Sekantung Darah untuk Segelas Susu

Pada hari Sabtu (31/7), pejabat Cina mengumumkan bahwa Cina sekarang adalah ekonomi nomor 2 yang baru. Pengumuman ini tidaklah mengejutkan. Pada tahun 2009, Cina sudah hampir melewati Jepang. Ia bahkan dapat melewati Amerika Serikat sekitar tahun 2025 menurut prediksi Bank Dunia, Goldman Sachs, dan yang lainnya.

Namun, pada hari yang sama pengumuman yang menggegerkan dunia ini memaku perhatian milyaran penduduk di seluruh dunia, beberapa terpesona dan yang lainnya kawatir, seorang pengantar susu dari Shanghai, Jin Yousheng, tidak dapat terusik oleh berita ini karena dia harus mengantar lebih dari 300 botol setiap harinya. Dibayar 0,2 yuan (250 rupiah) setiap botol, dia membawa pulang 2000 yuan setiap bulan untuk menghidupi istrinya yang tidak bekerja dan dua anak perempuannya.

Alhasil, ketika kaki dia terluka oleh gelas saat rute susu sehari-harinya, berdarah dengan parah, dia menolak untuk pergi ke rumah sakit dan bersikeras ingin menyelesaikan rutenya. “Rasa pengorbanan” ini bukanlah karena dia berbakti pada tugasnya untuk memastikan bahwa setiap buruh mendapatkan susu sehari-hari mereka sebelum pergi bekerja dan membangun sosialisme, bahwa setiap anak, masa depan Cina sosialis, tidak kehilangan pasokan gizi mereka. Tidak. Laki-laki sederhana ini tidak punya omong kosong “membangun sosialisme Cina”, dia berkata “Saya tidak dapat pergi ke rumah sakit, konsumen akan melapor ke bos saya.” Susu harus diantar karena seorang pengantar susu dapat kehilangan 10 yuan untuk setiap keluhan yang diterima bosnya.

Seperti tentara yang lelah berperang, dia merobek celana dalam dia dan menggunakannya untuk membalut kakinya yang berdarah, dan terus berjalan untuk menyelesaikan misinya, botol per botol, meninggalkan sebuah jejak darah dari apartemen ke apartemen. Dia terus mengantarkan susu sampai dia tidak bisa lagi bernapas karena kehilangan darah. Akhirnya dia dikirim ke rumah sakit dan harus diinfus berkantung-kantung darah.

Perusahaan susu yang baik hati, Bright Dairy dari Shanghai, menyatakan kekawatiran mereka yang menggugah hati, meminta para konsumen untuk bersikap lebih baik kepada para pengantara susu dan tidak mengancam melaporkan mereka karena masalah-masalah sepele. “Pengantar susu melayani ribuan rumah tangga, mereka berupah kecil, tetapi pekerjaan mereka bukanlah sesuatu yang tidak penting,” kata Zhang, juru bicara perusahaan.

Jin, yang berasal dari propinsi Jiangsu, mungkin akan merasa lebih baik mengetahui bahwa dia melakukan sebuah pekerjaan yang penting. Tetapi dia tidak. Kata-kata dan frase-frase tidak dapat merubah kenyataan bahwa dia, dengan ribuan pengantar susu lainnya, upahnya kecil. Kata-kata mengenai betapa pentingnya pekerjaan seseorang tidak akan menaruh semangkuk nasi di atas meja.

Tiba-tiba, kemegahan dari kenaikan Cina ke ekonomi terbesar kedua di dunia, dan diproyeksikan menjadi pertama pada tahun 2025, dikerdilkan oleh kisah gaya-tabloid mengenai seorang pekerja sederhana ini, yang akan terlupakan esok harinya. Marx mengatakan bahwa kapitalisme lahir “bertetesan dari kepala hingga kaki, dari setiap pori-pori, dengan darah dan lumpur.” Jin juga telah menumpahkan darahnya untuk membantu kelahiran kapitalisme Cina, dan bukan sosialisme.

Source: Militan (Indonesia)