Alexander III meninggal pada 1 November 1894, dan digantikan oleh anaknya, Nicholas II. Pada bulan Januari setahun kemudian, pada saat pernikahan sang raja yang megah, kaum liberal Zemstvo mengumpulkan keberanian mereka dan mengirim sebuah petisi dalam bentuk ucapan selamat: “Kami sangat berharap kalau suara rakyat akan selalu dapat terdengar di ketinggian singgasana raja.” Nicholas II menjawab dengan sangat tajam: “Saya sangat senang melihat perwakilan-perwakilan dari semua kelas berkumpul untuk menyatakan kesetiaan mereka. Saya percaya akan ketulusan dari sentimen kesetiaan tersebut, yang memang adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh setiap penduduk Rusia. Tetapi saya tahu bahwa belakangan ini, di beberapa pertemuan Zemstvo, terdengar suara orang-orang yang bermimpi akan partisipasi para perwakilan Zemstvo di dalam urusan-urusan administrasi internal. Biarlah semua orang tahu bahwa saya, sementara membaktikan seluruh tenaga saya untuk kesejahteraan rakyat, akan mempertahankan prinsip otokrasi dengan tegas dan tanpa-keraguan seperti ayah saya.”

Teori perkembangan tergabungkan dan tak-berimbang Marxis menemukan ekspresinya yang paling sempurna di dalam relasi-relasi sosial Rusia yang teramat kompleks pada peralihan abad ke-20. Bersandingkan dengan mode kehidupan feodal, semi-feodal, dan bahkan pra-feodal, muncul pabrik-pabrik yang paling moderen, yang dibangun dengan kapital Prancis dan Inggris dengan teknologi yang paling muktahir.

Kasus kriminalisasi kawan Sultoni – pejuang buruh dari Serikat Progresif dan Sekber buruh – baru-baru ini, yang dijegal pasal “Perbuatan Tidak Menyenangkan” oleh pemilik modal, mendorong sebuah pertanyaan yang awalnya tampak sepele tetapi kalau kita telaah lebih jauh ternyata cukup fundamental di dalam perjuangan buruh. Ini menyangkut masalah “senang” dan “tidak senang”.