Memperingati 100 Tahun Revolusi Oktober: Bedah Buku Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi.

Memperingati 100 Tahun Revolusi Oktober 1917, Militan Indonesia menggelar bedah buku Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi. Bertempat di perpustakaan C20, acara berlangsung ramai dan penuh antusias. Sekitar 25 orang hadir dalam diskusi ini. Banyak dari mereka adalah kaum muda dan kaum buruh yang datang dari luar kota Surabaya. Ada yang datang dari Malang, Pasuruan, Gresik dan Lamongan.

Acara diawali dengan membuka meja literatur dan koran revolusioner, yang menjajakan Koran Militan Indonesia edisi 26 yang secara khusus memperingati Revolusi Oktober 1917 dan tentunya buku Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi Rusia.

Pada kesempatan ini, Militan Indonesia menjelaskan makna penting 100 tahun Revolusi Oktober 1917, dimana untuk pertama kalinya kelas buruh dan tani di Rusia menggulingkan pertuan-tanahan dan kapitalis dan memulai tugas revolusi sosialis.

Mahdi dalam presentasinya menjelaskan bahwa tidak ada peristiwa revolusi di dunia yang menjadi subyek fitnah yang begitu menjijikkan selain Revolusi Oktober 1917 Rusia yang dipimpin Lenin dan Trotsky. Revolusi Kuba dan Venezuela meskipun berbaris di jajaran peristiwa revolusi, tapi fitnah terhadap revolusi itu tidak berlangsung lama seperti Revolusi Oktober 1917 Rusia. Banyak fitnah dan hujatan yang diluncurkan, tidak hanya dilakukan oleh Kaum Liberal dan Fasis, tapi juga Anarkis dan semi-Anarkis pun turut menghujat peristiwa ini. Apa yang mereka katakan tidak jauh berbeda, bahwa peristiwa ini melahirkan kediktaktoran, tirani, sebuah kudeta, melahirkan ini itu dan sebagainya dan seterusnya.

Kendati demikian, Revolusi Oktober 1917 harus diakui merupakan eksperimen sejarah terbesar yang pernah dilakukan oleh umat manusia untuk mengubah masyarakat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa dunia tanpa pertuan-tanahan dan kapitalis adalah hal yang mungkin. Untuk mempelajari peristiwa ini, tidak mungkin tanpa memahami peran yang dimainkan oleh kaum Bolshevik. Dalam perkembangannya, partai ini dimulai dengan tidak lebih dari setengah lusin orang. Lewat kerja yang sabar dan dengan gagasan yang tepat, partai ini berubah menjadi ribuan dan kemudian menjadi jutaan saat merebut kekuasaan. Bila Revolusi Oktober ini adalah kudeta, sebuah klik individual, mana mungkin ia diikuti oleh ribuan dan bahkan jutaan orang pada saat revolusi. Tentu fakta ini tidak pernah memasuki kepala kosong penghujat Revolusi Oktober 1917.

Dalam sejarahnya, revolusi melibatkan individu-individu, kelompok, ataupun sebuah partai. Namun, para individu-individu, kelompok ataupun sebuah partai ini tidak akan berdiri tanpa ada dukungan dari massa luas, atau dengan kata lain, berdiri di luar hubungan sosial dan produksi yang melahirkannya. Oleh karenanya, Bolshevik hanya bisa berhasil merebut kekuasaan pada Oktober 1917 dan bukan pada 1905 dan Februari 1917.

Kelas buruh dan tani Rusia tidak belajar dari buku-buku. Mereka belajar dari pengalaman aktual, dari dua perang dan dua revolusi. Dimana melewati pengalaman pahit itu, mereka menyeleksi partai-partai dan kelompok yang memimpin mereka. Pemilihan suksesif ini tidaklah terelakkan, lewat trial and error ini mereka menguji partai dan kepemimpinan.

Kelas buruh dan tani Rusia paham apa yang tidak mereka inginkan, yakni: autokrasi Tsar, tapi mereka tidak serta-merta langsung tahu dengan jelas apa yang mereka inginkan. Hanya melewati pengalaman dan peristiwa-peristiwa besar mereka menemukan jalan ke Bolshevisme. Bolshevisme adalah sosialisme ilmiah yang dipraktekkan. Namun Bolshevisme tidak jatuh dari langit. Ia adalah akumulasi dari sejarah perjuangan kelas buruh. Oleh karenanya, kelas buruh yang ingin berhasil merebut kekuasaan harus belajar dari pengalaman partai Bolshevik.

Hari ini 100 tahun Revolusi Oktober 1917 Rusia, Militan Indonesia dengan bangga menerbitkan buku Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi untuk kaum buruh dan kaum muda revolusioner Indonesia. Hanya dengan pemahaman jelas akan peristiwa bersejarah ini maka kelas buruh mampu mengubah masyarakat.