Editorial May Day 2018: Seruan Bagi Gerakan Buruh untuk Bangkit!

May Day tahun ini memasuki usianya yang ke-128 dan juga menandai 20 tahun reformasi Indonesia. Saat itu kaum buruh bersama kaum muda, mahasiswa dan elemen tertindas lainnya turun ke jalan menuntut rezim otoriter Orde Baru untuk mundur. Bersamaan dengan gelombang krisis ekonomi tahun 1998 yang melanda Asia, Orde Baru yang selama 32 tahun berkuasa akhirnya tumbang. Angin segar demokrasi mulai berhembus dan mengubah situasi menjadi lebih terbuka.

[Source]

Banyak organisasi-organisasi baru lahir. Organisasi lamapun berkembang. Meski begitu, secara bertubi-tubi kelas buruh terus berhadapan dengan regulasi-regulasi yang menindas yang dibuat oleh wakil-wakil rakyat kita di Senayan. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, karena mereka adalah kepanjangan tangan langsung dari kepentingan modal. Mereka terikat seribu benang dengan para kapitalis.

Hari ini 20 tahun setelah reformasi tidak banyak hal berubah. Kelas buruh tetap menjadi satu-satunya kelas yang harus menanggung beban penindasan. Akhir 2015 lalu pemerintah mengetok palu mensahkan PP 78, sebuah aturan yang mengatur berapa besar kenaikan upah buruh. Mengingat krisis ekonomi global 2008 saat ini tidak mengalami pemulihan berarti, pengetatan anggaran dipercaya sebagai usaha yang efektif untuk bisa mengatasi krisis. Dan untuk itu kelas buruhlah yang menjadi tumbal.

Pada umumnya situasi krisis ekonomi akan mendorong semakin banyak demonstrasi dan menjamurnya perlawanan-perlawanan di banyak sektor. Tapi, hal ini tidak absolut. Situasi berjalan dialektis. Gerakan buruh Indonesia justru mengalami kemunduran dalam 3-4 tahun terakhir, terutama setelah kekalahan pahit melawan PP 78. Kemunduran ini tidak lain karena sikap kompromi pimpinan serikat. Anggota akar rumput mulai lelah dan tidak percaya pada mereka, sehingga banyak dari mereka yang mulai meninggalkan panggung perlawanan.

Tetapi kelas buruh adalah satu-satunya kelas yang bisa menumbangkan kapitalisme. Tidak bisa tidak. Kelas buruh harus mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Kemunduran gerakan hari ini bukanlah akhir, tetapi sebagai pijakan ke depan bahwa kelas buruh tidak bisa menggantungkan nasibnya kepada kepemimpinan yang reformis, kompromis, tidak punya perspektif dan lebih senang berhaha-hihi dan saling memuji dengan para borjuasi.

Sekarang ini situasi politik dunia dan nasional menunjukkan kepada kita semua bahwa situasi sedang berkecamuk. Kapitalisme dunia tersungkur oleh krisis global yang berlangsung selama 10 tahun terakhir. Prospek pasar bebas sekarang ini mulai digantikan dengan tendensi proteksionisme yang mulai diadopsi oleh banyak negara.

Untuk itu gerakan buruh harus bangkit. Ambil setiap pelajaran dari tiap peristiwa yang ada. Kelas buruh harus membangun kepercayaan lagi pada kekuatannya sendiri. Jangan bersandar pada pimpinan reformis yang lembek dan borjuasi korup yang seringkali memanfaatkan kelas buruh. Jadikan momentum May Day tahun ini sebagai awal dari kebangkitan gerakan kalian semua.