Bedah Buku Revolusi Permanen di Solo

Pada tanggal 6 Juni 2009 lalu di Solo, tepatnya di kelurahan Kestalan, di tengah-tengah perkampungan padat dan kumuh, buku Revolusi Permanen dibedah.

Bedah buku yang dimotori oleh Resist Book dan PMKRI Solo ini menghadirkan tiga pembicara: Dian Yanuardi (Resist Book), Zaenal M. (PRP Solo), dan Jesus S. Anam (perwakilan penerbit Wellred). Acara ini dihadiri oleh beberapa organisasi-organisasi mahasiswa dan masyarakat. Tampak hadir dalam acara ini diantaranya dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia), PRP (Perhimpunan Rakyat Pekerja), HTI (Hizbuttahrir Indonesia), dan GRI (Gerakan Rakyat Indonesia).

Dian Yanuardi, dari Resist Book, banyak memaparkan mengenai ketertarikan Resist Book untuk menerbitkan buku Revolusi Permanen ini. Menurut Dian, buku ini sangat menarik untuk diterbitkan. Selain untuk menambah bacaan mengenai teori-teori Marxis, buku ini bisa memberikan ispirasi bagi perjuangan revolusioner di Indonesia.

Hal senada juga dikatakan oleh Zaenal, bahwa teori Revolusi Permanen bisa menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan buruh di Indonesia. Tetapi Zaenal mewanti-wanti dengan keras untuk segera menghentikan perdebatan mengenai Trotskyisme dan Leninisme di antara kaum kiri. Karena menurut Zaenal, fragmentasi di gerakan-gerakan kiri salah satunya dipicu oleh perdebatan-perdebatan yang tidak produktif mengenai aliran.

Sementara itu, Jesus S. Anam (perwakilan penerbit Wellred), banyak mengulas peristiwa yang terjadi di Rusia tahun 1905. Menurut Jesus, formulasi teori revolusi permanen lahir dari peristiwa historis ini, yakni peristiwa revolusioner yang terjadi di tahun 1905.

Pada bulan Januari hingga Desember 1905, jutaan kaum buruh dan tani turun ke jalan menuntut hak-hak mereka, seperti kemerdekaan berpendapat, kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan berserikat, kebebasan dari intimidasi dan penangkapan, juga menuntut terlibatnya wakil-wakil dari berbagai elemen masyarakat dalam Duma (parlemen Rusia).

Meskipun aksi-aksi revolusioner ini kemudian menghasilkan kesepakatan antara rakyat dan Tsar, yang tertuang dalam Manifesto Oktober, Trotsky, yang saat itu menjadi presiden Soviet St. Petersburg, menganggap Manifesto Oktober tidak akan membawa pembebasan yang sesungguhnya. Trotsky mengajak Soviet Moskow memobilisasi kembali massa buruh untuk melakukan pemogokan umum. Namun pemogokan dengan mudah bisa disapu karena sebagian besar masyarakat (dimana 90% rakyat Rusia adalah kaum tani) sudah puas dengan kesepakatan yang tertuang dalam Manifesto Oktober.

Menurut Jesus, dari hasil pemeriksaan peristiwa-peristiwa historis selama tahun 1905 (dan sudah dimulai sebelum tahun 1905), bisa memberi gambaran kenapa Trotsky menempatkan kaum buruh sebagai elemen paling progresif dan yang akan menyelesaikan tugas-tugas perjuangan menuju sosialisme. Jelas, dalam peristiwa tersebut kaum buruh merupakan elemen yang paling radikal dan tak kenal lelah dalam melakukan pemogokan umum. Buruh, tidak seperti elemen-elemen lain, tidak puas dengan kesepakatan demokratik Manifesto Oktober. Buruh, yang dipimpin oleh Trotsky, menginginkan perubahan yang lebih besar, perubahan menuju sosialisme. Dan bagi Trotsky (kerena elemen-elemen lain sudah puas dengan kesepakatan demokratik di atas), hanya buruh yang mampu memimpin perjuangan menuju sosialisme yang sejati, menuju kediktatoran buruh.

Dalam sesi selanjutnya, yakni sesi tanya jawab, warna-warni pemikiran muncul. Dalam sesi pertama tanya jawab, salah seorang aktivis HTI yang hadir dengan antusias menawarkan revolusi putih (baca: revolusi Islam) untuk Indonesia. Menurutnya, sebagai sebuah rezim “revolusioner” Islam pernah berdiri membentang dari Madinah hingga Turki dalam kurun waktu kejayaan yang relatif lama. Dari PRP dan GRI berbicara sebaliknya. Menurutnya, sosialisme adalah satu-satunya solusi untuk Indonesia. Tanpa revolusi sosialis, penindasan atas rakyat, eksploitasi dan obyektifikasi terhadap buruh, distribusi yang tidak merata dari hasil kekayaan negara, dan kemiskinan yang masif akan terus terjadi. Selain argumentasi-argumentasi politik di atas, ada juga peserta yang menanyakan kapan kira-kira revolusi sosialis di Indonesia akan terjadi.

Menanggapi gagasan mengenai revolusi Islam, Zaenal dan Dian memberi argumentasi logis mengenai karakter utopis dari gagasan tersebut. Menurut Zaenal, ideologi politik yang dibangun di atas sentimen keagamaan hanya akan memperparah keadaan. Ekslusivitas dan diskriminasi pasti akan terjadi. Dan ide seperti ini merupakan utopia kaum borjuis Islam yang merindukan kembali romantisme sejarahnya yang sudah terkoyak.

Terkait dengan teori Revolusi Permanen, dengan merujuk pada pemikiran Trotsky, Jesus mengajukan perspektif perjuangan kelas untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari peserta bedah buku tersebut. Menurut Jesus, revolusi hanya bisa dibangun di atas basis kelas yang progresif, yakni kelas buruh bersama-sama dengan kaum tani. Dalam konteks Indonesia, prasyarat untuk revolusi sudah ada. Krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, pembusukan akut partai-partai borjuis, dan penindasan yang semakin sistematis merupakan prasyarat untuk menggerakkan revolusi di Indonesia. Mengenai kapan akan terjadi revolusi pastinya tidak hanya tergantung pada relasi kekuatan-kekuatan sosial di dalam perjuangan kelas, tetapi juga pada faktor-faktor subyektif, seperti tradisi, inisiatif, dan kesiapan kaum buruh untuk berjuang.