Kerja Revolusioner di Universitas: Pengalaman dari Inggris

Kontribusi-kontribusi yang diberikan di dalam dokumen ini oleh Kawan Alan Woods, dan Kawan Adam Booth membentuk bagian dari pengalaman kolektif tendensi kita dari kerja mahasiswa pertama kita yang serius pada tahun 1960-an di Universitas Sussex sampai kerja kita hari ini. Oleh karenanya, kontribusi mereka ini harus disambut oleh semua kamerad-kamerad mahasiswa dan juga buruh – sebagai dokumen penting kelanjutan (kontinuitas) dan aplikasi praktis dari kerja kita sebagai kaum Marxis revolusioner di dalam medan politik mahasiswa. Lebih dari itu, pengalaman-pengalaman ini mengandung pelajaran-pelajaran yang relevan tidak hanya di kampus universitas, tetapi pada kenyataannya dapat diaplikasikan juga di semua bidang aktivitas kita.

Pengantar

Pelajaran-pelajaran penting – seperti pentingnya pendidikan politik, perlunya kerja sistematis, pendekatan kita pada kelas buruh, perlunya fleksibilitas, perlunya keteguhan, perlunya sense of proportion (mengenal kekuatan diri sendiri) dan sense of humour (rasa humor), dan banyak lainnya – terdemonstrasikan di dalam beberapa pengalaman mereka, yang terkadang mengundang tawa. Pengalaman-pengalaman ini datang dari yang bersifat partikular, misalnya kesulitan-kesulitan memulai dari seorang kamerad di kampus, sampai tugas-tugas rumit yang dihadapi oleh sekelompok kamerad yang beroperasi di universitas. Namun, yang paling berharga dari semua pengalaman ini adalah bagaimana semua pelajaran ini saling bertautan dan membentuk sebuah gambaran umum bagaimana melakukan kerja revolusioner di antara kaum mahasiswa.

Yang terpenting, ini adalah masalah taktik. Ini tidak bisa dilihat sebagai buku resep bagi kaum mahasiswa Marxis, karena buku seperti itu tidaklah eksis. Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk membangun dari pengalaman-pengalaman kerja yang telah kita lakukan di universitas-universitas. Pengalaman-pengalaman ini tidaklah sempurna; mereka bahkan mengikutsertakan pelajaran-pelajaran penting dalam bentuk kesalahan-kesalahan. Tetapi melalui pengalaman ini kita berharap bahwa kamerad-kamerad mahasiswa yang baru yang sekarang sedang melakukan kerja di universitas dapat memulai dari level yang lebih tinggi, dengan pelajaran-pelajaran dari pengalaman kerja kita yang sebelumnya. Kita akan terus melakukan kesalahan. Ini adalah sesuatu yang tak terelakkan bagi kamerad-kamerad muda yang kurang berpengalaman. Bahkan pada kenyataannya ini adalah sesuatu yang alami dalam perkembangan seorang kader. Tetapi dengan berbagi pengalaman dari usaha-usaha masa lalu kita, kita dapat memastikan kalau kita tidak membuat terlalu banyak kesalahan dan kita memiliki cara-cara untuk memperbaiki kesalahan kita.

Organisasi kita bukanlah hanya sebuah struktur, tetapi sebagai pembela teori Marxis partai kita membawa di dalamnya pengalaman umum dari kelas buruh. Teori Marxis adalah sebuan panduan aksi, yang tidak hanya terbatas pada analisa masyarakat kelas tetapi juga analisa taktik. Ketika bersinggungan dengan kaum reformis Inggris di Internasionale Pertama, Marx berkata bahwa dia harus “mild in manner, bold in content” (sopan dalam pendekatan, keras dalam prinsip). Inilah basis dari seluruh kerja kita, terutama di organisasi-organisasi massa, dan juga di dalam gerakan mahasiswa dan terutama kerja kontak kita.

Lenin mengatakan hal yang serupa pada tahun 1917 ketika dia mengorientasikan partai Bolshevik untuk melakukan kerja serius di dalam Soviet-soviet. Dia menggarisbawahi perlunya kamerad-kamerad untuk “menjelaskan dengan sabar”. Di dalam kontribusi-kontribusi mereka, Kamerad-kamerad Alan Woods dan Adam Booth menunjukkan bagaimana mengaplikasikan prinsip ini, bukan hanya dengan pendekatan yang bersahabat tetapi juga dengan selalu giat mendekati kontak dan terutama menguasai ide-ide Marxisme supaya kita dapat menjelaskan Marxisme kepada kontak-kontak kita.

Di dalam dokumen Problems of Entrism (Masalah-Masalah Entrisme), sebuah dokumen yang harus dibaca oleh setiap kamerad yang bergabung, Ted menyatakan bahwa gerakan kelas buruh jarang sekali bergerak dalam garis yang lurus. Dia menjelaskan bahwa kendati pengkhianatan-pengkhianatan dari kaum Sosial Demokrat, yakni sesuatu yang dipahami oleh seorang kader Marxis tetapi tidak selalu dipahami oleh massa buruh, kelas buruh masihlah memiliki ilusi terhadap reformisme, dan pada saat tertentu akan bergerak melalui organisasi-organisasi massa yang didominasi oleh kepemimpinan reformis.

Gol kita adalah transformasi sosialis dalam skala internasional. Untuk alasan ini kita memahami peran kunci kelas buruh sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu mencapai tujuan tersebut. Tugas kita adalah memenangkan kelas buruh ke panji sosialisme revolusioner. Akan tetapi, jalan ke kelas buruh tidaklah selalu berada di dalam garis lurus. Contohnya, organisasi Militant (Inggris), menurut cerita Alan, adalah sebuah organisasi tidak lebih dari 30 orang ketika dia berangkat ke Sussex, dan Militan berkembang menjadi organisasi dengan ribuan anggota pada tahun 1980-an terutama dari kerja di antara kaum muda. Dari kekuatan yang paling kecil di Kiri, Militant menjadi yang terbesar, salah satu organisasi Trotskis paling berhasil semenjak Oposisi Kiri jaman Trotsky. Militant merekrut ratusan buruh tambang pada tahun 1980-an, memimpin perjuangan melawan Thatcher yang menyerang Dewan Kota Liverpool (yang dikuasai oleh Militant) dan juga memimpin kampanye massa menentang Poll Tax (pajak perorangan) Thatcher yang dibenci rakyat Inggris.

Lenin mengatakan, “dia yang punya kaum muda punya masa depan.” Pencapaian-pencapaian Militant, yang hanyalah pembukaan dari apa yang bisa dicapai oleh tendensi ini di tahun-tahun ke depan, semua dimulai dengan pencapaian di kerja di antara kaum muda di universitas dan Sosialis Muda Partai Buruh (Labour Party Young Socialist, LPYS). Kita harus melihat kerja kita hari ini, yakni memenangkan mahasiswa dan buruh muda yang terutama adalah kerja propaganda independen, sebagai usaha meletakkan pondasi-pondasi untuk tendensi Marxis massa di masa depan. Gol ini tampak besar, tetapi seperti pendaki gunung kita harus fokus mencari pijakan kaki selanjutnya yang akan membantu kita naik. Dan seperti yang diketahui setiap pendaki gunung, pijakan kaki yang selanjutnya tidak selalu memungkinkan kita untuk segera naik. Kadang-kadang sebuah langkah ke samping dibutuhkan. Inilah pentingnya strategi dan taktik.

Di atas segalanya, kita tidak boleh kehilangan fokus kita. Cerita-cerita pengalaman di dalam buletin ini memberikan inspirasi bagaimana melakukan kerja universitas dengan sebaik-baiknya. Cerita-cerita ini bersifat anekdot dan tidaklah sempurna. Mereka memberikan contoh-contoh dan tips-tips yang berguna, dan cara berpikir yang dapat membantu kerja universitas kita. Namun yang paling penting adalah kita mencari kontak baru yang masih bersemangat, yang sedang mencari ide-ide untuk mengubah masyarakat. Anak-anak muda ini ada di luar, dan dokumen ini memberikan gagasan-gagasan bagaimana menjangkau mereka. Tetapi, setelah bertemu dengan mereka, kita harus menemui mereka lagi, dan sekali lagi. Berapa kali pun sampai kita memenangkan mereka ke gagasan kita. Untuk alasan ini, dokumen ini harus dipelajari oleh semua kamerad, dengan satu gol di pikiran kita: membangun kekuatan Marxisme.

Bila kita melakukan kerja ini dengan benar, maka pencapaian-pencapaian baru akan ditambahkan ke dalam dokumen ini di tahun-tahun mendatang.

Kerja Mahasiswa di Universitas Sussex (1963-1970)

Oleh: Alan Woods

Kerja di Universitas Sussex adalah penting karena ini adalah pertama kali tendensi kita melakukan kerja sistematis di dalam gerakan mahasiswa. Kerja ini juga memainkan sebuah peran krusial di dalam membangun kekuatan Militant. Oleh karenanya pengalaman ini harus diperhatikan.

Saya berangkat ke Sussex pada bulan September 1963. Pada saat itu saya adalah satu-satunya kamerad di seluruh Inggris Selatan. Saya baru berumur 18 tahun dan tidak punya pengalaman membangun organisasi di antara mahasiswa ataupun membangun apapun dengan sendiri. Namun, karena kerja kelompok kami di Swansea, saya punya dasar teori Marxis yang kuat, yang sangatlah penting dan kunci untuk kesuksesan besar kami.

Waktu pada saat itu adalah waktu yang menjanjikan untuk kerja di antara kaum muda. Baru saja terjadi dua pemogokan besar di antara kaum buruh magang, di mana kamerad-kamerad Liverpool mengintervensi. CND besar dan menarik dukungan dari antara kaum muda (dan juga Anti-Apartheid)

Partai Buruh (Labour Party, LP) meluncurkan kembali kelompok Sosialis Muda (Young Socialist, YS), setelah sebelumnya YS ditutup karena infiltrasi kaum Stalinis. Ada potensi besar, tetapi ini diambil oleh kaum Healyites (kelompok Trotskis pimpinan Gerry Healy) yang banyak merusak dengan taktik-taktik kasarnya.

Tentu saja, konteks pada saat itu sangatlah berbeda dari hari ini. Partai Konservatif telah berkuasa selama 13 tahun, dan sangatlah dibenci. Pemimpin Partai Buruh yang baru, Harold Wilson, punya imej “kiri” dan YS adalah kekuatan yang besar.

Saya harus menambahkan, bahwa saat itu SEMUA kelompok-kelompok Kiri (kecuali kaum Stalinis) bekerja di LP dan YS, walaupun kaum Healyites sedang mabuk ultra-Kiri dan mencoba memprovokasi perpecahan untuk membentuk “Partai Buruh Revolusioner”. Mereka menggunakan taktik-taktik kasar (preman) seperti membubarkan pertemuan-pertemuan YS dengan kekerasan fisik, seperti yang dilakukan oleh kaum Stalinis pada Periode Ketiga (Periode Ketiga adalah periode tahun 1930-an di mana kaum Stalinis menuduh kaum Sosial Demokrat sebagai fasis dan tidak berbeda dengan Hitler, dan menggunakan kekerasan membubarkan pertemuan-pertemuan Partai Sosial Demokrasi. Ini akhirnya menyediakan jalan bagi naiknya Hitler).

Keadaan Organisasi

Pada saat itu organisasi kita sedang melalui situasi yang sangat sulit. Kami sangatlah kecil, tidak lebih dari 30 kamerad di seluruh Inggris. Kita tidak punya uang, tidak ada staf penuh (Ted masih bekerja sebagai seorang operator telpon), tidak ada kantor, dan tidak ada koran.

Kami hanya ada koran hitam putih, hanya 4 halaman biasanya, yang berjudul Socialist Fight. Koran ini banyak sekali ejaan yang salah karena pencetak dari Polandianya (yang murah) hanya tahu sedikit bahasa Inggris. Penerbitannya tidaklah reguler, dan saat itu koran ini hampir-hampir sudah berhenti terbit.

Kita tidak punya anggota di Skotlandia atau Irlandia, dan satu-satunya ranting (sel) yang berfungsi adalah yang di London, Liverpool, dan Swansea. Karena nasib baik, saya bergabung dengan YS di Swansea pada tahun 1960, yang dikontrol oleh tendensi kita, dan tidak lama kemudian saya dimenangkan ke gagasan tendensi, walaupun ketika saya bergabung saya adalah seorang Stalinis yang teguh (keluarga saya punya hubungan kuat dengan Partai Komunis Inggris).

Saat itu semua orang menganggap kita kecil dan tidak akan berhasil. Tetapi kita punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompok lain: gagasan-gagasan Marxisme, perspektif yang tepat, dan metode dan orientasi yang tepat. Namun, kami melakukan sejumlah kesalahan dan harus membayar mahal untuk kesalahan-kesalahan itu.

Untuk melawan kelompok Healy yang punya koran mingguan dan aparatus yang besar, kita memutuskan untuk bekerja sama dengan kelompok Cliff dalam menerbitkan sebuah koran kaum muda yang baru, yang berjudul Young Guard, dengan garis editorial yang sama-sama kami setujui dan artikel-artikel atas nama kami sendiri. Ini adalah sebuah kesalahan yang besar. Kesalahannya adalah mencari jalan pintas ketika tidak ada jalan pintas. Jimmy Dean yang paling bertanggung jawab atas kesalahan ini. Dia terlalu optimistis (“Kita dapat memenangkan kaum Cliffites, level politik mereka rendah, dsbnya.”)

Ini adalah refleksi dari kefrustasian dan ketidaksabaran dari Jimmy Dean, bahkan juga elemen demoralisasi karena bertahun-tahun beraktivitas dengan sedikit hasil. Dia sedang mencari jalan pintas, ketika tidak ada jalan pintas yang eksis. Seperti yang dikatakan Trotsky, kita tidak dapat memanen apa yang tidak kita tabur. Mencari jalan pintas secara tak terelakkan mendorong kita ke kesalahan ultra-Kiri atau oportunis.

Usaha ini adalah kegagalan dari awalnya. IS (International Socialist, kelompoknya Tony Cliff) lebih kuat daripada kita di London dan menggunakan kekuatannya untuk menguasai Dewan Editorial. Mereka mengambihalih koran tersebut dan kami tidak mendapatkan apa-apa.

Konflik-Konflik dengan Internasional (Keempat)

Kami juga lemah secara internasional. Kami tidak punya pendukung di luar Inggris. Walaupun demikian, di setiap pertemuan Komite Nasional (atau Komite Pusat), seksi pertama selalu mengenai Perspektif Internasional, dan baru setelah itu Perspektif Inggris. Kami menganggap diri kami pertama-tama sebagai kaum internasionalis.

Pada saat itu kami secara formal adalah seksi Inggris dari “Internasionale Keempat” yang dipimpin oleh Mandel dkk., yang sedang dalam proses (katanya) menyatukan semua tendensi-tendensi Trotskis di dunia untuk menjadi “Sekretariat Persatuan”. Seperti yang diprediksi oleh Ted Grant, mereka berhasil menyatukan dua kelompok menjadi sepuluh.

Di sini bukanlah tempatnya untuk menjabarkan manuver-manuver dan intrik-intrik penuh skandal dari Mandel, Frank, Hansen, dan pemimpin-pemimpin “Internasionale Keempat” lainnya. Mereka memaksa kita ke dalam perkawinan dadakan dengan sebuah kelompok kecil Mandelites di Nottingham (the Internasional Group), yang adalah sebuah bencana. Mereka melakukan intrik-intrik faksional yang paling menjijikkan untuk memecahkan organisasi.

Semua ini akhirnya berujung ke perpecahan yang pahit, di mana para pemimpin “Internasionale” ini memainkan peran yang menjijikkan. Mereka memberi kita sebuah “hadiah” seorang staf penuh, seorang Kanada bernama Alan Harris, yang kerjanya sepenuhnya adalah menyerang kepemimpinan Inggris dan mengorganisir intrik-intrik faksional. Pada akhirnya, dia kabur dengan semua isi toko buku!

Diskusi-diskusi di Internasionale adalah sebuah lelucon, tetapi kami dapat “menajamkan gigi kami” dengan debat-debat mengenai watak kelas Uni Soviet, China, Kuba, Eropa Timur, dll. Selain itu, kami juga harus menjawab argumen-argumen kelompok Cliff (yang saat itu dikenal sebagai International Socialism, dan sekarang Socialist Workers Party), yang membela teori kapitalisme negara.

Diskusi-diskusi teori ini sangatlah penting dalam perkembangan kelompok di Sussex. Keunggulan ide-ide kamilah yang membuat para mahasiswa yang serius terkesan.

Saya pikir tidaklah berlebihan kalau kita sedang menghadapi sebuah situasi yang serius. Juga tidak berlebihan mengatakan bahwa keberhasilan kerja kita di antara para mahasiswa di Sussex memainkan peran besar dalam mengubah situasi ini. Ini adalah sebuah pencapaian yang penting.

Situasi di Sussex

Benar kalau ada sejumlah keunikan yang menguntungkan kami. Pada tahun 1963, Universitas Sussex adalah sebuah universitas baru yang belum terkonsolidasikan secara politik. Mahasiswanya sedikit (sekitar 300) karena universitas ini masih dalam tahap percobaan.

Bisa dikatakan kalau Universitas Sussex adalah sebuah teritori yang perawan secara politik, walaupun tidak sepenuhnya. Tidak ada sekte-sekte politik di sana. Namun ada gerakan pasifis dan Anti-Apartheid yang kuat, yang dipenuhi dengan prasangka-prasangka liberal dan reformis yang harus kami perangi.

Kehadiran Thabo Mbeki memainkan sebuah peran besar. Dia adalah seekor ikan besar (orang penting) di dalam gerakan Anti-Apartheid (karena ayahnya ada di penjara) dan dia adalah seorang Stalinis yang terkemuka. Ada sekelompok orang di sekelilingnya, tetapi pada akhirnya kami memenangkan mereka ke sisi kami, dan ini membuatnya tidak senang.

Kami mengambil garis yang keras dalam menghadapi tendensi-tendensi pasifis borjuis kecil dan liberal. Bahkan mungkin kami terlalu keras. Tetapi pada akhirnya ini membuahkan hasil. Kita harus membedakan diri kita, kita harus berenang melawan arus, dan inilah yang kami lakukan.

Awalnya saya sendirian di Sussex, tetapi ini tidak berlangsung lama. Saya bergabung dengan kelompok mahasiswa Socialist Society, menghadiri pertemuan-pertemuan mereka dan mengedepankan ide-ide Marxisme dengan tegas. Pada pertemuan yang pertama saya berhubungan dengan dua mahasiswa tahun-pertama (Bob Edwards dan Roger Silverman), yang seperti saya adalah anggota Young Socialist (YS, kelompok muda Partai Buruh Inggris). Kami mulai bekerja sama kurang lebih secara formal.

Setelah beberapa waktu mereka bergabung dengan Militant, dan sekarang kami bertiga. Kami bekerja di dalam Partai Buruh (terutama lewat Young Socialist), dan menganjurkan para mahasiswa untuk melakukan hal yang sama.

Ini sangatlah penting pada saat itu, sebagai cara untuk memerangi tendensi-tendensi borjuis kecil dan mendorong mahasiswa keluar dari politik universitas.

Di Sussex saya sendirian pada musim gugur 1963, tanpa pengalaman bekerja di dalam gerakan mahasiswa. Saya menghubungi kantor pusat di London, yang saat itu dipimpin oleh AH, cecunguk dari SWP Amerika (Socialist Workers Party) dan Mandel. Dia mencoba merekrut saya ke faksinya, dengan berasumsi bahwa karena saya mahasiswa maka gagasan-gagasan borjuis kecilnya Mandel akan menarik bagi saya. Dia membuat kesalahan besar.

Di pertemuan pertama kami di London, dia mengundang saya untuk bertemu dengan seorang pengikut Mandel tua (seingat saya Sam Gordon namanya) yang mencoba memenangkan saya dengan menggunakan argumen-argumen politik mahasiswa (SWP Amerika sudah mengambil garis ini dan tidak menghiraukan anjuran Trotsky pada tahun 1930-an). Ted Grant mengetahui pertemuan ini dan ingin menghadirinya. Tetapi ternyata kehadirannya tidak diperlukan. Saya begitu menentang gagasan-gagasan borjuis kecil ini dan mengatakannya blak-blakan.

Ted sering tertawa mengenai peristiwa ini di kemudian hari: “Saya tidak perlu mengatakan apa-apa.” Saya berhubungan langsung dengan Ted (yang sudah saya kenal dari kunjungannya ke South Wales) dan mengundangnya untuk memberikan ceramah di Socialist Society.

Perjuangan Ideologi

Datang dari keluarga kelas pekerja di South Wales, saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi. Untuk pertama kalinya saya melihat orang minum bir di bar-bar. Ini mempengaruhi saya.

Lalu saya mulai khawatir. Tetapi kekhawatiran saya tidak berlangsung lama. Saya segera menyadari kekosongan pemikiran borjuis, terutama di bidang filsafat. Sebelum saya berangkat ke Sussex, saya sudah membaca tidak hanya buku-buku Marxis klasik seperti Anti Dühring, Materialisme dan Empirio-Kritisme, dan Catatan Filsafat oleh Lenin, tetapi juga cukup banyak karya Hegel. Saya bahkan menerjemahkan sebagian besar buku Hegel Smaller Logic dari bahasa Jerman karena buku ini tidak ada dalam bahasa Inggris.

Saya sangat mendalami filsafat Marxisme dan mengagumi Hegel. Saya menanti-nanti kelas filsafat saya yang pertama dengan gugup. Bagaimana kalau semua orang pintar ini punya jawaban untuk Marx? Seingat saya, profesor kelas ini adalah dari gereja. Tren filsafat yang dominan pada saat itu adalah positivisme logis, dan sang profesor mencoba mendemonstrasikan bahwa mustahil untuk mengetahui apapun selain isi indera kita (“konten indera” menurut ekspresi A.J. Ayer, seorang filsuf terkemuka pada saat itu).

Setelah beberapa kalimat, saya berhenti menulis dan hanya duduk di kelas tersebut dan berusaha tidak tertawa. Semua argumennya adalah argumen-argumen tua yang dikedepankan oleh Uskup Berkeley pada abad ke-17 dan sudah dihancurkan sepenuhnya oleh Lenin di Materialisme dan Empirio-Kritisme. Supaya tidak jatuh kebosanan, saya menggambar kartun-kartun profesor itu, dan inilah catatan saya untuk kelas tersebut. Setelah itu, saya tidak masuk ke kelas-kelas filsafat lagi, dan memilih menggunakan perpustakaan.

Saya mendaftar masuk sebuah kelas mengenai Marxisme, yang bahkan lebih konyol. Yang-disebut para ahli Marxisme menunjukkan ketidakpahaman mereka bahkan mengenai masalah-masalah yang paling mendasar. Di satu seminar ekonomi Marxisme, yang saya dan Roger Silverman hadiri, sang profesor menjelaskan bagaimana teori nilai lebih Marx keliru karena teori tersebut mengatakan bahwa “nilai dari sebuah komoditas ditentukan oleh jumlah kerja yang dihabiskan untuk produksi tersebut.”

“Bila ini benar,” katanya, “maka metode produksi yang paling boros adalah metode yang lebih baik karena harga komoditas akan lebih besar.” Roger dan saya saling menatap dengan terkesima. Saya mengatakan kepadanya dengan sopan, “Saya percaya kalau yang Marx maksud adalah ‘kerja-perlu sosial’.” Tidak ada komentar dari sang ahli.

Roger punya rasa humor yang tajam. Salah seorang filsuf anti-Marxis yang terutama adalah Karl Popper, yang dua buku utamanya, The Poverty of Historicism dan The Open Society and Its Enemies, adalah bacaan perlu bagi para mahasiswa yang lugu. Roger harus menulis esai mengenai kedua buku tersebut, yang dia beri judul: The Poverty of Popperism or The Bourgeois Society and Its Friends. Saya tidak ingat isi esainya, tetapi sang profesor tidak merasa senang.

Saya menulis sejumlah puisi satirikal untuk majalah mahasiswa (Wine Press), termasuk satu yang berjudul The Sussex Philistine dan satu sajak pendek berjudul A Piece of Very Good Advice, yang isinya seperti demikian:

You can stick

Ayer

Where

The monkey sticks

His peanuts

So there.

Salah seorang profesor filsafat, seorang Kanada bernama Ted Honderich, yang di kemudian hari menjadi terkenal, adalah kawannya Ayer dan menunjukkan sajak di atas kepadanya, yang dia rasa sangatlah lucu. Setidaknya pak tua ini punya rasa humor.

Saya mencoba mendorong semua kamerad untuk mendalami teori secara aktif. Namun Chris adalah salah satu kegagalan saya. Dia menjadi terobsesi oleh Origin of the Family karya Engels, dan memberitahu saya kalau dia sedang menulis sesuatu mengenainya. Setelah beberapa waktu dia menyerahkan kepada saya sebuah dokumen tebal berjudul The Revolutionary Birth of Man. Tulisan ini berbicara panjang lebar mengenai kehidupan seks monyet – dan ini semua ditulis dengan kata ganti diri pertama tunggal!

Dia kemudian menulis sebuah buku mengenai topik tersebut dan diterbitkan oleh Universitas Yale (atau Harvard). Saya belum membacanya. Dia kemudian meninggalkan organisasi ini dan menjadi semacam anarkis yang kadang-kadang masuk televisi, selalu ada di demo-demo dan biasanya ditahan dan dimasukkan ke mobil polisi. Tetapi pada saat itu dia masih membantu kami.

Orang Prancis mempunyai pepatah: “jusqu’ a 30 ans, revolutionaire; depuis, canaille.” (Sampai umur 30, seorang revolusioner; sesudahnya, seorang penipu.) Tetapi ini tidak selalu benar. Pengalaman kami di Sussex menunjukkan bahwa kita dapat memenangkan dan melatih para mahasiswa dari latar belakang kelas menengah supaya mereka tidak meninggalkan gerakan.

Tetapi syarat utamanya adalah mereka harus mencampakkan cara pandang borjuis dan borjuis kecil, dan mengadopsi cara pandang proletariat dengan tanpa syarat apapun. Untuk memenuhi syarat ini, mereka harus menyerap sepenuhnya ideologi, metode, dan filsafat Marxisme. Syarat kedua mereka harus berpartisipasi secara aktif di gerakan kelas pekerja yang sesungguhnya.

Perspektif

Hal pertama yang saya lakukan adalah menerbitkan koran bernama Perspectives. Ini adalah Analisa Berita Marxis yang terbit dua minggu sekali. Saya melakukan ini dengan inisiatif saya sendiri (yang mungkin bukanlah sebuah prosedur yang paling baik). Saya baru saja selesai membaca Where to Begin? oleh Lenin dan saya menyimpulkan kalau kita membutuhkan sebuah koran Marxis, jadi saya luncurkan satu.

Melihat ke belakang, ini sedikit ambisius. Pertama, saya tidak tahu bagaimana menggunakan mesin tik atau duplikator. Selama bertahun-tahun saya menulis artikel dengan tangan dan meminta orang lain untuk mengetiknya. Tetapi di mana ada semangat maka ada jalan. Saya menanyakan orang lain apa mereka ingin membantu menerbitkan koran sosialis, dan mereka biasanya menjawab ya.

Ini adalah masalah yang sangat penting. Sangatlah penting untuk mendorong orang terlibat aktif membangun organisasi. Orang-orang suka terlibat dalam sesuatu, bekerja – dan setiap orang mampu melakukan sesuatu. Kita harus mencari apa yang mampu mereka lakukan dan mendorong mereka untuk melakukan ini.

Saya menulis kebanyakan artikel untuk koran tersebut, tetapi selalu mencoba untuk mendorong orang lain untuk menulis. Saya ingat satu pagi hari saya bertemu dengan seorang kamerad dalam perjalanannya ke perpustakaan dan menanyakan apa dia tahu Rhodesia (sekarang Zimbabwe). Dia menggelengkan kepalanya. “Sekarang kesempatan kamu untuk mempelajarinya,” kata saya, “karena kamu akan menulis artikel mengenai ini.”

Melihat ke belakang sekarang, beberapa artikel kami cukup buruk. Kesalahan utama kami adalah ke-ultra-Kirian (yang dapat dimaklumi untuk seorang berumur 18 tahun). Kadang-kadang hasilnya cukup lucu. Saya baru saja selesai membaca Program Transisional-nya Trotsky dan benar-benar kagum. Jadi di hari-hari sebelum Pemilu saya menulis apa yang saya pikir pada saat itu adalah sebuah “tuntutan transisional” yang cerdik.

BENTUK PEMERINTAHAN BURUH! BENTUK KEDIKTATURAN BURUH!

Saat itu saya tidak dapat memahami mengapa Ted Grant tampak tidak antusias mengenai slogan tersebut.

Namun, banyak artikel lainnya yang cukup bagus. Bahkan sebenarnya koran Perspectives cukup popular di antara kamerad-kamerad di Inggris. Beberapa mengatakan bahwa koran ini lebih bagus daripada koran Militant, yang membuat Peter Taaffe sangat terusik. Tetapi yang orang-orang sukai adalah kesegaran dan kekreatifannya, dan juga penekanannya pada teori Marxis.

Kami memproduksi Perspective selama bertahun-tahun, walaupun di kemudian hari koran ini tidak terbit dua minggu sekali. Kami menggunakannya untuk meorganisir kelompok-kelompok diskusi setiap Minggu di pub Brighton. Kelompok diskusi ini sangatlah berhasil, dan kami sering mendapatkan 20 orang yang datang – setengah mahasiswa, setengah buruh, anggota Partai Buruh, aktivis serikat buruh, dsbnya. Ini cara kami memenangkan Dudley Edwards, seorang kamerad tua yang mengagumkan, yang sudah 30 tahun menjadi anggota Partai Komunis Inggris dan adalah seorang aktivis serikat buruh di pabrik mobil Morris di Oxford.

Usaha penerbitan kami tidak berhenti di sini. Kami ada di belakang penerbitan Spark, jurnal Socialist Society yang terbit setiap semester dan yang kami kontrol. Kemudian, ketika kami meraih mayoritas di Socialist Society, kami menerbitkan buletin internal untuk para anggota di mana kami berpolemik dengan para reformis dan Stalinis. Kemudian kami juga mulai menerbitkan semacam koran untuk isu-isu mahasiswa, Red Letter. Akhirnya, kamu juga menerbitkan Clause Four, jurnal kelompok , jurnal kelompok Young Socialist, di Brighton dan Hove.

Pemilu 1964

Kami punya gagasan untuk membentuk The Brighton Federation of Socialist Youth (BFSY). Ini adalah sebuah badan tidak resmi, yang ada di luar aturan Partai Buruh, termasuk semua ranting. Ini adalah sebuah badan tidak resmi, yang ada di luar aturan Partai Buruh, termasuk semua ranting Young Socialist lokal, Young Communist League, dan Socialist Society.

Walaupun ini tidak konstitusional, anggota-anggota Partai Buruh lokal semua setuju. Partai Buruh memajukan Dennis Hobden sebagai kandidat kota Brighton Kemp. Partai Buruh tidak pernah memenangkan satu kursi pun di seluruh Sussex dalam sejarahnya. Inilah mengapa Komite Eksekutif Nasional Partai Buruh memperbolehkan Hobden untuk menjadi kandidat walaupun dia adalah seorang Kiri dan menyebut dirinya Marxis. Mereka tidak pernah mengira dia akan menang. Tetapi dia menang karena kerja kami.

Dengan menggunakan BFSY, kami memobilisasi sekitar 300 pelajar untuk bekerja di dalam kampanyenya, dan ini benar-benar menentukan. Dennis Hobden menang dengan selisih tujuh suara, setelah penghitungan ulang enam kali. Tories (Partai Konservatif) terkejut dan Partai Buruh kegirangan. Di pemilu selanjutnya pada tahun 1966, dia meningkatkan mayoritas.

Ini memberi kami nama di mata akvitis Partai Buruh, yang mampu kami bangun.

Kelompok Healy (SLL) merekrut anak-anak muda “lumpen” dari jalanan dan mengirim mereka untuk membubarkan pertemuan-pertemuan Young Socialist. Partai Buruh lalu memanggil polisi dan SLL mengambil foto yang kemudian tampil di koran mereka dengan judul seperti “Pabloite dan kaum birokrat menggunakan polisi merepresi kaum buruh muda.”

Di beberapa daerah, YS mengorganisir perlawanan terhadap taktik-taktik hooligan ini, seperti di Glasgow, di mana mereka “dihantam ke aspal”. Kami memutuskan untuk melakukan hal yang sama dan meminta para mahasiswa untuk membantu ranting YS bila mereka diserang. Kami tidak memanggil polisi tetapi membela ranting YS dengan segala cara.

Pada saat itu, hanya ada satu staf penuh SLL, Clive Thomson, yang juga menghadiri universitas. Kami mengantisipasi kedatangan kawan-kawan Clive di Crawley, jadi kami memenuhi ruang pertemuan dengan “pengunjung” – yakni simpatisan-simpatisan dari universitas dan YCL.

Salah satu dari mereka adalah seorang yang berkarakter, bernama “Nick the Beards” (karena jambangnya) yang tiba dengan kacamata hitam, jaket kulit, dan topi model tentara. Kebetulan, dia duduk di sebelah seorang Healyite (yang tidak dia kenal). Dia kemudian dihampiri seorang dari YCL, yang mengatakan:

“Halo, Nick, saya tak tahu kalau kamu anggota YS.”

“Saya bukan,” jawabnya, “tetapi Alan meminta saya datang kalau-kalau orang-orang Healyite datang mencari masalah.”

Dia lalu melepaskan topinya dan mengeluarkan batu bata yang disembunyikannya di topinya. Wajah Clive pucat pasi, tetapi dia tidak mengeluh. Untungnya, orang-orang Healy tidak datang dan batu bata Nick tidak pernah terlempar.

Saya harus menambahkan kalau saya tidak pernah meminta Nick untuk datang dengan senjata. Saya juga harus menambahkan bahwa di kemudian hari Clive bergabung dengan kami dan merekrut sejumlah mantan Healyite, yang memainkan peran baik. Ini adalah hal yang biasa: selama bertahun-tahun berbagai kelompok mencoba untuk masuk ke Sussex, tetapi selalu gagal. Kami memenangkan mereka atau mereka menjadi demoralisasi.

Clive juga merekrut satu anggota kelompok Healy. Mereka minta bertemu dengan Ted, jadi saya mengatur pertemuan ini di London. Lalu saya bertanya kepada mereka bagaimana pertemuan tersebut dan mereka mengaku kagum: “Kami bertanya kepada Ted apakah dia tahu mengenai Skandinavia, dan dia menjawab, ‘tidak banyak’ dan kemudian menjabarkan pada kami sejarah dunia Nordik selama dua jam.”

Kunci keberhasilan kami selalu sama: kehebatan gagasan-gagasan kami. Tetapi kami juga tidak melalaikan organisasi.

Hal yang fundamental adalah memenangkan sekelompok mahasiswa baru setiap tahun. Festival mahasiswa baru adalah sangat penting, yang kami organisir seperti operasi militer.

Perjuangan untuk Sebuah Organisasi Proletarian

 

Ada banyak kesalahpahaman mengenai mahasiswa dan kerja mahasiswa di Militant, dan beberapa kesalahpahaman ini masih ada di organisasi kita. Kekeliruan ini dapat diringkas sebagai “buruhisme” vulgar. Ini cukup kental di Militant, dan ini alasan mengapa saat itu kita tidak pernah membangun secara serius kerja mahasiswa kita – kecuali di Sussex.

Ada prasangka yang ekstrim terhadap mahasiswa, yang sangatlah keliru. Mahasiswa dapat memainkan sebuah peran penting di organisasi revolusioner, selama mereka punya sikap yang rendah hati dan terputus secara radikal dari semua macam ide-ide borjuis kecil.

Di Militant, sebuah gagasan dikedepankan kalau hanya mahasiswa dari latar belakang kelas pekerja yang baik. Ini sangatlah keliru. Sejumlah pengejar karir dan pendaki sosial terburuk adalah dari latar belakang kelas pekerja. Mereka sangatlah terburu-buru untuk mendaki keluar dari kelas mereka dan mengambil tempat mereka di meja kaum borjuis. Tentu saja tidak semua dari mereka, hanya beberapa saja.

Di lain pihak, kita dapat menemukan sejumlah mahasiswa dari latar belakang borjuis kecil atau bahkan borjuis yang pintar dan mencoba memahami masalah-masalah yang dihadapi masyarakat secara nasional dan internasional. Selama beberapa tahun di universitas mereka bebas dari pengaruh langsung keluarga mereka dan mereka mencari alternatif.

Bila kita dapat memenangkan mereka pada tahapan ini, dan mendidik mereka dengan ide-ide Marxisme, mereka dapat terputus secara radikal dari kelas mereka dan menjadi seorang revolusioner yang sadar dan berdedikasi. Kami membuktikan ini di Sussex.

Kadang-kadang beberapa kamerad memiliki latar belakang yang sedikit kompleks. Tetapi jawaban terbaik diberikan oleh Dudley Edwards, seorang buruh komunis tua yang mengagumkan, yang kita rekrut. Dia adalah aktivis buruh di pabrik mobil Cowley di Oxford selama bertahun-tahun. Saya ingat satu hari dia mengatakan ini kepada kamerad-kamerad: “Ketika saya di Partai Komunis di Oxford, kami biasa berkata: kalau kau bergabung dengan Partai, kau berhenti menjadi buruh atau mahasiswa, dan kau menjadi seorang Komunis.” Saya rasa ini penjelasan yang sangat baik.

Tentu saja tendensi kita haruslah berkarakter proletarian. Kita harus menjadi proletar, bukan hanya dalam cara pandang, kebijakan, dan orientasi, tetapi juga dalam komposisi. Sangatlah penting bagi mahasiswa untuk memahami ini.

Di Sussex kami menekankan apa yang ditulis oleh Trotsky mengenai SWP Amerika, bahwa setiap mahasiswa harus merekrut setidaknya satu orang buruh. Kami memiliki sebuah orientasi yang jelas di Brighton, berorientasi ke gerakan buruh dan pemuda setempat. Kami mengintervensi di setiap pemogokan dan kamerad-kamerad dituntut untuk bangun pagi dan pergi ke garis piket atau menjual koran di luar pabrik.

Kamerad-kamerad dituntut untuk membuat pengorbanan, terutama pengorbanan finansial, dan ini dibuat jelas kepada setiap calon anggota ketika mereka bergabung. Iuran diset tinggi. Saat itu, mahasiswa mendapat beasiswa, yang walaupun tidak besar sekali tetapi cukup untuk hidup. Setiap hari pertama semester setiap kamerad diminta untuk memberikan 10 persen beasiswa mereka untuk partai. Dan ini hanya permulaan saja. Semua kamerad dituntut untuk memberikan kontribusi reguler.

Ini sangatlah penting. Selama bertahun-tahun Militant bergantung pada kontribusi finansial dari Sussex. Kami juga membiayai pembelian mesin duplikator berwarna pertama (sebuah donasi dari seorang simpatisan kaya dari Partai Komunis). Kami membayar gaji Peter Taaffe, yang baru datang dari Liverpool untuk mengambilalih kerja kantor pusat nasional dari Jimmy Dean yang berangkat ke India untuk bekerja.

“Mild in Manner, Bold in Content” (“Sopan dalam Pendekatan, Keras dalam Prinsip”)

Di dalam organisasi kami sangatlah disiplin. Kamerad dituntut untuk menghadiri setiap pertemuan sel/ranting dan menghadirinya tepat waktu. Ketika kami merekrut anggota-anggota sel Partai Komunis di universitas, salah satu kamerad pemimpin mereka mengekspresikan kekagumannya: “Bila kau datang sedikit telat saja ke pertemuan sel, tidak ada orang yang mengatakan apa-apa, tetapi kau dapat merasakan banyak mata yang mengikuti kamu ketika kamu duduk.”

Secara umum, kami selalu memerangi berbagai macam gagasan borjuis kecil yang asing, yang mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara, bukan hanya dalam gagasan politik (pasifisme, liberalisme, dsbnya.) tetapi juga dalam gaya hidup dan psikologi borjuis kecil. Baju “flower power” (“bunga-bunga”) kaum hippie adalah semacam seragam yang membedakan mahasiswa dari orang lain, semacam “seragam” borjuis kecil. Kami tidak ingin menciptakan halangan-halangan artifisial yang dapat memisahkan kami dari buruh.

Kami sangat menolak kebiasaan-kebiasaan baju “trendi”, rambut panjang, dll. Ini tidak ada hubungannya dengan estetika. Pada saat itu, sangat sedikit sekali buruh muda yang punya rambut panjang, dan kebanyakan memakai jas dan dasi ketika pergi ke bar pada malam Minggu, dan juga ketika mereka pergi ke pertemuan Partai Buruh atau serikat buruh.

Ada elemen berlebihan disini, tetapi ini menunjukkan bahwa kami melatih kamerad-kamerad kami dengan sangat disiplin. Mungkin kami sedikit berlebihan, tetapi kami mencoba menendang keluar semua prasangka-prasangka borjuis kecil dari kepala mahasiswa, dan memasukkan pendekatan serius ke politik revolusioner. Dan saya pikir kami berhasil. Tidak seperti pendekatan kelompok-kelompok lain yang serampangan dan tidak disiplin, kamerad-kamerad kami menonjol sebagai orang-orang yang serius dan berdedikasi.

Obat-obatan terlarang, tentu saja, sangat dilarang di organisasi kami. Mengkomsumis obat terlarang (bahkan menghisap ganja) dianggap sebagai pelanggaran disiplin revolusioner yang serius, dan bahkan pelanggaran yang dapat berakibat pemecatan.

Akan tetapi, kami juga tahu bagaimana menikmati diri kami sendiri. Kami punya rasa humor yang baik dan saya pikir kami cukup popular di antara mahasiswa. Bar-bar setempat mendapatkan banyak uang dari kami, tentu saja!

Sangatlah penting untuk tidak kehilangan sentuhan dengan manusia. Motto favorit Marx adalah: “Saya menganggap sesuatu yang bukan manusia sebagai sesuatu yang asing bagi saya.” Ini adalah nasihat yang sangat baik. Ted Grant satu hari bertanya kepada saya apa karakter paling penting dari seorang revolusioner. Saya berpikir keras: apakah level politik tinggi, atau mungkin keberanian atau konsistensi? Tidak, kata Ted: “a sense of proportion and a sense of humour.” (tahu mengukur diri dan rasa humor). Ini sangatlah benar.

Kerja Kami di YCL (Young Communist League)

Partai Komunis saat itu adalah kekuatan kiri terbesar, walaupun mereka telah kehilangan banyak dukungan setelah Pemberontakan Hungaria 1956. Mereka mendirikan sebuah ranting di Universitas kira-kira tahun 1966 ketika beberapa anggota YCL (sayap muda Partai Komunis) pindah dari Southhampton. Mereka adalah Neil McGregor dan Terry Moston. Kami mencoba merekrut mereka dan pendekatan kami bersahabat. Tetapi mereka telah diberikan peringatan dari pengurus pusat mereka. Walhasil, mereka tidak ingin berbicara dengan kami, bahkan tidak mengucapkan selamat pagi kepada kami.

Namun ini tidak membuat kami menyerah. Mereka harus menghadapi kami di pertemuan-pertemuan Socialist Society, dan mereka tidak pernah dapat menjawab kami secara politik. Mereka akhirnya memainkan apa yang mereka pikir kartu terbaik mereka: mereka mengundang Sekjen Partai Komunis Inggris, John Gollan, untuk berbicara. Ini adalah kesalahan yang besar.

Kami mempersiapkan intervensi kami, dengan sederetan pertanyaan mengenai Stalinisme, Rusia, Vietnam, dll. yang sungguh membuat gusar Stalinis tua ini. Tidak mampu menjawab kami secara politik, dia meledak dan mulai menyerang Trotkisme. Semuanya berakhir mengecewakan dan para pendukung mudanya tampak sangat kecewa. Akan tetapi, mereka tetap menolak untuk berbicara dengan kami.

Kemudian, beberapa waktu kemudian, saya bertemu dengan Neil, yang adalah ketua kelompok tersebut, dan berkata: “Halo Neil, apa kabarnya?” Dia menjawab, “Buruk.” Kami lalu ngobrol dan semuanya terungkap. Mereka benar-benar kecewa dengan Partai Komunis. Mereka bahkan memasang foto Trotsky di kamp YCL. Dan kami tidak tahu-menahu! Tentu saja saya meminta dia untuk bergabung dengan kami, dan dia setuju dan membawa seluruh ranting YCL di universitas besertanya. Ini adalah akhir dari Partai Komunis di Universitas Sussex.

Para pengurus birokrat Partai Komunis lalu mengetahui ini dan mereka menutup ranting universitas. Ini benar-benar membantu kami karena mereka kemudian menyuruh semua anggota untuk bergabung dengan ranting YCL di Brighton. Kamerad-kamerad kami lalu memenangkan mayoritas ranting tersebut. Ini adalah sebuah pukulan besar bagi ketua ranting itu, Jim Brookshaw, yang, kalau saya tidak salah, adalah sekretaris nasional YCL.

Mereka kemudian memecat semua kamerad kami dari YCL, yang tersisa hanya Jim, istrinya, dan satu orang lagi. Jelas Jim tidak merasa senang dengan semua ini! Kamerad-kamerad kami sering mengeluh kepada saya mengenai sikap kasar Jim. Mereka mengatakan dia adalah soerang Stalinis keras, dan saya mengatakan kepada mereka tidak, bahwa Jim adalah seorang buruh muda yang baik yang loyal pada organisasinya, dan kita harus mencoba memenangkan dia. Walaupun jujur saya, saya pikir ini akan sangat sulit.

Betapa kelirunya saya! Beberapa tahun kemudian, saya sedang dalam perjalanan ke London dan mengunjungi kantor pusat, dimana seseorang telah meninggalkan surat untuk saya. Saya terkejut melihat surat itu dari Jim. Dia telah bekerja sebagai staf penuh Partai Komunis di posisi tinggi, tetapi perlahan-lahan menjadi kecewa. Dia mulai membaca Trotsky dan memahami ide-ide dasarnya. Invasi Rusia terhadap Chekoslovakia mungkin adalah yang akhirnya mendorongnya.

Saya segera mengunjunginya dan selama 48 jam kami mendiskusikan segalanya, dari Internasionale Pertama sampai masa kini. Akhirnya kami mencapai persetujuan penuh. Jim bergabung dan sampai sekarang masih merupakan kamerad yang paling berdedikasi. Saya tidak akan pernah melupakan yang dia katakan pada saya pada saat diskusi tersebut: “Ketika saya ada dalam proses pecah dari Stalinisme, saya mempertimbangkan semua kelompok-kelompok Trotskis lainnya, tetapi menolak mereka semua. Kemudian saya teringat dengan kalian dan saya menyadari bahwa walaupun saya begitu kasar terhadap kalian, kalian selalu memperlakukan saya seperti seorang kamerad.” Ini adalah pelajaran yang sangat penting di sini!

Politik Mahasiswa

Ketika kami memulai kerja kami di Sussex, pemberontakan mahasiswa belumlah mulai. Ini mulai mengambil bentuk di atas basis peperangan Vietnam, yang menghasilkan gerakan oposisi massa yang kuat. Juga ada gerakan besar mendukung hak-hak sipil orang hitam di AS. Tetapi titik baliknya adalah Mei 1968 di Prancis.

Kami adalah satu-satunya kelompok Kiri yang menekankan peran kepemimpinan kelas pekerja dalam revolusi sosialis. Kebanyakan kelompok lain bergerak ke mana angin bertiup. Mereka menyangkal kelas buruh sebagai kekuatan yang akan mengubah masyarakat. Alih-alih mereka mencari alternatif: mahasiswa, kelas tani di Dunia Ketiga (kata yang menjijikkan itu diciptakan kira-kira pada saat itu), perempuan, orang hitam, bahkan lumpenproletariat – semua kecuali kelas buruh di negara-negara kapitalis maju.

Kita harus ingat bahwa saat itu masihlah para periode kebangkitan kapitalisme dunia setelah Perang Dunia Kedua. Di negeri-negeri seperti Inggris, tingkat pengangguran rendah dan taraf hidup meningkat. Kaum kapitalis mampu menyediakan reforma-reforma sosial di negeri-negeri kapitalis maju.

Oleh karenanya, ketika kami memprediksikan kemunduran ekonomi dan peningkatan perjuangan kelas, kami tampak seperti melawan akal sehat. Pada prakteknya, kebanyakan Marxis seperti Tony Cliff dan Mandel menyangkal akan terjadinya kemunduran ekonomi dan merangkul ekonomi Keynesian. Ted Grant adalah pengecualian (baca Will there be a slump?).

Pemogokan umum Prancis mengejutkan mereka semua. Gerakan ini dimulai dengan gejolak di antara mahasiswa Prancis, yang menciptakan ilusi optikal bahwa mahasiswa dapat “memprovokasi” buruh untuk beraksi. Ini adalah teori yang keliru dan bahaya di dalam praktek, terutama di Jerman, di mana para mahasiswa mencoba mereplikasi pengalaman Prancis dan gagal.

Saya dikirim ke Prancis oleh tendensi kami, dan saya telah menjelaskan apa yang saya saksikan di situs jejaring In Defence of Marxism. Kami menggunakan peristiwa-peristiwa Prancis untuk menjelaskan ide-ide revolusioner kami di antara mahasiswa. Ada debat publik antara saya dengan Monty Johnstone dari Partai Komunis Inggris. Saya menulis buku dengan Ted (Lenin and Trotsky – What they really stood for) untuk menjawab tulisan dia mengenai Trotsky dan Trotskisme, yang menunjukkan bahwa kaum Stalinis mulai khawatir mengenai pengaruh ide-ide Trotsky di antara anggota-anggota mereka.

Di sini saya hanya akan berbicara mengenai pengaruh dari semua ini di antara mahasiswa Inggris. Mereka telah berpartisipasi secara aktif dalam demo-demo massa menentang Perang Vietnam. Tetapi sekarang gerakan mulai menyebar, terutama dalam bentuk sit-in (menduduki sebuah lokasi). Penyebabnya bermacam-macam, tetapi mereka biasanya mengenai masalah-masalah lokal, masalah hukuman sekolah, hasrat untuk mendapatkan lebih banyak kendali dalam menjalankan universitas dan pendidikan secara umum.

Saya harus mengakui bahwa kami tidak siap dalam menghadapi gerakan ini. Setelah melakukan perjuangan keras terhadap “mahasiswa-isme”, kami agak sinis menyikapi sit-in. Tetapi pengalaman hidup mengkoreksi kesalahan kami.

Sit-in

Kami punya satu aturan yang sangat ketat, bahwa semua kamerad di akhir semesternya tidak boleh menghadiri sel tetapi harus berkonsentrasi untuk menulis ujian mereka. Saya tidak pernah setuju drop-out. Selain ini menunjukkan sifat serampangan, ada juga kecenderungan di antara mahasiswa yang gagal ujian untuk menyalahkan organisasi. Trotsky pernah mengatakan, bila kau adalah seorang buruh, kau harus jadi buruh terbaik, bila kau adalah seorang tentara, kau harus jadi tentara terbaik. Hal yang sama adalah benar untuk mahasiswa Marxis.

Pada tahun 1969, ini adalah tahun terakhir saya di universitas, dan banyak hal yang harus saya pelajari sebelum ujian. Ini adalah periode penuh gejolak di universitas, warisan dari Gerakan 1968 di Prancis dan juga gerakan anti Perang Vietnam. Tetapi kami tidak menganggap kerja mahasiswa sebagai prioritas dan juga saya sedang cuti dari politik.

Saya baru keluar dari perpustakaan dengan setumpuk buku dan kebetulan melewati sebuah pertemuan sekitar 30-40 mahasiswa yang dipimpin oleh seorang mahasiswa Amerika bernama Anna. Dia adalah seorang radikal borjuis kecil yang tidak saya sukai, jadi saya mencoba lewat diam-diam. Tetapi sialnya dia melihat saya dan memanggil saya untuk bergabung.

Menggerutu diam-diam, saya bergabung dengan mereka. Pertemuan ini adalah mengenai masalah hukuman universitas, walaupun jujur saja saya tidak begitu ingat apa itu. Anak-anak ini selalu protes. Mereka ingin melakukan sit-in.

Saya mengatakan: “Kamu gila? Segelintir orang tidak bisa melakukan sit-in. Kita butuh lebih banyak orang. Saya usulkan kita tunda pertemuan ini, kalian harus berkeliling dan membawa lebih banyak orang, dan kita akan bertemu lagi dalam satu jam.” Ini adalah nasihat yang baik, dan sesungguhnya saya membutuhkan waktu untuk berpikir apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Mereka semua berpencar dan dalam satu jam mungkin ada seratus orang. Saya kemudian mengatakan: “Seratus orang cukup baik, tetapi ini belumlah cukup. Cari lebih banyak orang.”

Dalam satu jam mungkin ada kira-kira tiga ratus orang. Saya mengatakan pada diri saya sendiri: “Ini menjadi semakin serius.” Sekarang, si Anna sudah tidak lagi memimpin. De facto saya yang memimpin. Saya mengatakan: “Besarnya pertemuan ini menunjukkan bahwa ada dukungan besar di antara pelajar. Sekarang kita harus beragitasi untuk Pertemuan Umum dan membuat Serikat Mahasiswa untuk melakukan sit-in.”

Tidak lama kemudian Pertemuan Umum diselenggarakan. Pertemuan ini besar sekali. Sayap kanan merespon dengan memobilisasi semua kekuatannnya: Asosiasi Konservatif, klub rugbi, dan berbagai kelompok kelas atas lainnya.

Universitas Sussex adalah universitas “radikal”, tetapi bukan universitas yang melakukan sit-in. Pertemuan ini bagai topan badai. Saya berbicara dari atas platform menyerukan sit-in, dan kami lalu memenangkan suara terbanyak. Saya tidak tahu berapa besar kemenangan kami, tetapi kemenangan kami sangat tipis sekali. Kaum sayap kanan sangat marah tetapi setelah keputusan diambil mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Setelah pemungutan suara, berbicara di depan mikrofon saya mengusulkan pembentukan komite organisasi. Saya mengatakan: “Ini akan menjadi demonstrasi yang teratur dan disiplin. Kita akan menjaga ketertiban dan tidak akan ada vandalisme dan huru-hara. Bar akan ditutup selama sit-in dan tim pembersih akan dibentuk untuk menjaga kebersihan dan kerapian.”

Saya juga mengusulkan supaya Serikat Mahasiswa menghubungi gerakan buruh setempat dan meminta dukungan dari Partai Buruh Brighton dan Dewan Serikat Buruh. Semua proposal ini diterima dan dilaksanakan.

Sit-in ini sukses besar. Pihak universitas, terkejut oleh peristiwa ini, mundur dan menghapus kebijakan hukuman ini. Ini adalah kemenangan besar, dan ini tidak cukup untuk kaum ultra-Kiri yang beranggotakan satu orang (seorang Maois Afrika Utara) yang duduk di komite.

Bagaimana Memenangkan Seorang Maois

Seperti biasa, kaum ultra-Kiri hidup di awang-awang. Mereka membayangkan bahwa setiap gerakan adalah awal dari revolusi. Ini terutama benar pada saat itu. Peristiwa Mei 1968 Prancis telah membuat kaum ultra-Kiri mabuk. Si Maois, yang namanya adalah Paul Trahwela, menentang diakhirinya sit-in, walaupun gerakan ini telah meraih tujuannya. Saya tidak tahu tujuan lain apa yang ada di pikirannya, mungkin membentuk “Kamp Merah” (Mao membentuk Kamp Merah di Hunan ketika perang gerilya) di Sussex, yang akan membangkitkan kaum tani untuk melakukan Long March ke London.

Apapun alasannya, ini adalah taktik avonturis, yang kami tentang dengan berhasil. Saya tidak akan pernah melupakan pidato akhirnya, yang dipenuhi dengan aksen Afrika Selatan yang kental: “Perjuangan kelas telah menajam, dan musuh kelas (saya sendiri) telah terekspos.”

Sebenarnya saya cukup menyukai Paul. Tidak seperti aktivis borjuis kecil yang suka berpura-pura, dia adalah seorang jujur yang punya keberanian atas pendiriannya. Dia adalah seorang mahasiswa kulit putih di hari-hari Apartheid. Dia bergabung dengan Partai Komunis Afrika Selatan dan pernah dipenjara, di mana dia memutuskan untuk pecah dari kepemimpinan Partai Komunis yang revisionis dan menjadi seorang Maois fanatik.

Di Inggris dia selalu ada di baris depan demo-demo Anti Perang Vietnam dan biasanya terlibat dalam bentrokan dengan polisi. Esoknya dia akan masuk sekolah dengan mata biru atau luka-luka lainnya yang didapatnya dari perang kelas. Jelas dia punya nyali. Tetapi walaupun saya menghormati integritasnya, saya menganggap dia sudah tidak dapat diselamatkan secara politik. Dia adalah seperti seorang pemeluk agama fanatik dan pikirannya tertutup. Begitu pikir saya.

Satu hari dia tiba-tiba mendekati saya dan menanyakan apakah saya punya buku Revolusi Permanen yang bisa dipinjamnya. Saya bilang saya punya, tetapi saya tidak terlalu ingin meminjamkannya, terutama kepada seseorang yang saat itu menganggap buku tersebut sebagai buku konter-revolusioner. Tetapi akhirnya saya menyerah dan meminjamkan buku saya, tanpa terlalu antusias. Beberapa hari kemudian dia kembali dengan buku saya dan kata “terima kasih” yang singkat. Dan begitu saja. Merasa heran, saya memeriksa halaman-halaman buku saya. Tentunya dia belum membacanya? Tetapi saya menemukan garis-garis pensil tipis di halaman-halaman. Saya semakin penasaran.

Tidak lama kemudian Paul meninggalkan universitas dan pergi ke London untuk bekerja di konstruksi. Ini adalah hal biasa yang dilakukan kaum Maois. Seperti kaum Narodnik Russia yang turun ke rakyat. Tetapi kemudian, tiba-tiba, saya menerima surat panjang darinya. Dia mengutarakan argumennya secara detil mengapa Trotsky benar sebelum 1927, tetapi Mao benar setelah 1927.

Saya membalasnya dengan surat yang bahkan lebih panjang menjelaskan bagaimana posisinya tidak dapat dipertahankan dan merekomendasikan dia untuk membaca karya-karya Trotsky lainnya. Dia melakukan ini – dan menjadi seorang Trotkyis! Saya merasa sangat senang karena dia adalah seorang yang serius. Tetapi sayangnya cerita ini tidak berakhir dengan baik. Ke-ultrakiri-an Paul membuatnya mustahil menerima untuk bekerja di dalam Partai Buruh. Dia lalu bergabung dengan Healyite, dan saya kehilangan kontak dengannya. Saya tidak ragu kalau mereka telah merusaknya, seperti yang mereka lakukan terhadap banyak anak muda menjanjikan lainnya.

Saya menceritakan insiden ini hanya untuk menunjukkan bahwa bukanlah sesuatu yang mustahil untuk memenangkan orang-orang yang paling tak ada prospek. Ted biasa mengatakan bahwa kita dapat memenangkan setiap anak muda di bawah umur 25 dengan dua pengecualian: orang eksentrik dan pengejar karir. Ini hanyalah masalah waktu. Tentu saja, di pihak lain, waktu bukanlah sesuatu yang tidak terbatas.

Tetapi ada pelajaran penting di sini. Untuk memenangkan seseorang, kita harus gigih dan tidak segera berasumsi: “Oh, dia tidak ada harapan. Dia adalah seorang reformis, atau Stalinis, atau anarkis, atau Kristen, dan segalanya. Sering kali ini hanyalah alasan untuk ketidakmampuan kita untuk menjelaskan Marxisme sejati dengan cara yang meyakinkan.

Sungguh kenyataan hidup yang pahit bahwa orang-orang tidak terlahir sebagai Marxis, dan mereka tidak tumbuh di atas pohon. Kita harus bisa meyakinkan orang, dan ini membutuhkan dua hal: pertama, level politik yang tinggi, dan kedua, sikap sabar terhadap orang yang punya pandangan lain. Bila kau tidak berhasil pertama kalinya, jangan menyerah hanya karena mereka berdebat denganmu. Jawab argumen mereka.

Saya berbicara dari pengalaman. Ketika saya pertama kali bergabung dengan YS Swansea, saya seorang 100% Stalinis. Saya berdebat selama berbulan-bulan sebelum kamerad Militant akhirnya meyakinkan saya. Apa yang akan terjadi bila mereka tidak sabar dan memutuskan bahwa saya adalah seorang Stalinis dan oleh karenanya tidak ada harapan?

Satu poin penting lainnya: dalam berdebat dengan seseorang yang berbeda pendapat, selalu mulai dengan mencari persamaan. Kita tidak boleh mengatakan “tidak”, tetapi justru mengatakan “Ya, tetapi …”. Dengan begini, kau membuat orang berpikir dan mempertanyakan asumsi mereka sendiri. Kalau tidak kau hanya akan membuat orang membencimu dan mendorong mereka lebih jauh. Lalu kau akan mencoba membenarkan kegagalanmu dengan mengatakan: “Ah, tetapi dia adalah seorang Stalinis, dsbnya.”

Kita tidak boleh mengatakan: “Tidak”. Kita harus mengatakan: “Ya, tetapi …”

Kesimpulan

Saya tidak akan mengatakan kalau kerja kami di Sussex adalah sempurna. Tak diragukan kalau kami membuat banyak kesalahan. Trotsky pernah berkata bahwa kaum muda punya kesempatan berharga untuk membuat kesalahan. Dia juga menambahkan kalau kaum muda tidak boleh menyalahgunakan kesempatan berharga itu.

Sussex mewakilkan pencapaian besar bagi Militant. Bukan saja organisasi kita membentuk basis kuat di antara mahasiswa, yang tidak pernah terulang di tempat lain, bahkan ketika Militant menjadi organisasi besar. Kerja di Sussex memainkan peran besar dalam membangun organisasi Militant secara nasional.

Ketika mahasiswa meninggalkan universitas, untuk liburan atau permanen, mereka pergi ke berbagai daerah, di mana, bila mereka telah terdidik dan terkonsolidasi dengan baik, mereka dapat membangun sel-sel baru. Ini yang terjadi di Sussex.

Ketika saya tiba di Sussex pada musim gugur 1963, saya adalah satu-satunya anggota organisasi di Inggris Selatan. Melalui kerja kami, kami membangun sel-sel di seluruh Sussex dan juga di Southampton. Kami juga instrumental dalam membangun kelompok-kelompok baru di Skotlandia dan daerah-daerah lainnya.

Kebanyakan kamerad kami yang aktif menjadi staf penuh Militant dan anggota Komite Pusat atau Komite Eksekutif. Mayoritas Komite Eksekutif terdiri dari orang-orang bekas Sussex. Peran yang kami mainkan dalam keberhasilan Militant sulit dilebih-lebihkan – sebuah kenyataan yang tidak disukai oleh Taaffe, tetapi ini adalah kenyataan bagaimanapun juga.

Yang kami lakukan di Sussex dapat diulang di tempat lain. Tentu saja kita harus memikikan perbedaannya. Terutama tidak adanya YS hari ini adalah sebuah perbedaan besar. Tetapi ini membuat kerja mahasiswa bahkan lebih penting dibandingkan sebelumynya. Oleh karenanya kamerad-kamerad muda harus mempelajari pengalaman kami supaya bisa mengaplikasikannya dengan tingkatan yang bahkan lebih tinggi, yang akan memberikan hasil yang lebih baik.

Alan Woods, 26 Agustus 2011

PS: Saya minta maaf kalau tulisan ini seperti memoar, tetapi saya rasa begitulah adanya.

 

Universitas Cambridge (2006 – Sekarang)

Oleh Adam Booth

Kerja di Cambridge sulit ditelaah secara lengkap karena kerja ini masihlah berlangsung. Walaupun demikian, banyak perkembangan penting selama lima tahun saya sebagai anggota IMT di Universitas Cambridge, dan pelajaran-pelajaran penting yang bisa dipetik.

Saya bergabung dengan IMT di tahun kedua saya pada November 2006, sebagian lewat diskusi saya dengan kamerad DM dari kampus dan sebagian lewat diskusi saya dengan kamerad-kamerad di ranting Cambridge. Namun, selama dua tahun pertama saya, saya tidaklah terlalu aktif. Ini terutama karena dua faktor: di satu pihak saya tidak punya kepercayaan diri untuk mengintervensi di pertemuan-pertemuan atau mengorganisir acara publik. Alasan utamanya adalah karena level politik saya yang rendah. Di pihak yang lain sel di Cambridge (yang terdiri dari saya dan empat kamerad lainnya yang sudah bekerja) telah mengalami demoralisasi akibat tidak adanya progress selama beberapa tahun. Demoralisasi ini mengakibatkan rutinitas di dalam ranting, yang oleh karenanya saya tidak pernah merasa terdorong untuk lebih aktif atau mendorong diri saya sendiri.

Sebagian dari masalah ini juga adalah karena situasi di Universitas Cambridge itu sendiri – atau setidaknya ini persepsi saya. Universtas Cambridge sangatlah dinamis dan ramai dalam hal akvitivas politik. Setiap tendensi politik ada di sana dan punya aktivitasnya sendiri, dan saya tidak tahu bagaimana membedakan diri kami dari mereka secara politik. Kerja utama kami adalah melalui HOV, menayangkan film dan kadang-kadang mengadakan ceramah publik. Acara-acara kami lumayan dihadiri, tetapi ini tidak pernah membuahkan hasil besar.

Mudah saja menyalahkan situasi objektif untuk ketidakmampuan kami untuk tumbuh selama tahun-tahun tersebut – yakni karena tidak adanya gerakan riil di kampus dan warna politik kampus yang cukup kanan – tetapi ini akan menjadi kekeliruan. Situasi objektif memang memainkan peran, tetapi kenyataannya kami bertemu sejumlah kontak yang menjanjikan tetapi rutinisme di ranting dan kurangnya pengalaman saya sendiri berarti kita tidak pernah mampu merekrut. Tugas kami hanya merekrut satu-dua dan tidak ada alasan mengapa kita tidak mampu merekrut satu-dua.

Peluang

Peluang datang ketika saya ada di tahun keempat, pada awal tahun 2009. Invasi Israel terhadap Gaza pada awal tahun 2009 membawa gelombang gerakan okupasi universitas dan pendudukan di seluruh negeri. Sejumlah aktivis mengorganisir pendudukan fakultas hukum di Cambridge, yang berlangsung enam hari. Tidak tahu apa yang bisa saya harapkan dari gerakan ini, saya melempar diri saya ke gerakan okupasi ini dan berpartisipasi secara aktif.

Pada akhirnya gerakan okupasi di Cambridge ini tidak beranjak kemana-mana. Di titik tertingginya, ada sekitar 150 mahasiswa, tetapi tidak pernah ada strategi untuk meluaskan gerakan ini atau mencapai tujuan-tujuan kami, dan sikap sejumlah kaum anarkis dan libertarian garis keras (yang merupakan tren yang cukup popular di gerakan mahasiswa pada saat itu) berarti kita harus menghabiskan waktu kami berdebat terus-menerus mengenai isu-isu organisasi dan prosedural pengambilan keputusan. Pengalaman ini sangatlah memfrustasikan, terutama karena saya merasa tidak berdaya untuk mengintervensi.

Daripada terdemoraslisasi oleh situasi, saya memutuskan untuk menguatkan diri saya secara teori. Seperti yang Lenin katakan, satu gram teori sama nilainya dengan satu ton praktek. Memang saya belajar banyak dari satu minggu gerakan okupasi ini daripada dua tahun belakangan. Namun, saya tidak punya teori yang kuat yang dibutuhkan untuk mengintervensi secara efektif, dan saya memutuskan untuk memperbaiki ini.

Perubahan Strategi

Walaupun gerakan okupasi ini tidak mencapai banyak dalam jangka pendek, gerakan ini membantu mendorong gerakan mahasiswa di Cambridge dan selurun negeri. Saya memutuskan untuk terus sekolah di Cambridge lebih lama untuk membangun organisasi ini. Saya berhasil mendapatkan beasiswa S3, yang berarti saya dapat aktif di Cambridge tiga tahun lagi.

Selain itu, saya memutuskan bahwa kita harus membedakan organisasi kita dari kelompok-kelompok kiri lainnya, yang sangatkah bertendensi “aktivisme” dan borjuis kecil secara ideologi. Saya memutuskan untuk membentuk kelompok mahasiswa Marxis seperti kamerad-kamerad di London. Harapannya adalah ini akan dapat membedakan kita dengan secara terbuka mendeklarasikan sudut pandang Marxis kami.

Intervensi kami di pekan orientasi kami rencanakan dengan cermat, dan walhasil ini adalah kesuksesan besar. Kami mengumpukan beberapa ratus nama dan menjual banyak buku dan koran. Selama dua hari orientasi, saya berdiskusi dengan banyak orang dan mencatat nama-nama dan email mereka yang menjanjikan. Saya mengirim email ke semua orang yang membeli buku, dan menanyakan pendapat mereka. Seberapa orang menjawab, termasuk satu orang yang membeli koran dan dia begitu  terkesan dengan koran kita dia langsung meminta bergabung. Orang bisa bilang ini beruntung, tetapi kita harus menciptakan keberuntungan kita sendiri dengan intervensi yang terorganisir dan rapi.

Berangkat dari satu kamerad ke dua kamerad di kampus adalah satu langkah besar. Kamerad-kamerad yang menemukan diri mereka di situasi yang sama (yakni satu-satunya kamerad di satu kampus) harus bisa mengukur kekuatan mereka sendiri dan fokus untuk mencapai target yang realistik, yakni merekrut satu orang.

Sebelumnya saya selalu merasa sedikit demoralisasi karena kehadiran banyak sekte-sekte Kiri di kampus saya, yang punya segelintir anggota, dan tampak bagi saya seperti kekuatan yang besar dibandingkan saya sendiri. Namun, musim panas itu, kebanyakan kaum sektarian tersebut lulus dan tiba-tiba saya menemukan diri saya sebuah lapangan yang terbuka. Kami sekarang punya Marxist Society dengan pertemuan mingguan, dua kamerad, dan hampir tidak ada kompetisi. Selain itu, saya juga merasa lebih percaya diri akan kemampuan saya sendiri setelah saya membuat usaha untuk membaca dan mendiskusikan banyak karya-karya Marxis klasik.

Kamerad-kamerad mahasiswa lainnya mungkin akan punya kekhawatiran yang serupa. Kadang-kadang kelompok-kelompok sektarian ini tampak seperti Goliat di dalam perpolitikan kampus. Pada kenyataannya mereka lebih seperti Wizard of Oz, mereka menciptakan kesan superior dengan bersuara besar dan melakukan aktivitas-aktivitas besar yang tidak berguna. Mungkin hanya ada satu dua orang yang aktif dan umumnya level politik mereka rendah. Politik di kampus memiliki perputaran yang tinggi karena jangka waktu sekolah yang pendek, dan kelompok-kelompok Kiri yang tampak besar di satu tahun dapat menghilang di tahun berikutnya.

Tentu saja ada satu pelajaran disini buat kita, yakni kita harus terus merekrut dan mengkonsolidasikan kamerad-kamerad setiap tahun supaya kehadiran kita di kampus menjadi semakin kuat, atau setidaknya terjaga. Pergantian populasi mahasiswa yang cepat membuat ini sulit, tetapi tidak mustahil, kalau kita bergerak dengan cepat pada awal semester dengan mengintervensi orientasi.

Kelompok Diskusi Marxis

Kerja kami dengan Kelompok Diskusi Marxis (KDM) yang baru kami bentuk adalah sebuah keberhasilan yang besar. Pertemuan-pertemuan kami dihadiri orang secara reguler dan kami membuat sejumlah kontak. Ini terutama karena persiapan yang kami lakukan untuk pertemuan-pertemuan tersebut. Kami mengorganisir semua acara untuk semester dan membagikan 1000 kopi jadwal acara kami di semester ini. Lebih penting lagi, kami juga mengorganisir pertemuan reguler di tempat dan waktu yang saya setiap minggu. Membangun sebuah rutinitas adalah penting, terutama di kampus di mana mahasiswa biasanya punya jadwal mingguan. Lebih penting lagi, kami sekarang mengintervensi secara terbuka sebagai Marxis, dan sebagai akibatnya ketika krisis ekonomi 2008-2009 terjadi banyak orang yang terbuka pada ide-ide kami.

Di periode mendatang kami harus lebih fleksibel dalam hal pertemuan-pertemuan kami. Peristiwa-peristiwa dunia berkembang laksana kilat dan kita harus siap untuk mengganti topik pertemuan diskusi kita dengan segera bila sebuah peristiwa penting terjadi. Fleksibilitas taktik adalah kunci, dan kita harus siap mencampakkan rutinitas kita untuk bisa menggunakan peluang-peluang baru yang terbuka. Kita juga tidak boleh mendirikan halangan artifisial yang memisahkan kita dari massa pelajar. Di periode sekarang ini, kita dapat merekrut orang langsung ke ide-ide Marxisme.

Kelompok Diskusi Marxis kami tumbuh besar dan ada sekitar selusin mahasiswa datang secara reguler ke pertemuan-pertemuan kami, dan juga dengan sejumlah kontak dekat. Saya pikir ada dua alasan utama di belakang kesuksesan kami dengan KDM. Pertama, kelompok kami dilihat oleh para mahasiswa sebagai kelompok yang serius, dalam hal teori dan orientasi. Tidak seperti kelompok-kelompok Kiri lainnya, kami tidak mengikuti tren-tren politik yang tidak jelas. Kami tidak pernah menyembunyikan politik kami atau melunakkan politik kami supaya dapat lebih diterima. Kami juga tidak pernah takut berdebat dengan lawan-lawan kami secara terbuka. Di banyak kesempatan, pertemuan kami dihadiri oleh kaum sayap kanan atau kaum sektarian yang datang untuk berdebat dengan kami. Biasanya pada akhir acara mereka meninggalkan diskusi kalah. Justru kami menemukan kalau kehadiran seorang atau dua orang lawan adalah hal yang berguna, karena ini membantu menajamkan diskusi dan memperjelas gagasan kami.

Selain itu, kami memcoba menghubungkan KDM dengan gerakan buruh, dengan cara mengoleksi dana bila ada pemogokan atau mengorganisir kunjungan ke garis-garis piket. Sangatlah penting untuk tidak melihat kerja di kampus, apapun itu, sebagai tambahan dari kerja kita yang lain, tetapi kerja di kampus harus digabungkan dengan kerja-kerja yang lain. Juga, kerja di kampus tidak boleh dilihat hanya sebagai milik kamerad mahasiswa. Kamerad-kamerad lain yang lebih tua dapat dan harus terlibat di dalam kerja di kampus juga.

Selain itu, kami juga bukan hanya sebuah organisasi yang serius, tetapi juga yang sosial. Setiap pertemuan diakhiri dengan kunjungan ke pub atau bar setempat, dan di sini biasanya diskusi-diskusi yang lebih dalam terjadi.

Namun saya masih kesulitan merekrut orang. Hanya pada akhir tahun sekolah orang-orang baru bergabung dengan IMT, setelah berbulan-bulan diskusi. Ini menunjukkan kalau kerja keras yang konsisten dengan pendekatan yang sabar dan orientasi yang tepat akhirnya akan membuahkan hasil. Buah dari kerja keras tidak selalu langsung datang. Tetapi bila kita berani dalam pendekatan kita, percaya diri dalam mendiskusikan ide-ide kita, dan rajin mengikuti kontak-kontak yang menjanjikan, kita akan menuai apa yang kita tabur.

Ada satu contoh yang mengilustrasikan poin ini dengan baik. Satu kontak yang saya kenal dari awal tahun sekolah tampak antusias, tetapi setelah hampir lebih dari satu tahun diskusi tidak ada perkembangan. Saya hampir kehilangan harapan untuk merekrutnya. Dia lalu memberitahukan saya kalau dia akan ke Italia untuk musim panas. Tanpa banyak pikir, saya menghubungkan dia dengan kamerad-kamerad di Bologna yang lalu dia temui. Tiba-tiba satu hari saya menerima SMS dari dia, menanyakan apa dia boleh ikut hadir ke Kongres Dunia kami di Italia musim panas itu. Dia hadir sebagai tamu, dan menikmati satu minggu diskusi di sana dan meminta untuk bergabung. Semenjak itu dia telah berkembang dengan cepat dan dia sekarang memainkan peran kepemimpinan di dalam kerja kita di Cambridge.

Satu pelajaran dari kisah ini: jangan menyerah. Bahkan sampai sekarang saya masih menerima pesan dari orang-orang yang saya temui satu atau dua kali di kelompok diskusi yang lalu menghilang setelah itu. Namun, saya selalu memastikan untuk mendapatkan alamat email mereka dan memasukkan mereka ke milis dan mengkontak mereka lewat Facebook. Kadang-kadang orang akan menerima email dari kita atau membaca update status politik kita di Facebook, dan akan memikirkan untuk kembali aktif.

Seperti yang Ted Grant sering katakan, kesadaran dipengaruhi oleh peristiwa, peristiwa, dan peristiwa. Di periode sekarang ini ada banyak peristiwa yang menggoncang kesadaran massa, dan terutama kaum muda. Orang-orang yang dulunya tampak dingin terhadap kita dan ragu untuk terlibat sekarang akan berpikir lagi dan mempertanyakan apa yang sedang terjadi di dunia ini. Mereka mungkin akan ingat pernah menghadiri pertemuan kita dan berbicara dengan kita, dan mereka mungkin akan menghubungi kita untuk mencari jawaban. Tidak semuanya akan bergabung, tetapi walau demikian penting untuk memiliki lingkaran simpatisan dan pendukung.

Contoh ini juga mengilustrasikan satu poin penting lain: kita dapat memanfaatkan kenyataan bahwa kita adalah sebuah organisasi internasional. Ini adalah satu keunggulan besar yang memisahkan kita dari kelompok-kelompok lain. Bila ada seorang kontak yang mengunjungi negeri lain di mana kita ada seksi, hubungkan mereka. Karena perekrutan kita di Cambridge, kita mampu memberikan kontribusi pada kerja di Pakistan dan Iran. Seksi-seksi baru IMT dapat dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa asing yang kita rekrut di Inggris.

Juga, kamerad mahasiswa dapat melihat diri mereka anggota dua ranting – di kampus dan di kota kelahiran mereka. Dengan ini kita dapat membangun seksi Inggris di daerah-daerah baru. Ketika kamerad mahasiswa pulang ke rumah untuk liburan, mereka dapat memainkan peran penting membangun organisasi di daerah tersebut.

Perpecahan Dapat Membuat Kita Lebih Kuat

Kendati progres yang kita buat di kampus, demoralisasi dan rutinisme dari kamerad-kamerad yang lebih tua di sel kami telah mendarah daging. Ini berpengaruh buruk pada perekrutan kami. Sangatlah sulit membawa kontak ke ranting ketika kita terus-menerus melakukan debat polemik internal.

Akhirnya kamerad-kamerad yang lebih tua meninggalkan organisasi dan yang tersisa hanya dua orang -- saya dan seorang kamerad mahasiswa lainnya. Saya menjadi kamerad yang paling senior di Cambridge, dan saya tidak merasa cukup berpengalaman untuk bisa memainkan peran kepemimpinan yang diperlukan dari saya.

Alih-alih menjadi pesimistis, saya mencoba mengatasi tantangan ini. Di situasi seperti itu, satu-satunya cara untuk meraih kepercayaan diri atas kemampuan kita sendiri (yang biasanya lebih besar daripada yang kita kira) adalah membaca dan berdiskusi, menyerap sebanyak mungkin teori dan ide. Kita hanya perlu membaca mengenai perjuangan-perjuangan besar Lenin dan Bolshevik untuk menyadari bahwa semua halangan bisa kita hadapi. Yang diperlukan adalah teori, kesabaran, dan keberanian. Seperti yang Trotsky pernah katakan: “Kita sedang berjuang untuk ide-ide dan prinsip-prinsip ilmiah sejati, dengan sumberdaya teknik, materi, dan manusia yang tidak memadai. Tetapi ide-ide yang tepat akan selalu menemukan sumberdaya dan kekuatan yang diperlukannya …Tidak pernah ada perjuanga yang lebih besar di dunia.”

Organisasi kita selalu membanggakan dirinya atas kemampuan kita untuk melakukan kerja jangka panjang secara sabar. Dalam hal ini, kerja kita di kampus tidaklah berbeda. Saya telah menyaksikan banyak kaum anarkis, sektarian, dan borjuis kecil di gerakan mahasiswa di Cambridge selama lima tahun saya disini. Karena antusiasme mereka, kurang-pengalaman, dan kurang teori, mereka akhirnya melemparkan diri mereka ke “aktivisme”, terus menerus melakukan kampanye, beragitasi untuk aksi langsung, dan menyebarkan selebaran, dll. Aktivis mahasiswa seperti itu biasanya akhirnya membakar diri mereka sendiri dan terdemoralisasi, dan keluar dari gerakan. Satu-satunya obau untuk ini adalah dengan memiliki perspektif jangka panjang dan sabar. Ini hanya dapat dicapai dengan meningkatkan level teori kita. Setiap usaha lainnya hanya akan berakhir ke tendensi ultrakiri atau oportunisme. Tidak ada jalan pintas dalam membangun partai revolusioner.

Untuk alasan inilah kita selalu mengingatkan kamerad-kamerad muda kita bahwa prioritas nomor satu mereka adalah mengembangkan diri mereka sendiri – secara mental dan fisik – dan memastikan kalau studi mereka tidak terbengkalai. Tugas kedua yang terpenting adalah mendidik diri sendiri dengan ide-ide Marxisme.

Situasi segera berubah dengan perginya kamerad-kamerad yang lebih tua. Dua kontak mahasiswa bergabung, dan meningkatkan jumlah kami menjadi empat. Selain itu, saya membuat kontak dengan seorang aktivis buruh yang berpengalaman, yang meninggalkan SWP setelah kecewa dengan pendekatan dan ide mereka. Kendati jumlah kami yang kecil dan kurangnya pengalaman, aktivis buruh ini tertarik dengan kita karena antusiasme dan enerji kita, dan terutama karena sikap serius kita terhadap teori. Ini mendemonstrasikan apa yang sering kita katakan – bahwa kamerad-kamerad mahasiswa kita dapat merekrut buruh, selama kita punya pendekatan yang tepat: penekatan yang kuat terhadap teori, dan pendekatan yang antusisas, bersahabat, dan sabar terhadap kontak-kontak.

Dari perekrutan ini, ditambah seorang kamerad dari Belgia yang datang ke Cambridge untuk belajar, kami memulai tahun ajaran baru dengan enam kamerad. Dan tidak lama kemudian kita merekrut satu kontak yang telah terlibat di KDM, dan menjadi tujuh kamerad – lebih banyak daripada ketika kamerad-kamerad yang lebih tua masih ada. Terlebih lagi, dinamika sel berubah. Sekarang kita punya sel yang mudah, penuh dengan optimisme dan enerji.

Ini menunjukkan bahwa kita selalu bisa mengubah situasi apapun. Bahkan situasi yang paling sulit pun dapat diubah selama kamerad mampu dan ingin pecah dari rutinisme dan demoralisasi yang menghambat mereka. Di Cambridge, jumlah kamerad di sel kami berubah dari 6 ke 2 dan lalu 7 dalam beberapa bulan. Namun, perubahan ini tidak terjadi karena keberuntungan, ia membutuhkan determinasi dan kerja yang sabar.

Gerakan Mahasiswa

Dengan tujuh kamerad di sel, dan enam darinya adalah mahasiswa, kami ada di posisi yang baik untuk mengintervensi gerakan mahasiswa yang meledak sebagai respon dari Browne Review (untuk kenaikan uang sekolah) pada November 2010. Kelompok anti-uang-sekolah dibentuk di Cambridge, dan beberapa dari kami menghadiri pertemuan-pertemuan mereka untuk mengintervensi.

Dengan Serikat Mahasiswa Nasional (NUS) mengorganisir demo mahasiswa nasional, serikat mahasiswa di Cambridge, yang sebelumnya tidak signifikan, terdorong ke depan. Kami mengambil kesempatan ini untuk menulis sejumlah resolusi, yang memberikan nasihat-nasihat kepada serikat mahasiswa bagaimana mereka dapat membangun gerakan ini. Ini berbeda sekali dengan kelompok-kelompok sektarian yang hanya mencoba mendorong serikat mahasiswa untuk berafiliasi dengan kampanye mereka, dan akan menjadi histeris bila ada yang tidak setuju dengan mereka. Dengan mengedepankan resolusi-resolusi dengan cara  yang tepat, kita dapat menghindari tugas yang mustahil – yakni “membangun gerakan ini” sendirian, yang hanya akan membakar diri kita. Alih-alih, kami mengedepankan tuntutan-tuntutan positif pada kepemimpinan serikat mahasiswa dengan cara yang tegas dan bersahabat, untuk menunjukkan kalau kita serius ingin berjuang demi reforma-reforma seperti pendidikan gratis, dan bahwa kita bukan hanya sebuah kelompok diskusi akademis yang terpisah dari perjuangan riil di kampus.

Pada hari demo, kami semua datang ke London sebagai bagian dari kelompok Socialist Appeal. Demo-demo mahasiswa menyebar ke daerah-daerah lain di minggu-minggu selanjutnya. Kelompok anti-uang-sekolah di kampus memutuskan untuk mengokupasi gedung Old School (gedung administrasi kampus). Karena mood kampus saat itu, gerakan okupasi ini tumbuh pesat. Pada malam pertama, ada beberapa ratus mahasiswa yang hadir, dan serikat mahasiswa Cambridge segera terpaksa memberikan dukungan mereka pada okupasi ini, yang pada gilirannya mendorong lebih banyak mahasiswa untuk ikut serta dan bergabung.

Ini menunjukkan pentingnya serikat mahasiswa di pikiran banyak orang. Walaupun banyak orang tidak terlibat di serikat mahasiswa, atau bahkan tahu apa yang dilakukan serikat mahasiswa, dengan memberikan dukungannya serikat mahasiswa membuat okupasi ini tampak “legal” di mata banyak mahasiswa, dan oleh karenanya membantu menyebarkan gerakan ini. Ini mendemonstrasikan kebenaran gagasan Bolshevik mengenai sikap kaum revolusioner terhadap serikat-serikat yang reformis (atau bahkan reaksioner) – yakni berpartispasi di dalamnya dan menuntut kepemimpinan mereka. Ini berkebalikan dengan konsepsi anarkis atau organisasi ultra-Kiri, yang memcoba menyangkal keberadaan organisasi-organisasi tradisional ini yang punya otoritas di mata massa.

Okupasi

Okupasi ini berlangsung selama 11 hari. Tugas utama kami awalnya adalah melawan ide-ide anarkis dan ultra-Kiri yang mendominasi gerakan ini. Kebanyakan dari aktivis-akvitis ini bermaksud baik, tetapi banyak dari mereka yang tidak dapat melihat lebih jauh ke depan dan mereka lebih fokus pada masalah-masalah organisasional bagaimana menciptakan tempat yang “terbuka” dan “membebaskan”. Tentu saja banyak prosedur organisasi yang kompleks yang dibutuhkan untuk memutuskan bahkan hal-hal yang remeh temeh. Saya ingat pengalaman frustasi saya dengan gerakan okupasi sebelumnya. Namun kali ini saya lebih siap secara politik, dan tidak seperti okupasi sebelumnya dimana saya terisolasi kali ini ada sejumlah kamerad lainnya yang juga mengintervensi.

Pengalaman saya dengan okupasi sebelumnya sangatlah berguna. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa tidak ada gunanya berargumen mengenai hal-hal organisasi yang kecil – kebanyakan orang pada akhirnya akan menyadari keterbatasan dari organisasi anarkis. Hal terpenting bagi kami adalah mengedepankan masalah-masalah politik, memastikan kalau gerakan ini punya semacam perspektif dan tujuan jangka panjang. Dalam hal ini, kami biasanya bersikap bersahabat pada elemen-elemen anarkis di gerakan okupasi, dan kami mencoba memberikan usulan-usulan positif bagaimana gerakan ini dapat menyebar dan berkembang. Dengan mendemonstrasikan keunggulan ide-ide kami dalam praktek, kami mampu memenangkan dukungan dan hormat dari elemen-elemen paling maju di okupasi ini.

Dua hal yang membantu menunjukkan kebenaran ide dan metode kami. Yang pertama, kami menyebarkan selebaran di tempat-tempat kerja. Kami mengusulkan agar sekelompok mahasiswa bangun pagi dan menyebarkan selebaran ke tempat-tempat kerja di Cambridge, memberi tahu pekerja apa yang sedang terjadi dan berbicara dengan mereka mengenai isu-isu yang kami hadapi. Selain itu, kami mengorganisir kontak-kontak serikat buruh kami untuk datang dan memberikan ceramah di okupasi. Hasilnya sangat baik. Kami menerima donasi makanan dan uang yang besar dari serikat buruh dan dari publik. Saya tidak akan lupa pengalaman saya ketika sedang ronda jam 6 pagi di luar yang bersalju dan menerima empat kotak kue dari penduduk setempat. Aksi-aksi solidaritas ini sangat membantu untuk menunjukkan kepada mahasiswa pentingnya membentuk hubungan dengan gerakan buruh.

Selain itu, saya juga menggunakan okupasi ini sebagai alasan untuk mengunjungi ranting-ranting serikat buruh dan demo-demo di Cambridge dan tempat-tempat lain. Saya mendapatkan respon baik di berbagai  pertemuan serikat buruh, di mana saya memberitahu para anggota serikat buruh kalau para mahasiswa akan mendukung aksi mereka. Di sebuah demo di Norwich, saya berhasil menjual 20 koran dan mendapat dua kontak (yang sekarang adalah anggota IMT) setelah berbicara di atas platform sebagai perwakilan okupasi Cambridge.

Hal kedua adalah Pertemuan Umum (General Assembly) yang kami bantu organisir pada akhir okupasi. Gagasan ini tidak mendapatkan banyak dukungan dari elemen-elemen yang lebih anarkis, yang selalu menentang setiap usaha untuk melebarkan gerakan ini di luar mahasiswa. Lagi, kami berhasil menunjukkan kekeliruan sikap tersebut dengan menunjukkan secara praktek apa itu gerakan buruh. Kami menghubungi setiap kontak yang kami punya di gerakan buruh – akvitis-aktivis buruh, anggota Partai Buruh dan dewan kota, dsbnya. – dan mengundang mereka ke sebuah pertemuan besar di ruang yang kami okupasi untuk mendiskusikan “apa perjuangan selanjutnya untuk melawan pemotongan”. Responnya luar biasa. Sekitar 300 orang berdesakan di ruangan yang kecil – termasuk mahasiswa, guru-guru, dan akvitis buruh – dan banyak yang tidak bisa masuk karena tidak ada ruang. Satu per satu orang-orang dari berbagai latar belakang berdiri dan menyampaikan bagaimana gerakan mahasiswa memberikan inspirasi dan semua orang memberikan solidaritas mereka.

Cara-cara seperti ini adalah cara terbaik untuk membuktikan kekeliruan ide-ide anarkis atau ultra-Kiri. Gagasan-gagasan anarkis dan ultra-Kiri berkembang ketika gerakan buruh lemah atau tidak aktif, tetapi dapat dilawan dengan mendemonstrasikan bahwa gerakan buruh masihlah eksis dan adalah kekuatan besar di masyarakat.

Kampanye Pemilihan Kampus

Kami sekarang punya sepuluh anggota di ranting, termasuk 8 mahasiswa, dan juga lingkaran simpatisan yang besar dari intervensi-intervensi kami di gerakan mahasiswa dan kelompok diskusi Marxis. Kami memutuskan untuk menggunakan posisi yang kuat ini untuk memajukan kandidat presiden serikat mahasiswa dan meraih massa yang lebih luas.

Kami melewati semua ekspektasi dan meraih suara kedua terbanyak (dari tiga kandidat). Kami meraup suara paling banyak dibandingkan semua kandikat Kiri yang pernah ada. Kami meraih 1000 suara dan memobilisasi mahasiswa untuk memberikan dukungan mereka pada program militan menentang pemotongan dan pendidikan gratis, dan menyerukan serikat mahasiswa untuk berjuang. Pada akhirnya, kaum kanan ketakutan dan memobilisasi besar-besaran untuk mencegah kami menang.

Selain itu, kami sekali lagi mengekspos kekeliruan gagasan ultra-Kiri yang ada di pikiran banyak aktivis bahwa serikat mahasiswa adalah tidak lebih dari sebuah birokrasi kanan yang tidak akan pernah bisa direbut oleh Kiri. Bahkan banyak sekali kaum anarkis keras yang mencoba menumpulkan program kami dan membuatnya lebih reformis karena mereka tidak yakin kita akan bisa menang dengan program militan. Sebaliknya, kami menunjukkan kalau sebuah program yang militan dapat mendapatkan dukungan. Pada kenyataannya, elemen-elemen yang tidak begitu anarkis yang justru banyak membantu kampanye kami karena kami dianggap serius dalam usaha kami dan tidak hanya terus menerus menyerukan aksi langsung.

Kesuksesan lainnya adalah kami mendapatkan dukungan resmi dari Cambridge University Labour Club (CULC) dalam kampanye kami, walaupun ada seorang anggota Partai Buruh lainnya yang ikut pemilihan presiden. Saya telah terlibat dengan CULC secara reguler, menghadiri pertemuan mereka dan menulis untuk blog mereka, dan juga membantu mereka beberapa kali di pemilu. Beberapa tahun yang lalu saya jugan mengorganisir kedatangan anggota parlemen John McDonnell untuk berbicara di CULC. Kerja kecil ini akhirnya membuahkan hasil, dan dukungan CULC membuktikan bahwa kami bukanlah sebuah sekte kecil.

Yang paling penting, kami berhasil merekrut sejumlah kamerad dari kampanye ini, dan juga meraih sejumlah kontak. Akan tetapi, kita seharusnya dapat lebih berhasil dalam perekrutan. Kami menemukan kesulitan untuk menghubungkan kandidat kami dengan panji IMT. Ini adalah masalah yang sering kami hadapi di banyak kegiatan. Ini adalah sesuatu yang setiap kamerad harus perhatikan dengan serius.

Kendati demikian, kampanye pemilihan presiden ini mendemonstrasikan pentingnya terlibat di gerakan mahasiswa sebagai sebuah kekuatan yang dinamis, dan bukan hanya sebuah kelompok diskusi di pinggiran gerakan. 1000 suara yang kami raih tidak akan mungkin dapat kami lakukan tanpa lingkaran pendukung yang telah kami bangun lewat kerja konsisten dan sabar kami. Tugas dari ranting Cambridge adalah membangun dari ini dan menunjukkan bahwa kami adalah kekuatan politik terorganisir di universitas.

Karena intervensi kami di gerakan mahasiswa dan kampanye pemilihan presiden, kami sekarang punya sejumlah peluang yang terbuka untuk kami, termasuk merekrut sejumlah kontak pelajar SMA. Sekali lagi, kerja ini dapat kita gabungkan dengan kerja kampus kita. Kontak-kontak pelajar SMA kami menghadiri pertemuan diskusi Marxis secara reguler, dan juga sejumlah penduduk setempat. Kami juga berencana mengirim dua atau tiga kamerad ke CULC untuk melakukan kerja di sana. Namun, kami mampu mengeksplorasi peluang-peluang ini karena kami berhasil merekrut dari Kelompok Diskusi Marxis dan gerakan mahasiswa di periode sebelumnya. Ini adalah tugas kunci dari semua kamerad: merekrut satu dua supaya kita dapat mengintervensi lebih efektif.

Membangun Organisasi

Kapanpun kita mengintervensi, kita harus berpikir: apa yang kita investasikan dan apa yang kita dapatkan. Tidak ada gunanya mengorganisir pertemuan-pertemuan, atau terus mengintervensi, bila kita tidak menghubungkan apa yang kita katakan dengan siapa kita. Kita harus membuat jelas kepada siapapun kalau kita adalah seorang revolusioner, dan bahwa kita adalah sebuah organisasi, dan bukan hanya sekelompok individu yang pandai bicara. Kita tidak boleh menyembunyikan politik kita.

Koran kita adalah alat terbaik untuk menghubungkan intervensi kita dengan partai kita. Bila kau berdiri dan berbicara di sebuah pertemuan, kau harus memperhatikan siapa yang setuju denganmu dan orang-orang yang berpendapat serupa. Dekati orang-orang ini setelah pertemuan dan berdiskusi dengan mereka. Tawari mereka koran kita dan catat kontak mereka. Jangan hanya berkumpul dengan orang-orang yang sama.

Juga, kalau kita mengorganisasi sebuah acara, pastikan menyiapkan  kertas untuk mengumpulkan email dan nomor telpon mereka. Lakukan diskusi dengan orang-orang baru. Masukkan mereka ke jaringan FB dan kirim mereka link ke materi-materi kita.

Setiap saat, kita harus selalu memikirkan perekrutan. Dalam kata lain kita harus ingat setiap saat bahwa tujuan kita adalah membangun kekuatan Marxisme, membangun IMT. Ini tidaklah selalu mudah. Butuh keteguhan, kesabaran, dan keberanian. Yang terutama, butuh pemahaman penuh akan ide-ide Marxisme. Pertama-tama, organisasi kita adalah sekumpulan gagasan. Kita sedang melatih kader-kader, orang-orang yang menguasai ide-ide Marxisme dan pada gilirannya akan dapat memainkan peran kepemimpinan dalam perjuangan buruh dan mahasiswa yang akan datang.

Adam Booth, Cambridge,

29 Agustus 2011

Translation: Militan (Indonesia)