Marxis Menang Pemilu di Pakistan, di Tengah Kegelapan Taliban

Waziristan, daerah Pakistan utara yang berbatasan dengan Afghanistan, lama telah dikenal sebagai sarang Taliban dan Al-Qaeda. Sebuah daerah yang miskin dan penuh kesengsaraan, dimana mayoritas rakyatnya hidup di bawah cekikan feodalisme dan kekuatan gelap islam fundamentalisme yang menjadi pentungan kaum feodalis. Belakangan ini penderitaan mereka diperparah dengan serangan-serangan pesawat drone dari militer AS, yang “perang melawan teror”nya justru menjadi teror terhadap rakyat miskin Waziristan. Waziristan, de fakto, adalah zona perang.

Namun di tengah semua kekuatan gelap itu, ada secercah cahaya yang muncul. Kamerad Ali Wazir, seorang Marxis dari The Struggle, yakni seksi Pakistan dari International Marxist Tendency (IMT), memenangkan pemilu di Waziristan Selatan. Dengan program-program sosialis, pendidikan gratis dan kesehatan gratis, menentang imperialisme dan terorisme, dan slogan revolusioner “roti, kapra aur maqan” (Roti, Sandang, dan Papan; slogan dari periode revolusi Pakistan 1968-69), dia memenangkan hati dan pikiran rakyat Waziristan.

Dengan program pendidikan dan kesehatan gratis, Ali Wazir berusaha melawan berbagai prasangka terbelakang yang disebarkan kekuatan gelap Islam Fundamentalisme di daerah sana, yang melarang wanita bersekolah dan ikut pemilu, serta hak-hak lainnya. Bahkan banyak pemimpin agama yang menentang kampanye penghapusan polio, dengan menyebar ajaran-ajaran keliru bahwa vaksinasi polio adalah usaha imperialis untuk mensterilisasi dan mengurangi populasi Muslim, bahwa vaksin polio haram karena dibuat dari minyak babi, bahwa anak-anak yang mati karena polio adalah martir karena mereka melawan konspirasi “polio” Amerika.

Terlebih lagi sebagai seorang Marxis, sebagai seorang komunis, kampanye kamerad Ali Wazir tentunya mendapatkan serangan-serangan dari kaum fundamentalis. Sering dia mendapatkan ancaman pembunuhan, tidak hanya dari kaum fundamentalis tetapi juga dari tentara Pakistan. Paman dan kakak laki-lakinya sudah menjadi korban dari pembunuhan oleh kekuatan reaksi gelap. Tetapi sebagai seorang komunis, ini tidak membuatnya takut atau ragu untuk maju sebagai kandidat Marxis.

Kamerad-kamerad The Struggle biasanya ikut pemilu lewat tiket PPP (Pakistan People Party; Partai Rakyat Pakistan). PPP adalah partai massa rakyat yang lahir dari Revolusi 1968-1969, dengan pemimpin karismatiknya Zulfiqar Ali Bhutto. Manifesto PPP saat itu menyatakan bahwa “Tujuan utama dari program partai ini adalah pencapaian masyarakat tanpa kelas yang hanya mungkin melalui sosialisme”. Tradisi historis ini masih mengikat massa rakyat miskin kepada PPP walaupun telah terjadi kebangkrutan yang begitu parah di dalam partai ini.

Setiap kali kamerad-kamerad The Struggle ikut pemilu lewat PPP, ini mereka lakukan dengan program sosialis mereka sendiri, dan tidak mengikuti dikte dari pemimpin-pemimpin korup PPP. Mereka tidak menjual kemandirian kelas dan ideologi mereka hanya demi tiket pemilu, karena tiket pemilu bagi mereka adalah sarana agitasi dan propaganda. Inilah mengapa kamerad-kamerad The Struggle begitu dibenci oleh petinggi-petinggi PPP, tetapi para pemimpin ini tidak bisa menendang mereka keluar dari PPP begitu saja karena kamerad-kamerad Marxis The Struggle punya basis dukungan yang tidak bisa diremehkan di antara massa rakyat miskin PPP.

Tentunya dalam setiap kesempatan, petinggi-petinggi korup PPP melakukan berbagai manuver licik untuk mensabotase kaum Marxis. Di pemilu kali ini, gangster-gangster korup yang mengendalikan PPP memastikan tidak ada satupun anggota IMT yang dapat ikut pemilu dimanapun di Pakistan. Begitu takutnya mereka terhadap gagasan Marxis sehingga mereka lebih memilih kehilangan kursi di daerah-daerah seperti Karachi dan Swat dimana kamerad-kamerad The Struggle punya basis yang cukup kuat. Tetapi di Waziristan Selatan, sebuah daerah otonomi di Pakistan, kamerad Ali Wazir ikut pemilu sebagai independen, dan menang.

Sayangnya, dan tidak mengejutkan sebenarnya, kemenangan ini segera dirampok. Setelah diumumkan sebagai pemenang pada hari Minggu (12/5), yakni setelah 86% suara telah dihitung, tiba-tiba pada hari Senin (13/5) diumumkan bahwa pemilu akan diulang kembali pada 18 Mei. Ini jelas adalah manuver kotor dari ISI (Badan Intelijen Pakistan), yang ingin memastikan agar Mullah reaksioner yang memenangkan pemilu di Waziristan ini. Seorang Marxis memenangkan pemilu di sana adalah suatu hal yang tidak akan diijinkan. Pada 2008, kamerad Ali Wazir juga ikut pemilu di Waziristan sebagai kandidat dari PPP. Semua indikasi menunjukkan bahwa kamerad Ali Wazir akan menang, terutama karena pada tahun 2008 ada gelombang massa yang sedang mendukung PPP (tahun 2008, PPP menang pemilu). Tetapi kemenangannya dirampok juga pada 2008, dan bahkan dengan persetujuan dari petinggi-petinggi PPP itu sendiri, yang lebih memilih kehilangan kursi daripada melihat seorang Marxis terpilih.

Pemilu di Pakistan adalah pemilu yang sangat kotor. Kalau kita pikir di Indonesia sudah begitu kotornya, kita tidak akan bisa membayangkan Pakistan. Dalam kampanye ini saja sudah terjadi bunuh-bunuhan yang menelan ratusan korban. Politik uang, pembunuhan, teori, intimadasi, kecurangan, semua halal bagi para elit politik ini, yang adalah kumpulan pencuri, penipu, bandar narkoba, dan pemimpin fundamentalis reaksioner.

Kemenangan di tengah kegelapan ini, yang walaupun sudah dirampok, adalah sebuah bukti nyata akan kekuatan gagasan Marxisme. Hanya revolusi sosialis yang bisa menghancurkan seluruh kekuatan reaksioner di Pakistan dan menebas ular naga berkepala tiga ini, kapitalisme-imperialisme-feodalisme. Kamerad-kamerad The Struggle sedang membangun kekuatan Marxisme dengan sabar, menanam kader-kader mereka di seluruh penjuru Pakistan, dari kota besar hingga daerah rural seperti Waziristan. Inilah yang nantinya akan  menjadi pondasi kuat untuk revolusi sosialis mendatang.

Source: Marxis Menang Pemilu di Pakistan, di Tengah Kegelapan Taliban