Amerika Serikat: Tidak Ada Pilihan bagi Kaum Buruh?

Empat tahun telah berlalu sejak pemilu presidensial yang terakhir, dan sekali lagi, buruh Amerika mendapati dirinya tanpa pilihan-pilihan yang nyata. Jelas bila ia terpilih menjadi presiden, Mitt Romney akan melepaskan serangan “Scott Walker on steroids” habis-habisan terhadap klas buruh. Tapi apakah itu berarti bahwa kaum buruh tidak mempunyai pilihan kecuali memberikan suara mereka kepada Partai Demokrat? Apakah “kematian politik dan ekonomi di tiang gantungan” atau “kematian politik dan ekonomi karena tenggelam” benar-benar merupakan satu-satunya pilihan yang tersedia?

[Editorial oleh John Peterson untuk Majalah Socialist Appeal 67 – Mei-Juni 2012]

Sejumlah orang telah membandingkan President Obama dengan tes Rorschach. Tes ini adalah suatu ujian di mana para pesertanya diperlihatkan gambar-gambar berupa noda-noda tinta dan diminta untuk menafsirkannya. Setiap peserta “melihat” sesuatu yang berbeda di dalamnya, karena persepsi setiap orang dipengaruhi oleh cara-pandang, pengalaman-pengalaman, harapan-harapan, ketakutan-ketakutan, dan aspirasi-aspirasi mereka tersendiri. Pada tahun 2008, gerakan anti-perang melihat Obama sebagai sosok anti-perang, kendati sebenarnya bukan; serikat-serikat buruh memandangnya berpihak pada kaum buruh, padahal tidak; para pejuang lingkungan-hidup melihatnya sebagi sosok yang mendukung enerji bersih; para pendidik dan orangtua berpikir bahwa ia adalah seorang yang tepat untuk pendidikan publik yang kuat; dan sebagainya. Dengan perkataan lain, orang-orang melihat, dan terus melihat dalam diri Obama apa yang ingin mereka lihat padanya.

Semua teori ilmiah harus secara ketat diuji di dunia nyata. Mengapa ini berbeda untuk politik? Kita harus menilai individu-individu dan partai-partai bukan dari apa yang mereka katakan, tapi dari apa yang mereka lakukan. Lebih dari tiga tahun setelah masa jabatan pertamanya, fakta-fakta telah berbicara apa adanya. Tidak ada Employee Free Choice Act (Undang-undang Pilihan Bebas bagi Pekerja); tidak ada layanan kesehatan yang universal atau bahkan asuransi kesehatan publik; puluhan ribu pasukan masih di Irak dan Afghanistan, dan perang telah meluas ke Pakistan; Kamp X-Ray di Guantanamo belum ditutup; ia sama sekali belum pernah menghadiri satupun garis piket buruh untuk bersolidaritas dengan kaum buruh yang mogok; ia tidak mengakhiri konsesi-konsesi pajak (tax breaks) untuk perusahaan-perusahaan mengirim pekerjaan ke luar negeri. Belum lagi tidak ada moratorium (penundaan) terhadap penyitaan-penyitaan rumah, tidak ada pajak progresif terhadap kaum ultra-kaya; tidak ada pencabutan Undang-Undang Taft-Hartley yang anti-buruh, upah riil minimum tetap lebih rendah ketimbang pada tahun 1968, dsb.

Berikut ada satu-dua hal yang ia lakukan: memberikan bailout besar kepada bank-bank dan perusahaan-perusahaan asuransi besar; menyetujui kesepakatan-kesepakatan perdagangan bebas dengan Korea Selatan, Panama, dan Kolombia (negeri yang paling berbahaya di dunia bagi kaum serikat buruh); membalikkan dekade-dekade perlindungan terhadap lingkungan dengan mengakhiri kekuasaan pengaturan udara bersih EPA; mengesahkan penggunaan kapal-kapal laut Coast Guard melawan Longview, para buruh galangan kapal WA dalam perjuangan mereka melawan buruh pengkhianat. Melebihi segalanya, Partai Demokrat sedang menggelar konvensi nasional mereka di sebuah hotel yang tidak memiliki serikat buruh di North Carolina, yang mengadopsi hukum “Right to Work” (hukum “Right to Work” melarang serikat buruh closed shop) dengan tingkat serikat buruh yang paling rendah di negeri ini.

Tak heran bila semakin sukar bagi para pemimpin serikat buruh untuk mendorong anggota-anggota mereka untuk memilih! Setelah menyebut kesepakatan perdagangan bebas Kolombia “sangat-sangat mengecewakan dan menggelisahkan,” Presiden AFL-CIO Richard Trumka berbicara secara halus perihal tekanan yang dialaminya: “Semakin sering hal-hal ini terjadi, di mana kepentingan-kepentingan kaum buruh ditundukkan terhadap kepentingan-kepentingan lain,  ada dampak kumulatifnya, yang mempersulit kita untuk menyemangatkan anggota-anggota kita dan mendorong mereka untuk memilih pada musim gugur nanti.”

Trumka melakukan satu hal yang baik dengan menyoroti kesenjangan antara kaum kaya dan kaum miskin. Tapi ia tidak membawa analisisnya kepada kesimpulan logisnya: yakni diperlukannya sebuah partai buruh. Nampaknya dalih satu-satunya yang dimiliki oleh para pemimpin serikat buruh untuk tidak meluncurkan partai buruh adalah, “lihatlah kandidat yang lain!” Ini bukan sebuah argumen yang serius untuk mendukung kandidat-kandidat dan partai-partai yang kepentingan-kepentingannya secara tak terdamaikan bertentangan dengan kepentingan-kepentingan klas buruh. Karena itu kita mengajukan suatu solusi sederhana: buruh harus memiliki kandidat-kandidat “yang lain”, yakni kandidat-kandidatnya sendiri!

Kita butuh kandidat-kandidat yang akan berjuang untuk lapangan kerja, layanan kesehatan, dan pendidikan – yang semuanya universal – dan yang benar-benar bertanggungjawab terhadap konstituennya: kaum buruh. Mengapa tidak mengerahkan ribuan kandidat buruh yang independen untuk pemilu-pemilu di semua tingkatan pemerintahan? Jauh dari sekadar suara protes, kandidat-kandidat itu, dan sebuah partai buruh, sebenarnya bisa menang. Terutama sekali, bila kaum buruh adalah mayoritas, mengapa kita rela saja diperintah oleh perwakilan-perwakilan dari klas lain, yang justru merupakan musuh klas kita?

AFL-CIO telah memberikan dukungannya kepada Obama, suatu hal yang sangat mengecewakan anggota-anggotanya. Tapi ini belum terlambat. AFL-CIO telah menciptakan sebuah PAC (Komite Aksi Politik) super yang baru,  “Workers’ Voice” (Suara Kaum Buruh). Pada akhir 2011, organisasi ini telah mendulang $3.7 juta. Jutaan lagi pasti akan menyusul. Sumber daya ini harus dicurahkan untuk menjelaskan kebutuhan akan sebuah partai buruh yang berdasarkan serikat-serikat buruh, dan mengajukan kandidat-kandidat buruh. Secara dramatis ini akan menggeser perdebatan nasional di seputar pemilu 2012. Kita harus bekerja untuk membawa pesan ini ke serikat-serikat buruh lokal, sesama buruh, komunitas-komunitas, teman-teman, keluarga, gerakan Occupy, gerakan anti-perang, dan gerakan-gerakan hak-hak imigran, dan perjuangan-perjuangan lainnya.

Sebagaimana telah kita jelaskan pada tahun 2008 sehari setelah Obama terpilih, “Banyak orang tenggelam dalam euforia kemenangan Obama, dan tentu akan ada suasana bulan madu … Tapi dalam tempo yang relatif cepat,  kegembiraan ini akan surut dan kenyataan yang dingin akan tampil: tidak ada hal fundamental yang berubah. Kita masih hidup di bawah kapitalisme, dengan segala sesuatu yang mengiringinya: pengangguran, penyitaan-penyitaan rumah, kenaikan harga-harga, rasisme, jutaan warga-warga kelas dua dan kaum buruh, upah yang rendah, kondisi-kondisi yang memburuk, infrastruktur-infrastruktur yang membusuk, dan seterusnya.”

Krisis kapitalisme berarti pemotongan-pemotongan, penghematan, dan ketidakstabilan yang terus-menerus. Tidak ada solusi bagi mayoritas rakyat di dalam batasan-batasan sistem ini. Kita tidak dapat mengharapkan suatu partai pro-kapitalis yang akan melaksanakan kebijakan-kebijakan anti-kapitalis. Dipersenjatai dengan program sosialis, sebuah partai buruh akan menjadi basis tidak sekadar untuk “harapan”, tapi demi perubahan yang riil. ***

Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya, dari “United States: No Choice for Workers?”, Socialist Appeal (United States), 8 Mei 2012.

Translation: Militan (Indonesia)