Afrika Selatan: Membela Marxisme – Jawaban terhadap Prince Mashele

Sejak rakyat Afrika Selatan menggulingkan rezim Apartheid dan mendorong ANC (Kongres Nasional Afrika) ke dalam kekuasaan, kaum borjuasi Afrika Selatan, para ideolognya, dan media massanya, telah menggelar sebuah perang dusta dan fitnah yang terus menerus dari hari ke hari terhadap ANC, SACP (Partai Komunis Afrika Selatan), dan – organisasi-organisasi massa tradisional kaum muda, kaum buruh, dan kaum miskin Afrika Selatan.

Tujuan kampanye ini jelas: menghancurkan organisasi-organisasi massa. Kaum borjuasi mengerti, seperti Marx 150 tahun yang lalu, bahwa tanpa organisasi klas buruh adalah sekadar bahan mentah untuk dieksploitasi.

Upaya serangan yang paling terakhir datang dari Prince Mashele, yang jelas-adalah seorang provokator liberal, yang pada lembaran-lembaran koran Sunday Independent, Minggu 10 April, menulis sebuah artikel berjudul “Krisis ide di SACP. Kita tidak akan menyimak setiap alinea dalam tulisan tersebut, yang sarat dengan distorsi dan falsifikasi yang terang-terangan. Kita akan menanggapi serangan-serangan yang paling penting yang diluncurkan si tuan terhormat ini terhadap Partai Komunis dan ide-ide Marxisme.

Partai Komunis Afrika Selatan

Mashele dengan susah-payah berupaya memfalsifikasi realitas dengan mengklaim bahwa SACP tidak memiliki konstituen di dalam klas buruh Afrika Selatan. Namun klaim ini jauh panggang dari api. Secara historis, SACP, dan baru-baru ini Liga Pemuda Komunis (YCL), telah memainkan peran kunci dalam sejarah Afrika Selatan. Kenyataan bahwa kematian almarhum pemimpin komunis, Chris Hani, memantik insureksi final yang bermuara pada kejatuhan rezim Apartheid, harusnya memberikan tanda perihal bagaimana partai itu dilihat oleh klas buruh pada dirinya sendiri.

Lagipula bukanlah rahasia bahwa badan-badan utama COSAS (serikat-serikat pelajar), SASCO (serikat mahasiswa), dan COSATU (federasi serikat buruh utama) – semuanya organisasi-organisasi klas buruh yang perkasa – semuanya didominasi oleh kaum Komunis.

Akhirnya, untuk menggarisbawahi pengaruh SACP dan YCL kita ingin menunjukkan fakta bahwa penyingkiran Thabo Mbeki – yang sepenuhnya telah kehilangan kepercayaan dari rakyat karena program-program liberalnya, yakni privatisasi-privatisasi dan pemangkasan-pemangkasan – sebagai presiden ANC dalam kongres Polokwane, sesungguhnya didasarkan pada kerja kader-kader SACP dan YCL.

Pertanyaan tentang Properti

Tuan Mashele yang kita hormati ini terus saja mengatakan – tanpa data apapun untuk menyokong asumsi-asumsinya – bahwa para pemimpin partai memiliki kesadaran politik yang rendah, dan hanya sedikit saja di antara kita yang benar-benar mempercayai Sosialisme. Kemudian ia melanjutkan – dengan cara yang paling pengecut – untuk menyatakan bahwa hanya kaum Anarkis yang akan menyetujui nasionalisasi semua perusahaan di Afrika Selatan (tentu saja ini nampak aneh bagi kaum Anarkis, yang justru ingin membubarkan Negara).

Sebaliknya, kita keberatan. Pertumbuhan yang cepat dalam keanggotaan aktif partai dan kaum mudanya pada tahun-tahun terakhir ini (jumlah anggota partai meningkat dari 20 ribu menjadi 110 ribu orang dalam 7 tahun, kaum mudanya meningkat dari nol sampai 56 ribu orang dalam 10 tahun) adalah kesaksian tentang sebuah radikalisasi yang sedang mekar dalam masyarakat Afrika Selatan – sebuah radikalisasi yang terjadi karena kaum buruh dan kaum muda benar-benar dapat merasakan kekangan-kekangan sistem kapitalis dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.

Faktanya, sistem kapitalis saat ini, lebih dari yang sudah-sudah, terbenam dalam krisis yang paling dalam di sepanjang sejarahnya, bukan hanya dalam bidang ekonomi, tapi juga di segala bidang. Kapitalisme masa kini tidak dapat menawarkan apapun kepada umat manusia. Ketika dipaksa untuk meninggalkan lebih dari 30% kapasitas produktif dunia dalam keadaan tidak terpakai, milyaran orang terjerumus ke dalam pengangguran dan kemelaratan. Di semua negeri maju serangan-serangan berat sedang dibidikkan kepada kaum buruh dan kaum muda. Di Inggris saja 20 persen dari anggaran Negara dipangkas, sementara Pemerintah AS baru saja mengumumkan pemangkasan anggarannya yang paling dalam di sepanjang sejarah negeri itu.

Di Afrika Selatan situasinya tidak berbeda. Bahkan dalam kemungkinan yang terbaik, di mana di bawah permukaan kita memiliki cadangan besar batu-batu mulia dan barang-barang tambang, sementara Negara kurang-lebih bebas dari utang, masyarakat toh tidak sedang bergerak maju. Sebaliknya, tahun lalu lebih dari sejuta orang terjerembab menjadi kaum penganggur dan melarat, sementara perusahaan-perusahaan yang terbesar justru memperoleh milyaran tambahan keuntungan.

Inilah yang sebaik-baiknya dapat ditawarkan oleh kapitalisme. Klas kapitalis telah memperlihatkan kepada kita bahwa kapitalisme tidak sanggup membawa maju masyarakat. Satu-satunya langkah yang logis dan praktis persisnya adalah menasionalisasi pucuk-pucuk kekuasaan perekonomian, yakni bank-bank, pertambangan-pertambangan, dan industri, di bawah kontrol demokratik kaum buruh dan menggunakan keuntungan-keuntungan mereka untuk membangun masyarakat.

Jauh dari terlupakan, ide-ide Sosialisme sekarang sedang menjangkau lebih banyak orang daripada sebelumnya; orang-orang yang dari pengalaman mereka sendiri dapat merasakan jalan-buntu dari kapitalisme dan yang sekarang bergerak maju untuk meraih nasib mereka ke dalam tangan mereka sendiri.

Diktatur Proletariat

“Bahkan sejak mereka [kaum Komunis Afrika Selatan] diajari Marxisme berabad-abad yang lalu, mereka masih terjebak dalam bahasa lama tentang kediktaturan proletariat, ‘negasi terhadap negasi’, dan konsep-konsep kuno lainnya.”

Menggelikan, melihat bagaimana Mashele berupaya “menyembunyikan” apa yang sebenarnya ingin dia serang – dengan cara yang paling pengecut – hanya dengan menyebutnya “sambil lalu.”

Konsep tentang kediktaturan proletariat barangkali merupakan salah satu frase Marxis yang paling diputarbalikkan artinya. Di sini Mashele dengan enaknya lupa untuk mengatakan kepada kita bahwa kediktaturan proletariat – atau demokrasi buruh – tidak lain dari lawan (ya, negasi!) bagi keadaan masa kini, yang sebenarnya merupakan salah satu bentuk dari kediktaturan borjuasi – atau “demokrasi borjuis” sebagaimana lazim dikenal.

Semua kaum Marxis yang ulung telah menjelaskan bertahun-tahun yang lalu bahwa Negara bukan merupakan sebuah entitas yang imparsial yang melayani rakyat. Negara, yang secara fundamental terdiri dari badan-badan bersenjata (kepolisian, militer, penjara-penjara, dan birokrasi), adalah sebuah alat untuk melakukan penindasan klas. Negara adalah sarana yang melaluinya borjuasi mengkonsolidasikan dan mengamankan kekuasaannya. Jelas sekali ini diperlihatkan dalam revolusi-revolusi Arab di mana apparatus Negara yang lama – bahkan tanpa perwakilan-perwakilannya yang terpilih secara resmi – telah membentuk, dan masih membentuk, sebuah blok reaksioner untuk melawan revolusi dengan menyabotnya di tiap-tiap langkahnya.

Di Afrika Selatan ini tidak berbeda. Sepenuhnya jelas, semasa pemogokan para buruh sektor publik pada bulan Agustus tahun yang lalu pasukan-pasukan kepolisian dikerahkan untuk menyerang para pemogok yang hanya mengajukan tuntutan yang masuk akal, yakni kenaikan gaji yang melampaui dari inflasi. Ini juga terlihat dalam pembunuhan yang terjadi baru-baru ini terhadap Andries Tatane, yang memimpin sebuah gerakan massa untuk melawan kelangkaan pelayanan publik.

Kediktaturan proletariat tidak lain dari kekuasaan politik klas buruh melalui organ-organ alaminya. Embrio-embrio dari kekuasaan tersebut bisa dilihat dalam semua revolusi. Di Mesir dan Tunisia kita melihat komite-komite lingkungan mengambil kendali atas seluruh daerah, dan di Afrika Selatan, semasa perjuangan anti-Apartheid kita dapat melihat komite-komite lingkungan di banyak pemukiman dan unit-unit pertahanan-diri yang bermunculan di mana-mana.

Lenin menjelaskan bahwa agar dapat mencapai aspirasi-aspirasinya, klas buruh tidak dapat mengandalkan cakupan yang terbatas dari demokrasi burjuis, tapi harus mengambilalih kekuasaan ke dalam tangannya sendiri melalui organ-organnnya sendiri – di Rusia dinamakan Soviet-soviet – yang berdasarkan empat prinsip berikut ini:

  • Semua pejabat harus dipilih dan tunduk terhadap recall;
  • Tidak ada pejabat yang menerima gaji yang lebih tinggi daripada gaji buruh rata-rata;
  • Pembubaran tentara regular dan penggantiannya dengan sebuah milisi rakyat;
  • Sebuah sistem rotasi harus diperkenalkan supaya segenap kaum buruh berpartisipasi dalam pengelolaan Negara.

Gagasan-gagasan ini tidak kuno; tidak ketinggalan zaman. Sebaliknya, gagasan-gagasan ini lebih relevan daripada sebelumnya; gagasan-gagasan ini sangat-sangat hidup di kalangan anggaota-anggota Partai Komunis.

Tidak Ada yang Baru di Bawah Matahari

Sangat aneh, orang-orang yang mendebat Sosialisme mendasarkan argumen-argumen mereka pada kapitalisme yang jelas-jelas sudah tidak berfungsi. Kita boleh berharap bahwa Prince Mashele akan mempraktikkan perkataannya sendiri dan tampil dengan sesuatu yang baru. Dalam sebuah pameran tingkah laku borjuis yang sejati, ia berargumen dengan meremehkan kondisi buruk dari klas yang terhisap.

Apa yang harus dia sadari adalah bahwa tidak ada alternatif bagi kapitalisme selain Sosialisme. Jawaban terhadap buku yang disebutkannya, What Should the Left Propose? (Apa yang Harus Diajukan oleh Kaum Kiri?) termuat dalam Manifesto Komunis yang sekarang ini lebih valid daripada ketika ditulis!

Pertanyaan adalah ini: Bila Marxisme telah mati, tidak relevan, dan ketinggalan jaman, mengapa orang-orang seperti Prince Mashele berhamburan ke jalan-jalan untuk menyerang ide-ide yang telah mati? Padahal akan lebih menguntungkan baginya untuk menyanjung-puja ide-ide yang telah terbukti berhasil daripada membuang-buang tinta untuk menghantam sebuah ideologi yang tidak relevan!

Agar debat ini bermanfaat, marilah kita, mungkin, saling belajar tentang ular yang telah mati ini, Marxisme, yang menghadirkan ketakutan di dalam hati orang-orang seperti Prince Mashele. Marxisme adalah Sosialisme-ilmiah; Marxisme adalah sebuah bangunan ide-ide sebagaimana digarap oleh Karl Marx dan Friedrich Engels yang menyediakan sebuah basis teori yang komprehensif bagi perjuangan klas buruh untuk mencapai suatu bentuk masyarakat manusia yang lebih tinggi – Sosialisme. Tapi jauh dari sekadar seperangkat ide-ide yang abstrak, seperti tulisan-tulisan tuan Mashele, Marxisme adalah pengalaman hidup klas buruh yang terkonsentrasi dan digeneralisasikan.

Kita tidak takut terhadap upaya-upaya untuk mendiskreditkan Marxisme, karena Marxisme berpihak pada kaum buruh dan kaum tertindas melawan borjuasi. Kita tidak sedang berkhayal sedang berupaya untuk menyelamatkan dan menghidupkan-kembali Negara dalam bentuk borjuisnya yang sekarang ini. Tujuan kita adalah untuk menghancurkannya sehingga kita dapat membangun sebuah Negara buruh di mana mayoritas berkuasa.

Apa yang ditakuti Mashele dari Marxisme: Marxisme membeberkan kebenaran tentang kapitalisme, suatu sistem yang mengakibatkan perang, kemelaratan, wabah penyakit, langkanya pendidikan, rasisme, fasisme, dan bentuk-bentuk penyakit sosial lainnya. Marxisme membeberkan bagaimana segelintir orang dapat menikmati suatu kehidupan yang layak. Dengan segala perkembangan industrial yang membuat kapitalisme disanjung-puji, kapitalisme masih tidak dapat memecahkan persoalan-persoalan dasar masyarakat.

Beda dengan kapitalisme, Sosialisme mampu memecahkan masalah historis yang mendasar dari semua masyarakat, yakni masyarakat klas. Unsur menentukan di dalam sejarah adalah produksi dan reproduksi kehidupan, dan ini tidak hanya terbatas pada ilmu ekonomi. Bahkan bila kita harus membatasinya pada ilmu ekonomi, kapitalisme akan gagal secara menyedihkan karena umat manusia mengalami kemunduran di bawah sistem kapitalisme. Sementara kondisi-kondisi kehidupan memang membaik bagi beberapa orang, ini terjadi dengan mengorbankan mayoritas rakyat di seluruh dunia yang justru semakin terjerumus ke dalam barbarisme.

Alternatif satu-satunya bagi kapitalisme tetaplah Sosialisme. Ide kami sebagai kaum Marxis adalah mengorganisasi agen-agen, kekuatan-kekuatan motif – ya, kekuatan-kekuatan motif – jutaan kaum buruh tertindas berjuang sehari-hari melawan sistem kapitalis, dengan menggantikannya dengan sebuah masyarakat sosialis guna memecahkan krisis klas yang selalu ada di dalam sejarah. Sebuah masyarakat sosialis masih tetap merupakan suatu masyarakat yang diperintah oleh rakyat alih-alih oleh anarki pasar.

Sebagai penutup, semua argumen yang sampai saat ini dibuat untuk mendiskreditkan Marxisme semuanya telah gagal untuk membantah basis historis materialnya, yakni perjuangan klas; dan  semua versi kapitalisme yang ada sampai sekarang, tak peduli bagaimanapun “liberal”-nya mereka, semuanya telah gagal menangani persoalan klas. Sepanjang pertanyaan klas tetap ada, Sosialisme akan tetap relevan seperti sebelumnya.

Kita mengerti selalu ada serangan terhadap Marxisme, karena pengalaman sehari-hari klas buruh sedang menggerakkan mereka untuk menjadi semakin dekat dengan idea Sosialisme. Pengalaman hidup yang riil memperlihatkan bahwa jauh dari merupakan sebuah utopia, Sosialisme adalah satu-satunya jalan ke depan bagi umat manusia. Pengalaman hidup yang riil juga telah membuktikan kepada kaum buruh bahwa mereka tidak pernah memperoleh apa-apa tanpa memperjuangkannya, kaum buruh sekarang semakin sadar bahwa tidak ada saat yang lebih baik untuk mengorganisir suatu perjuangan yang tangguh demi Sosialisme daripada sekarang!

9 Mei 2011

Diterjemahkan oleh Pandu Jakasurya dari “South Africa: In defence of Marxism – A reply to Prince Mashele”, Charlie Moor, 9 Mei 2011