EROPA BERGEJOLAK: Sarkozy Kalah, Tapi Apa Yang Akan Dilakukan Hollande?

Francois Hollande baru saja disumpah menjadi Presiden Prancis, di era dimana Eropa sedang mengalami gejolak besar. Segera setelah menang, bursa saham dunia anjlok karena ia merefleksikan penolakan rakyat terhadap program penghematan kapitalis yang ingin dipaksakan kepada rakyat pekerja Prancis. Namun, apa Hollande dan reformismenya mampu menyelamatkan rakyat pekerja Prancis dari kebuasan kapitalisme? Berikut artikel dari seorang anggota Partai Komunis Prancis dan editor majalah La Riposte, seksi IMT di Prancis. (Redaksi Militan)

Kekalahan Nicolas Sarkozy dalam pemilu presidensial membuka suatu fase baru dalam perjuangan klas di Prancis. Kandidat Sosialis, François Hollande, memenangkan 51,62 % suara. Namun angka ini cenderung menyembunyikan basis sosial dari hasil pemilu. Secara praktis, semua kota-kota besar memberikan suara secara masif kepada Hollande – atau lebih tepatnya mereka memberikan suara mereka untuk menyingkirkan Sarkozy.

Ini benar bahkan di kota-kota yang biasanya konservatif. Contohnya Strasbourg (55 %), Reims (53 %), Chartres (52 %), dan Cherbourg (60 %). Di semua kota ini, suara untuk Hollande lebih tinggi daripada Sarkozy.

Mayoritas besar kaum buruh memberikan suara kepada Kiri, dan ini benar untuk seluruh populasi pemilih berusia antara 18-55 tahun. Basis sosial dari reaksi adalah kalangan kaum kaya, mereka-mereka yang mendapatkan nafkah mereka dengan mengeksploitasi orang lain dalam satu atau lain cara (para pebisnis kecil, dsb.), orang-orang tua, di wilayah-wilayah pedesaan, dan secara umum lapisan konservatif di dalam masyarakat – dan pikiran-pikiran stagnan yang tumbuh subur di dalam diri mereka. Pusat-pusat perkotaan, para pemuda, kaum buruh – pendeknya, kekuatan-kekuatan yang hidup – menolak Sarkozy dan kebijakan-kebijakan reaksionernya.

Pemilu legislatif sekarang akan digelar, yang hasilnya sudah dapat diprediksi.  Berdasarkan pola-pola pemungutan suara dalam pemilihan presidensial, partai-partai kanan akan tereduksi menjadi minoritas. Namun, pemilihan seorang presiden Sosialis dan mayoritas Kiri dalam Majelis Nasional tidak akan menyelesaikan apa-apa di dalam dan dari dirinya sendiri. Sarkozy hanyalah seorang figur dari suatu klas dan sebuah sistem. Selama kekuasaan klas itu dan sistem kapitalis tetap utuh, akan terbukti mustahil untuk mencegah merosotnya standar-standar hidup dan berakhirnya pengangguran massal, tidak peduli pemerintahan manapun yang berkuasa.

Perayaan-perayaan massa yang melibatkan ratusan ribu orang di Place de la Bastille dan di seluruh negeri dapat dimengerti. Kita semua senang telah berhasil menyingkirkan seorang reaksioner kejam seperti Sarkozy. Tapi apakah yang akan menjadi kebijakan pemerintahan yang baru ini? Pada malam terpilihnya Hollande, dan dengan pemain akordion yang memainkan La Vie en Rose di latar belakang, Hollande meyakinkan kita bahwa ia akan menjadi seorang presiden “kesetaraan dan keadilan”. Semasa kampanye, ia bahkan berkata-kata tentang “menghapuskan privilese”. Tapi pada saat yang sama ia berkata kepada pers asing bahwa kaum kapitalis, atau, sebagaimana ia menyebutnya, “pasar”, tidak perlu takut terhadap pemerintahannya. Pernyataan-pernyataan ini berkontradiksi. Adalah mustahil melayani dua tuan majikan.

Kemenangan Hollande telah dibandingkan – oleh para jurnalis dan Hollande sendiri – dengan kemenangan François Mitterrand pada tahun 1981. Tapi bila pengalaman dari pemerintahan Mitterand mengajarkan sesuatu kepada kita, pelajaran itu adalah bahwa pemerintahan Kiri manapun yang membatasi dirinya untuk beroperasi di dalam sistem kapitalis cepat atau lambat akan dipaksa untuk mengadopsi kebijakan-kebijakan seturut dengan kepentingan-kepentingan dari sistem tersebut. Hollande memiliki program-program yang jauh lebih “moderat” daripada Mitterand. Tapi bahkan Mitterrand, yang mengimplementasikan serangkaian kebijakan-kebijakan  untuk kepentingan-kepentingan kaum buruh, terpaksa meninggalkan programnya hanya dalam tempo 18 bulan sejak naik ke tampuk kekuasaan. Ini menyiapkan jalan bagi kekalahan kaum Kiri dalam pemilu legislatif 1986.

Harapan-harapan yang diletakkan pada Hollande dengan cepat akan lenyap. Betapapun ia berusaha keras untuk menenteramkan kaum kapitalis, mereka akan terus menentang pemerintahan ini dan pada saat yang sama melemahkankan basis dukungan pemerintah ini. Ini akan bermuara pada penguatan partai-partai reaksioner dalam koridor pemilu, termasuk partai rasis Front National. Tapi ini juga akan membuka jalan untuk suatu gelombang baru pemogokan-pemogokan dan demonstrasi-demonstrasi klas buruh. Front de Gauche, yang merupakan aliansi antara Partai Komunis dan Partai Kiri (Parti de Gauche), yang memenangkan 11,1% suara dalam putaran pertama pemilu, ada dalam posisi yang baik untuk menjadi suatu titik himpun politik bagi perlawanan massa terhadap kebijakan-kebijakan penghematan dan kapitalisme dalam periode yang akan datang.

Sumber: La Riposte (Prancis)

Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari “France: Sarkozy defeated, but what will Hollande do?” Greg Oxley, 9 May 2012.

Translation: Militan (Indonesia)