Pasifisme Sebagai Pelayan Imperialisme

PrintE-mail

Tidak pernah ada begitu banyak kaum pasifis di dunia seperti sekarang ini, ketika di semua negeri manusia saling membunuh. Setiap epos sejarah tidak hanya memiliki tekniknya sendiri dan bentuk politiknya sendiri, tetapi juga kemunafikannya sendiri yang unik. Dulu kala, manusia saling menghancurkan atas nama ajaran Kristen mengenai cinta kasih kemanusiaan. Sekarang, hanya pemerintah-pemerintah terbelakang saja yang berperang atas nama Yesus Kristus. Negara-negara progresif saling memotong leher masing-masing atas nama pasifisme.

Wilson[1] menyeret Amerika ke peperangan atas nama Liga Bangsa-Bangsa dan perdamaian abadi. Kerensky[2] dan Tsereteli[3] memerintahkan serangan ofensif demi perdamaian secepatnya.

Epos kita tidak memiliki satire-satire macam Juvenal[4]. Biarpun begitu, bahkan senjata satire yang paling kuat pun beresiko menjadi tak berdaya di hadapan kekejian dan kebodohan, dua elemen yang dibebaskan oleh perang ini.

Pasifisme memiliki benang sejarah yang sama seperti demokrasi. Kaum borjuis membuat satu usaha historis untuk mengatur semua hubungan antara manusia berdasarkan akal sehat, untuk menggantikan tradisi yang buta dan bodoh dengan institusi pemikirian kritis. Gilda-gilda yang merupakan halangan bagi produksi, institusi-institusi politik dengan privilese-privilese mereka, absolutisme monarkis – semua ini adalah sisa-sisa dari zaman pertengahan. Demokrasi borjuis menuntut persamaan hukum untuk kompetisi bebas, dan parlementerisme sebagai metode untuk mengatur perkara-perkara publik. Kaum borjuasi juga ingin mengatur hubungan-hubungan nasional dengan cara yang sama. Tetapi disini ia berbenturan dengan perang, yakni sebuah metode penyelesaian semua masalah yang merupakan penyangkalan penuh terhadap “akal sehat”. Jadi mereka mulai menganjurkan kepada orang-orang lewat puisi, etika, dan metode-metode bisnis, bahwa jauh lebih berguna bagi mereka untuk memperkenalkan perdamaian abadi. Inilah argumen logis dari pasifisme.

Akan tetapi kelemahan dasar pasifisme adalah kejahatan fundamental yang merupakan karakter dari demokrasi borjuis. Kritiknya hanya menyentuh permukaan fenomena sosial saja. Ia tidak punya keberanian untuk memotong lebih dalam ke fakta-fakta ekonomi yang menjadi dasarnya. Namun realisme kapitalis mengharapkan perdamaian abadi berdasarkan keharmonisan logika, dan ia mengharapkan ini mungkin lebih menyedihkan daripada gagasan kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Kapitalisme, yang mengembangkan ilmu teknik dengan basis rasional, gagal mengatur kondisi masyarakat secara rasional. Ia mempersiapkan senjata-senjata penghancur massal yang bahkan tidak pernah termimpikan oleh “kaum barbar” dari abad pertengahan.

Situasi internasional yang memburuk dengan cepat dan pertumbuhan pesat militerisme menghancurkan tanah pijakan di bawah kaki pasifisme. Tetapi pada saat yang sama, kekuatan-kekuatan ini memberikan pasifisme sebuah kehidupan yang baru di depan mata kita, sebuah kehidupan yang berbeda dari yang sebelumnya, seperti merah-darah matahari terbenam berbeda dari merahnya fajar.

Sepuluh tahun sebelum perang ini [Perang Dunia Pertama – Ed.] adalah periode yang disebut “perdamaian bersenjata”. Seluruh periode tersebut pada kenyataannya tidak lain adalah peperangan yang tidak terinterupsi, sebuah perang yang dilakukan di daerah-daerah koloni.

Perang ini dilakukan di tanah-tanah rakyat yang terbelakang dan lemah. Ini menyebabkan partisipasi Afrika, Polynesia, dan Asia, dan mempersiapkan jalan bagi peperangan hari ini. Tetapi, karena tidak pernah ada perang Eropa sejak 1871, walaupun telah ada sejumlah kecil konflik-konflik yang tajam, opini umum di antara kaum borjuis kecil telah secara sistematis didorong untuk melihat tentara yang semakin membesar sebagai jaminan perdamaian, yang secara perlahan-lahan akan membuahkan hasil di dalam sebuah organisasi hukum internasional yang popular. Sementara bagi negara-negara kapitalis dan bisinis-bisnis besar, mereka sama sekali tidak keberatan dengan interpretasi “pasifis” dari militerisme ini. Sementara konflik-konflik dunia sedang dalam persiapan, dan bencana dunia sedang menunggu.

Secara teori dan politik, pasifisme memiliki basis yang sama dengan doktrin keharmonisan sosial antara kepentingan-kepentingan kelas yang berbeda.

Pertentangan antara negara-negara kapitalis memiliki basis ekonomi yang sama dengan perjuangan kelas. Bila kita siap menerima kemungkinan menumpulnya perjuangan kelas secara gradual, maka kita juga harus siap menerima kemungkinan menumpulnya konflik-konflik nasional dan regulasi konflik-konflik tersebut.

Penjaga ideologi demokrasi, dengan semua tradisi dan ilusinya, adalah kaum borjuis kecil. Selama paruh kedua abad ke 19, borjuasi kecil telah berubah sepenuhnya, tetapi ia belumlah hilang dari panggung. Pada saat yang sama dimana perkembangan teknik kapitalis telah melemahkan peran ekonomi borjuasi kecil, hak memilih universal dan wajib militer memberikan mereka kekuatan politik – di permukaan luar – karena jumlah mereka yang besar. Dimana kapitalis kecil belumlah tersingkir sepenuhnya oleh bisnis raksasa, ia sepenuhnya tunduk pada sistem kredit. Perwakilan kapitalis besar juga menundukkan kaum borjuis kecil di bidang politik, dengan mengambil semua teori-teori dan prasangka-prasangka mereka dan memberi mereka nilai yang palsu. Inilah penjelasan dari fenomena yang kita saksikan selama sepuluh tahun sebelum perang, ketika imperialisme reaksioner tumbuh besar, sementara pada saat yang sama ilusi demokrasi borjuasi juga tumbuh, dengan semua reformisme dan pasifismenya. Kapitalis besar menundukkan borjuasi kecil pada tujuan imperialisnya dengan menggunakan prasangka-prasangka kaum borjuis kecil itu sendiri.

Prancis adalah contoh klasik dari proses ganda ini. Prancis adalah sebuah negara kapital-finansial yang berdiri di atas basis kaum borjuis kecil yang jumlahnya banyak dan secara umum konservatif. Berkat pinjaman asing, koloni-koloni, dan aliansi dengan Rusia dan Inggris, strata atas dari populasi Prancis terseret ke semua kepentingan dan konflik kapitalisme dunia. Sementara, kaum borjuis kecil Prancis masihlah tetap terbelakang sampai ke tulang sumsumnya. Secara insting dia takut dengan geografi, dan selama hidupnya dia sangat ketakutan dengan peperangan, terutama karena dia biasanya hanya punya satu anak, yang akan mewarisi bisnis dan perabotannya. Kaum borjuis kecil ini mengirim kaum borjuis Radikal[5] ke parlemen untuk mewakilinya, karena tuan-tuan borjuis Radikal ini berjanji padanya bahwa dia akan mempertahankan perdamaian baginya dengan Liga Bangsa-Bangsa di satu pihak dan dengan Cossask Rusia yang akan memenggal kepala Kaiser Jerman di pihak yang lain. Para deputi Radikal ini tiba di Paris dari lingkaran para pengacaranya yang terbelakang, yang tidak hanya penuh dengan hasrat untuk perdamaian, tetapi juga dengan ketidaktahuan dimana letak Teluk Persia, dan tanpa pengetahuan jelas mengapa atau untuk siapa Rel Kereta Baghdad dibangun. Para deputi “pasifis radikal” ini menyediakan dari antara mereka seorang Menteri Radikal, yang segera menemukan dirinya terjerat oleh benang kusut segala macam perjanjian diplomatik dan militer sebelumnya yang telah diteken oleh berbagai kepentingan finansial Bursa Saham Prancis di Rusia, Afrika, dan Asia. Kabinet dan Parlemen Prancis tidak pernah menghentikan fraseologi pasifisme mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menjalankan kebijakan asing yang akhirnya membawa Prancis ke peperangan.

Pasifisme Inggris dan Amerika, kendati semua perbedaan kondisi sosial dan ideologi (kendati juga ketiadaan ideologi di Amerika), melakukan kerja yang sama: mereka menyediakan sebuah jalan keluar bagi ketakutan kaum borjuis kecil pada peristiwa-peristiwa dunia yang menggemparkan, yang hanya dapat merebut sisa-sisa kemandirian mereka; mereka meninabobokan kaum borjuis kecil dengan gagasan pelucutan senjata, hukum internasional, dan pengadilan dunia yang tidak berguna. Lalu, pada saat tertentu, mereka menyerahkan tubuh dan jiwanya ke imperialisme kapitalis yang telah memobilisasi semua sumber daya untuk tujuan ini: yakni, pengetahuan teknologi, seni, agama, pasifisme borjouis dan “Sosialisme” patriotik.

“Kami menentang perang. Deputi-deputi kami, menteri-menteri kami, semua menentang perang,” teriak kaum borjuis kecil Prancis. “Oleh karenanya, jelas kalau perang ini dipaksakan pada kami, dan untuk merealisasikan ideal-ideal pasifis kami, kita harus melanjutkan peperangan ini sampai ke kemenangan akhir.” Dan perwakilan pasifisme Prancis, Baron d’Estournel de Constant, mentahbiskan filosofi pasifisnya dengan seruan khidmat “jusqu’au bout!” – perang sampai akhir!

Satu hal yang paling dibutuhkan oleh Bursa Saham Inggris untuk melakukan peperangan dengan sukses adalah seorang pasifis seperti Asquith[6], seorang liberal, dan demagog radikal Lloyd George[7]. “Bila orang-orang ini yang menjalankan peperangan,” kata orang-orang Inggris, “maka tentu kebenaran ada di pihak kita.”

Jadi pasifisme memiliki perannya tersendiri di dalam mekanisme peperangan, seperti gas beracun, dan hutang perang yang terus menumpuk.

Di Amerika Serikat, pasifisme borjuis kecil menunjukkan dirinya dalam perannya yang sesungguhnya, sebagai pelayan imperialisme, dan dengan cara yang bahkan lebih terbuka. Di sana, seperti di tempat lain, bank-bank dan sindikat-sindikat bisnis yang sesungguhnya mengendalikan politik. Bahkan sebelum peperangan, berkat perkembangan industri yang pesat, dan juga karena perdagangan ekspor, AS telah bergerak ke arah kepentingan-kepentingan dunia dan imperialis. Tetapi peperangan Eropa mendorong perkembangan imperialis ini menjadi lebih cepat. Saat dimana banyak orang-orang saleh (termasuk Kautsky[8]) berharap kalau kekejaman pembantaian di Eropa akan membuat kaum borjuasi Amerika dipenuhi dengan rasa takut terhadap militerisme, pengaruh yang sesungguhnya terhadap peristiwa-peristiwa di Eropa berlangsung bukan dalam garis psikologi tetapi dalam garis material, dan ini memberikan hasil yang sama sekali berlawanan. Ekspor AS, yang pada tahun 1913 berjumlah 2446 juta dolar, meningkat pada tahun 1916 menjadi 5481 milyar dollar. Tentunya sebagian besar ekspor ini datang dari industri perang. Lalu tiba-tiba datang ancaman penghentian ekspor ke negara-negara Sekutu, ketika peperangan kapal selam yang terbatas mulai. Pada tahun 1915, pihak Sekutu telah mengimpor produk-produk AS sebanyak 15 milyar dolar, sementara Jerman dan Austria-Hungaria hanya mengimpor 15 juta. Oleh karenanya, laba seluruh industri Amerika yang berbasiskan industri perang terancam. Dari angka-angka inilah kita harus mencari kunci dari perpecahan “simpati-simpati” di Amerika. Dan oleh karenanya kaum kapitalis memohon kepada pemerintah: “Kalianlah yang memulai perkembangan industri perang ini di bawah panji pasifisme, sekarang adalah kewajiban kalian untuk menemukan pasar baru untuk kami.” Bila pemerintah tidak ada di posisi untuk menjanjikan “kebebasan di lautan” (dalam kata lain, kebebasan untuk memeras laba dari darah manusia) maka ia harus membuka sebuah pasar baru untuk industri perang yang terancam, dan pasar baru ini adalah Amerika sendiri. Jadi pembataian di Eropa menghasilkan militerisasi AS.

Tak diragukan kalau ini akan membangkitan oposisi dari rakyat banyak. Untuk menghapus ketidakpuasan ini, dan mengubahnya menjadi patriotisme adalah tugas politik domestik AS yang terpenting. Dan sungguh suatu ironi takdir bahwa pasifisme Wilson, seperti pasifisme “oposisi” Bryan[9], menyediakan senjata terampuh untuk pelaksanaan tugas ini, yakni menenangkan massa dengan metode militeristik.

Bryan dengan cepat mengekspresikan dengan lantang ketidaksukaan alami para petani dan kaum borjuis kecil pada imperialisme, militerisme, dan kenaikan pajak. Tetapi pada saat yang sama ketika dia mengirim bergerobak-gerobak petisi dan perutusan ke kawan-kawan pasifisnya, yang menduduki posisi tinggi di pemerintahan, Bryan juga melakukan segala usaha untuk menghancurkan kepemimpinan revolusioner dari gerakan ini.

“Bila akhirnya perang meledak,” ujar Bryan di sebuah telegram kepada sebuah pertemuan anti-perang di Chicago pada bulan Februari, “maka tentu saja kita harus mendukung pemerintahan kita. Tetapi sampai saat itu terjadi, adalah tugas suci kita untuk berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan rakyat dari horor peperangan.” Di dalam kata-kata ini terjabar seluruh program pasifisme borjuis kecil.. “Mencegah perang sekuat tenaga kita,” berarti menyediakan saluran pelampiasan untuk oposisi massa dalam bentuk manifesto-manifesto tak berbahaya, dimana pemerintah diberi jaminan kalau perang pecah maka tidak akan ada halangan dari oposisi pasifis.

Inilah pasifisme resmi yang dipersonifikasikan oleh Wilson, yang telah memberikan banyak bukti kepada kaum kapitalis yang berperang bahwa dia “siap berjuang.” Dan bahkan Mr. Bryan sendiri merasa cukup membuat pernyataan ini, yang setelahnya dia siap mengesampingkan oposisinya terhadap perang, hanya untuk satu tujuan – mendeklarasikan perang. Seperti Mr. Wilson, Mr. Bryan bergegas menyebrang ke sisi pemerintah. Dan bukan hanya kaum borjuis kecil, tetapi juga massa rakyat, mengatakan pada diri mereka sendiri: “Bila pemerintah kita, yang dipimpin oleh seorang pasifis dengan reputasi dunia seperti Wilson, dapat mendeklarasikan perang, dan Bryan sendiri dapat mendukung pemerintah dalam peperangan ini, maka tentu ini adalah sebuah perang yang benar dan diperlukan.” Inilah mengapa pasifisme yang saleh dan penakut, yang terbuai oleh demagog-demagog pemerintah, begitu dinilai tinggi oleh bursa-bursa saham dan para pemimpin industri perang.

Menshevik kita sendiri, pasifisme sosial-revolusioner, kendati perbedaan penampilan luar mereka, memainkan peran yang sama. Resolusi perang, yang diadopsi oleh mayoritas Kongres Soviet Buruh dan Tentara Seluruh Rusia [Catatan: ketika Soviet masih dikuasai oleh Menshevik – Ed.], tidak hanya diambil dengan berdasarkan prasangka pasifis umum mengenai perang, tetapi juga berdasarkan karakteristik perang imperialis. Kongres ini mendeklarasikan bahwa “tugas utama dan terpenting demokrasi revolusioner” adalah pengakhiran perang dengan secepatnya. Tetapi semua asumsi ini hanya diarahkan pada satu tujuan: selama usaha-usaha internasional dari negara-negara demokrasi telah gagal mengakhiri perang, maka demokrasi revolusioner Rusia menuntut dengan semua kekuatannya bahwa tentaranya harus siap berperang, secara defensif maupun ofensif.

Revisi perjanjian-perjanjian internasional lama membuat Kongres Rusia tergantung pada pemahaman sukarela dengan diplomasi Sekutu, dan bukanlah kebiasaan para diplomat ini untuk melikuidasi karakter imperialistik dari peperangan ini, bahkan bila mereka mampu. “Usaha-usaha internasional dari negara-negara demokrasi” membuat Kongres Rusia dan para pemimpinnya bergantung pada kehendak para patriot sosial-demokrat, yang terikat kaki dan tangannya pada pemerintahan imperialis mereka. Dan mayoritas kongres yang sama ini, setelah terseret ke gang buntu dengan “pengakhiran perang dengan secepatnya” sekarang telah tiba dengan sendirinya pada kesimpulan politik praktis ini: lakukan serangan ofensif. Sebuah “pasifisme” yang mendorong kaum borjuis kecil dan kita untuk mendukung serangan ofensif tentunya akan disambut hangat bukan hanya oleh imperialisme Rusia tetapi juga oleh imperialisme Sekutu.

Miliukov[10], misalnya, mengatakan: “Demi loyalitas kita pada para Sekutu dan perjanjian-perjanjian (imperialis) lama kita, kita harus melakukan ofensif.”

Kerensky dan Tseretelli mengatakan: “Walaupun perjanjian-perjanjian lama kita belumlah diubah, serangan ofensif adalah tak terelakkan.”

Argumennya berbeda, tetapi kebijakannya sama. Dan ini tidak bisa lain, karena Kerensky dan Tseretelli terikat dengan partainya Miliukov [Partai borjuis liberal Rusia, yakni Partai Kaded – Ed.].

Untuk alasan inilah tugas terpenting dari diplomasi Rusia bukanlah untuk menbujuk diplomasi Sekutu untuk mengubah perjanjian ini atau itu, atau untuk membatalkan sesuatu, tetapi untuk meyakinkan mereka bahwa revolusi Rusia adalah sesuatu yang dapat diandalkan, dan dapat dipercaya.

Duta besar Rusia, Bachmatiev, dalam pidatonya di hadapan Kongres Amerika Serikat pada tanggal 10 Juni, juga mengkarakterisasikan aktivitas Pemerintahan Provisional dari sudut pandang ini:

“Semua peristiwa-peristiwa ini,” katanya, “menunjukkan bahwa kekuatan dan signifikansi Pemerintahan Provisional sedang tumbuh tiap harinya, dan semakin mereka tumbuh besar semakin pemerintahan ini mampu menyingkirkan semua elemen-elemen pemecah, yang datang dari reaksi maupun dari agitasi kiri ekstrim. Pemerintahan Provisional telah memutuskan untuk mengambil semua langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini, bahkan bila ia harus menggunakan kekerasan, walaupun pemerintahan ini tidak berhenti untuk mencari solusi damai dari masalah-masalahnya.”

Kita tidak perlu ragu kalau “kehormatan nasional” dari para patriot sosial-demokrat kita tidaklah terusik sementara duta besar dari “demokrasi revolusioner” dengan bersemangat membuktikan kepada plutokrasi Amerika bahwa pemerintahan Rusia siap menumpahkan darah kaum proletar Rusia demi hukum dan ketertiban. Elemen terpenting dari hukum dan ketertiban adalah dukungan loyalnya terhadap kapitalisme Amerika.

Dan di saat ketika Herr Bachmatief sedang berdiri sambil memegang topinya, dan dengan rendah hati berbicara di hadapan para dubuk Bursa Saham Amerika, Tuan Tseretelli dan Kerensky sedang mempersiapkan kuping “demokrasi revolusioner”, untuk meyakinkan mereka bahwa tidak mungkin “anarki kiri” dapat diperangi tanpa menggunakan kekerasan, dan sedang mengancam untuk melucuti buruh Petrograd dan resimen yang mendukung mereka. Kita sekarang dapat menyaksikan bahwa ancaman-ancaman ini dihantarkan pada momen yang tepat: mereka adalah jaminan terbaik untuk mendapatkan pinjaman dari Amerika.

“Kau lihat, sekarang,” Tuan Bachmatiev mungkin berkata pada Mr. Wilson, “pasifisme revolusioner kami tidak berbeda sama sekali dari pasifisme Bursa Sahammu. Dan bila mereka percaya pada Mr. Bryan, mengapa mereka tidak akan percaya pada Tuan Tseretelli?”

Catatan:

[1] Woodrow Wilson (1856-1924) adalah Presiden AS ke-28, dari 1913-1921.  Dia memenangkan kampanye kepresidenannya dengan slogan “Dia mencegah kita terlibat dalam perang”. Namun kenetralan AS terancam pada awal 1917 ketika Jerman memulai perang kapal selam yang memblokade penjualan senjata AS ke Eropa, sehingga Wilson pun akhirnya mendeklarasikan keterlibatan AS dalam Perang Dunia Pertama pada April 1917.

[2]Alexander Kerensky (1882-1970) adalah anggota sayap kanan partai Sosialis Revolusioner. Saat Revolusi Februari, Kerensky adalah wakil ketua Soviet Petrograd. Dia menjadi Menteri Kehakiman dalam pemerintahan yang baru dibentuk. Dia lalu menjabat sebagai Perdana Menteri yang terakhir dari

[3] Irakli Tsereteli (1882-1959) adalah pemimpin Menshevik. Ia adalah anggota Komite Eksekutif Soviet Petrograd pada tahun 1917. Tsereteli menjadi Menteri Pos dan Telegraf pertama dalam Pemerintahan Sementara. Setelah insiden Juli pada tahun 1917 dia menjadi Menteri Dalam Negeri, menggantikan Prince Lvov. Setelah Revolusi Oktober Tsereteli memimpin blok anti Soviet dalam Majelis Konstituante yang menolak mengakui Pemerintahan Soviet. Selama Perang Sipil Tsereteli membantu mendirikan pemerintahan Menshevik di Georgia. Setelah Stalin memimpin Tentara Merah untuk menyerang Georgia (yang kemudian dikenal sebagai Insiden Georgia), pemerintahan Menshevik digulingkan dan Tsereteli kemudian meninggalkan Rusia.

[4] Juvenal adalah penyair Kerajaan Romawi di akhir abad pertama dan awal abad kedua.

[5] Partai Radikal Prancis adalah partai borjuis liberal di Prancis.

[6] Herbert Henry Asquith (1852-1928) adalah anggota Partai Liberal, yang menjadi Perdana Menteri Inggris dari tahun 1908-1916. Dia memimpin Inggris memasuki Perang Dunia Pertama, dengan mendeklarasikan perang melawan Jerman pada 4 Agustus 1914.

[7] David Lloyd George (1863-1945) adalah seorang politisi Inggris yang menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris selama Perang Dunia Pertama dari tahun 1916-1922

[8] Karl Kautsky (1854-1938) menyandang reputasi sebagai kawan lama Engels, ia termasuk pendiri Internasionale Kedua, dan pembela Marxisme di masa awal dalam menghadapi revisionisme Berstein. Akan tetapi, dengan semakin mendekatnya tugas-tugas praktek dari revolusi, makin bimbanglah Kautsky, dengan lihai ia menutupi penolakannya terhadap Marxisme revolusioner dengan menggunakan tetek bengek sofis dan ungkapan-ungkapan 'Marxis'. Ia menjadi duri dalam daging dalam Revolusi Oktober di Rusia 1917.

[9] William Jennings Bryan (1860-1925) adalah seorang politisi Partai Demokrat yang menjadi Sekretaris Negara di bawah Presiden Wilson. Dia adalah seorang pasifis yang awalnya tidak setuju dengan keterlibatan AS dalam Perang Dunia Pertama.

[10] Pavel Nikolayevich Milyukov (1859-1943). Profesor di Universitas Sejarah Moscow. Anggota Duma Ketiga dan Keempat. Seorang organiser dan pemimpin Partai Cadet. Setelah Revolusi Februari, Milyukov menjadi Menteri Luar Negeri dalam Pemerintahan Sementara. Dia adalah seorang sosial sovinis selama Perang Dunia Pertama, yang mengirim surat atas nama pemerintahan sementara untuk pemerintahan Sekutubahwa Rusia siap untuk melanjutkan perang  hingga “kemenangan akhir “. Dia menjadi anti Bolshevik pada tahun 1918-19. Dia disingkirkan dari posisinya pada April 1917, sebagai akibat dari demonstrasi massa pekerja dan tentara melawan dilanjutkannya perang. Pada Agustus 1917, Milyukov mendukung usaha kudeta Kornilov terhadap Pemerintahan Sementara. Mengikuti kegagalan ini, Milyukov meninggalkan Rusia, kemudian membantu Tentara Putih yang menginvasi Rusia tahun berikutnya.

______________________________

Sumber: Communist International, Edisi Bahasa Inggris, No. 5. Tidak ada tanggal kapan artikel ini diterbitkan, namun artikel ini jelas ditulis pada periode Pemerintahan Provisional pertengahan tahun 1917, ketika Menshevik masih memiliki mayoritas di Kongres Soviet

Penerjemah: Ted Sprague (1 Oktober 2011) dari Pacifism as the Servant of Imperialisme , Leon Trotsky Internet Archive

Translation: Militan (Indonesia)

Home » Other languages » Bahasa Indonesia