Berkenalan dengan The Struggle, Kelompok Perjuangan Rakyat Pekerja di Pakistan yang Sedang Bergolak

The following is an article written by a member of PRP (Perhimpunan Rakyat Pekerja, Working People's Association) about his encounter with comrades from The Struggle during his stay in Pakistan. PRP presents itself as a workers' vanguard organisation in Indonesia which bases itself on the principles of scientific socialism.

Berikut ini adalah artikel yang ditulis oleh kawan Chava, seorang anggota dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), mengenai pertemuannya dengan kamerad-kamerad The Struggle yang merupakan seksi International Marxist Tendency di Pakistan. PRP sendiri adalah sebuah organisasi pelopor rakyat pekerja di Indonesia yang berdasarkan prinsip sosialisme ilmiah.


Ketika Pakistan kehilangan Benazir Bhutto akibat bom bunuh diri, maka perhatian dunia kemudian terfokus kepada Negara kecil ini. Dalam beberapa cuplikan berita yang sering kita lihat di media massa, menunjukkan bahwa pertarungan politik di Pakistan menjadi semakin memanas karena ada isu bahwa pemerintah Pakistan yang dipimpin Pervez Musharraf lah yang men"setting" pembunuhan terhadap Benazir Bhutto.

Ada beberapa kejanggalan-kejanggalan memang yang dimunculkan oleh pemerintah dalam penyelidikan pembunuhan Benazir Bhutto. Mulai dari pernyataan pemerintah yang menganggap tewasnya Bhutto dikarenakan pecahan kaca dari bom bunuh diri tersebut, sementara terbukti bahwa Bhutto terbunuh karena peluru. Bahkan pernyataan ini sempat didukung oleh Israel dan Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat Pakistan.

Namun selain itu, ternyata ada beberapa kelompok di Pakistan yang dengan konsisten berusaha untuk menghancurkan praktek-praktek Neoliberalisme di sana. Salah satunya adalah The Struggle. The Struggle adalah sebuah kelompok kiri di Pakistan yang telah lama merupakan bagian dari perlawanan rakyat di sana. Kelompok ini bersimpati dengan terbunuhnya Benazir Bhutto akibat dari kekerasan Negara kediktatoran yang mencoba mempertahankan kekuasaanya dan menolak tuntutan demokrasi.

Kebenaran salah satu anggota PRP saat ini berada di Pakistan, dan dia mencoba untuk melaporkan pertemuannya dengan kawan-kawan dari kelompok The Struggle. Semoga laporan pertemuan dengan kelompok The Struggle dapat membangkitkan semangat kita untuk menghancurkan Neoliberalisme di Indonesia dan mendapatkan metode-metide baru untuk melakukan perlawanan. Berikut laporan kawan Chava dari hasil pertemuannya dengan kelompok The Struggle.

Malam minggu, 12 January 2008, Islamabad

Malam ini, seperti janji kami di telepon sebelumnya, Comerade Mehdi Sajjad menelpon untuk memberitahukan dia sudah sampai di depan hotel tempat saya menginap. Saya segera bersiap-siap menggunakan pakaian untuk keluar hotel, karena cuaca sangat dingin. Ketika saya sampai di luar saya telepon Mehdi Sajjad supaya saya dapat melihat yang mana orangnya, akhirnya saya bertemu dgn comerade Mehdi Sajjad yang menurut pengakuannya dia yang meng-organize semua organizer The Struggle di kota Islamabad yang berjumlah sekitar 40 orang. Kami saling berpelukan seperti hal nya setiap laki-laki Pakistan bertemu, berpelukan lalu bersalaman, lalu kami menuju Jinnah Supermarket utk mencari tempat untuk mengobrol sambil mengopi.

Saya sebenarnya lebih memilih untuk mengobrol di kafe terbuka sambil menikmati udara dingin, secangkir kopi panas, rokok, tetapi udara diluar terlalu dingin untuk Mehdi Sajjad yang sudah berusia 50 Tahun. Akhirnya kami memilih sebuah kafe tertutup untuk tempat berbincang-bincang.

Mulai lah saya bertanya dan Mehdi Sajjad bercerita, Mehdi Sajjad bergabung dengan The Struggle yang adalah Pakistani Marxist Tendency yang tergabung dalam International Marxist Tendency sejak tahun 1998 setelah 15 tahun sebelumnya malang melintang bersama kelompok Maois di Pakistan. Bertahun-tahun bergabung bersama kelompok Maois, menurut pengakuannya, bisa dikatakan tidak menghasilkan apa-apa. Mereka berdebat siapa yang benar dan siapa yg salah, split dan split lagi yang dihasilkan hingga kelompok itu semakin kecil dan semakin kecil. Mereka terus berdebat siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi massa rakyat jauh dari mereka. Sampai akhirnya Mehdi Sajjad bergabung dengan The Struggle. Tidak lama kemudian datang 2 lagi comerade yang bernama Zafar yang bergabung dengan The Struggle sejak tahun 2001 dan Javed yang bergabung sejak 2004. Mehdi Sajjad bekerja sebagai salah satu direktur bagian tertentu di sebuah perusahaan swasta, Zafar bekerja di Bank Nasional Pakistan dan Javed bekerja sebagai Journalist.

Pada masa pemerintahan Presiden Zia Ulhaq (1977-1988) yang sangat represif, beberapa tokoh kiri harus meninggalkan Pakistan dan memilih untuk tinggal di Amsterdam. Kelompok ini bermula dari Amsterdam setelah bertemu dengan Ted Grant disana. Mereka mulai mengorganisir diri kembali, memulai aktivitas kembali, mengeluarkan terbitan dan mengirimkannya juga ke Pakistan. Seperti juga strategi yang digunakan IMT dimana kelompok IMT harus selalu berada ditengah-tengah dan bersama-sama massa rakyat termasuk dengan masuk ke dalam partai-partai yang popular dihadapan massa, seperti itu juga strategi yang digunakan The Struggle berafiliasi dengan Pakistan People's Party (PPP). PPP adalah partai yang didirikan oleh Zulfikar Ali Bhutto (ayah Benazir Bhutto) pada tahun 1967 yang menurut pengakuan mereka memiliki program-program yang sangat bagus, dengan semboyan "Islam is our faith; democracy is our politics; socialism is our economy; all power to the people. Partai ini bukan partai Marxist,  tetapi memiliki program-program yang bahkan lebih kiri dari pada partai-partai kiri yang ada pada saat itu. Ali Bhutto menjadi Presiden Pakistan 1971-1973 dan menjadi PM Pakistan 1973-1977. The struggle tidak mengalami kesulitan untuk memulai aktivitas nya di dalam tubuh PPP karena beberapa kadernya adalah kader PPP jauh sebelumnya, kemungkinannya mereka menjadi lebih terarah dan memilih Marxist Tendency setelah bertemu dgn Ted Grant di Amsterdam.

Pasca terbunuhnya Zia-ul-Haq tahun 1988, Benazir Bhutto kembali ke Pakistan dan memulai kembali aktivitas politiknya bersama PPP dengan program-program yang populis bersamaan dengan itu, kader-kader The struggle yang ada di Ámsterdam mulai kembali ke Pakistan dan memulai aktivitas kembali di Pakistan. Mehdi Sajjad bergabung dengan The Struggle pada tahun 1998 yang pada saat itu berjumlah sekitar 200 organizer. Mehdi Sajjad memilih bergabung dengan The Struggle  dengan alasan, bahwa ini lah yang dicarinya, bekerja dan berada di tengah-tengah massa rakyat, bukan lagi berada di dalam organisasi yang hanya akan melakukan split, split dan split menjadi semakin terkecil. Saat ini organizer The Struggle berjumlah sekitar 2500 orang yang tersebar di seluruh Pakistan, merupakan organisasi terbesar di dalam jaringan IMT. The struggle memiliki jumlah organizer sekitar 600 orang di wilayah Jamu Kashmir (daerah yang sangat indah dan saat ini dalam belum memiliki status tetap sebagai bagian dari Pakistan atau India) dan memiliki pengaruh yang cukup kuat disana.

Organizer-organizer the struggle yang bekerja, tetap melakukan aktivitas organisasi setiap hari setelah jam kantor. Mereka berkeliling memberikan diskusi-diskusi di dalam kelompok-kelompok kecil dan pada akhir pekan mereka berkumpul untuk mengadakan rapat. Sepengakuan mereka tentang ruang gerak mereka di PPP dapat dikatakan cukup bebas, walaupun tidak sepenuhnya-penuhnya bebas (tidak ada perincian lebih lanjut seperti apa tidak sepenuh2nya bebas). Banyak juga kelompok-kelompok dan individu-individu dengan berbagai kepentingan berada di dalam tubuh PPP, tetapi rata-rata kelompok-kelompok tersebut tidak ter-organize dengan baik. Ada kelompok-kelompok dan individu-individu yang mencoba mengambil keuntungan dari PPP tetapi The Struggle tetap fokus pada kerja-kerja organisasinya. Mereka mengatakan PPP adalah sebagai tools untuk mereka.

Bagaimana dengan ruang gerak masuk ke dalam massa rakyat dimana memiliki kondisi hampir sama dengan Indonesia, muslim country dan kekuatan militer sangat besar?  Kondisi masyarakat Pakistan tidak sepenuh-penuhnya sama dengan Indonesia, Pakistan negara muslim, rakyat religius, tapi mereka tidak fundamentalis, mereka tidak fanatik, sehingga ruang gerak organizer mereka tidak terlalu banyak mengalami kesulitan seperti yang kita bayangkan di Indonesia dan ditambah lagi mereka bekerja atas nama PPP. Saat ini ada 3 anggota The struggle yang menjadi anggota Parlemen Nasional Pakistan dari 3 daerah berbeda.

Ada 3C yang menurut pengakuan Mehdi Sajjad menjadi mesin untuk menjalankan organisasi mereka, yaitu "Cash, Computer dan Cadre" yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira sama dengan "Uang, Komputer dan Kaderisasi". Setiap orang yang ingin bergabung dengan The Struggle harus bersepakat dengan ide The Struggle, berkontribusi finansial, termasuk kewajiban membeli koran dwi mingguan dan aktif menyebarkan ide-ide The Struggle .Secara financial, The struggle menjalankan roda organisasi dari iuran wajib yang menjadi komitmen di awal untuk bergabung dengan organisasi secara reguler setiap bulannya dan juga dari simpatisan-simpatisan yang memberikan sumbangan secara reguler. Di satu kota setiap bulannya bisa mengumpulkan 12000 rupee yang sama dengan 200 USD, sekitar 1,9 jt rupiah dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjalankan organisasi menurut mereka. Di Karachi mereka mampu membayar sewa kantor dari sumbangan reguler simpatisannya. Bagi mereka, iuran atau sumbangan bukanlah belas kasih, bukanlah persoalan ekonomi tapi sikap dan komitmen politik setiap anggota The Struggle. Dari hasil iuran di kota-kota, sebagian ada yg disisihkan untuk di kirimkan ke pusat, untuk membiaya hal-hal lain khususnya membiayai para pekerja full timer di dalam organisasi.

Situasi saat ini menurut pengakuan Zafar merupakan situasi yang krusial bagi perkembangan sosialisme di Pakistan. Momentum pasca terbunuhnya Benazir Bhutto bisa dikatakan mirip dengan situasi pasca jatuhnya Soeharto. Di tengah kemarahan rakyat terhadap pemerintahan Pervez Musharraf , terbunuhnya Benazir Bhutto, desakan perubahan dari massa rakyat terus bermunculan The Struggle terus menyebarkan selebaran-selebaran yang jumlahnya ratusan ribu yang berisikan program-program sosialisme.  Kelompok-kelompok yang ada di dalam tubuh PPP hampir bisa dikatakan vacum secara program dihadapan massa, kesempatan ini lah yang memang dimanfaatkan dengan baik oleh The Struggle untuk memperbesar organisasinya menjadi lebih kuat.

Bagaimana dengan posisi The Struggle dengan Asif Ali Zardari (Suami Benazir Bhutto) saat ini, Mehdi Sajjad menjelaskan pada 3 hari pertama pasca kematian Benazir Bhutto, Asif Ali Zardari terlihat sangat bagus, tidak mau berkompromi dengan pemerintah, tapi pasca itu dia mulai berkompromi dengan menyetujui pengunduran pemilu. The Struggle sendiri tetap fokus pada kerja-kerjanya di lingkaran-lingkaran kecil, menyebarkan selebaran dan Paper dan mendorong ikut serta dalam pemilu nanti. Saat ini menjadi ruang yang sangat besar bagi The Struggle untuk membangun kesadaran massa, memenangkan program-program mereka dan memperbesar organisasi. Salah satu desakan mereka terhadap PPP adalah berpartisipasi dalam pemilu dengan mengkampanyekan kembali manifesto sosialis 1970 dari Zulfiqar Ali Bhutto.

Mereka tidak mempermasalahkan kepemimpinan PPP sejak Benazir Bhutto hingga saat ini, karena menurut mereka inilah kepemimpinan alternatif yang dilihat oleh rakyat Pakistan, tidak ada alternatif lain dan mereka memiliki ruang yang sangat besar untuk berada bersama rakyat. Seperti juga pengakuan kawan saya yang menjadi security di sebuah perusahaan Telekomunikasi no.1 di Pakistan, "saya akan memilih PPP, ya saya tau Benazir Bhutto orang kaya, saya tau Benazir Bhutto tidak akan sepenuhnya berpihak pada rakyat miskin, tapi dia memberikan perhatian lebih baik daripada pemimpin-pemimpin lain".

Akhirnya pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam itu kami akhiri dengan oleh-oleh berupa 2 majalah Asian Marxist Review, dan mereka menawarkan untuk siap bertemu setiap saat untuk ikut dalam aktivitas mereka sehari-hari atau bertemu lagi minggu depan. Mereka juga akan mengabarkan kehadiran saya kepada Manzoor Ahmed dan kalau bisa bertemu. Mereka mengundang saya untuk ikut serta dalam Kongres Nasional mereka pada bulan April.  

Sekian cerita pertemuan pertama saya dengan kawan-kawan The Struggle di Pakistan.

Muje ghar janna he.

Chava
(Penulis adalah anggota PRP Komite Kota Jakarta Raya yang saat ini berkoordinasi dengan PRP Internasional dan merupakan staff Divisi Propaganda Komite Pusat PRP)