Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi: Lahirnya Marxisme Rusia (Bab I-5)

Jam 10 pagi, tanggal 1 Maret 1898, sembilan orang berkumpul di rumah seorang buruh rel-kereta Rumyantsev di sebelah barat kota Minsk. Dengan alasan untuk merayakan hari penamaan istrinya Rumyantsev, mereka berkumpul. Di kamar sebelah, tungku penghangat dinyalakan, bukan karena udara dingin tetapi untuk membakar dokumen-dokumen rahasia bila polisi datang menggrebek.

Kongres Pertama Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR)

Jam 10 pagi, tanggal 1 Maret 1898, sembilan orang berkumpul di rumah seorang buruh rel-kereta Rumyantsev di sebelah barat kota Minsk. Dengan alasan untuk merayakan hari penamaan istrinya Rumyantsev, mereka berkumpul. Di kamar sebelah, tungku penghangat dinyalakan, bukan karena udara dingin tetapi untuk membakar dokumen-dokumen rahasia bila polisi datang menggrebek. Karena tempat pertemuan ini dekat dengan barak polisi, dan sembilan orang ini adalah para pemimpin kelompok-kelompok Sosial Demokratik dari Moskow, Kiev, Petersburg dan Yekaterinoslav, dan juga kelompok Rabochaya Gazeta (Jurnal Buruh) dan organisasi Sosial Demokratik Yahudi, Bund, kewaspadaan seperti ini diperlukan. Di bawah kondisi ini, kongres pertama dan terakhir Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia dilaksanakan di Rusia di bawah rejim Tsar. Dalam beberapa tahun terakhir, perlunya sebuah kongres untuk memformalkan keberadaan Partai, memilih kepemimpinan dan menyatukan kelompok-kelompok lokal menjadi sangat jelas. Dari sel penjaranya, Lenin menyeludupkan keluar sebuah draf program untuk Partai ini, yang ditulis dengan susah payah dengan tinta susu di antara baris-baris buku.

Sejumlah progres telah diraih. Kelompok-kelompok bawah tanah telah setuju untuk mengganti nama mereka menjadi Liga Perjuangan Untuk Emansipasi Kelas Buruh dan bahkan menerbitkan sebuah koran ilegal dengan nama Robocheye Dyelo (Perjuangan Buruh). Sebuah komite klandestin dibentuk di Kiev untuk mencetak koran ini, yang edisi pertamanya terbit pada Agustus 1897 (walaupun untuk alasan kerahasiaan, koran ini diberi tanggal terbit November). Organisasi Kiev juga dipercayakan dengan tugas penyelenggaraan kongres, karena organisasi ini berhasil luput dari penangkapan. Akan tetapi, ide untuk menyelenggarakan sebuah kongres di Rusia di bawah kondisi-kondisi ini dipenuhi dengan banyak kesulitan. Kelompok-kelompok tertentu – seperti kelompok kaum muda di Petersburg, kelompok-kelompok di Odessa dan Nikolaev, dan Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri – tidak diundang karena mereka dianggap sebagai resiko keamanan. Kelompok Kharkov, di pihak lain, menolak untuk berpartisipasi karena mereka berpendapat pembentukan Partai ini terlalu dini.

Bukan sebuah kebetulan kalau Kongres Pertama ini diselenggarakan di kota Minsk. Daerah-daerah Polandia dan Barat, seperti yang telah kita lihat, adalah pusat agitasi revolusioner anti-Tsar, dimana dua aspek penindasan sosial dan nasional menciptakan atmosfir yang meledak-ledak. Gerakan pemogokan pada 1890an jadi titik pusat akumulasi kegeraman dan kebencian dari bangsa-bangsa yang tertindas, terutama bangsa Yahudi. Gerakan buruh dan artisan Yahudi mendorong terbentuknya Serikat Buruh Yahudi Lithuania, Polandia, dan Rusia pada 1897, satu tahun sebelum Kongres Pertama Partai Rusia. Untuk dua atau tiga tahun pertama setelah terbentuknya PBSDR, Zinoviev mengatakan, Bund adalah “organisasi yang paling kuat dan paling besar di dalam partai kita.”[1] Pada saat Kongres Pertama, Bund punya sumberdaya yang jauh lebih besar dan keanggotaan yang lebih besar daripada semua kelompok Sosial Demokratik di Rusia. Ia memiliki 14 organisasi lokal (atau “komite”) di Warsaw, Lodz, Belostok, Minsk, Gomel, Grodno, Vilna, Dvinsk, Kovno, Vitebsk, Mogilev, Berdichev, Zhitomir dan Riga. Komite-komite yang lebih kecil juga dapat ditemui di daerah-daerah lain, termasuk Kiev, Odessa, dan Brest-Litovsk.

Akan tetapi, organisasi Bund lebih mirip serikat buruh daripada partai revolusioner. Bahkan Akimov harus mengakui bahwa level politik kepemimpinan Bund rendah: “Saya menganggap ini sebagai kekurangan Bund: kaum proletar Yahudi tidak punya teoritisi.”[2] Pada kenyataannya, seperti yang telah kita lihat, kebanyakan anggotanya bukanlah kaum proletar, tetapi kaum artisan dan pengrajin-tangan. Otoritas tertinggi ada di tangan Komite Pusat, yang beranggotakan tiga orang dan dipilih di kongres setiap dua tahun. Di tingkatan lokal, Bund mengorganisir kelompok-kelompok serikat buruh (yang seringkali disalahterjemahkan sebagai ‘dewan-dewan dagang’), komite-komite propaganda dan komite-komite kaum intelektual, kelompok-kelompok diskusi dan komite-komite agitasi; mereka semua tampaknya kurang lebih beroperasi secara terpisah dari satu sama lain. Kelompok-kelompok serikat buruh beranggotakan 5-10 orang dari profesi kerja tertentu. Mereka ditunjuk oleh Komite Pusat dan bertemu secara reguler untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah serikat buruh. Hanya setelah Agustus 1902 Bund, di bawah tekanan Iskra, membentuk komite-komite revolusioner yang menyatukan buruh-buruh yang paling maju, yang terpisah dari kelompok serikat buruh. Seluruh struktur organisasi Bund diorganisir dengan sangat tidak Marxis, dimana buruh-buruh dari kelompok-kelompok serikat buruh dipisahkan dari kaum intelektual yang bekerja secara otonom di komite-komite mereka sendiri.

Kendati kekurangan-kekurangan Bund, kaum buruh dan artisan sosialis Yahudi memainkan peran yang penting di hari-hari awal gerakan. Kenyataan bahwa kongres pertama diselenggarakan di Minsk adalah bukti pengakuan terhadap peran mereka. Hanya Bund yang punya sumberdaya untuk mengorganisir kongres ini, di bawah pengawasan ketat polisi Tsar. Berkat kemampuan organisasi mereka kongres ini berhasil menyelesaikan enam sesinya yang berlangsung selama 3 hari. Karena tidak ada notulensi yang dicatat, secara praktis semua yang kita ketahui mengenai kongres ini termuat di resolusi-resolusi. Di bawah tekanan Bund, disetujui bahwa “Serikat Buruh Rusia dan Polandia akan memasuki partai sebagai organisasi otonom, yang independen terutama dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan kaum proletar Yahudi.”[3]

Konsesi untuk prasangka-prasangka kebangsaan Bund di hari depan akan memunculkan polemik besar, ketika masalah kebangsaan menjadi masalah utama yang dipertimbangkan oleh kaum Marxis Rusia. Walaupun menentang segala bentuk penindasan bangsa-bangsa minoritas, dan membela hak-hak bangsa-bangsa yang tertindas, termasuk hak penentuan nasib sendiri, Lenin menuntut perlunya mempertahankan persatuan organisasi-organisasi buruh dan melawan tendensi apapun untuk memecah-belah mereka dalam garis-garis nasional.

Gerakan sosial demokratik, seperti yang telah kita lihat, membuat progres yang spektakular di antara kaum buruh dan artisan Yahudi di daerah-daerah perbatasan sebelah barat Rusia. Akan tetapi, kepemimpinan organisasi buruh Yahudi ini, Bund, dekat dengan cara pandang reformis kaum Ekonomis. Tidak adanya pusat kepemimpinan yang kuat juga memperparah tendensi partikularisme lokal, yang memperburuk hubungan antara kaum sosialis non-Rusia dan kaum sosialis Rusia. Kepemimpinan Bund mulai mengembangkan cara pandang nasionalis yang sempit, yang bila tidak diperangi akan membawa konsekuensi buruk bagi kaum buruh Yahudi, sebagai bangsa minoritas yang tertindas. Osip Piatnitsky mengingat bahwa, pada 1902, “buruh-buruh Yahudi terorganisir lebih awal dan kerja di antara mereka lebih mudah dibandingkan dengan buruh-buruh Lithuania, Polandia, dan Rusia. Organisasi-organisasi buruh Yahudi tidak melakukan kerja di antara buruh yang bukan Yahudi, dan tidak ingin bekerja di antara mereka.”

Pada saat yang sama, perpecahan-perpecahan nasional telah mengakibatkan perpecahan bahkan di antara organisasi kelas buruh yang paling dasar. Tidak ada satupun serikat buruh di Rusia Barat yang menerima anggota dari semua bangsa. Partai-partai sendiri, yang terpecah dalam garis-garis nasional, punya serikat buruh mereka sendiri – Organisasi Sosial Demokrat Lithuania, Organisasi Sosial Demokrat Polandia, PPS, dan tentu saja Bund, semua memainkan peran negatif dalam memperparah perpecahan di antara buruh, yang sungguh menghambat kemajuan perjuangan buruh secara umum, dan buruh Yahudi terutama. Insting buruh-buruh Yahudi adalah untuk persatuan, tetapi para pemimpin mereka bersikeras ingin memisahkan mereka. Piatnitsky bercerita mengenai sebuah pertemuan sebuah komite Bund yang dia hadiri, “dimana didiskusikan, bahwa karena rendahnya kesadaran kelas kaum buruh Rusia mereka menghalangi perjuangan ekonomi kaum buruh Yahudi; karena, ketika buruh Yahudi mogok, buruh Rusia lalu mengambil tempat mereka. Keputusan mereka atas masalah ini menunjukkan kebijakan Solomon: beberapa buruh Rusia harus didorong untuk beragitasi di antara kamerad-kamerad mereka sendiri.”[4]

Tradisi kerajinan-tangan yang sempit, dan karakter industri yang kecil dan artisan di wilayah ini, adalah basis sosial dimana organisasi Sosial Demokratik Yahudi, Bund, tumbuh. Para pembuat perhiasan, tukang sepatu, tukang jahit, tukang pahat, ahli cetak dan tukang kulit dari kota Vilna lebih mudah terpengaruh oleh gagasan-gagasan Ekonomisme dibandingkan buruh metal dan garmen Petersburg. Akan tetapi, alasan sesungguhnya dari fenomena ini adalah kebingungan ideologis dari kepemimpinan mereka. Vladimir Akimov, seorang Ekonomis ekstrim, dalam bukunya mengenai sejarah awal Sosial Demokrasi Rusia, terpaksa mengakui bahwa para buruh Sosial Demokratik di kota Vilna mengeluh bahwa partai mereka “kurang politis”:

“Buruh sendiri yang menuntut dimasukkannya elemen ‘politik’ ke dalam agitasi Sosial Demokratik. Merekalah yang menuntut untuk mengekspos masalah-masalah yang ada di dalam sistem politik, untuk mengedepankan kenyataan bahwa rakyat tidak punya hak, untuk memformulasikan kepentingan buruh sebagai seorang warga negara. Tetapi organisasi revolusioner ini, yang berharap memandu (!!) gerakan buruh menuju gagasan-gagasan Sosial Demokrasi, takut kalau mereka tidak akan dapat dipahami oleh massa buruh (!), bahwa mereka akan kehilangan pengaruh bila sekarang mengajukan tuntutan-tuntutan untuk hak-hak ‘politik’ sebagai tuntutan proletariat. Apakah kelas buruh sudah cukup terdidik untuk mempertimbangkan dan memahami kepentingan-kepentingan mereka sendiri? Para pemimpin tidak yakin akan hal ini dan ragu dalam bertindak.”[5]

Penuturan singkat ini menyampaikan dengan sangat baik sikap sombong kaum Ekonomis terhadap kaum buruh, yang katanya mereka wakili. Di balik gagasan tersebut adalah ketidakpercayaan dalam kemampuan rakyat pekerja jelata untuk memahami pentingnya perjuangan politik. Akan tetapi perlunya perubahan sosial dan politik dihadapi oleh buruh dalam setiap langkah perjuangannya. Dari perjuangan ekonomi melawan majikan secara individual, para buruh pada momen tertentu secara tak-terelakkan meraih kesimpulan bahwa mereka harus melakukan transformasi masyarakat yang luas. Dan jauh sebelum ini, seperti yang ditunjukkan oleh gerakan klas buruh dari jaman Chartist sampai sekarang, kaum proletar memahami perlunya berjuang untuk setiap tuntutan parsial demokratis dan politik yang akan memperkuat posisinya, mengembangkan organisasi kelasnya, dan menciptakan kondisi-kondisi yang menguntungkan untuk perjuangan mereka.

Karena sejarah kejam Tsarisme di Rusia, mempertahankan posisi yang berprinsip mengenai masalah kebangsaan adalah kesulitan yang teramat besar. Karena ketidakpercayaan dan ketegangan antar bangsa-bangsa, kaum Sosial Demokrat Lithuania memutuskan untuk tidak menghadiri kongres partai “Rusia”. Dzerzhinsky kemudian menulis dengan geram: “Saya sangat memusuhi nasionalisme dan menganggapi ini adalah dosa terberat pada 1898, ketika saya ada di penjara, Sosial Demokrasi Lithuania tidak bergabung dengan Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia.”[6]

Begitu juga, kongres membuat sejumlah konsesi karena tekanan dari komite-komite lokal, yang ingin mempertahankan otonomi mereka. Sebuah resolusi menyatakan: “Komite-komite lokal akan melaksanakan perintah Komite Pusat dengan cara yang mereka anggap sesuai dengan kondisi-kondisi lokal. Dalam kasus-kasus khusus, komite-komite lokal punya hak untuk menolak melaksanakan perintah Komite Pusat, dan menginformasikannya alasan penolakannya. Dalam hal-hal lain, komite-komite lokal akan berfungsi secara independen, dan hanya dipandu oleh program partai.”[7]

Sebuah Komite Pusat yang beranggotakan tiga orang dipilih. Disetujui untuk menerbitkan sebuah manifesto. Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri diakui sebagai perwakilan di luar negeri; dan Rabochaya Gazeta ditunjuk sebagai organ resminya. Akan tetapi, harapan yang dibangkitkan oleh kongres ini tidak ditakdirkan untuk dipenuhi. Salah satu partisipannya, Tuchapsky, menulis di memoarnya: “Kami meninggalkan Kongres dengan perasaan bersemangat akan perjuangan kami. Setibanya di Kiev saya memberikan laporan balik kepada Liga dan Komite Buruh. Resolusi-resolusi kongresi disetujui sepenuhnya. Tampaknya sekarang kerja kami akan bergerak ke depan dengan lebih baik dan lebih berhasil dibandingkan sebelumnya. Tetapi hanya seminggu setelah kepulangan saya, organisasi Kiev diremukkan.”[8]

Sebelum bulan itu selesai, lima dari sembilan partisipan telah ditangkap, termasuk seorang anggota KP. Satu-satunya pencapaian dari KP adalah penerbitan manifesto yang telah disetujui, yang ditulis oleh Struve, yang, walaupun sudah bergerak ke kanan, menulis sebuah manifesto yang sangat baik – pelayanan terakhirnya kepada perjuangan yang tak lama kemudian dia khianati. Kongres Pertama telah mencapai apa yang mampu dicapainya. Partai ini setidaknya eksis sebagai sebuah potensi, sebuah panji, dan sebuah Manifesto. Tetapi kondisi-kondisi di Rusia membuatnya mustahil untuk menyatukan partai di atas basis yang berprinsip. Apa yang dapat dilakukan oleh kongres ini hanyalah menunjukkan jalan. Dari 1898 hingga 1917, tidak ada kongres Partai yang diselenggarakan di Rusia. Pengalaman ini telah mendemonstrasikan kemustahilan, di bawah kondisi ilegal, untuk membangun pusat politik yang sehat di dalam Rusia. Pusat gravitasi organisasi niscaya pindah ke luar negeri, dimana kekuatan-kekuatan Marxisme Revolusioner, di bawah kondisi relatif aman, dapat berhimpun kembali dan menyiapkan tahapan berikut: merealisasikan apa yang telah dicoba di Minsk pada 1898.

Secara praktek, kongres ini tidak mengubah banyak hal. Trotsky, yang telah mendengar mengenai kongres ini dari penjara, berkomentar bahwa “beberapa bulan setelahnya, tak ada seorangpun yang berbicara mengenai kongres ini lagi.”[9] Setelah gelombang eforia awal, komite-komite lokal ini tenggelam kembali ke rutinitas kerja lokal mereka, memproduksi selebaran-selebaran dan proklamasi-proklamasi mengenai gerakan pemogokan, yang terus menyebar. Kelompok-kelompok di dalam Rusia terus berfungsi dengan kontak atau tanpa kontak sama sekali antara satu sama lain, dan tanpa sebuah organisasi politik pusat. Selain kebingungan politik, juga ada kekacauan organisasi dan metode kerja amatiran.

Rabocheye Dyelo

Seperti paradoks, penyelenggaraan Kongres Pertama terjadi bersamaan dengan titik terendah Kelompok Emansipasi Buruh. Hubungan dengan kaum muda eksil sudah retak. Kongres Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri di Zurich pada November 1898 hanya menggarisbawahi keterisolasian Kelompok Emansipasi Buruh. Di pertemuan tersebut, kaum muda punya mayoritas dan menggunakan ini untuk merebut kendali Perhimpunan ini. Karena perbedaan pendapat yang tajam di dalam Perhimpunan ini, para veteran Kelompok Emansipasi Buruh tidak punya pilihan lain selain mundur dari posisi mereka. Kepemimpinan Perhimpunan ini – terutama Krichevsky, Ivashin, dan Teplov – lebih cenderung ke posisi Ekonomis, tetapi merasa malu dengan reformisme dan Bernsteinisme berlebihan dari koran Rabochaya Mysl’, yang merupakan ekspresi Ekonomisme yang paling ekstrim, yang diwakili di dalam Perhimpunan ini oleh S.N. Prokopovich dan istrinya Y.D. Kuskova. Mereka oleh karenanya memutuskan untuk menghentikan penerbitan Rabotnik, dan meluncurkan koran mereka sendiri, Rabocheye Dyelo, yang sesuai dengan keputusan kongres Minsk.

Sementara koran Rabochaya Mysl’ mewakili pembelaan teori Bernstein dan Ekonomisme secara jelas dan terbuka, koran Rabocheye Dyelo mewakili sebuah tendensi, seperti yang Lenin jelaskan, yang “cair dan tidak-jelas, tetapi karena alasan ini maka ia lebih gigih, lebih mampu muncul kembali dalam berbagai bentuk.”[10] Koran ini diterbitkan sebagai organ Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri dari tahun 1899 hingga 1902, dengan dewan editornya di Paris dan tempat cetaknya di Jenewa. Para editornya termasuk para pembela Ekonomisme terkemuka seperti B.N. Krichevsky dan A.S. Martynov. Martynov kemudian lulus dari Ekonomisme, lewat Menshevisme, ke Stalinisme, tanpa harus memodifikasi prinsip-prinsip fundamentalnya sama sekali.

Sejak awal, Rabocheye Dyelo mencoba main petak umpet dengan gagasan Marxisme, dengan mengklaim bahwa perbedaan mereka dengan Kelompok Emansipasi Buruh bukanlah perbedaan politik tetapi perbedaan organisasional dan taktik. Akan tetapi, hubungan antara Rabocheye Dyelo dan Bernsteinisme diindikasikan oleh artikel-artikel yang muncul di koran-koran sosialis Eropa, yang ditulis oleh para editor Rabocheye Dyelo untuk membela Bernstein dan Millerand. Yang belakangan ini adalah pemimpin sosialis Prancis yang oportunis, yang bergabung dengan koalisi borjuis pada awal abad ke-20. Penghargaan harus diberikan kepada para pendukung Rabocheye Dyelo yang menciptakan teori tahapan, yang lalu diambil dalam bentuk yang termodifikasi oleh kaum Menshevik dan kemudian kaum Stalinis. Teori kasar yang mekanikal dan reformis ini mengatakan bahwa sebelum kaum buruh siap untuk revolusi sosialis, mereka harus terlebih dahulu melalui berbagai tahapan. Pertama, agitasi yang murni ekonomik, kemudian agitasi politik dihubungkan secara langsung dengan agitasi ekonomi, dan kemudian agitas politik murni! Pada kenyataannya, buruh Rusia tidak perlu menunggu kaum Ekonomis untuk memberitahu mereka kapan mereka siap untuk agitasi politik, tetapi langsung terjun ke perjuangan politik, seperti yang ditunjukkan oleh statistik pemogokan dan demonstrasi politik pada tahun-tahun awal abad ke-20.

Ini adalah momen tergelap dari kehidupan Kelompok Emansipasi Buruh. Isolasi dan stres dari perjuangan faksional membawa ke permukaan semua friksi yang terakumulasi di dalam kelompok ini. Yang terutama serius adalah perselisihan antara Axelrod dan Plekhanov, yang sekarang muncul ke permukaan. Axelrod punya alasan untuk mengeluh. Selama bertahun-tahun, dia harus memanggul beban bekerja dengan Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri dan menerima serangan-serangan dari kaum muda, sementara Plekhanov tenggelam dalam kerja menulis, dan belakangan bahkan lalai dalam kerja ini. Untuk waktu yang lama dia mengabaikan permohonan Axelrod untuk mengintervensi tendensi baru ini. Alih-alih dia mencoba berkolaborasi dengan jurnal baru ini, yang mulai mendapatkan dukungan. Alasan mengapa sikapnya seperti ini mungkin beragam: sebagian, karena dia sibuk berpolemik melawan Bernstein, dan tidak suka menghabiskan waktu dan usaha terlibat dalam apa yang tampaknya perselisihan remeh-temeh. Sebagian lagi karena dia meremehkan bahaya tendensi ini, dan merasa bahwa ini adalah fase sementara kaum muda. Alasan yang paling mungkin adalah dia takut pecah dengan kaum muda, yang lalu akan memotong hubungannya dengan Rusia dan membuat mereka terbuka pada tuduhan bahwa mereka menghalangi kerja kamerad-kamerad di interior. Tidak adanya dukungan dari dalam Rusia adalah problem yang serius bagi Plekhanov dan kolega-koleganya.

Tetapi pada awal 1899, Plekhanov tidak bisa lagi tinggal diam. Jerami yang terakhir adalah ketika Bernstein membual bahwa mayoritas kaum Sosial Demokrat Rusia lebih dekat ke gagasannya daripada ke gagasan Plekhanov. Kaum Marxis Legal, yakni Struve, Bulgakov, dan Berdyayev, juga secara publik berbaris di belakang tendensi revisionis. Yang paling mengkhawatirkan, sejak Desember 1898, kaum Ekonomis muda mendominasi Sosial Demokrasi Petersburg. Menyadari bahwa tendensi Ekonomisme yang sebelumnya tak-berbentuk sekarang mewakili varian Rusia dari revisionisme Bernstein, Plekhanov mulai menulis balasan utamanya, yakni “Vademecum for the Editors of Rabocheye Dyelo” yang terkenal itu, yang muncul pada 1900. Ini disusul dengan artikel lain, “Once Again Socialism and Political Struggle”, yang diterbitkan di jurnal teori Zarya, dimana dia mengkritik usaha Rabocheye Dyelo untuk mengaburkan perbedaan antara kaum pelopor revolusioner yang sadar dan massa kelas buruh:

“Seluruh kelas buruh adalah satu hal, dan partai Sosial Demokratik adalah hal yang lain, karena partai ini hanya membentuk sebuah barisan yang ditarik dari kelas buruh – dan awalnya sebuah barisan yang sangat kecil … Saya berpikir bahwa perjuangan politik harus segera dimulai oleh partai kita yang mewakili garda depan proletariat, stratanya yang paling konsisten dan revolusioner.”[11] Plekhanov sekarang melempar dirinya ke dalam polemik ini, tidak peduli kalau ini akan menyebabkan perpecahan. Kepercayaan dirinya menemukan dorongan yang kuat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, di Siberia.

Dari kedalaman Siberia, Lenin dan eksil-eksil Sosial Demokrat lainnya mengikuti dengan penuh kekhawatiran peristiwa-peristiwa yang sedang bergulir ini. Secara paradoks, relatif mudah bagi mereka untuk melakukan kegiatan politik pada tingkatan tertentu. Era kamp-kamp konsentrasi Stalin dan Hitler belumlah muncul. Perlakuan terhadap para eksil politik sangat bervariasi, dari sangat kejam sampai cukup bebas secara relatif. Tetapi secara umum, pihak otoritas Tsar cukup puas mengandalkan jarak jauh yang memisahkan pusat-pusat kota dari pemukiman-pemukiman terisolasi di bantaran sungai Yenisey sebagai pertahanan terhadap penyebaran gagasan-gagasan revolusioner. Para tahanan politik biasanya tidak dimasukkan ke bui. Ini tak perlu dilakukan. Mereka diawasi oleh para pejabat lokal, yang sangat jarang ada. Oleh karenanya, para eksil revolusioner ini dapat mengikuti peristiwa-peristiwa dengan cukup mudah, menerima buku dan koran, melakukan korespondensi, dan bahkan melakukan pertemuan-pertemuan ilegal. Lenin, sementara mengerjakan karya monumentalnya “Development of Capitalism in Russia”, mengikuti dengan dekat polemik Plekhanov melawan Bernstein. Berita krisis di Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri, dan pengunduran diri Plekhanov adalah pukulan yang menyakitkan. Kemenangan tendensi Ekonomisme mengejutkan para eksil. Lenin mulai menulis serangkaian artikel polemik, seperti “Our Immediate Task”, “A Retrograde Trend in Russian Sosial Democracy” dan “Apopos of the Profession de Foi[12], dimana gagasan-gagasan Ekonomisme dikritik tanpa belas kasihan.

Satu peristiwa yang membuat para eksil murka adalah munculnya “Credo” yang ditulis oleh Kuskova pada awal 1899. Pengarang dokumen ini sendiri memprotes bahwa dokumen tersebut ditulis bukan untuk publikasi. Bagaimanapun juga, tidak ada keraguan kalau “Credo” mengekspresikan dengan jelas gagasan-gagasan pokok Ekonomisme. Lenin mendraf “Protest of the Russian Sosial Democracy[13] untuk menjawabnya dan menyelenggarakan pertemuan antara 17 eksil yang bertemu di desa Yermakovskoe di Siberia pada akhir musim panas 1899. Pertemuan tersebut dengan suara bulat mengadopsi teks Lenin tersebut, yang dikirim ke luar negeri untuk dipublikasikan oleh Plekhanov.

Kata-kata dari “Credo” tersebut layak diulang di sini:

“Perubahan [di dalam partai] tidak hanya untuk lebih menggiatkan perjuangan ekonomi dan konsolidasi organisasi-organisasi ekonomi, tetapi juga, dan lebih penting, dalam sikap partai terhadap partai-partai oposisi lainnya. Marxisme yang tidak toleran, Marxisme yang negatif, Marxisme yang primitif (yang konsepsi divisi kelasnya terlalu skematik) akan digantikan dengan Marxisme yang demokratis, dan posisi sosial partai di dalam masyarakat moderen harus berubah dengan drastis. Partai akan mengenali masyarakat: tugas-tugasnya yang sempit, korporatif, dan, di kebanyakan kasus, sektarian akan diubah menjadi tugas-tugas sosial, dan perjuangannya untuk perebutan kekuasaan akan diubah menjadi perjuangan untuk perubahan, perjuangan untuk reforma terhadap masyarakat hari ini yang berdasarkan garis-garis demokratik yang diadaptasi untuk situasi hari ini, dengan tujuan melindungi hak-hak (semua hak-hak) kelas pekerja dengan cara yang paling efektif dan penuh …”

“Pembicaraan mengenai partai politik buruh yang independen hanyalah hasil dari cangkokan tujuan-tujuan asing di Rusia … Bagi kaum Marxis Rusia hanya ada satu jalan: partisipasi dalam, dalam kata lain bantuan untuk, perjuangan ekonomi kaum proletar, dan partisipasi dalam aktivitas oposisi liberal.”[14]

Logika dari “Credo” ini sangat jelas: kelas buruh tidak seharusnya berusaha membentuk partai revolusionernya sendiri, tetapi harusnya membatasi dirinya pada kerja serikat buruh yang “praktis” dan meninggalkan kerja politik untuk perubahan sistem hari ini kepada kaum liberal borjuis.

Tulisan-tulisan polemik Lenin terhadap kaum Ekonomis, yang diawali dengan “Protest of the Russian Sosial Democracy”, adalah pernyataan ulang gagasan-gagasan Marx dan Engels mengenai masalah kaum proletar dan partainya. Kaum proletar hanya baru saja menyadari potensi historisnya, untuk menjadi sebuah kekuatan yang riil, dimana mereka mengorganisir dirinya sebagai sebuah kelas, yang mandiri dari kelas-kelas yang lain.

Sejarah gerakan buruh dimulai dengan serikat-serikat buruh, organisasi kelas yang paling dasar yang “tidak hanya alami, tetapi juga adalah sebuah fenomena esensial di bawah kapitalisme dan … sebuah cara yang sangat penting untuk mengorganisir kelas buruh di dalam perjuangan sehari-harinya melawan kapital dan untuk menghapus kerja-upahan”. Tetapi segera setelah terbentuk, serikat-serikat buruh tidak bisa membatasi ranah aktivitas mereka pada tuntutan-tuntutan ekonomi, tetapi secara-tak-terelakkan cenderung bergerak ke ranah politik. Di sini, yang ada bukanlah perjuangan sporadik tiap-tiap kelompok buruh melawan majikan mereka, tetapi perjuangan proleratiat secara keseluruhan melawan kaum borjuasi sebagai sebuah kelas, dan negaranya. Karena keharusan, kaum proletar dan partainya bersinggungan dengan kelas-kelas lain, kaum tani dan kelas menengah, dan harus membentuk hubungan kerja dengan kelompok-kelompok lain, tetapi kaum proletar melakukan ini dari sudut kepentingan mandirinya sebagai sebuah kelas. Tugasnya adalah memimpin semua lapisan tertindas lainnya untuk melaksanakan transformasi masyarakat secara fundamental. “Hanya partai kelas buruh yang mandiri,” tulis Lenin, “yang dapat menjadi kekuatan besar untuk melawan otokrasi, dan hanya dengan beraliansi dengan partai seperti ini, hanya dengan mendukungnya, maka semua pejuangan kebebasan politik lainnya dapat memainkan peran yang efektif.”[15]

Oleh karenanya, sejak awal gerakan Rusia, sebuah garis pembatas yang jelas telah ditarik di antara dua tendensi. Yang pertama, sebuah tendensi Marxis revolusioner, yang mendasarkan dirinya pada kelas buruh dan menghubungkan perspektif penumbangan revolusioner rejim Tsar dengan perjuangan hegemoni kelas buruh di dalam kamp demokrasi revolusioner, yang dengan tegas menolak semua usaha untuk mengsubordinasi buruh di bawah kaum liberal dan kaum borjuasi “progresif”. Yang kedua, sebuah tendensi reformis, yang walaupun memberikan layanan-bibir kepada Marxisme, berkhotbah mengenai kebijakan kolaborasi kelas dan kebijakan menunduk pada kaum liberal. Secara esensi, ini adalah dasar dari perselisihan antara kaum Marxis dan kaum Ekonomis. Dalam berbagai kedok, perjuangan yang sama terus terulang berkali-kali di dalam sejarah gerakan revolusioner Rusia, dan dengan nama-nama yang berbeda – walaupun argumen dasarnya kurang-lebih sama – terus muncul sampai hari ini.

Pada kenyataannya, yang dibutuhkan adalah mencetak kader-kader, yang terdidik dalam teori dan praktek Marxisme dan terintegrasikan di dalam gerakan kelas buruh, dimulai dari lapisannya yang paling aktif dan sadar. Komposisi kelas partai harus mayoritas proletariat. Mahasiswa dan intelektual dapat memainkan peran penting, menyuburkan gerakan dengan gagasan-gagasan mereka dan membantu perkembangannya, dengan satu syarat – mereka harus pecah dari kelas mereka dan meletakkan diri mereka di atas basis proletariat, tidak hanya dalam kata-kata tetapi dalam praktek sehari-hari. Masalahnya dengan kaum Ekonomis adalah bahwa mereka melihat, bukan wajah kaum proletariat, tetapi hanya pantatnya saja.

Kalau gerakan Rusia harus dimulai dengan kaum intelektual tidaklah mengejutkan sama sekali. Ini hampir seperti sebuah hukum, dan terlebih lagi di Rusia, karena seluruh sejarah dan kondisi gerakan revolusioner Rusia pada 1870an dan 1880an. Tetapi di bawah kondisi-kondisi baru, seluruh situasi berubah. Sebuah generasi baru buruh-revolusioner dengan cepat maju ke depan, yakni lulusan-lulusan pertama dari “universitas” lingkaran-lingkaran Marxis pada 1890an. Untuk pertama kalinya, di banyak tempat para buruh mulai menjalankan komite-komite dengan sendirinya. Tidak seperti yang dikatakan oleh sejumlah orang, ini bukan karena teori-teori demokratis kaum intelektual Ekonomis, yang kendati buruh-isme mereka ternyata sangat ragu untuk menyingkir dan memberikan ruang kepada kaum buruh di komite-komite kepemimpinan, seperti yang dituntut oleh Lenin. Ini hampir semua karena gelombang penangkapan terus-menerus, yang terus melempar ke penjara para pemimpin yang lebih berpengalaman.

Perlunya menghindari deteksi dan penangkapan, yang merupakan syarat paling dasar untuk eksis di bawah rejim negara-polisi, dan bukan karena teori organisasi yang sudah-jadi, adalah alasan mengapa tendensi dominan di dalam Sosial Demokrasi pada waktu itu adalah berdasarkan konsepsi organisasi yang sangatlah tersentralisir. Perintah dari pusat adalah hukum, dan tidak bisa ada demokrasi normal yang berfungsi. Sebuah komite kepemimpinan sentral yang kecil, yang tidak dipilih, diperbarui dengan kooptasi. Di bawahnya adalah berbagai komisi – untuk propaganda, agitasi, penggalangan dana, percetakan, dan lain-lain. Di bawah kondisi yang ada, cara beroperasi seperti ini adalah sebuah keharusan. Walaupun demikian, ini tidak mencegah infiltrasi oleh agen-agen provokator, yang sering kali berhasil masuk ke posisi-posisi kunci partai. Akan tetapi, prinsip sentralisme sering kali dibawa terlalu jauh oleh kaum intelektual yang mendominasi komite-komite. Lenin sejak awal telah menekankan perlunya mendidik kader-kader buruh dan membawa mereka masuk ke badan-badan kepemimpinan. Tetapi kerja ini seringkali berbenturan dengan cara berpikir para pemimpin intelektual yang sempit dan tidak sensitif, yang dengan rasa cemburu menjaga hak-hak prerogatif mereka dan menginterpretasikan gagasan sentralisme dengan bias, selalu menemukan seratus alasan untuk tidak memasukkan buruh ke dalam komite-komite.

Situasi ini berubah dengan gelombang penangkapan pada paruh kedua 1890an. Dalam sekejap, selapisan buruh yang tidak pernah punya pengalaman memimpin terpaksa harus mengambil alih kepemimpinan mereka. Prokofiev, seorang buruh, menjelaskan reaksinya atas penangkapan tiba-tiba para pemimpin organisasi Moskow pada 1893: “Saya merasa depresi, sakit, dan malu. Tiba-tiba kita ditinggalkan tanpa para pemimpin. Ini adalah pukulan yang tak dapat diperbaiki. Ketika saya memberitahu kamerad-kamerad saya, kita meratap dan duduk-duduk seperti di acara pemakaman,” tetapi kemudian mereka mencapai kesimpulan bahwa “… Tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan kecuali bertahan dan meneruskan pekerjaan ini dengan sendirinya. Jadi kami memulai bekerja sendiri.” Buruh-buruh seperti Babushkin di St. Petersburg menjadi mandiri pada periode ini. Diasingkan di Yekaterinoslav di selatan, yang saat itu adalah pusat pemberontakan yang bergejolak, Babushkin menunjukkan bahwa dirinya dapat menjalankan organisasi tanpa bantuan.

Kekacauan organisasi secara umum, serta pengaruh gagasan-gagasan kaum Ekonomis, berarti bahwa di beberapa daerah organisasi terpecah menjadi dua kelompok terpisah: satu untuk buruh dan satu lagi untuk kaum intelektual. Metode yang keliru ini ada di Yekaterinoslav, yang menciptakan kondisi untuk berkembangnya rasa curiga dan antagonisme. “Saya ingat,” tulis Babushkin, “bahwa para intelektual sering mengkritik bahasa selebaran [kaum buruh] yang tidak indah, dan akhirnya satu selebaran diperpendek dan diubah oleh komite ‘kota’. Ini menyebabkan benturan langsung yang mengancam perpecahan antara kaum buruh dan kaum intelektual.”[16] Secara umum, perkembangan Liga Buruh Moskow tidak berbeda secara fundamental dari Liga Perjuangan St. Petersburg, yang menjadi contoh bagi seluruh Rusia dan kita akan mengambilnya sebagai poin referensi utama kita. Para pemimpin di Moskow menderita dari serangkaian penangkapan, terutama setelah tahun 1896 ketika Zubatov mengambilalih departemen kepolisian dan menggunakan elemen-elemen di dalam gerakan yang tak-dapat-diandalkan dan lemah untuk mendapatkan informasi mengenai Liga Buruh Moskow dan mengirim agen-agen provokator.

Setelah setiap gelombang penangkapan, organisasi memperbaharui dirinya dengan buruh-buruh baru yang dalam praktek belajar untuk mempercayai kemampuan mereka sendiri. Beberapa tahun kemudian, Lenin mengingatkan “orang-orang komite” yang tidak percaya pada kemampuan buruh untuk menjalankan partai pada periode ini, bahwa buruh seperti Babushkin telah melakukan ini. Kendati demikian, partai memasuki abad ke-20 dengan kondisi yang sangat sulit. Pada 1900, tendensi Ekonomis tampaknya telah menang. Di daerah barat, kaum Ekonomis memegang kendali penuh. Di Ukraina, mereka juga punya posisi yang dominan. Komite Kiev mendukung garis Ekonomis yang ekstrim, yakni “Credo”. Akan tetapi, ada tanda-tanda bahwa mood para buruh anggota mulai bereaksi melawan situasi ini. Di bawah pengaruh Babushkin yang tidak mengenal lelah, organisasi Yekaterinoslav, yang pada peralihan abad punya 24 lingkaran buruh dengan 200 buruh di dalamnya, menentang Ekonomisme.

Pada Januari 1900, atas dorongan organisasi Yekaterinoslav, koran Yuzhyn Rabochii (Buruh Selatan) diluncurkan. Koran ini mengeluarkan 13 Edisi sampai April 1903, ketika mereka berhenti terbit. Yuzhny Rabochii menentang Ekonomisme, tetapi tidak punya basis teori yang kuat dan cenderung goyah. Karena semangat lingkaran lokal dan keamatiran pada saat itu, dewan editornya terbentuk dari perwakilan komite-komite lokal dengan berbagai opini yang berbeda-beda, sebuah fakta yang terrefleksikan dalam posisi koran ini yang tidak tegas dalam polemik antara Iskra dan Ekonomisme. Walaupun akhirnya koran ini berfusi dengan Iskra.

Tendensi yang serupa juga ditemui di sebuah kelompok kecil koran Bor’ba (Perjuangan), sebuah koran yang diluncurkan oleh David Ryazanov. Karena mengakui bakat menulis Ryazanov, dan juga untuk mendapatkan dukungan untuk Iskra dan Zarya, Lenin melakukan segalanya untuk bisa melakukan kerja sama, walaupun sebenarnya kelompok Bor’ba sangatlah kecil, hanya terdiri dari sekelompok intelektual di Paris. Di Rusia, hanya komite Odessa yang dekat dengan kelompok Bor’ba. Mereka adalah contoh tipikal dari sebuah sekte intelektual kecil, yang aktivitasnya hanyalah kerja literatur, dan yang gagasan-gagasannya adalah campur-aduk dari berbagai gagasan dari tendensi-tendensi lain, tetapi mereka berpura-pura berdiri di atas semua faksi. Kelompok-kelompok yang serupa terus muncul dalam sejarah gerakan revolusioner, dan hampir selalu memainkan peran yang buruk, itupun kalau mereka memainkan peran sama sekali.

Usaha Bar’ba untuk berperan sebagai “penengah” antara Iskra dan Rabocheye Dyelo segera mendorongnya berbenturan dengan tendensi Marxis yang konsisten. Ryazanov mencoba menekan Iskra dengan menolak bekerja sama, kecuali kalau Iskra mengurangi kritik mereka terhadap Rabocheye Dyelo. Ketika pemerasan ini tidak berhasil, dia membubarkan “kelompok promosi Iskra” di Paris dan mulai mengeluh kalau Iskra telah “melanggar netralitas organisasional”.[17] Akhirnya Lenin melepas mereka. Kelompok Bor’ba tidak memainkan peran apapun lagi. Pada Kongres Kedua, mereka tidak diterima, dan kelompok ini segera bubar. Ryazanov kemudian muncul kembali sebagai pengajar di sekolah Capir dari faksi ultra-kiri Vperyod (Maju) pada 1909 (tidak boleh dibingungkan dengan koran dengan nama yang sama yang diluncurkan oleh Lenin pada 1904). Kendati kesalahan-kesalahannya, Ryazanov adalah seorang intelektual yang berbakat. Setelah revolusi, dia menjadi direktur Institut Marxisme-Leninisme, sampai akhirnya dia, seperti yang lainnya, dibersihkan oleh Stalin.

Kelahiran Iskra

Bergabungnya para pemimpin Rusia yang diasingkan ke dalam polemik ini memberikan dorongan besar kepada Plekhanov. Masih di Siberia, Lenin membentuk “troika” dengan Martov dan Potresov, yang dengan dorongannya mengambil langkah untuk berhubungan dengan Kelompok Emansipasi Buruh. Gagasan utama Lenin adalah untuk membangun kembali partai dengan sebuah koran Marxis sejati. Usaha ini jelas hanya akan berhasil bila mereka bergabung dengan Plekhanov di pengasingan Eropa. Setelah menghabiskan masa pengasingannya, pada awal 1900, Lenin secara ilegal pergi ke St. Petersburg dimana dia bertemu dengan Vera Zasulich, yang telah dikirim untuk membangun kontak dengan interior. Bulan-bulan berikutnya disibukkan dengan persiapan untuk penerbitan koran baru Iskra, yang melibatkan serangkaian kunjungan ke kelompok-kelompok Sosial Demokratik di berbagai daerah Rusia, dimana Lenin dan para koleganya terkejut bahwa gagasan-gagasan mereka disambut hangat oleh cukup besar anggota-anggota bawahan. Pada musim panas 1900, semuanya sudah siap untuk berhubungan langsung dengan kelompok Plekhanov.

Dengan harapan besar, Lenin berangkat ke Swiss pada bulan Juli. Harapan besarnya tidak berlangsung lama. Setelah pengalaman pahit perpecahan Perhimpunan Sosial Demokrat, Plekhanov sangat sensitif. Dia cepat tersinggung dan sangat curiga terhadap para pendatang baru ini. Diskusi-diskusi antara Plekhanov, Axelrod, dan Zasulich di satu sisi dan Lenin dan Potresov di sisi lain berlangsung dengan atmosif yang sangat tegang. Lenin dan Potresov terkejut dengan sikap Plekhanov yang tidak toleran dan kasar. Pada saat itu, negosiasinya tampak akan gagal. Di artikel “How the ‘Spark’ Was Nearly Extinguished”[18] – sebuah artikel yang ditulis tidak lama setelah kembalinya Lenin dari negosiasi dengan Plekhanov – Lenin mengekspresikan kesan pahitnya akan sikap Plekhanov terhadapnya. “ ‘Rasa suka’ saya terhadap Plekhanov lenyap seperti kena sihir, dan saya merasa tersinggung dan sakit hati. Tidak pernah, tidak pernah dalam hidupku saya menghormati orang lain seperti saya menghormati Plekhanov, tidak pernah saya berdiri di hadapan orang lain dengan begitu ‘rendah dirinya’ dan tidak pernah sebelumnya saya secara kejam ‘ditendang’.”

Sikap Plekhanov dapat dimengerti. Dia telah mengalami banyak pengalaman buruk dengan anak-anak muda yang datang dari interior, dan dia masih ingat kudeta kaum muda di Perhimpunan Sosial Demokrat Luar Negeri. Juga ada perbedaan pendapat mengenai bagaimana mereka harus memulai kerja. Karena sangat ingin memulihkan kekuatan maksimum gerakan di Rusia, Lenin dan yang lainnya telah memberikan sejumlah konsesi kepada Struve, termasuk pernyataan di dalam draf deklarasi bahwa Iskra akan terbuka untuk berbagai tendensi politik yang berbeda-beda. Kekeliruan ini segera digunakan oleh Plekhanov untuk menyalurkan kemarahannya yang sudah terkumpul kepada para pendatang baru yang terkejut ini. Insiden ini adalah indikasi akan situasi di dalam Kelompok Emansipasi Buruh. Periode isolasi yang lama dari gerakan buruh di Rusia mulai memiliki pengaruhnya.

Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1922, ketika Revolusi Oktober sudah lima tahun tuanya, dan Plekhanov sudah meninggal empat tahun yang lalu, Trotsky mengekspresikan sisi kuat dan lemah sang kakek tua ini: “Plekhanov berbicara seperti seorang pengamat, seperti seorang kritikus, seperti seorang penulis tetapi tidak seperti seorang pemimpin. Seluruh nasibnya tidak memberikan dia kesempatan untuk secara langsung berbicara kepada massa, untuk menyerukan kepada mereka untuk beraksi dan memimpin mereka. Sisi-sisi lemahnya datang dari sumber yang sama yang memberikan dia kekuatannya: dia adalah seorang pelopor, pejuang Marxis pertama di tanah Rusia … Dia bukan pemimpin aktif kaum proletar, tetapi hanya pembawa teori untuk kaum proletar. Dengan berpolemik dia mempertahankan metode-metode Marxisme, tetapi dia tidak punya kesempatan untuk mengaplikasikan mereka di dalam praktek. Walaupun tinggal di Swiss selama beberapa dekade, dia selalu adalah eksil Rusia. Sosialisme Swiss yang oportunis, munisipal, dan kedaerahan, dengan tingkat teorinya yang sangat rendah, tidak menarik buat Plekhanov. Tidak ada partai Rusia. Bagi Plekhanov, tempatnya adalah Kelompok Emansipasi Buruh, yakni lingkaran kecil simpatisan (Plekhanov, Axelrod, Zasulich, dan Deutsch, yang menjalani kerja paksa). Semakin Plekhanov berusaha memperkuat akar teori dan filsafat dari posisinya, semakin pendek akar politiknya. Sebagai pengamat gerakan Buruh Eropa, dia tidak memperdulikan manifestasi-manifestasi politik dari kesempitan-berpikir, kepengecutan, dan kompromi oleh partai-partai sosialis; akan tetapi dia selalu siap sedia melawan semua pengkhianatan teori di literatur-literatur sosialis. Pelanggaran kesatuan teori dan praktek ini, yang tumbuh dari seluruh takdir Plekhanov, menjadi fatal baginya. Dia ternyata tidak siap untuk peristiwa-peristiwa politik besar kendati kesiapan teorinya yang luar biasa.”[19]

Pertemuan dengan Lenin dan Potresov mengungkapkan betapa terlambatnya para anggota Kelompok Emansipasi Buruh dari tuntutan-tuntutan gerakan pada tahapan saat itu. Metode-metode informal, bentuk organisasi yang longgar, pencampuran masalah-masalah pribadi dengan isu-isu politik yang merupakan karakter utama dari lingkaran propaganda kecil, semua ini menjadi hambatan-hambatan yang tidak bisa ditoleransi lagi ketika organisasi partai massa dan intervensi dalam gerakan massa sudah menjadi sebuah kebutuhan. Terutama karena kesabaran Lenin yang besar – dan juga karena konsekuensi perpecahan sangat jelas bagi semua orang – perpecahan ini dapat dihindari. Tetapi walaupun hubungan kerjasama yang cukup baik dapat segera dipulihkan, penyebab utama konflik ini tetap tidak terselesaikan dan akan muncul kembali dengan kekuatan yang lebih besar di hari depan. Kompromi yang akhirnya dicapai oleh kedua puhak berarti Iskra akan punya dewan editorial enam orang, yang terdiri dari troika – Lenin, Martov, dan Potresov – dan Kelompok Emansipasi Buruh – Plekhanov, Axelrod, dan Zasulich, dengan Plekhanov punya dua suara. Kendali terhadap jurnal teori, Zarya (Fajar) secara efektif ada di tangan Plekhanov. Tetapi hubungan antara anggota tua Kelompok Emansipasi Buruh dan para editor baru telah rusak secara serius. Lenin menulis: “Dari luar, seperti tidak ada yang terjadi: aparatus terus bekerja seperti sebelumnya, tetapi di dalam sebuah kabel telah putus, dan alih-alih hubungan personal yang baik, yang ada adalah hubungan bisnis yang hambar, yang berdasarkan prinsip so vis pacem, para bellum [Bila kau menginginkan kedamaian, bersiaplah untuk perang].”[20]

Declaration of the Editorial Board of Iskra[21] diterbitkan pada bulan September. Deklarasi ini seperti sebuah deklarasi perang terhadap semua tendensi lainnya di dalam gerakan buruh Rusia. Tidak seperti draf awal yang ditulis oleh troika, deklarasi ini mengutuk dengan menggunakan nama tidak hanya Bernstein dan Rabochaya Mysl’ tetapi juga Rabocheye Dyelo dan Struve (Plekhanov terutama menekankan ini). Draf awal Lenin ditulis dengan nada yang secara umum bersifat damai. Draf yang sudah dikoreksi memiliki nada yang lebih tegas:

“Sebelum kita dapat bersatu, dan supaya kita dapat bersatu, kita pertama-tama harus menarik garis pembatas yang tegas dan jelas. Kalau tidak, persatuan kita akan semata-mata palsu, persatuan tersebut akan menutupi kebingungan yang ada, dan mencegah penghapusan kebingungan tersebut. Oleh karenanya, dapat dimengerti kalau kita tidak bermaksud membuat koran kita semata-mata gudang untuk berbagai cara pandang. Sebaliknya, kita akan menjalankannya dengan semangat tendensi yang ketat. Tendensi ini dapat diekspresikan dengan kata Marxisme, dan kita tidak perlu menambahkan kalau kita berdiri untuk perkembangan gagasan-gagasan Marx dan Engels secara konsisten, dan kita dengan keras menolak ‘koreksi-koreksi’ yang tidak jelas, kabur, dan oportunis yang dilakukan oleh Edward Bernstein, P. Struve, dan banyak lainnya.”[22]

Pengutukan eksplisit terhadap Marxisme Legal, dengan menyebut nama perwakilan terkemukanya, adalah titik balik. Biarpun begitu, Struve tidak segera pecah dengan Marxisme, dan bahkan berkontribusi satu atau dua artikel untuk edisi-edisi pertama koran ini. Akan tetapi, pertemuan pertama Struve dengan Lenin di pengasingan, menjelang akhir 1900, mengakibatkan konfrontasi terbuka. Tuntutan sombong Struve yang menginginkan lebih banyak masukan dalam garis editorial koran Iskra akhirnya membuka kartu kaum Marxis Legal. Hubungan antara kaum Marxis dan tendensi liberal kiri yang menggunakan nama Marxisme Legal, seperti yang Lenin kemudian jelaskan, adalah contoh pertama dari perjanjian episodik antara kaum Marxis Rusia dengan tendensi politik lainnya. Tanpa membuat konsesi prinsip, dan mempertahankan kritik yang tegas akan penyimpangan politik kaum Marxis Legal, Lenin siap melakukan perjanjian yang bersifat praktis dengan mereka guna memajukan kerja di Rusia, mengecoh polisi dan sensor, dan meraih telinga yang lebih luas dibandingkan yang bisa diraih dengan keterbatasan kerja ilegal. Tetapi ada kontradiksi sejak awalnya. Kedua tendensi ini secara fundamental tidak kompatibel, dan, akhirnya, kontradiksi ini harus diselesaikan dengan kemenangan yang satu di atas yang lain.

Pada satu tahapan, Ekonomisme dan revisionisme tampaknya telah menang. Gerakan buruh Rusia oleh karenanya akan menemukan dirinya terikat kaki dan tangannya pada kereta kuda liberalisme. Dan agen yang melakukan subordinasi politik ini tidak lain adalah Marxisme Legal. Peluncuran koran Iskra, dengan posisi tegasnya yang menentang Ekonomisme dan revisionisme, dan mempertahankan kemandirian kelas serta mengkritik kaum liberal habis-habisan, benar-benar mengubah situasi. Sekarang Struve dan sekutu-sekutunya ada dalam posisi defensif. Akan tetapi Struve masih mencoba menggunakan nama dan pengaruhnya untuk mendominasi koran baru ini, untuk mendorongnya berkompromi dengan gagasan-gagasan lama yang sudah terdiskreditkan. Keluhan Struve bahwa Lenin mencoba “menggunakan” dia sama sekali tidak berpengaruh, ketika pada periode sebelumnya Struve sendiri menggunakan pengaruh besarnya terhadap Sosial Demokrasi yang masih lemah dan hijau untuk menumpulkan dan mendistorsi gagasan-gagasan fundamentalnya dan mengubahnya menjadi semata-mata bagian dari liberalisme.

Tidak seperti kesan yang diciptakan oleh para sejarawan borjuis, tidak ada yang memalukan atau tidak-loyal mengenai sikap Lenin terhadap musuh-musuh politik seperti Struve. Perjanjian-perjanjian praktis seperti ini dicapai oleh kedua pihak secara sukarela, dan kedua pihak matanya terbuka. Seperti yang telah kita lihat, Lenin dikritik parah oleh Plekhanov yang menganggap bahwa dia terlalu banyak memberikan konsesi kepada Struve. Ini adalah karakternya Lenin. Lenin tegas dalam masalah prinsip politik, tetapi dia sangatlah fleksibel dalam masalah-masalah organisasi dan cara dia berhadapan dengan orang lain. Lenin tahu bagaimana menghargai orang-orang yang punya talenta. Apapun kekurangan mereka, dia memberikan kesabaran yang besar untuk menggunakan kemampuan-kemampuan mereka guna membangun gerakan. Tetapi juga ada sisi lain. Kalau Lenin sudah menetapkan pikirannya bahwa seseorang adalah musuh Marxisme yang tak-terdamaikan, dia tidak ragu-ragu untuk menarik semua kesimpulan yang dibutuhkan dan melakukan perjuangan politik yang tegas melawan mereka. Dalam hal ini, pendekatan Lenin sangat berbeda dengan para anggota Kelompok Emansipasi Buruh.

Anggota-anggota kelompok lama, terutama Zasulich dan Axelrod, tidak mampu membakar jembatan yang masih menghubungkan mereka dengan lapisan kawan-kawan petualang intelektual semi-liberal seperti Struve, bahkan ketika, setelah tahun 1902, transisi mereka ke kamp liberalisme borjuis sudah jelas bagi semua orang. Namun, Plekhanov lah yang menuntut Lenin untuk memasukkan penyerang publik terhadap Struve di dalam pernyataan editorial! Insiden ini, juga, menunjukkan perbedaan dalam gaya dan kepribadian dua orang ini. Zasulich menggambarkannya seperti ini: “George (Plekhanov) adalah seekor anjing greyhound: dia menggoncang-goncangkan lawannya dengan menggigit lehernya, dan pada akhirnya melepaskannya; kau (Lenin) adalah seekor anjing bulldog: kau tidak melepaskan gigitanmu.”[23] Seawal 1895, Axelrod telah menegur Lenin karena serangan tajamnya terhadap Struve dalam artikel “The Economic Content of Narodnism and the Criticism of it in Mr Struve’s Book[24] Axelord mengeluh:

“Kau punya kecenderungan, yang berkebalikan dengan kecenderungan artikel yang sedang saya tulis untuk kumpulan tulisan-tulisan [artikel ini, seperti biasanya, tidak selesai dan tidak pernah muncul]. Kau menyamakan sikap kita terhadap kaum liberal dengan sikap kaum sosialis terhadap kaum liberal di Eropa Barat. Dan saya sedang menyiapkan sebuah artikel berjudul ‘Syarat-Syarat Kehidupan Rusia’, dimana saya ingin menunjukkan bahwa pada periode sejarah ini, kepentingan segera kaum proletar Rusia beririsan dengan kepentingan-kepentingan utama elemen progresif lainnya …”

“Ulyanov tersenyum dan membalas: ‘Kau tahu, Plekhanov mengatakan hal yang sama mengenai artikel saya. Dia memberikan gambaran jelas mengenai pikirannya: - ‘Kau memalingkan punggungmu ke kaum liberal,” katanya, ‘dan kami memalingkan muka kami ke mereka…’’.”[25]

Sejak awal, oposisi tegas Lenin terhadap kaum liberal adalah sumber perselisihan utama dengan para editor tua. Zasulich terutama sangat tersinggung dengannya:

“Zasulich mulai mengeluh, dengan nada memaksa yang unik dan malu-malu yang selalu dia gunakan pada situasi seperti ini, bahwa kita menyerang kaum liberal terlalu banyak. Ini sangat mengganggunya.”

“ ‘Lihat betapa bersemangatnya mereka,’ dia akan mengatakan ini, tidak melihat ke arah Lenin walaupun sebenarnya ini ditujukan ke Lenin. ‘Struve menuntut agar kaum liberal Rusia tidak mengutuk sosialisme, karena bila mereka melakukan ini, mereka akan terancam bernasib sama seperti kaum liberal Jerman; dia mengatakan bahwa mereka harus mengikuti contoh kaum Sosialis Radikal Prancis.’”

“ ‘Justru kita harus memukul mereka lebih keras,’ kata Lenin sambil tersenyum senang, seperti sedang menggoda Vera Ivanovna.”

“ ‘Baik sekali!’ dia mengeluh dengan putus asa. ‘Mereka datang untuk menemui kita dan kita tendang mereka.’”[26]

Iskra begitu suksesnya sehingga ia memenuhi sejumlah kebutuhan. Sebagai sebuah koran buruh, ia adalah model. Di sini, dijelaskan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh buruh tetapi tidak memandang rendah mereka, adalah jawaban teoritis terhadap gagasan-gagasan kaum Ekonomis dan sekutu-sekutu mereka. Setelah bertahun-tahun kebingungan ideologis, reaksi para buruh sosialis di Rusia terhadap jurnal baru ini mungkin seperti reaksi Aristotle ketika dia menyamakan filsuf Anaxagoras seperti “seorang yang sadar di antara para pemabuk”. Kop koran Iskra (Percikan) menampilkan kutipan dari penyair Pushkin dari pengasingannya di Siberia: “Percikan akan Mengobarkan Api!” Hampir satu abad setelah kalimat ini ditulis, kalimat ini ditakdirkan untuk menjadi kenyataan.

Bersamaan dengan pengeksposan sistemis dari kejahatan-kejahatan rejim Tsar di dalam negeri juga diekspos kebijakan asingnya, yang menelanjangi intrik-intrik dan manuver-manuver diplomasi borjuis. Kehidupan gerakan buruh internasional diikuti secara dekat. Tetapi di atas segalanya, Iskra adalah sebuah koran yang secara akurat merefleksikan kehidupan, perjuangan, dan aspirasi kelas buruh. Di setiap edisi, laporan-laporan singkat dari pabrik-pabrik dan distrik-distrik buruh mengisi banyak kolom koran, yang dikumpulkan oleh agen-agen Iskra di dalam Rusia dan diseludupkan keluar dengan cara klandestin. Dengan cara ini, kadang dengan keterlambatan berbulan-bulan, buruh dari berbagai penjuru Rusia dapat mengetahui perjuangan kamerad-kamerad mereka di seluruh Rusia dan di luar negeri. Tidak heran kalau koran ini cepat sukses di dalam Rusia Jumlah komite partai lokal yang mendukung koran ini dengan cepat meningkat, yang membuka peluang-peluang baru tetapi juga menambah beban bagi aparatus yang masih belum kuat.

Di Iskra edisi 7 (Agustus 1901), sebuah surat dari seorang buruh pemintal menjelaskan bagaimana para buruh maju di Rusia dengan antusias menerima setiap edisi koran ini:

“Saya menunjukkan Iskra kepada banyak kawan-kawan buruh saya dan koran ini dibaca sampai sobek-sobek: bagaimana kita menghargainya – jauh lebih menghargainya daripada Mysl’, walaupun tidak ada berita tentang kita. Iskra menulis mengenai perjuangan kita, mengenai perjuangan di seluruh Rusia yang tidak bisa dihargai dalam kopeck (mata uang Rusia) atau diukur dalam jam: ketika kau membaca koran ini, kau mengerti mengapa para polisi takut pada kami buruh dan kaum intelektual yang kami ikuti. Adalah kenyataan kalau buruh adalah ancaman, tidak hanya bagi kantong para bos, tetapi juga bagi Tsar, bagi para majikan, dan semuanya … Tidak perlu banyak untuk membuat rakyat pekerja terbakar. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah percikan, dan api ini akan berkobar. Sungguh benar kata-kata ‘Percikan akan Mengobarkan Api!’ Di masa lalu, setiap pemogokan adalah sebuah peristiwa yang penting, tetapi hari ini, semua orang melihat bahwa pemogokan sendiri saja tidaklah cukup dan bahwa sekarang kita harus berjuang untuk kebebasan, dan meraihnya melalui perjuangan. Hari ini semua orang, tua dan muda, ingin membaca tetapi sedihnya tidak ada buku. Minggu lalu, saya mengumpulkan 11 orang dan membacakan kepada mereka “Where to Begin”. Kita mendiskusikannya sampai larut malam. Sungguh sangat baik bagaimana karya itu menjelaskan segala sesuatu, bagaimana ia dapat menjelaskan duduk perkaranya … Dan kami ingin menulis sebuah surat kepada Iskra dan menanyakan kepada kalian bagaimana caranya mendidik kita, tidak hanya bagaimana memulai, tetapi bagaimana cara kita hidup dan mati.”[27]

Plekhanov dan Axelrod ingin koran ini diterbitkan di Swiss, dimana mereka dapat mengawasinya. Lenin, Martov, dan Potresov ingin menerbitkan ini di tempat lain, dan memindahkannya ke Munich. Pada kenyataannya, para anggota Kelompok Emansipasi Buruh tidak memahami secara penuh signifikansi Iskra sebagai cara untuk mengorganisir partai. Mereka memusatkan perhatian mereka pada Zarya, yang diterbitkan secara legal di Stuttgart dari April 1901 hingga Agustus 1902, dimana empat nomor, yang diterbitkan dalam tiga edisi, muncul. Satu-satunya anggota Kelompok Emansipasi Buruh yang bersemangat berpartisipasi dalam Iskra adalah Vera Zasulich. Mayoritas kerja mengorganisir koran ini jatuh ke pundak Lenin. Istrinya, Nadezhda Krupskaya, memainkan peran tak-ternilai dalam mengurus korespondensi luas dengan Rusia yang datang ke mereka secara tidak langsung, lewat alamat-alamat kamerad Jerman, yang meneruskan surat-surat tersebut ke Krupskaya.

Tugas mengorganisir jaringan transportasi ilegal penuh dengan kesulitan. Menurut Osip Piatnitsky (nama partai, Freitag), yang dibuat bertanggungjawab untuk kerja ini, transportasi Iskra dari Berlin ke Riga, Vilna, dan Petersburg mengambil waktu beberapa bulan. Kerja ini juga penuh berbagai macam kekeliruan. Dalam otobiografinya, “Memoirs of a Bolshevik”, Piatnitsky bercerita bagaimana mereka menggunakan para mahasiswa Rusia untuk mentransport literatur dengan tas yang bagian bawahnya palsu. Tas-tas ini diproduksi oleh sebuah pabrik kecil di Berlin. Order besar dipesan untuk tas ini. Tetapi penjaga perbatasan segera mengetahui trik ini. Mereka segera tahu bagaimana mengenali tas-tas ini, yang ternyata semua modelnya sama! Setelah itu, mereka mulai menggunakan tas-tas biasa, dengan 100-150 kopi koran disembunyikan di bagian bawah tas tersebut. Tetapi permintaan untuk koran Iskra terus melebihi yang bisa disediakan. Metode-metode baru harus ditemukan. Antara 200 hingga 300 kopi dapat dibawa di jaket atau rok yang dijahit spesial. Biarpun demikian, metode-metode ini harus disuplemen dengan percetakan bawah tanah di dalam Rusia, yang mencetak Iskra dari plat cetak yang diseludupkan dari luar. Percetakan-percetakan ini akhirnya dibentuk di Moskow, Odessa, dan Baku. Detil-detil kerja ini menyita waktu dan enerji yang luar biasa besar. Kerja ini juga membutuhkan banyak uang, yang digalang dari para simpatisan oleh agen-agen Iskra di Berlin, Paris, Swiss, dan Belgia, yang terus mencari dana, orang-orang yang siap menyeludupkan literatur, kontak-kontak, rumah-rumah aman, dan sebagainya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Saat peluncuran Iskra, partai di Rusia hampir-hampir tidak eksis sebagai sebuah kekuatan yang terorganisir. Di tengah kebingungan ideologi, divisi-divisi faksional menyebabkan serangkaian perpecahan dan terbentuknya banyak kelompok-kelompok kecil. Di Petersburg saja, pada peralihan abad, ada “Kelompok Untuk Emansipasi Diri Kelas Buruh”, “Kelompok Buruh Untuk Perjuangan Melawan Kapital”, “Panji Buruh”, “Sosialis”, “Sosial Demokrat”, “Perpustakaan Buruh”, “Organisasi Buruh” dan sebagainya, dan semua mengklaim berbicara atas nama Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia. Kebanyakan kelompok-kelompok ini dipengaruhi oleh gagasan-gagasan Ekonomis. Satu fitur umum dari mereka semua adalah harapan mereka untuk memiliki imej “proletarian murni”. Kelompok yang pertama di atas mengedepankan gagasan bahwa kepentingan kaum intelektual tidak kompatibel dengan kepentingan buruh. Ini menjelaskan mengapa Liga Perjuangan Petersburg sendiri, setelah diambil alih oleh faksi Rabocheye Mysl’ yang ekstrim Ekonomis, pecah menjadi dua kelompok – satu untuk buruh dan yang satu lagi untuk kaum intelektual! Tentu saja, semua ini sebenarnya mengungkapkan, bukan tendensi proletariat, tetapi justru sebaliknya: kesombongan kaum intelektual yang berpikir bahwa cara untuk memenangkan kaum buruh adalah dengan melayani prasangka-prasangka dari lapisan paling terbelakang kelas buruh. Seperti halnya kaum Narodnik mencoba, dengan hasil yang buruk, untuk “turun ke bawah”, para kaum revolusioner kelas-menengah mencoba mendapatkan dukungan dengan “menurunkan derajat” mereka di depan buruh, yang sebenarnya mendemonstrasikan ketidakpahaman mengenai rakyat pekerja dan rasa ketidaksukaan yang tersembunyi dalam terhadap rakyat pekerja.

Tulisan-tulisan Lenin mengenai organisasi yang ditulisnya pada saat itu adalah karya-karya masterpiece. Gagasan koran sebagai alat pengorganisir dikemukakannya di karya-karya seperti “Where to Begin”, “Letter to a Comrade”, dan “What is To Be Done?[28] Dalam “Where to Begin”, inti dari gagasan Lenin sudah jelas: “Akan tetapi, peran koran tidak terbatas pada penyebaran ide-ide, pendidikan politik, dan penyatuan sekutu-sekutu politik. Sebuah koran tidak hanya melakukan propaganda dan agitasi kolektif, tetapi juga adalah sebuah organisator kolektif. … Dengan bantuan koran dan melalui koran, sebuah organisasi yang permanen akan berkembang secara alamiah. Organisasi ini akan berperan tidak hanya dalam aktivitas-aktivitas lokal, tetapi dalam pekerjaan umum yang reguler, dan akan melatih para anggotanya untuk mengamati peristiwa-peristiwa politik secara telaten, menafsir pengaruh mereka pada berbagai macam lapisan rakyat, dan mengembangkan taktik-takik efektif bagi partai revolusioner itu untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa tersebut. Pekerjaan teknis seperti mempersiapkan berita-berita buat koran ini serta mempromosikan dan menyebarluaskannya akan memerlukan sebuah jaringan kerja anggota-anggota partai yang tersatukan, yang akan berkomunikasi secara teratur satu sama lain, selalu mengetahui keadaan-keadaan politik secara keseluruhan, terbiasa untuk menjalankan fungsi-fungsi mereka secara rinci dan teratur di seluruh Rusia, dan menguji kekuatan mereka dalam menggelar berbagai aksi revolusioner.”[29]

Mungkin tidak ada karya Marxis yang telah begitu disalahgunakan seperti “What is To Be Done?”nya Lenin. Ditulis antara akhir tahun 1901 dan awal 1902, karya ini ditulis untuk berpolemik dengan kaum Ekonomis, dan oleh karenanya punya kecenderungan yang sangatlah polemis. Tidak diragukan, ada sejumlah gagasan di dalam karya ini yang tidak benar karena kelengahan teori. Kendati benar dalam berpolemik melawan kaum Ekonomis yang menyembah “spontanitas”, Lenin membiarkan dirinya jatuh ke dalam kekeliruan membesar-besarkan gagasan yang tepat dan mengubahnya menjadi kebalikannya. Terutama, dia menekankan bahwa kesadaran sosialis “harus dibawa kepada mereka [kaum buruh] dari luar. Sejarah seluruh bangsa menunjukkan bahwa kelas buruh, terutama dengan usaha mereka sendiri, hanya mampu mengembangkan kesadaran serikat buruh, dalam kata lain keyakinan bahwa mereka harus bersatu dalam serikat buruh, melawan para majikan, dan berusaha untuk memaksa pemerintah untuk mencanangkan undang-undang buruh yang diperlukan, dan lain-lain.”

Penjabaran yang berat-sebelah dan keliru mengenai hubungan antara kelas buruh dan kesadaran sosialis ini bukanlah ciptaan Lenin, tetapi dipinjam langsung dari Kautsky, yang saat itu dia anggap sebagai pembela utama Marxisme ortodoks dalam melawan Bernstein. Lenin mengutip kata-kata Kautsky bahwa “kendaraan sosialisme ilmiah bukanlah kaum proletar, tetapi kaum borjuis intelektual [penekanan oleh Karl Kautsky]: dari otak anggota-anggota strata inilah sosialisme moderen muncul, dan merekalah yang mengkomunikasikannya kepada kaum proletar yang secara intelektual lebih maju, yang pada gilirannya memperkenalkannya ke dalam perjuangan kelas proletarian dimana kondisi-kondisinya mengijinkan. Oleh karenanya, kesadaran sosialis adalah sesuatu yang diperkenalkan ke dalam perjuangan kelas proletarian dari luar [von Aussen Hineingetragenes] dan bukan sesuatu yang muncul dari dalam dirinya secara spontan [urwüchsig].”[30]

Di sini formulasi Kautsky yang berat-sebelah berdiri dengan segala vulgaritasnya. Benar kalau teori Marxis, ekspresi tertinggi dari kesadaran sosialis, bukan sesuatu yang dilahirkan dari kelas buruh, tetapi adalah produk terbaik yang tercapai oleh pemikiran borjuis, dalam bentuk filsafat Jerman, ekonomi politik klasik Inggris dan sosialisme Prancis. Akan tetapi, tidaklah benar kalau kaum proletar, bila dibiarkan sendiri saja, hanya mampu mencapai kesadaran serikat buruh (yakni perjuangan untuk perbaikan ekonomi di dalam batas-batas kapitalisme). Selama satu dekade sebelum “Manifesto Komunis” diterbitkan, kelas buruh Inggris, melalui medium Chartisme – yang Lenin sendiri jelaskan sebagai partai massa buruh revolusioner pertama di dunia – telah bergerak jauh melewati batas-batas kesadaran serikat buruh, bergerak dari gagasan reforma parsial dan petisi ke gagasan pemogokan umum (“hari libur besar nasional”) dan bahkan pemberontakan bersenjata (orang-orang “kekuatan fisik”, yakni saat pemberontakan Newport). Seperti halnya, rakyat pekerja Paris berhasil – tanpa kehadiran sebuah partai Marxis yang sadar yang memimpinnya – merebut kekuasaan, bahkan bila hanya untuk beberapa bulan saja, pada 1871. Mari kita ingat Marx sendiri belajar dari pengalaman Komune Paris, darimana dia menulis gagasannya mengenai demokrasi buruh (“kediktaturan proletariat”). Dengan cara yang sama, gagasan soviet (dewan) bukanlah ciptaan Lenin atau Trotsky, tetapi diciptakan secara spontan oleh proletar Rusia selama revolusi 1905.

Apakah ini berarti kaum Marxis menyangkal pentingnya faktor subjektif – yakni, partai dan kepemimpinan revolusioner? Sebaliknya, seluruh sejarah gerakan kelas buruh dunia menunjukkan bahwa kaum proletar membutuhkan sebuah partai dan kepemimpinan revolusioner untuk merebut kekuasaan. Tetapi faktor subjektif tidak dapat diciptakan oleh “ledakan spontan”. Faktor subjektif tidak bisa muncul begitu saja dari peristiwa-peristiwa atau diimprovisasi ketika dibutuhkan. Ia harus disiapkan dengan susah payah jauh hari, selama bertahun-tahun, dan mungkin berpuluh-puluh tahun. Akan tetapi, masalah pembangunan partai revolusioner dan gerakan kelas bukanlah hal yang sama. Kedua proses ini untuk waktu yang lama dapat terjadi secara paralel tanpa adanya persinggungan. Kelas buruh belajar dari pengalaman dan meraih kesimpulan-kesimpulan revolusioner dengan perlahan-lahan dan dengan kesulitan yang besar. Engels menjelaskan bahwa ada periode di dalam sejarah dimana 20 tahun adalah seperti 1 hari. Di bawah beban mati kebiasaan, rutinitas, dan tradisi, massa terus melanjutkan kehidupannya di bawah kebusukan tua yang sama, sampai mereka tergoncang keluar darinya oleh peristiwa-peristiwa besar. Sebaliknya, Engels, menambahkan, bahwa ada periode dimana sejarah 20 tahun terkonsentrasikan dalam waktu 24 jam.

Berkali-kali kelas buruh telah menunjukkan dalam tindakannya bahwa mereka cenderung bergerak ke arah kekuasaan. Kaum proletar Spanyol, jelas Trotsky, mampu membuat 10 revolusi dalam periode 1931-37. Di musim panas 1936, kaum buruh Catalonia, sekali lagi tanpa adanya kepemimpinan Marxis, meremukkan tentara fasis dan secara efektif punya kekuasaan di tangan mereka. Bila mereka tidak berhasil mengorganisir sebuah negara buruh dan mengkonsolidasikan kekuasaan mereka, menyebarkan revolusi ke seluruh Spanyol, ini bukan kesalahan mereka. Ini adalah tanggungjawab para pemimpin anarkis dan sindikalis CNT-FAI dan POUM. Para pemimpin buruh ini, dengan menolak menghancurkan sisa-sisa negara borjuis dan mengorganisir kekuasaan negara buruh di atas basis soviet-soviet pabrik dan deputi-deputi milisi yang terpilih secara demokratis, menandatangani surat kematian Revolusi Spanyol. Apa yang terjadi di Catalonia dan daerah-daerah Spanyol lainnya pada 1936 jauh melebihi “kesadaran serikat buruh”. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai Prancis 1968, dan peristiwa-peristiwa lain ketika kelas buruh mencoba mulai merebut nasib mereka ke tangan mereka sendiri.

Gagasan tidak jatuh dari langit, tetapi dibentuk dari pengalaman. Selama pengalamannya, kaum proletar secara tak-terelakkan menarik kesimpulan-kesimpulan umum tertentu mengenai perannya di dalam masyarakat. Di bawah kondisi-kondisi tertentu, di tengah badai peristiwa-peristiwa besar, proses belajar ini dapat menjadi sangat cepat. Tetapi bahkan di dalam periode perkembangan kapitalis yang normal, tikus mole sejarah terus menggali masuk ke dalam kesadaran kaum proletar. Pada momen menentukan, peristiwa dapat meledak sebelum kelas buruh mampu menarik semua kesimpulan yang diperlukannya. Peran dari kaum pelopor bukanlah untuk “mengajar buruh hal-hal yang sudah diketahuinya”, tetapi untuk membuat sadar kehendak tak-sadar kelas buruh untuk mengubah masyarakat. Tidak ada mistisisme disini. Hidup itu sendiri adalah guru, seperti yang suka dikatakan oleh Lenin. Dari pengalaman eksploitasi dan penindasan yang dilaluinya sepanjang hidupnya, kelas buruh, dimulai dari lapisan-lapisannya yang aktif, akan memimpin kelasnya dan meraih kesadaran sosialis. Ini adalah dasar dari proses sejarah yang melahirkan serikat-serikat buruh dan partai-partai kuat Internasional Kedua dan Ketiga. Elemen-elemen kesadaran sosialis dan gagasan transformasi radikal masyarakat sosial tertulis di AD/RT dari banyak sekali serikat-serikat buruh, yang merupakan bukti dari kehendak untuk mengubah masyarakat. Perjuangan kelas itu niscaya akan menciptakan tidak hanya kesadaran kelas tetapi juga kesadaran sosialis. Adalah tugas kaum Marxis untuk memunculkan keluar apa yang sudah ada, untuk memberikan ekspresi sadar kepada apa yang sudah ada dalam bentuk yang tak-sadar atau semi-sadar.

Mereka-mereka yang secara mekanis mengulang kekeliruan “What is To Be Done?” hampir seabad kemudian melakukan ini tanpa menyadari bahwa Lenin sendiri kemudian mengakui bahwa formulasi tidak tepat ini hanyalah pembesar-besaran polemik. Ketika, pada Kongres Kedua PBSDR, ada yang ingin menggunakan ini untuk menyerang Lenin, Lenin menjawab: “Kita semua tahun bahwa kaum ‘Ekonomis’ telah bergerak ke satu ujung yang ekstrim. Untuk meluruskan ini, kita harus menariknya ke arah yang lain – dan inilah yang telah saya lakukan.[31] Dalam buku biografi Stalin, Trotsky berkomentar: “Pengarang ‘What to Do?’ sendiri kemudian mengakui karakter biasnya, dan oleh karenanya kekeliruan teorinya, yang dia tambahkan sebagai alat untuk memukul ‘Ekonomisme’ dan penyembahan mereka terhadap karakter spontan gerakan buruh.”[32]

Kendati kekurangan ini, “What is To Be Done?” adalah karya besar di dalam sejarah Marxisme Rusia. Di dalamnya, Lenin secara tegas mendemonstrasikan perlunya organisasi, perlunya kaum revolusioner profesional yang perhatian utamanya adalah membangun partai dan perlunya partai buruh massa seluruh Rusia. Supaya kaum proletar dapat merebut kekuasaan, mereka harus diorganisir. Kegagalan untuk memenuhi tugas ini akan berarti, seperti yang dijelaskan oleh Trotsky, bahwa potensi kekuatan kelas buruh akan menguap sia-sia, seperti tenaga uap yang menguap begitu saja di udara bila tidak dikonsentrasikan di kotak piston.

Gagasan utama yang terkandung di “What is To Be Done?” adalah perlunya melatih kader-kader buruh, tidak hanya kaum militan serikat buruh yang sadar kelas tetapi buruh yang paham betul Marxisme. “Tanpa teori revolusioner tidak akan ada gerakan revolusioner. Gagasan ini tidak dapat dilebih-lebihkan di saat ketika ajaran oportunisme yang meluas bersandingan dengan penyembahan atas bentuk aktivitas politik yang paling sempit.” Apa yang Lenin maksud disini bukanlah mengecilkan kapasitas buruh untuk memahami teori, tetapi sebaliknya. Lenin ingin memerangi prasangka borjuis-kecil bahwa “buruh tidak bisa paham teori” dan bahwa literatur partai harus membatasi dirinya pada slogan ekonomi dan tuntutan sehari-hari. Sebaliknya, Lenin menekankan bawah “buruh tidak boleh membatasi dirinya secara artifisial pada ‘literatur untuk buruh’ tetapi mereka harus belajar untuk menguasai literatur secara umum. Bahkan lebih tepatnya ‘tidak dibatasi’ ketimbang ‘membatasi dirinya sendiri’ karena buruh sendiri ingin membaca dan memang membaca semua yang ditulis oleh kaum intelektual, dan hanya sedikit intelektual (yang buruk) yang percaya bahwa kita cukup mengatakan kepada buruh beberapa hal mengenai kondisi-kondisi di pabrik dan mengulang-ulang kepada mereka lagi dan lagi apa yang sudah lama mereka ketahui.”[33]

Dimulai dari masalah-masalah mendesak kelas buruh, berjuang untuk semua macam tuntutan-tuntutan parsial, kita harus bergerak melewati hal-hal partikular dan membentuk hubungan dengan hal-hal umum, dari perjuangan sekelompok buruh melawan majikan secara individu, ke perjuangan kelas buruh sebagai keseluruhan melawan kelas borjuasi dan negaranya. Dengan argumen yang brilian, Lenin menjelaskan hubungan dialektika antara agitasi, propaganda, dan teori, dan menjelaskan bagaimana kekuatan Marxisme yang kecil, dengan memenangkan lapisan kelas yang paling maju, dapat kemudian memenangkan massa proletariat, dan lewat yang belakangan ini, seluruh lapisan masyarakat yang tertindas – kaum tani, bangsa-bangsa yang tertindas, kaum perempuan. Kaum Ekonomis awalnya berhasil karena mereka hanya beradaptasi pada prasangka-prasangka lapisan buruh yang paling terbelakang. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Lenin: buruh bukanlah anak kecil yang terus diberi makan bubur. Mereka tidak ingin diberitahu apa yang sudah mereka ketahui. Kaum buruh haus pengetahuan, yang adalah tugas kaum Marxis untuk melegakan dahaga tersebut. Dimulai dari masalah-masalah mendesak massa buruh, kita harus menaikkan tingkat kesadaran mereka ke pemahaman penuh akan tugas mereka di dalam masyarakat, menunjukkan jalan ke depan keluar dari kebuntuan.

Diterjemahkan oleh Ted Sprague dari “Bolshevism, The Road to Revolution”, Alan Woods.


[1] Zinoviev, History of the Bolshevik Party, hal. 51.

[2] Akimov, On the Dilemmas of Russian Marxism 1895-1903, hal. 223.

[3] KPSS v rezolyutsiyakh i resheniyakh, vol. 1, hal. 16.

[4] O. Piatnitsky, Zapiski Bol’shevika, hal. 25 dan 26.

[5] Akimov, On the Dilemmas of Russian Marxism 1895-1903, hal. 215.

[6] Dikutip di Istoriya KPSS, vol. 1, hal. 260.

[7] Dikutip di KPSS v rezolyutsiyakh i resheniyakh, vol. 1, hal. 17.

[8] Dikutip di Istoriya KPSS, vol. 1, hal. 265.

[9] Trotsky, My Life, hal. 117.

[10] LCW, What Is To Be Done? vol. 5, hal. 349.

[11] Dikutip dari Akimov, On the Dilemmas of Russian Marxism 1895-1903

[12] Lihat LCW, vol. 4, hal. 215-221 dan 255-296.

[13] Ibid., hal. 167-182.

[14] Teks lengkap “Credo” direproduksi ulang di Lenin’s Collected Works, “A protest by Russian Social Democrats”, vol. 4, hal. 171-4 (penekanan oleh saya).

[15] Ibid., hal. 176-7 dan 181.

[16] Dikutip di Wildman, op. cit., hal. 93 dan 106.

[17] LCW, To P.B. Axelrod, April 25, 1901, vol. 34, hal. 60.

[18] Ibid., pp. 333-349.

[19] Trotsky, Political Profiles, hal. 85-7.

[20] LCW, How the ‘Spark’ was nearly Extinguished, vol. 4, hal. 348.

[21] LCW, vol. 4, hal. 351-6.

[22] Lihat Lenin’s awal Lenin di LCW, Draft of a Declaration of the Editorial Board of Iskra and Zarya, vol. 4, hal. 320-330. Yang dikutip d sini adalah LCW, vol. 4, hal. 354-5.

[23] Dikutip di Trotsky, Lenin

[24] LCW, vol. 1, hal. 333-507

[25] Perepiska GV Plekhanova i PB Aksel’roda, hal. 270.

[26] Trotsky, My Life, hal. 171.

[27] Iskra, No 7.

[28] Where to Begin (LCW, vol. 5, hal. 17-24), Letter to a Comrade (LCW, vol. 6, hal. 235-252) dan What Is To Be Done? (LCW, vol. 5, hal. 349-529).

[29] LCW, Where to Begin, vol. 5, hal. 22-3.

[30] LCW, vol. 5, hal. 375 dan 383-4 (penekanan dari saya).

[31] LCW, Second Congress of the RSDLP, vol. 6, hal. 491 (penekanan dari saya)

[32] Trotsky, Stalin, hal. 58.

[33] LCW, vol. 5, hal. 369 (penekanan dari saya) dan hal. 384, note.