Mesir: SCAF dan Ikhwanul Muslimin – Dua Sisi Reaksi

16 Agustus:Angkatan bersenjata Mesir telah menghantam dan membubarkan kamp-kamp protes para pendukung Ikhwanul Muslimin (IM) di alun-alun Al-Nahda dan Raba’a Al-Adawiyya di Kairo yang digunakan sebagai titik-titik pusat pengumpulan dan pengerahan massa mereka setelah tergulingnya Morsi. Hal ini menandai perubahan dramatis lainnya dalam situasi yang dihadapi oleh revolusi Mesir.

Sebagaimana yang telah diduga, operasi oleh aparatus represif negara Mesir ini – yang pada dasarnya mesin yang sama di bawah rezim Mubarak – dijalankan dengan kebrutalan yang ekstrim. Korbannya mencapai ratusan orang: 525 orang telah terbunuh (termasuk 43 orang dari aparat keamanan) pada 14 Agustus dan ribuan lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan, namun jumlah ini terus bertambah. Pemerintahan sementara telah mendeklarasikan situasi darurat negara sebulan lamanya dengan jam malam antara 19.00 hingga 06.00 di Kairo dan di 13 Gubernuran lainnya.

Perkembangan ini tidaklah mengejutkan dan merupakan akibat ketegangan antara dua mantan sekutu ini – para jenderal militer dan IM – yang mencapai titik pecah selama sebulan terakhir sejak penyingkiran dan penahanan Morsi pada Rabu, 3 Juli 2013.

Namun apa yang terjadi di Mesir setelah pertunjukan kekuatan dan kepercayaan diri yang hebat oleh gerakan perlawanan massif yang menyapu pemerintahan IM? Massa, yang berjuta-juta telah bertekad untuk menggulingkan Mubarak dan kemudian juga menggulingkan Morsi, secara sementara telah mundur dari panggung utama, dan meninggalkan medan pertempuran sehingga memberikan kesempatan pada kekuatan-kekuatan reaksioner untuk mengorganisir diri kembali. Persekutuan rapuh dari dua sayap borjuasi Mesir yang diwakili oleh IM dan Dewan Agung Militer (SCAF) telah berakhir menjadi bentrokan terbuka. Kedua kekuatan ini sama-sama reaksioner, namun kekerasan kejam aparatus negara masih berada di tangan para jenderal militer.

IM dan SCAF – Dua Kekuatan Reaksioner

Kamp-kamp yang diorganisir oleh IM telah digambarkan oleh media internasional mainstream sebagai versi “Muslim” dari gerakan alun-alun Tahrir: terorganisir dengan baik, damai, dan demokratis. Ini bukanlah pertama kalinya Reaksi -- sebagaimana juga yang terjadi pada kebangkitan fasisme dan Nazisme -- mengadopsi beberapa fitur gerakan revolusioner; namun dengan tujuan-tujuan reaksioner – untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan revolusioner.

Tak salah lagi inilah tujuan dari ofensif baru yang dilancarkan oleh para pimpinan IM: untuk mempertahankan “legitimasi” pemerintahan Morsi; untuk mengerahkan para anggota IM dan basis dukungan sosialnya (yang tidak secara kebetulan, kamp-kamp terbesar mereka berada di distrik Kairo Kota Nasr); untuk melawan apa yang mereka gambarkan sebagai suatu “kudeta”, sembari melambai-lambaikan bendera “demokrasi”. Namun pada saat yang bersamaan preman-preman bersenjata IM melancarkan serangan-serangan pembunuhan terhadap pemuda revolusioner.

Watak teramat reaksioner dari IM telah dibuktikan dengan curahan serangan yang meletus dan terus berlanjut setelah pembubaran kamp-kamp dimana serangan IM diarahkan pada umat Kristen Koptik. Kampanye pembunuhan dan pembakaran lusinan gereja, dilancarkan dan dijalankan dengan tujuan untuk menggelincirkan perjuangan ke arena yang mereka kehendaki yaitu perang saudara berdasarkan garis-garis sektarian. Secara insidental, baik militer maupun kepolisian tidak melakukan apapun untuk membela dan mempertahankan minoritas Koptik. Karena mereka juga memiliki kepentingan agar konflik berlangsung di atas garis-garis sektarian.

Di sisi lain, SCAF dan aparat keamanan negara Mesir memiliki kesamaan tujuan dengan IM, yaitu untuk menghancurkan revolusi. Selama Morsi mampu mengekang gerakan massa, para jenderal senang-senang saja duduk di kursi belakang, selama kekayaan, kekuasaan, dan dan kekebalan hukum mereka terjaga. Namun mereka selalu gelisah dalam berbagi kekuasaan dengan “sekutu” ini dan seketika saat IM tidak mampu lagi mengekang gerakan massa, yang kemudian mengancam menggulingkan seluruh bangunan negara Mesir, para Jenderal mengambil kesempatan untuk membereskan urusan dengan IM dengan menghantamkan pukulan dan dalam beberapa tingkatan meraih dukungan rakyat sekaligus.

Para jenderal militer menyiapkan medan untuk pembubaran paksa terhadap aksi-aksi pendudukan IM dengan cara menghimbau dan menyerukan demonstrasi massa pada Jumat 26 Juli 2013. Jenderal El-Sisi menyatakan tujuan-tujuannya secara terbuka: “Saya himbau rakyat untuk turun ke jalan pada Jumat mendatang untuk membuktikan kehendak mereka dan memberikan mandat pada saya, militer dan kepolisian, untuk mengkonfrontasi semua kekerasan dan terorisme yang dimungkinkan.” Dengan beberapa pengecualian yang kita hargai, demonstrasi tersebut didukung oleh kebanyakan partai dan organisasi sayap kiri serta federasi-federasi serikat buruh utama.

Selama berpekan-pekan tindakan tegas ditunda sembari perundingan berlangsung. Imperialisme ingin menghindari bentrokan terbuka dengan mendorong kedua belah pihak untuk mencapai semacam kesepakatan. Lagipula, kedua belah pihak sejauh ini telah mengikuti diktat-diktat imperialisme AS dan menjalankan kebijakan-kebijakan ekonomi kapitalis. Akhirnya para jenderal mengumumkan bahwa mereka akan menggunakan kekerasan untuk membersihkan aksi-aksi pendudukan dan bahkan mengumumkan kapan mereka akan melaksanakannya, yaitu setelah libur Idul Fitri yang menandai akhir bulan Ramadan.

Represi brutal oleh aparat-aparat keamanan terhadap aksi-aksi pendudukan IM merupakan represi yang sama yang dihadapi oleh ratusan ribu rakyat, khususnya, pemuda revolusioner, pada saat rezim Mubarak masih berkuasa dan saat Mubarak terguling. Ini tak bisa dilupakan. Kita tahu bahwa perlakuan yang sama dan bahkan lebih parah akan diarahkan pada kaum revolusioner kapanpun muncul kesempatan bagi SCAF untuk meraih kembali kendali.

SCAF masih merupakan benteng pertahanan utama Reaksi di Mesir selain itu mereka juga mengendalikan seksi luas ekonomi. Militer dan aparat keamanan merupakan pilar yang mempertahankan sistem kapitalis. Bahkan sejak penggulingan Morsi, militer seringkali digunakan untuk menindas perjuangan-perjuangan buruh sebagaimana yang kita saksikan pada penangkapan dua pekerja Perusahaan Baja Suez oleh polisi militer karena “menghasut untuk mogok kerja”.

Dalam resolusi IMT pada situasi terkini tanggal 11 Juli 2013 kami menunjukkan bahwa:

“Periode-periode perjuangan kelas tajam akan datang silih berganti dengan periode-periode kelelahan, apati, kemunduran, dan bahkan reaksi. Namun hal-hal demikian semata-mata merupakan pendahuluan bagi perkembangan-perkembangan baru dan yang bahkan lebih meledak-ledak. Hal ini ditunjukkan dengan jelas oleh Revolusi Mesir.

“Di Mesir, setelah berbulan-bulan kekecewaan dan kelelahan, 17 juta orang turun ke jalan dalam pemberontakan populer yang tidak ada presedennya. Tanpa partai, tanpa organisasi, tanpa kepemimpinan, mereka berhasil hanya dalam beberapa hari menggulingkan pemerintahan Morsi yang dibenci.

“Media Barat mencoba menggambarkan ini sebagai suatu kudeta. Namun suatu kudeta secara harafiah merupakan suatu gerakan minoritas kecil yang berkonspirasi untuk merebut kekuasaan di belakang punggung rakyat. Disini rakyat revolusioner turun ke jalan dan adalah motor penggerak peristiwa. Dengan 17 juta rakyat yang bertekad untuk menggulingkan Morsi, dan para petinggi Militer, yang merepresentasikan tulang punggung negara Mesir, mengintervensi untuk mencegah penggulingan seluruh rezim

“Dalam setiap revolusi sejati, adalah gerakan pokok massa yang menyediakan tenaga pendorong. Bagaimanapun juga, berbeda dengan kaum Anarkis, kaum Marxis tidak memuja spontanitas, yang memang memiliki keunggulan-keunggulan namun di sisi lain juga memiliki kelemahan-kelemahannya. Kita harus memahami batas-batas spontanitas”. (Mesir, Brazil, Turki: Gempa Revolusi Dunia).

Ketiadaan Kepemimpinan Revolusioner

Kunci untuk memahami situasi terkini terletak pada fakta bahwa revolusi Mesir tidak memiliki kepemimpinan revolusioner; kepemimpinan demikian, dalam kata-kata Trotsky “merupakan tendensi yang tumbuh bersama dengan revolusi, yang mampu memprediksi hai esok dan lusanya, yang mengatur tujuan-tujuan yang jelas dan bagaimana cara meraihnya.” (Trotsky, Tentang Kebijakan KAPD, Pidato yang Disampaikan pada Sesi Komite Eksekutif Komunis Internasional, 24 November 1920).

Bahkan bilamana kepemimpinan demikian ada di Mesir, akan tak terhindarkan bagi proses revolusioner untuk mengalami perubahan-perubahan mendadak dalam situasi, sebagaimana yang terjadi kini. Revolusi tidak bergerak dalam garis lurus. Ia merupakan perjuangan antara kekuatan-kekuatan yang hidup dimana fitur-fitur revolusioner dan kontra-revolusioner secara sementara meraih kemenangan. Revolusi Spanyol 1931-1937 mencakup bienio negro (dua tahun gelap) di mana Reaksi berkuasa, dimana ribuan pekerja dibantai dan puluhan ribu dipenjarakan. Revolusi Rusia pada 1917 mencakup Juli, “Bulan Fitnahan Besar”, dimana kaum Bolshevik dijadikan sasaran represi dan Lenin harus bersembunyi. Keberadaan kepemimpinan revolusioner akan mempercepat proses ini, yang di bawah kondisi terkini tidak bisa tidak berkepanjangan.

Apa yang kita saksikan kini adalah harga yang harus dibayar atas kenyataan akibat revolusi Mesir berhenti dalam menghancurkan mesin negara borjuis: memecah militer sesuai garis-garis kelas; membubarkan aparat kepolisian dan dinas rahasia; menyingkirkan rantai komando tradisional negara borjuis dan menggantikannya dengan mesin negara baru berdasarkan dewan-dewan pekerja dan laskar buruh.

“Di Mesir, massa bisa saja merebut kekuasaan pada akhir Juni. Kenyataannya mereka telah menggenggam kekuasaan di tangan mereka namun mereka tidak menyadarinya. Situasi ini mencerminkan beberapa kesamaan dengan Februari 1917 di Rusia. Lenin menunjukkan bahwa satu-satunya alasan mengapa para buruh tidak merebut kekuasaan tidak ada hubungannya dengan kondisi-kondisi obyektif namun akibat faktor subyektif: ‘Mengapa mereka tidak merebut kekuasaan? Steklov mengatakan alasannya ini dan itu. Ini omong kosong. Kenyataannya adalah kelas proletar tidak terorganisir dan tidak cukup memiliki kesadaran kelas. Ini harus diakui: kekuatan material ada di tangan kelas proletar namun borjuasi ternyata lebih siap dan lebih memiliki kesadaran kelas. Ini adalah fakta raksasa dan harus diakui dengan jujur dan terbuka serta rakyat harus diberitahu bahwa mereka tidak merebut kekuasaan karena mereka tidak terorganisir dan tidak cukup memiliki kesadaran kelas.’ (Lenin, Works, vol. 36, halaman 437, penekanan dari kami)

“Para pekerja dan pemuda Mesir belajar dengan cepat dalam sekolah Revolusi. Inilah mengapa pemberontakan Juni lebih luas, lebih dalam, dan lebih cepat, serta lebih memiliki kesadaran dibandingkan Revolusi Pertama yang muncul dua setengah tahun lalu. Namun mereka masih kurang pengalaman dan kurang teori revolusioner yang memungkinkan Revolusi mencapai kemenangan pesat dan tak menyakitkan.

“Situasinya adalah jalan buntu dimana kedua belah pihak tidak bisa mengklaim kemenangan total. Hal ini yang memungkinkan militer menaikkan dirinya di atas masyarakat dan menunjukkan diri sebagai penengah agung Bangsa, meskipun pada kenyataannya kekuasaan sesungguhnya ada di jalanan. Kepercayaan diri yang diekspresikan oleh beberapa orang dalam peran yang dimainkan militer menunjukkan kenaifan ekstrim. Bonapartisme merepresentasikan bahaya serius terhadap Revolusi Mesir. Kenaifan ini segera akan terbakar oleh kesadaran massa yang ditempa oleh kerasnya sekolah kehidupan.

“Kekontrarevolusioneran yang kasat mata dari IM telah digulingkan dari kekuasaan, namun akibat batas-batas watak spontanitas murni (yaitu tak terorganisir), Revolusi gagal merebut kekuasaan. Di satu sisi kaum reaksioner Islamis tengah mengorganisir pemberontakan kontrarevolusioner yang mengancam menjerumuskan negeri ke dalam perang saudara. Di sisi lain, elemen-elemen borjuis, para jenderal, dan kaum imperialis tengah bermanuver untuk menjarah kemenangan massa yang diraih dengan darah mereka.

“Revolusi cukuplah kuat untuk meraih tujuan mendesaknya: penggulingan Morsi dan IM. Namun tidak cukup kuat untuk mencegah agar buah-buah kemenangan tidak dicuri oleh para jenderal dan kaum borjuasi. Ia harus melalui sekolah keras lain demi menaikkan dirinya ke tingkat yang diperlukan untuk mengubah alur sejarah.” (Mesir, Brazil, Turki: Gempa Revolusi Dunia, penekanan ditambahkan)

Gerakan pemberontakan massif pada 30 Juni 2013 -- terbesar dalam sejarah Mesir -- menunjukkan kemuakan yang dipicu oleh pemerintahan reaksioner IM, hanya setahun setelah IM menjabat. Hal ini juga menunjukkan kemustahilan massa untuk menanggung kondisi yang tak bisa ditoleransi akibat kebijakan-kebijakan pengetatan anggaran yang diterapkan oleh pemerintah (dan oleh pemerintahan yang kini berkuasa) di bawah pengawasan imperialisme dan IMF seiring dengan krisis dan malapetaka ekonomi, inflasi, kemerosotan mendadak hajat hidup mayoritas masyarakat. Sebagaimana yang kami tunjukkan, gerakan ini merupakan penyebab langsung penggulingan Morsi, yang menekan militer untuk melangkah masuk dan menyingkirkan Morsi demi mencegah perkembangan situasi revolusioner terbuka, yang tidak hanya akan mengancam pemerintah namun juga basis nyata kekuasaan dan hak-hak istimewa yang selama ini dinikmati elit penguasa dan sistem yang berdasarkan kapitalisme itu sendiri.

Watak reaksioner IM sepenuhnya terekspos dalam satu tahun mereka berkuasa. Semua ilusi bahwa IM akan mampu meningkatkan kondisi material untuk mayoritas rakyat miskin dan pekerja telah sirna.

Namun sebagaimana yang telah kami peringatkan, IM masih memiliki beberapa basis sosial dukungan, meskipun bila dibandingkan sebelumnya dukungan ini telah melemah secara signifikan, namun basis dukungan mereka ada di antara kaum borjuis kecil, lapisan paling terbelakang dan abai dari kaum tani, serta lumpen proletar. Kebrutalan yang blak-blakan dari represi negara, pada kenyataannya, makin menguatkan cengkeraman kepemimpinan IM terhadap lapisan-lapisan ini, serta memberikan mereka jalan aman untuk merapatkan barisan mereka, mengikat ulang simpul-simpul ikatan, membangkitkan kembali hubungan-hubungan dengan lapisan-lapisan ini, dan memobilisasi basis sosial mereka. Dalam situasi yang berbeda para pimpinan IM menunjukkan -- hanya sebulan lalu -- bahwa mereka benar-benar tdak mampu mengatasi tekanan gerakan massa revolusioner.

Mari kita perjelas: sangat tidak mungkin bagi IM bilamana mereka tidak melawan dengan kekerasan terhadap semua upaya untuk membubarkan kamp-kamp reaksioner mereka. Mereka telah, dan masih memiliki, senjata api dan mereka akan menggunakannya tidak hanya untuk melawan represi, namun juga akan menggunakannya sebagai senjata ofensif terhadap kekuatan revolusioner, khususnya pemuda. Namun adalah satu hal bagi rakyat revolusioner untuk membubarkan upaya kontra-revolusioner–bahkan menghancurkannya dengan kekerasan – dengan mengambil inisiatif langsung melalui aksi massa. Merupakan hal lain lagi bila tugas ini dijalankan oleh SCAF melalui negara borjuis – yang merupakan sisi lain kontra-revolusi. Di perkara kedua, hal demikian hanya menguatkan kekuasaan jenderal-jenderal militer dan aparat keamanan, suatu kekuasaan yang kemudian akan digunakan terhadap para pekerja dan pemuda, sembari membantu IM dengan menggambarkan mereka sebagai para korban dan martir.

Bagaimana dengan El Baradei, Borjuasi Liberal, Demokrasi, dan lain-lain?

“Sudah tampak bahwa pihak-pihak yang haus akan kekuasaan hanya punya sedikit kepedulian terhadap hidup rakyat Mesir dan tidak akan ragu-ragu menggunakan mayat-mayat rakyat Mesir sebagai tangga untuk menggapai tujuan-tujuan mereka. Para pimpinan IM telah mengorbankan nyawa para pengikutnya demi kekuasaan sedangkan aparat keamanan tidak ragu untuk memangsa nyawa-nyawa tersebut dengan kekerasan dan kebrutalan.” (Respon Resmi Gerakan Pemuda 6 April pada peristiwa Rabu).

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan warna sesungguhnya dari apa yang disebut “borjuasi liberal”. Pimpinan seksi kelas penguasa ini sekaligus anak kesayangan media internasional dan imperialisme AS, yaitu El Baradei, telah mengundurkan diri dari jabatan kementeriannya setelah bergabung dengan pemerintahan reaksioner yang mana sebelumnya dia merupakan wakil presiden, bersama Jenderal Abdel Fattah El-Sisi sebagai deputi perdana menteri. Lebih lanjut pemerintahan ini telah ditunjuk di bawah otoritas SCAF. Jenderal El-Sisi kemudian mengumumkan penumpasan IM jauh-jauh jari sebelumnya dan setiap orang tahu bahwa ini akan terjadi. Sekarang El Baradei tampak terkejut ketika nyawa-nyawa melayang.

Apa yang dipersonifikasikan El Baradei adalah impotensi kaum liberal borjuis kecil dalam situasi dimana marjin untuk perundingan sama sekali tidak eksis. Di bawah situasi ini basis sosial yang direpresentasikan El Baradei entah tunduk mendukung militer atau IM.

Hal ini merupakan skandal bahwasanya para pimpinan kekuatan kiri mainstream di dunia tidak mampu menyajikan analisa kelas terhadap peristiwa-peristiwa demikian dan malah terombang-ambing antara perasaan lega atas pemburuan terhadap IM (tentu saja dinodai oleh penjagalan yang ditunjukkan oleh aparat-aparat keamanan) dan ratapan kosong yang menangisi “demokrasi”, menghimbau konsiliasi, persatuan nasional, dan seterusnya.

Pikiran-pikiran tercerahkan ini kini hanya tunduk pada tekanan ideologi para kelas penguasa mereka, yang takut bahwa prospek gerakan revolusioner serupa akan muncul dimana-mana di masa depan. Para pimpinan “kiri” ini seakan bersedia mendukung hak massa negeri manapun untuk memprotes kediktatoran atau pemerintahan anti rakyat “yang terpilih secara demokratis”, namun nampaknya malah memungkiri hak-hak rakyat yang sama untuk menggulingkan pemerintahan “yang terpilih secara demokratis” dengan cara-cara revolusioner. Kemungkinan demikian malah ditakut-takuti dan digambarkan sebagai sesuatu yang sama halnya dengan kudeta.

Jangan kita lupakan bahwa IM dan Morsi yang “demokratis” jelas-jelas merupakan pihak yang menunjuk El-Sisi sebagai Menteri Pertahanan dan Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata di pemerintahannya sendiri. Pemerintahan Morsi berdiri di atas kesepakatan kontra-revolusioner dengan SCAF, yang bertujuan untuk membiarkan para Jenderal dan Kementerian Dalam Negeri tak terjamah, dan terus berkuasa di atas penindasan dan pembunuhan.

Penggulingan Morsi telah membuka periode perjuangan antara revolusi dan kontra-revolusi dimana faktor yang menentukan akan berupa kemampuan massa untuk menjalankan revolusi sampai akhir.

Dalam perjuangan ini, kepercayaan terhadap sayap borjuasi -- baik para jenderal-jenderal militer maupun Morsi dan IM -- akan berakibat fatal terhadap revolusi. Mereka mewakili dua sisi borjuasi yang sama-sama reaksioner dan kontra-revolusioner Kepentingan massa Mesir juga tidak bergantung pada apa-yang-disebut sebagai “borjuasi liberal”, yang sepenuhnya impoten. Semua kekuatan ini pada analisa akhir akan menemui kesepakatan bersama untuk menindas perjuangan revolusioner rakyat pekerja dan pemuda Mesir.

Hanya dengan berdiri secara mandiri sebagai kekuatan revolusioner dan menyerukan pada para prajurit untuk mendukung perjuangan saudara sekelas mereka melawan elit penguasa maka rakyat pekerja dan pemuda Mesir akan mampu menuntaskan tugas revolusi dan merebut takdir mereka ke tangan mereka sendiri!

Source: Mesir: SCAF dan Ikhwanul Muslimin – Dua Sisi Reaksi