Ulasan dan Analisa Singkat May Day Tahun Ini

Karakter perkembangan gerakan buruh sering kali dapat ditengok dari perhelatan May Day yang dilakukan oleh buruh. Jumlah massa yang terlibat, slogan-slogan yang diajukan dan metode aksi massa yang digunakan dapat menjadi alat ukur dua hal: di satu pihak, tingkat kesadaran kelas massa buruh dan, di lain pihak, tingkat kesiapan kepemimpinan dan organisasinya. Tentunya sebuah aksi May Day hanyalah satu jepretan foto saja dari dinamika pergerakan buruh yang terus berubah, dan akan menjadi berlebihan dan bahkan sia-sia kalau kita mencoba menaksir situasi gerakan buruh dari satu kejadian ini saja. Namun bila May Day kita lihat dalam keseluruhannya – yakni perkembangannya dari tahun ke tahun dan dalam konteks gerakan buruh yang ada – ia dapat memberikan kita sebuah gambaran yang lebih jelas. Sebagai ajang tahunan terbesar, yang menarik buruh luas karena nilai historis dan simboliknya, May Day adalah barometer gerakan buruh yang cukup baik.

Sedikit Mengenai May Day yang Lalu

May Day kembali dirayakan oleh buruh secara terbuka pada 1999 setelah jatuhnya Soeharto. May Day pertama ini awalnya hanya dirayakan oleh beberapa organisasi buruh saja. Namun dengan cepat dalam tahun-tahun berikut May Day menjadi sebuah aksi yang besar, seiring dengan ledakan serikat-serikat buruh, baik yang pecah dari SPSI ataupun yang independen. Dari yang awalnya hanya didominasi oleh serikat-serikat merah, mulai ada keterlibatan – walau terbatas – dari serikat-serikat kuning. Namun setelah ledakan ini, terjadi stagnansi pada paruh kedua dekade 2000, dimana momentum paska Reformasi tampak mulai memupus. Aksi May Day pada periode ini pun tidak ada banyak perubahan, baik bagi serikat-serikat merah maupun kuning.

Ini berubah pada paruh kedua 2011, yang diawali dengan pemogokan radikal buruh tambang Papua. Buruh-buruh kawasan industri di Bekasi dan Tangerang mulai bergerak dalam jumlah masif dan dengan metode-metode yang radikal. Aksi May Day 2012 menjadi yang terbesar sejak jatuhnya Soeharto, yang kali ini didominasi oleh buruh-buruh serikat kuning. Tidak seperti saudara-saudarinya di serikat-serikat merah, bagi kebanyakan dari mereka aksi May Day 2012 adalah May Day mereka yang pertama, yang lalu menyiapkan panggung untuk peristiwa yang lebih besar, yakni pemogokan nasional 1 juta buruh pada 3 Oktober.

May Day Tahun ini

200 ribu di Jakarta, dan kabarnya hampir setengah juta di seluruh Indonesia. Tahun 2012 sudah bukan lagi May Day terbesar dalam sejarah gerakan buruh pasca-Reformasi. Melihat gelombang aksi buruh yang tak kunjung surut sejak akhir 2011 kemarin, ini bukan sesuatu yang mengejutkan. Kendati sejumlah pukulan balik yang diluncurkan para pengusaha dan pemerintah, secara umum tren gerakan buruh mengalami kenaikan.

Di Jakarta 200 ribu buruh melakukan aksi long march dari Bunderan HI ke Istana Negara dengan yel-yel perjuangan. Daerah Jakarta Pusat praktis lumpuh. Orasi-orasi politik yang disampaikan di depan Istana mengecam tindakan SBY, yang pada May Day ini terpaksa melakukan “kunjungan kerja” ke Surabaya untuk mengamankan dirinya dari kemarahan massa buruh. Kecaman-kecaman pedas juga ditujukan kepada para pemimpin partai-partai politik dan para pemilik kapital besar yang telah mengabaikan hak-hak buruh dan memperkaya diri mereka sendiri dengan mengeksploitasi buruh. Dengan spanduk-spanduk yang bertuliskan, di antaranya, “Tunduk tertindas, atau bangkit melawan!” kaum buruh menuntut penghapusan outsourcing, menolak upah rendah, menolak kebijakan pemerintah untuk memangkas subsidi BBM, dan pendidikan serta kesehatan gratis untuk semua rakyat. Seruan pembentukan partai politik buruh juga disuarakan oleh sejumlah serikat buruh merah di bawah Sekber Buruh.

Ribuan buruh juga memblokade akses menuju pintu Bandara Soekarno-Hatta dan membuat bandara lumpuh total. Awalnya berniat menduduki Bandara, mereka dihalang  oleh polisi dan tentara. Akhirnya mereka memutuskan untuk memblokade jalan keluar-masuk bandara. Sementara di pelabuhan Tanjung Priok, May Day digunakan oleh buruh sebagai kesempatan untuk mendeklarasikan persatuan 7 serikat buruh pelabuhan ke dalam sebuah aliansi. Dengan penggabungan itu, anggota aliansi mencapai 5000 buruh.

Di luar Jakarta, ratusan aksi terpisah dilakukan oleh buruh, dari yang berjumlah ratusan hingga ribuan. Beberapa di antara mereka adalah:

  • Karawang: Belasan ribu buruh turun dan berkumpul di beberapa titik. Buruh yang tergabung dalam FSPEK-KASBI melakukan long march 3 kilometer.
  • Indramayu: kilang dan depot Pertamina di Subang jadi sasaran ribuan buruh yang tergabung dalam SBA-KASBI.
  • Bandung: Gedung Sate di Bandung disasar oleh lebih dari 2 ribu buruh yang menuntut agar Aher hengkang karena belum ada upah layak di Jabar. Aher sendiri mengikuti langkah SBY, yakni menghindari buruh dengan melakukan “dinas” di sebuah wilayah Soerang.
  • Subang: Puluhan pabrik di Subang tutup dan ribuan buruh berunjuk rasa di kantor Disnaker setempat.
  • Gorontalo: Ribuan guru honorer yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia dan KSPI melakukan konvoi ke kantor disnaker dan gubernur. Mereka menuntut dibayar sesuai UMP dan segera diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil.
  • Cimahi: sekitar 700 buruh berkonvoi dan menyisir buruh ke pabrik-pabrik di Kawasan Industri Cibaligo. Mereka juga beraksi di kantor DPRD.
  • Palembang: Ribuan buruh yang tergabung dalam Front Buruh Rakyat Sumsel Bersatu mendatangi kantor Gubernur Sumsel.
  • Makassar: Ribuan buruh melakukan aksi di berbagai titik dan memblokade sejumlah ruas jalan. Hampir terjadi kericuhan di kantor Gubernur Sulsel ketika buruh dihadang polisi saat ingin masuk dan menyampaikan aspirasi mereka.
  • Batam: kawasan-kawasan industri di Batam praktis lumpuh dan tidak berdenyut, dengan puluhan ribu buruh melakukan aksi demo dan sweeping.
  • Hong Kong: 1200 buruh migran Indonesia di Hong Kong melakukan aksi May Day dan bergabung dengan ribuan buruh Hong Kong lainnya (baca Buruh Migran dan May Day di Seberang Lautan Sana)

Sebagaimana analisis Militan sebelumnya, bahwa May Day tahun ini akan berbeda secara kuantitas dan kualitas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena adanya kontradiksi yang semakin menajam di dalam sistem ekonomi dan politik Indonesia. Kelas yang berkuasa sudah tidak dipercaya bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum buruh; partai-partai politik hanya menjual ilusi-ilusi irasional; dan pemilik kapital semakin brutal dalam menjalankan roda bisnisnya.

Orasi-orasi yang sudah disampaikan dan fakta-fakta obyektif di lapangan—terkait dengan massa aksi—mengindikasikan akan adanya aksi-aksi susulan yang berkekuatan massa besar. MPBI sudah mengancam akan melakukan aksi pemogokan nasional lagi pada Agustus nanti – yang lebih besar dibandingkan tahun lalu – bila tuntutan-tuntutan mereka tidak digubris oleh pemerintah.

Menyikapi May Day, SBY pun terpaksa berjanji membuat hari buruh ini menjadi hari libur nasional tahun depan. Presiden juga memaksa dirinya bertemu dengan para petinggi serikat buruh untuk menenangkan mereka dengan berbagai janji. Tidak hanya ketua-ketua serikat buruh reformis saja, ketua KASBI pun diundang oleh SBY. Ini menunjukkan kekhawatiran kelas penguasa akan kekuatan buruh yang semakin hari semakin besar.

Gambaran yang kita dapat sangat jelas. Dengan aksi May Day tahun ini, kaum buruh Indonesia telah menoreh sejarah dalam perjuangan kelas mereka. Peristiwa ini harus terus disebar dan dipatri menjadi memori kolektif buruh. Dengan aksi masif ini, satu batu besar telah mereka letakkan sebagai pondasi menuju ke tugas historis mereka, yakni berkuasa dan menuju sosialisme.

Perspektif ke Depan bagi Barisan Buruh Pelopor

Keterlibatan buruh luas dalam May Day dua tahun belakangan ini adalah pertanda meluasnya kesadaran perjuangan ke lapisan-lapisan buruh serikat kuning yang lama tampak konservatif dan sulit digerakkan, terlebih karena watak konservatif kepemimpinan mereka. Walaupun slogan-slogan yang diusung oleh serikat-serikat kuning ini jauh dari revolusioner dan hanya menyentuh tuntutan normatif yang minimum, masuknya ratusan ribu buruh ke dalam perjuangan kelas adalah sebuah lompatan besar bagi gerakan. Ini bukan pembenaran bahwa buruh hanya akan bergerak dengan slogan-slogan normatif minimum, sebuah pembenaran yang selalu dicari-cari oleh elemen-elemen reformis. Ini hanya menunjukkan bahwa ketika buruh pertama kali masuk ke gelanggang perjuangan kelas, mereka terdorong oleh kebutuhan dasar mereka. Namun setelah masuk ke gelanggang ini, kontradiksi antara tuntutan normatif dengan realitas perjuangan akan mendorong buruh ke kesimpulan-kesimpulan yang lebih tinggi, yakni perlunya pemahahan dan perjuangan politik, perlunya sebuah organisasi politik atau partai berbasis kelas buruh, dan sampai pada kesadaran tertinggi, perlunya sosialisme. Tetapi kontradiksi yang mendorong ini bukan berarti buruh akan mencapai kesimpulan ini dengan otomatis dan secara gradual dalam garis lurus. Peran kepemimpinan menjadi krusial di sini. Ia dapat menjadi pelopor yang menyertai proses pembangunan kesadaran ini; atau ia dapat menjadi penghalang, secara aktif maupun pasif, secara sadar maupun tidak sadar. Mayoritas kepemimpinan serikat-serikat massa kuning masuk dalam kategori yang belakangan ini.

Tetapi ini bukan berarti kepemimpinan serikat-serikat merah dan kaum Kiri secara umum terbebas dari kesalahan. Lama aktif di serikat-serikat mereka sendiri yang radikal, aktivis-aktivis buruh Kiri mulai membentuk sebuah kecendurangan dan kebiasaan yang merusak, yakni memisahkan diri mereka dari buruh luas yang tergabung di serikat-serikat kuning. Yang awalnya adalah alasan logistik atau administratif yang membuat mereka sulit melakukan kerja di dalam serikat-serikat kuning, perlahan-lahan menjadi alasan prinsipil untuk tidak melakukan kerja di sana, yakni karena serikat-serikat kuning tersebut “tidak rrrrr-evolusioner”. Ini bukan sesuatu yang unik di Indonesia. Secara historis selalu ada tendensi ke-ultrakiri-an di antara aktivis buruh, yang lebih memilih mendirikan serikat merah mereka sendiri dan merasa nyaman aktif di sana saja, walaupun serikat merah ini hanya beranggotakan sedikit saja kalau dibandingkan dengan serikat-serikat reformis dengan massa jutaan. Ini terrefleksikan dalam aksi-aksi May Day selama 15 tahun belakangan ini di Indonesia, dimana selalu ada pemisahan antara serikat merah dan serikat kuning. Kalau yang belakangan memisahkan diri, ini adalah sesuatu yang wajar karena para pemimpin reformis tidak ingin anggota mereka terinfeksi oleh slogan-slogan radikal. Tetapi adalah kekeliruan kalau serikat-serikat merah dan Kiri radikal secara prinsipil memisahkan diri mereka dari massa serikat kuning saat May Day, apalagi sekarang ketika ratusan ribu buruh reformis ini sudah mulai bergerak.

Meninggalkan ratusan buruh yang sudah mulai bergerak ini di bawah pengaruh para pemimpin reformis birokratis adalah tidak jauh berbeda dari menghalangi perkembangan kesadaran para buruh ini. Dengan mencampakkan para buruh serikat kuning ini, kita justru melakukan apa yang diharapkan oleh para pemimpin reformis, yakni agar anggota-anggota mereka tidak bersinggungan dengan pemikiran-pemikiran revolusioner.

Perspektif bekerja di organisasi massa buruh reformis adalah sesuatu hal baru bagi kaum Kiri di Indonesia, terlebih karena organisasi massa buruh reformis baru muncul paska 1998. Tidak seperti di negeri-negeri dengan serikat buruh reformis yang mapan dan besar, seperti di Eropa dan AS, kaum Kiri Indonesia tidak pernah harus bekerja di dalamnya. Mereka terbiasa bekerja di dalam organisasi-organisasi radikal bentukan mereka sendiri. Masuknya 1 juta buruh ke dalam gelanggang perjuangan kelas harus mendorong kita untuk menghancurkan kebiasaan lama ini dan mulai memikirkan bagaimana memenangkan buruh luas, bagaimana melakukan kerja di antara buruh reformis, bagaimana melakukan kerja di dalam organisasi massa buruh reformis. (Untuk pemaparan teori mengenai kerja di organisasi massa, baca “Bekerja di Organisasi Massa”). Bila langkah konkrit belum memungkinkan karena kendala-kendala logistik, setidaknya pembentukan perspektif bekerja di organisasi massa di antara kader-kader buruh maju sudah harus mulai dilakukan. Hanya dengan demikian kita bisa mendorong maju gerakan buruh ini ke tingkatan yang lebih tinggi.

Source: Ulasan dan Analisa Singkat May Day Tahun Ini