ini mengedepankan masalah kekuasaan. Kita tidak bisa bermain-main dengan slogan ini. Ini harus dihubungkan dengan perkembangan organ-organ kekuasaan popular – komite-komite aksi atau soviet-soviet – yang terhubungkan dengan serikat-serikat buruh.

Revolusi Yunani, pada gilirannya, harus dihubungkan dengan perspektif Revolusi Eropa. Tetapi banyak kaum Kiri, terutama kaum Stalinis, yang terjangkiti oleh penyakit nasionalisme. Mereka membayangkan kalau masalah-masalah di Yunani dapat diselesaikan dalam batasan sempit kapitalisme dan di dalam batas-batas negara Yunani dengan meninggalkan EU. Pada kenyatannya, tidak ada masa depan bagi kapitalisme Yunani, di dalam maupun di luar EU.

Ancaman Terhadap Uni Eropa

Setelah menyeret Yunani, Irlandia, Portugal, dan Spanyol, para srigala sekarang memalingkan perhatian mereka ke Italia, yang memiliki utang yang menggunung, sebesar 120% dari GDP negara ini. Ini adalah level utang kedua terbesar setelah Yunani. Terlebih lagi, Italia ada utang sebesar 335 milyar euro yang jatuh tempo pada tahun 2012, lebih banyak daripada Yunani, Irlandia, dan Portugal digabungkan bersama.

Para pejabat tinggi EU telah memperingatkan bahwa krisis zona euro ini akan menghancurkan Uni Eropa. Para pemimpin Jerman dan Prancis telah terpaksa memberikan lebih banyak uang untuk Yunani dalam usaha mereka untuk menghindari kebangkrutan yang akan menyebabkan kekacauan.

Masalahnya adalah, semua orang ingin menyelamatkan euro, tetapi tidak ada seorangpun yang ingin merogoh kantong mereka. Adalah sebuah keputus-asaan ketika para pemimpin Eropa memohon kelompok BRICS – Brasil, Rusia, India, China/Tiongkok, dan Afrika Selatan – untuk menyediakan uang untuk menyelesaikan masalah mereka.

Semua pembicaraan ini tidak menyelesaikan masalah. Sarkozy pergi ke Tiongkok, di mana dia diberitahu secara sopan bahwa Tiongkok tidak siap untuk membantu. Alasannya adalah karena mereka tidak yakin kalau mereka akan mendapatkan uang mereka kembali. Mereka juga takut kalau ekonomi mere-ka sendiri mungkin akan melamban, dan mereka akan membutuhkan uang ini untuk membantu diri mereka sendiri. Se-perti yang diketahui semua orang, amal dimulai di rumah sendiri.

Italia

Krisis ini menyebar dengan cepat. Utang Italia telah mencapai 120% GDP. Biaya meminjam Italia mencapai tingkat tertinggi karena ketakutan utang ini. Pada September 2011, suku bunga untuk obligasi pemerintah 5-tahun Roma naik dari 4.93% menjadi 5.6%, tetapi segera ini meningkat menjadi 7.5%. Bila suku bunga ini terus di atas level ini, maka pasar akan mengembangkan momentum yang tidak dapat dihentikan lagi.

Italia adalah salah satu anggota negara-negara industrial G7, dan ekonomi ketiga terbesar di Zona Eropa. Krisis di Italia akan membawa pengaruh yang sangat besar terhadap Eropa. Pemicu dari ketidakpastian pasar adalah ketidakstabilan pemerintahan Roma. Skeptisisme dalam terhadap situasi finansial negeri ini adalah yang menyebabkan jatuhnya Berlusconi.

Di bawah kondisi ini, Presiden Giorgio Napolitano memohon kepada pihak oposisi untuk “persatuan nasional”. Dan dia segera mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketiga partai oposisi di parlemen berjanji tidak akan menghalangi kebijakan-kebijakan penghematan. Tetapi program Berlusconi terlalu kecil untuk para bos-bos dan terlalu banyak untuk para buruh. Parlemen Italia meloloskan paket penghematan 54.2 milyar euro dari pemerintahan Berlusconi, tetapi ini segera disusul dengan demonstrasi dan pemogokan umum pada awal September.

Oleh karenanya, kelas penguasa tahu bahwa mereka tidak dapat mengandalkan Berlusconi untuk membela kepentingan mereka, dan inilah mengapa mereka menentangnya. Presiden Giorgio Napolitano mengintervensi dan meminta Berlusconi untuk mundur. Dia kemudian mengangkat Mario Monti, seorang senator seumur-hidup, dan segera memberinya tugas untuk membentuk pemerintahan yang baru. Pemerintahan ini terbentuk dari para “teknokrat”, bankir, pengacara, dan pakar-pakar yang tidak terpilih. Tugas dari pemerintahan semacam ini adalah untuk mengimplementasikan kebijakan-kebijakan penghematan dengan cepat.

Namun pemerintahan semacam ini tidak akan bertahan lama karena ia tidak memiliki apa yang disebut oleh para komentator borjuis sebagai “legitimasi demokrasi”. Segera setelah kebijakan-kebijakan mereka menjadi jelas bagi para buruh dan kaum muda maka akan ada respon balik yang besar dan negara ini harus mengadakan pemilu.

Para ekonom telah berulangkali menekankan bahwa ”Italia bukanlah Yunani atau Portugal” dan ”Pondasi ekonomi Italia tidaklah begitu buruk.” Ini mungkin saja benar, tetapi ini tidak akan meyakinkan pasar yang sekarang dalam situasi khawatir.

Masalahnya adalah: bagaimana Italia harus mendemonstrasikan “keseriusan” mereka kepada pasar? Jawaban ini diberikan oleh Yunani: hanya dengan pemotongan-pemotongan besar terhadap taraf hidup. Mood yang sekarang masih menerima akan segera berubah menjadi kegeraman. Yang kita saksikan di Yunani akan terulang di Italia, kendali seluruh usaha dari para pemimpin Italia untuk menghindarinya.

Jerman dan Euro

Dua puluh tahun yang lalu, setelah runtuhnya Uni Soviet, kelas penguasa Jerman punya ambisi yang besar. Mereka ingin agar Jerman yang tersatukan akan mendominasi Eropa, mencapai melalui otot ekonominya apa yang gagal dicapai Hitler dengan cara militer. Selama 2 dekade terakhir, Prancis terdorong ke urutan ke dua dan sekarang Jerman menguasai Eropa.

Sekarang ambisi kelas penguasa Jerman telah meledak di depan mukanya. Nasib ekonomi Jerman sekarang terikat pada Eropa, yang seperti rumah sakit orang-orang yang sakit terminal.

Jerman tingkat utangnya relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Di dekade terakhir, kapitalis Jerman telah dengan tanpa belas kasihan memeras keringat buruh Jerman. Pada tahun 1997-2010, produktivitas per jam manufaktur Jerman meningkat 10 persen, sementara gaji dipotong dengan jumlah yang sama. Walaupun buruh Jerman gajinya relatif lebih tinggi, eksploitasinya lebih tinggi. Inilah rahasia dari kemajuan Jerman. Masalahnya adalah pada akhirnya mereka harus menjual produk-produk mereka.

Selama periode boom, Yunani – dan negara-negara Eropa lainnya – membeli produk Jerman dengan kredit Jerman. Ini adalah boom konsumen, dan juga boom perbankan. Jerman meminjamkan banyak uang dan meraup banyak uang dari bunga pinjaman. Tetapi semua ini ada batasnya.

Kekuatan Jerman hanya tampak di permukaan. Nasib ekonomi Jerman tergantung pada apa yang terjadi di seluruh Eropa. Bila euro menurun, maka ini akan mempengaruhi Jerman. Jerman diharapkan untuk memanggul seluruh Eropa di punggungnya, tetapi pundaknya terlalu sempit untuk memanggul beban sebesar itu. Jerman mencoba mencegah bangkrutnya Yunani, tetapi bukan karena kebaikan hati mereka, tetapi guna menyelamatkan bank-bank Jerman. Bank-bank Jerman memegang 17 milyar euro utang Yunani, tetapi mereka memegang 116 milyar euro utang Italia.

Jerman harus mendukung Yunani. Mereka tidak punya pilihan lain. Akan tetapi, Jerman tidak akan bisa membayar kebangkrutan Spanyol dan Italia, dan mem-bail-out mereka. Kenyataan ini semakin menjadi nyata di Berlin, sehingga menyebarnya krisis ekonomi ini mengancam menyeret Jerman. Mereka telah gagal menyelesaikan krisis Yunani dengan injeksi uang yang besar. Dan tidak ada cukup uang di Bundesbank untuk menghapus utang-utang Spanyol dan Italia,

Pasang Surut dan Naik Tak Terelakkan

Di mana-mana kita lihat gejala-gejala kemunduran. Ini mirip dengan mundurnya dan tumbangnya Kerajaan Romawi. Skandal-skandal menggoncang kaum borjuis di Prancis, Italia, dan Ing-gris. Skandal di Inggris adalah yang paling dalam, yang mempengaruhi semua institusi: pers, politisi, bankir, dan monarki.

Peristiwa-peristiwa di Wisconsin menunjukkan awal dari gejolak di AS. Tentu saja ini tidak berarti kalau bendera merah akan berkibar di Istana Presiden esok harinya. Tetapi ini berarti bahwa proses yang sama sedang terjadi di mana-mana, dengan kecepatan yang berbeda dan di bawah kondisi-kondisi berbeda, bahkan di negara yang paling kuat dan kaya di dunia.

Akan tetapi kita tidak boleh mengambil sikap yang dangkal dan impresionistik. Massa tidak bisa turun ke jalan se-tiap harinya. Akan ada perubahan yang tajam dan cepat. Gejolak revolusioner ini akan berlangsung selama bertahun-tahun, mungkin berpuluh-puluh tahun. Akan ada pasang surut dan naik. Akan ada momen-momen kemajuan besar, tetapi juga momen-momen letih dan kecewa, dan bahkan periode reaksi. Akan ada kemunduran dan kekalahan. Tetapi di periode seperti sekarang ini, kekalahan hanya akan menjadi awal dari kena-ikan revolusioner yang baru.

Jalan yang kita pilih tidak akan mudah, tetapi sangat sulit. Kita harus menempa kader-kader kita supaya mereka tidak terpengaruh oleh perkembangan-perkembangan yang dangkal di dalam perjuangan kelas. Ini adalah epos re-volusi, dan juga epos perang dan konter revolusi. Ini berarti akan ada peluang-peluang besar bagi Marxisme di mana-mana. Namun, kita hanya akan berhasil jika kita melatih kader-kader kita dengan metode Marxis.

Perspektif Revolusioner

Satu hal yang tidak ada di dalam situasi revolusioner yang muncul di Tunisia, Mesir, dan Yunani adalah kepemimpinan revolusioner. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diimprovisasi. Ia harus disiapkan sejak awal. Bagimana cara-nya? Apa tugas kaum Marxis di dalam situasi ini? Kita belumlah berniat meraih telinga massa luas dengan propaganda kita. Ini masih di luar kemampuan kita. Kita sedang mencoba meraih telinga elemen-elemen buruh dan kaum muda yang termaju. Kita tidak mengedepan-kan slogan-slogan agitasi yang “sederhana” yang hanya memberitahukan kepada buruh apa yang sudah mereka ketahui. Kaum buruh harus diberitahukan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan kebenaran ini adalah bahwa di bawah ka-pitalisme satu-satunya masa depan yang menanti mereka adalah penghematan yang permanen, jatuhnya taraf hidup, pengangguran, dan kemiskinan.

Elemen-elemen yang lebih tua, yang sudah letih dan terdemoralisasi, biasa-nya akan berguguran dan digantikan oleh elemen-elemen yang lebih muda dan bersemangat, yang siap untuk berjuang. Massa akan menguji semua partai dan pemimpin yang ada. Akan ada serangkaian krisis dan perpecahan ke kanan dan ke kiri. Pada tahapan tertentu, sebuah sayap kiri di dalam organisasi massa akan muncul. Sayap kanan akan remuk oleh peristiwa-peristiwa.

Seorang mungkin akan berkeberatan: “tetapi massa di Spanyol dan Yunani dan Italia tidak tahu apa yang mereka inginkan!” Namun mereka tahu apa yang mereka tidak inginkan! Kapitalisme sedang dipertanyakan. Akan tetapi kita harus realistik. Massa tidak akan bisa turun ke jalan terus menerus. Akan ada periode pasang surut, di mana para buruh akan berpikir dalam-dalam mengenai semua ini. Mereka akan mengkritik, membedakan, dan menarik kesimpulan-kesimpulan. Di periode seperti inilah Marxisme akan dapat meraih gema. Syaratnya, kita harus sabar, mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh massa dan mengedepankan slogan-slogan yang tepat.

Tugas kita, seperti yang dikatakan oleh Lenin, adalah menjelaskan dengan sabar. Kita harus menjelaskan bahwa penyitaan bank-bank dan kapitalis dan menggantikan anarki kapitalis dengan ekonomi terencana akan memberikan jalan keluar dari krisis ini.

Di dalam peristiwa-peristiwa revolusioner yang akan datang, kaum buruh dan muda yang maju akan belajar. Tentu saja, gerakan-gerakan seperti indignados di Spanyol mempertunjukkan sejumlah kenaifan dan kebingungan, tetapi ini tak terelakkan. Ini karena massa tidak belajar dari buku, tetapi dari pengalaman. Bila kita bekerja dengan tepat, kita dapat membantu massa untuk meraih kesimpulan revolusioner dan memahami perlunya Marxisme dan organisasi revolusioner.

Gagasan-gagasan Marxisme adalah satu-satunya gagasan yang dapat membawa kelas buruh ke kemenangan di Eropa, Timur Tengah, dan seluruh dunia. Ini adalah senjata kita. Di akademi-akademi militer borjuis, calon-calon perwira mempelajari peperangan masa lalu untuk mempersiapkan peperang di masa depan. Dengan cara yang sama, kita harus mempersiapkan kader-kader kita sebagai perwira-perwira proletar revolusioner masa depan. Setiap kamerad harus mempelajari revolusi-revolusi masa lalu supaya bisa menggunakan pelajaran ini untuk revolusi masa depan.

Apa yang sekarang sedang terjadi harus memberi kita perasaan antusias, membuat kita teguh dan percaya akan masa depan sosialisme. Dengan mendasarkan diri kita atas analisis ilmiah, dan menggunakan taktik-taktik yang tepat dan fleksibel, kita akan bisa meraih telinga elemen-elemen buruh dan kaum muda yang terbaik, dan memenuhi tugas yang dikedepankan oleh sejarah.  [ ]

Translation: Miltan (Indonesia)